Kamis, 04 Juli 2019

Lelaki di Persimpangan









              
             Pagimu...
             yang jauh dari sepi
             menanti yang bisa dinanti
             menunggu yang bisa ditungg

             Soremu...
             yang bertabur keramahan
             serta sedapnya senyuman
             dari mereka yang melintas di ruas jalanmu
             di persimpangan....

             Harimu...
             keringatmu...
             lelahmu... 
             Adalah harta berharga, bernama bahagia...
           

           Bahagia, sesuatu diburu oleh semua manusia di dunia. Tujuan hidup setiap manusia dengan melalui segala aktivitas akan bermuara pada keinginan untuk merasakan kebahagiaan. Banyak cara dilakukan, baik dengan cara-cara sederhana untuk melayani diri sendiri hingga melibatkan hajat hidup banyak manusia lain, juga mungkin melalui pencapaian prestasi yang mendulang penghargaan.
     Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, melepaskan diri dari menjadi beban orang lain, memiliki kebebasan lebih untuk memutuskan jalan hidup, serta terbebas dari monopoli pihak lain. Banyak hal yang bisa didapat dengan memiliki pekerjaan, dan itu melahirkan rasa bahagia.
      Manusia melakukan aktivitas fisik seperti olahraga, bercengkerama, bergurau, dan tertawa, juga bisa melahirkan rasa bahagia. Menurut para ahli, dengan melakukan hal-hal itu maka tubuh melepaskan hormon endorphine yang mampu mengurangi rasa sakit dan membuat bahagia.
         Kita juga membutuhkan sentuhan-sentuhan kehangatan yang bisa melahirkan rasa bahagia. Seorang istri butuh pelukan suami, seorang anak butuh dekapan orang tua, antar teman pun butuh keakraban dan sentuhan persahabatan, terutama saat teman kita butuh dikuatkan. Hal sederhana yang mempu mengobati rasa sakit dan sedih, dan tentu saja menaikkan rasa bahagia kita.
         Pagi ini, tiba-tiba saya ingin membahas tentang seseorang yang saya yakini bahwa dia mendulang emas kebahagiaan di setiap paginya. Lelaki di persimpangan. Judul ini saya pakai memang dengan tujuan membuat penasaran pembaca, di antara judul lain yang tadinya ingin saya pakai, Lelaki di Pertigaan. Siapakah dia, lelaki di persimpangan itu? Adakah hubungannya dengan rasa bahagia yang saya bahas? Jawabannya tentu saja iya, justru saya ingin menulis lagi karena termotivasi oleh lelaki di persimpangan itu.
            Setiap pagi saat jam-jam banyak orang berangkat kerja, atau sore saat jam-jam pulang kerja, ia berdiri dengan konsentrasi penuh menunggu saat ia harus beraksi. Ada yang menyebutnya Pak Ogah, tapi saya lebih suka menyebutnya tukang sebrang. Atau kalian ingin menyebutnya dengan istilah apa, tak masalah. Intinya… lelaki tukang sebrang itu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup saya, hampir setiap hari.
            Tanpamu, aku apalah….begitu istilah jaman now-nya. Iya, kalau di tempat lain, Pak Ogah atau polisi cepek banyak yang ditertibkan karena dianggap mengganggu, justru bagi saya, tukang sebrang ini sangat penting. Karena memang jarang ada petugas resmi yang siap membantu saya dan pengendara lain menyeberang di pertigaan itu. Makanya, saya tidak terlalu suka menyebutnya Pak Ogah atau polisi cepek, karena dia berbeda.
           Lelaki di persimpangan jalan yang saya lalui itu tak pernah menengadahkan tangan. Hentakan tangannya di pundak ketika saya galau saat akan menyeberang, justru menolong saya merasakan aman. Mana sempat ia minta imbalan, mana sempat pula saya merogoh dompet dalam tas? Kecuali saat saya ingat bahwa saya ingin membalas jasanya dengan memberikan sedikit uang, lalu saya siapkan di saku sebelum berangkat kerja. Ketulusannya saya rasakan, lewat aksinya yang sungguh-sungguh membantu menyeberangkan. Ia lebih sering menerima imbalan dari kesadaran para pengendara mobil daripada motor,  karena mereka sedikit lebih punya keleluasaan untuk mengambil uang sambil salah satu tangan memegang setir. Sekali lagi, ia tak pernah meminta...,

         
             Bagaimana lelaki di persimpangan itu tak meraup bahagia setiap harinya, jika yang ia lakukan adalah memberikan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Menjadi bermanfaat untuk orang lain, meski dengan hal yang mudah dan sederhana, membuat hati berbinar dan ceria. Iya kan? Saya pikir semua orang merasakan hal yang sama, saat merasa diri telah melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain, menolong orang lain, membahagiakan orang lain. Itulah yang saya pikir dirasakan oleh poltas tak resmi itu.
            Meski tidak menafikan bahwa ia mendapatkan timbal balik berupa uang terimakasih atau angpao dari pengendara yang peduli, tapi saya yakin, kebahagiaan yang dirasakan jauh lebih besar daripada materi yang di dapat. Jika kita hitung kebahagiaan dengan mengalikan berapa kali ia menyebrangkan pengendara sepeda motor atau mobil, maka kebahagiaan yang didapat tiap harinya pasti lebih-lebih. Sudah sangat cukup untuk menghibur diri dari beban hidup, mungkin beban hutang, atau permasalahan rumah tangga.
          Saya tidak tahu tepatnya berapa yang ia dapat dari jasa mengatur lalu lintas tersebut. Saya yakin ketulusannya lebih besar daripada pengharapan akan penghasilan. Mungkin kenikmatan saat melakukan hal itu adalah faktor utama mengapa ia melakukan pekerjaan itu, lagi, dan lagi, dari pada alasan bahwa ia tak ada pilihan pekerjaan lain. Bisa dikatakan, bahwa kenikmatan menyebrangkan itulah justru yang membuat ketulusannya makin hari makin terasah.  Iya, menyebrangkan, artinya ia melakukan sesuatu untuk sesama. Dan jika ditinjau dari teori psikologi, setelah memberikan bantuan kepada orang lain, tubuh melepaskan hormon serotonin yang membuat perasaan terasa bahagia.

          
            Lelaki di persimpangan itu menginspirasi saya. Tak sulit untuk menjadi pribadi yang bahagia, di antara berbagai masalah dan beban pikiran dalam liku-liku kehidupan. Mungkin ini juga sejalan dengan falsafah hidup, ketika kita memikirkan kebaikan orang lain, maka Allah akan memberikan kebahagiaan untuk kita.
            Ada tiga lelaki di persimpangan jalan itu, yang bergantian menanti saya, dan pengendara lainnya. Yang semuanya tak pernah menengadahkan tangannya. Kesadaran pengendara sendirilah yang mengisi kantong baju mereka.
          Tulisan ini dibuat bukan untuk menginspirasi orang lain, justru untuk mengabadikan sebuah pelajaran yang saya dapat untuk diri saya sendiri, yang suatu saat akan saya baca-baca lagi. Juga mengabadikan rasa terimakasih saya pada lelaki di persimpangan itu, yang ada di dekat saya, juga mungkin di dekat anda, dekat mereka…
         Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kecukupan rejeki, kemudahan mengatasi permasalahan, dan kedamaian hidup seterusnya, untuk lelaki di persimpangan itu, dan kawan-kawannya....

Kamis, 28 Februari 2019

Desa ODF, Harapan untuk Menuju Indonesia Lebih Sehat


Apa yang terpikir oleh teman-teman jika mendengar kata ‘BAB sembarangan’?  Iiihh… jijik pastinya kan? Iya…, buang air besar bukan di closet/wc! Dimana dong? Ya sembarangan gitu, bisa di sungai, di kebun, di sawah, di… di… Atau jangan-jangan di antara teman-teman masih ada yang melakukan itu? Idihhh jangan sampai deh ya! Atau mungkin anggota keluarganya atau tetangga masih ada yang pup sembarangan gitu? Hadeehhh…ampyun deh, tolong sadarkan mereka yah!
Contoh sarana BAB sembarangan

Tapi, ngomong-ngomong, tahu nggak sih kalau di Indonesia ini ternyata masih banyak lho yang melakukan BAB sembarangan. Sampai-sampai pemerintah membuat target Indonesia ODF tahun 2019. ODF singkatan dari Open Defecation Free yang artinya Bebas dari buang air besar sembarangan. Jadi, Indonesia ODF tahun 2019 artinya bahwa di tahun 2019 perilaku buang air besar sembarangan di seluruh wilayah Indonesia harus sudah beres. Mau lebih jelas lagi? Jadi, perilaku buang air besar sembarangan (disingkat BABS) di seluruh wilayah Indonesia harus sudah tidak ada lagi, paling lambat di tahun 2019 ini. Gitu, maksudnya.

Emang segitu parah ya BAB sembarangan di Indonesia? Hmm…Padahal tahu sendiri kan, kalau faeces manusia itu mengandung kumaaaan? Ihh! Selain menjijikkan, bisa bikin penyakit.  Bayangkan jika lalat-lalat pada hinggap di kotoran yang dibuang di alam terbuka, kemudian lalat-lalat itu menyebar dan hinggap lagi ke beraneka macam benda yang kemudian tersentuh oleh tangan manusia, yang kemudian bisa jadi mereka lupa cuci tangan pakai sabun lalu dibuat makan atau tersentuh lagi ke benda-benda yang dipakai sehari-hari. Apalagi jika lalat-lalat itu langsung menclok di makanan. Perilaku BAB sembarangan inilah biang penyakit-penyakit pencernaan yang menular di masyarakat. Dan… tak hanya itu, sebuah riset mengatakan bahwa E. Coli bisa menyebabkan terjadinya kerusakan dinding usus, yang resikonya adalah menurunnya fungsi dinding usus untuk menyerap sari makanan. Sehingga meski anak diberi makan banyak, tubuh tidak bisa terpenuhi kebutuhan gizinya karena dinding usus tak mampu menyerap sari makanan dengan baik. Nha… berabe kan, kasihan anak-anak kalau sudah mengalami hal itu. Tentu perlu waktu, dana, dan cara yang tak sederhana untuk membuat keadaan tubuh anak menjadi sehat kembali. Dan E.Coli ini adalah bakteri yang terkandung dalam kotoran manusia. Maka menjadi sangat penting mengusahakan agar lingkungan sekitar manusia bebas dari perilaku BAB sembarangan.

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah buat mewujudkan Indonesia ODF tahun 2019?

Teman-teman pernah baca atau dengar tentang STBM? STBM singkatan dari Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Nha, stop buang air besar sembarangan adalah salah satu pendekatan yang diluncurkan pemerintah untuk menjadikan Indonesia memiliki lingkungan hidup yang sehat. Stop BAB sembarangan ini adalah pilar pertama dari 5 pilar STBM.  Dengan pendekatan STBM  ini, pemerintah mengharapkan bahwa lingkungan  sekitar tempat tinggal masyarakat menjadi sehat atas usaha dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Selaian stop BAB sembarangan, 4 pilar lainnya adalah cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengamanan makanan dan minuman rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pembuangan air limbah rumah tangga yang tepat.

Untuk meraih keadaan ideal STBM, strategi yang dipakai adalah dengan cara pemicuan, atau biasa disebut CLTS.  CLTS kepanjangannya Community Led Total Sanitation, yang artinya kesehatan sanitasi lingkungan total yang dipimpin oleh masyarakat sendiri, yaitu strategi untuk mencapai keadaan sanitasi ideal dengan menumbuhkan kesadaran masyrakat itu sendiri, bukan karena adanya bantuan atau tekanan. CLTS yang biasa disebut dengan pemicuan, adalah tahapan yang menarik untuk disimak/dipelajari. Hmm…


Kegiatan pemicuan/clts bersama warga
Dalam hal menuju masyarakat bebas dari BABS, pemicuan/CLTS diawali dengan mengumpulkan warga yang masih berperilaku BABS, di suatu tempat  yang tidak jauh dari tempat mereka melakukan BAB sembarangan tersebut. Di sini, mereka diajak berkomunikasi dua arah, diberi contoh kejadian/peragaan yang memicu rasa jijik  mereka akan kotoran mereka sendiri yang dibuang sembarangan, dipancing untuk berpendapat tentang perilaku mereka sendiri, lalu diberi tantangan apakah mereka mau mengubah perilaku mereka dengan berniat membuat jamban sehat atau setidaknya mereka bisa memakai wc umum atau numpang di rumah tetangga/keluarga untuk sementara. Selanjutnya mereka diajak berkomitmen untuk benar-benar mengubah perilaku BAB sembarangan tersebut.

Tentu saja, setelah tahap pemicuan dilakukan, harus ada pendampingan, monitor, dan evaluasi dari fasilitator kesehatan setempat dalam hal ini adalah pihak Puskesmas, juga dari pemerintah desa/kelurahan setempat. Tak hanya sampai di tingkat desa, untuk monitoring dan evaluasi juga dilakukan di tingkat kecamatan.

Kemudian, untuk menilai apakah sebuah desa/kelurahan sudah layak disebut sebagai desa/kelurahan ODF, maka harus dilakukan kegiatan verifikasi ODF. Tahap verifikasi ODF ini juga menarik dan memberi kesan-kesan tersendiri terutama bagi anggota tim verifikasi yang berasal dari desa lain, puskesmas lain, serta dari kecamatan setempat. Tim verifikasi bertugas mengunjungi rumah-rumah di desa/kelurahan yang bersangkutan, dipilih secara acak. Dalam kunjungan itu tim verifikasi akan menilai apakah rumah tersebut sudah menggunakan jamaban sehat atau masih BAB sembarangan. Dari penilaian tim verifikasi itulah nanti akan diputuskan pakah desa tersebut layak disebut sebagai desa ODF atau belum.

Acara ceremonial verifikasi ODF

Verifikasi ODF di lapangan dengan kunjungan rumah

Verifikasi ODF di lapangan dengan kunjungan rumah
Peta sanitasi sebagai salah satu "perangkat' dalam kegiatan verifikasi ODF

Verifikasi ODF di lapangan dengan kunjungan rumah



Setelah tahap verififikasi selesai dengan hasil bahwa desa sudah layak disebut sebagai desa ODF, maka desa tersebut akan dideklarasikan sebagai desa ODF. Biasanya penganugerahan desa ODF dilakukan bersama-sama dengan desa lain di satu kabupatn"
.
Saya, sebagai salah satu tim sanitasi dari Puskesmas Kalinyamatan, merasa sangat bersyukur karena ikut menyimak proses beberapa desa menuju desa ODF. Dari sosialisai, pemicuan, pendataan, serta verifikasi ODF di beberapa desa. Sungguh pengalaman yang tak bisa dinilai hanya dengan uang. Tentu bersama sanitarian senior Puskesmas Kalinyamatan, yaitu Bapak Basis Priyonggo SKM, terutama saat tahap pemicuan/CLTS yang dilakukan beliau dengan totalitas seorang pengabdi masyarakat sesuai dengan ilmunya. Beberapa tahap pemicuan dan verifikasi bahkan sempat saya abadikan dalam bentuk video.

Nha, ternyata tidak hanya sampai di situ. Setelah desa-desa diusahakan menjadi desa ODF, maka untuk tingkat kecamatan, perlu juga dideklarasikan sebagai kecamatan ODF, kemudian untuk tingkat berikutnya menuju kabupaten ODF. Untuk itu, maka perlu dilakukan lagi verifikasi kecamatan ODF, juga verifikasi kabupaten ODF yang akan membuktikan bahwa suatu wilayah sudah layak disebut sebagai kecamatan ODF, dan kabupaten ODF. Dan… pada saatnya, jika semua wilayah di Indonesia sudah lolos verifikasi ODF, Negara Indonesia pun akan menjadi negara ODF sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, bahwa Indonesia ditargetkan menjadi Negara ODF oleh Pemerintah di tahun 2019.

Untuk Kabupaten Jepara, terhitung pada akhir tahun 2018, telah mendeklarasikan 120 desa/kelurahan sebagai desa/kelurahan ODF, dan masih ada pe-er sejumlah 75 desa/kelurahan lagi agar Jepara bisa menjadi kabupaten ODF. Sudah lumayan ya, kalau melihat perbandingan antara yang sudah ODF dengan yang belum. Semoga sih… di tahun 2019 ini, 75 desa yang belum ODF bisa mengejar ketertinggalannya.

Untuk Kecamatan Kalinyamatan sendiri, tahun 2018 telah tercapai target 12 desa lolos verifikasi ODF, bahkan 3 di antaranya sudah lolos di tahun sebelumnya. Syukur Alhamdulillah dengan hal itu, meski beberapa desa memang lolos dengan catatan. Harapannya, semoga saat dilaksanakan verifikasi ODF tingkat kecamatan dan kabupaten, hasilnya tidak akan membuat kecewa, sudah benar-benar tak ditemukan lagi perilaku BABS di wilayah Kabupaten Jepara..
Hmm…kalau desa/kelurahanmu gimana, sudah ODF kah?


















Selasa, 02 Oktober 2018

Senyum yang Paling Kurindu

         
Najwa, anak perempuanku, mondok di Kota Kudus sejak kelas tujuh. Otomatis nggak bisa ketemuan sama keluarga setiap hari. Tapi aku bersyukur, seminggu sekali masih boleh jenguk, dan dia boleh pulang ke rumah dua bulan sekali atau kalau ada libur di hari-hari besar. Waktu masih di kelas tujuh, masih boleh diajak pulang sebulan sekali sih… tapi mulai kelas delapan atas kesepakatan wali murid dengan pihak sekolah, jadwal penjemputan pulang selain libur hari khusus, kini jadi dua bulan sekali. Tapi bukan masalah besar sih bagi kami… baik sebulan sekali atau dua bulan sekali. Toh masih bisa ketemuan seminggu sekali, dan… yang penting anaknya happy

         Beberapa hal memang membuat seorang ibu ketar-ketir akan anak gadisnya yang jauh dari rumah. Begitu juga yang kurasakan. Gimana kalau dia telat makan (ini sih paling bikin kuatir, dia agak males makan selama ini), gimana kalau dia kurang asupan sayur, gimana kalau lupa istirahat, gimana kalau tidak kerasan, dan rasa was-was lainnya. Tapi Bismillah, semua sudah diniati untuk mempersiapkan masa depannya, memberi bekal mental dan spiritual untuk mengarungi samudera kehidupan yang lebih luas kelak, dengan segala pernik-perniknya. Maka kahawatiran-kekhawatiran yang ada berangsur hilang karena kami juga memohon penjagaan dari-Nya. Dengan alasan agar anak kami lebih dekat dengan Allah juga, kami melepaskan dia ke pondok.

         Mantap hati bukan berarti kita cuek-cuek aja sama anak, dan menyerahkan seratus persen segalanya pada pihak pondok. Tentu kita tetap ada upaya agar dia tetap merasakan kasih sayang orang tua, meski sedang mondok. Apalagi di usia SMP ini adalah usia baligh, remaja awal yang umumnya sering labil karena adanya perubahan-perubahan dalam diri anak, baik perubahan fisik maupun psikis. Remaja butuh tempat bertanya, bercerita, menyandarkan kepala saat gelisah. Kami tak ingin ia kehilangan tempat curhat, ia tetap butuh kami untuk menguatkan hati menikmati kehidupan pondok yang berbeda dengan di rumah sendiri. Maka, hingga saat ini kami masih selalu menyempatkan diri untuk menemuinya seminggu sekali di asramanya. Kebetulan dari pihak pondok sendiri mendukung hal itu. Pihak pondok memberi kesempatan orang tua untuk menemui anaknya setiap hari Sabtu atau Minggu. 

           Beberapa waktu lalu saat menjenguknya, kuperhatikan bibirnya kering banget. Aku jadi kuatir. Sebagai ibu, aku langsung meluncurkan serentetan pertanyaan sehubungan dengan bibir keringnya itu. Udah kering, pakai dikelupas-kelupas lagi sama dia. Iih…tangannya itu bikin miris dan gemesss

           “Sudah tho Kak…, jangan dikelupas aja…” kataku.
           “Iyo..iyo…, nggak …” sahutnya, lalu menghentikan tangannya.
           Tapi, beberapa menit kemudian ia mengulaginya lagi, mengelupas kulit bibirnya. Duhh…


Senin, 30 Juli 2018

Ini Dia, Sejarah Lahirnya Buku 'Petualangan Seru Saqila dan Sadida'

 “Mama…selamat ya…, ini buku mama…!” sambut Najwa saat aku pulang kerja.
Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah, itulah kata-kata yang mengalir dari bibir ini saat menerima buku biru itu dari tangan anakku. Dan mataku mulai terlapisi air mata bahagia, meski tak sampai menetes. 

Maturnuwun Gusti… setelah penantian yang cukup lama akan terbitnya buku cerita anak ini. Petualangan Seru Saqila dan Sadida, buku anak pertama yang kutulis bersama seorang penulis muda produktif, Kazuhana  El Ratna Mida.
 
Ada cerita berliku sebelum buku ini benar-benar “lahir” dan dipajang di Gramedia atau toko buku lainnya. Ide cerita yang sudah ada di otak bertahun-tahun lalu itu tak serta merta langsung bisa diterima oleh penerbit. Sampai dibelain sakit batuk berkepanjangan dan dicurgai kena TB paru oleh beberapa teman, demi lahirnya buku ini.

Lha sebegitunya? Iya, begini ceritanya…


Minggu, 15 Juli 2018

Cuma Latihan Nulis...



               Dia marah. Suaranya meninggi, wajahnya menegang dan bulatan matanya membesar. Aku sejenak terhenyak tak menyangka akan reaksinya setelah mendengar kalimatku barusan. Aku seolah tak mengenalnya yang biasa terlihat sedikit tertutup dan pemalu. Kemarahannya seolah sebagai cara lain untuk menghentikanku mencampuri urusannya. Tak apalah… dia boleh berasumsi apa saja tentangku. Asalkan misiku berhasil, menolongnya dari sebuah kejadian yang aku tak sanggup membayangkannya terjadi. Mungkin caraku sedikit menjengkelkan, bahkan terlihat ndeso dan sok tahu. 

“Baik, maaf… aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya memikirkanmu.”

“Untuk apa kamu memikirkanku?? Apa perlunya?!” suaranya kembali lantang. 

              Haduh…aku jadi serba salah. Ingin kukatakan padanya, “Pelankan suaramu…”. Teriakannya itu sudah barang tentu terdengar oleh adiknya, ibunya, bapaknya, atau siapapun yang ada di dalam rumahnya. Aku jadi malu. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Kami sedang bertengkar? Aku sudah menyakitinya? Aku berkata keterlaluan sehingga dia membentakku? 

Teringat empat tahun yang lalu…





Bersambung

Selasa, 01 Mei 2018

Ini Dia Kata Mbak Win, Mengapa Ratu Kalinyamat Tahun Ini Pakai Jilbab.


Ratu kalinyamat 2018 yang berhijab
Alhamdulillah…senang sekali pagi ini saya berkesempatan bertemu langsung dengan Mbak Win, seorang wanita inspiratif di Jepara yang beberapa tahun ini membuat saya kagum dan penasaran. Beberapa kali ingin bertemu dengan beliau tapi ada saja kesibukan yang membuat saya tidak jadi ketemu. Seorang teman yang sama-sama pecinta seni, Mas Safiq setiawan menawarkan untuk menemani saya menemui Mbak Winahyu Widayati. Jadilah pukul Sembilan lebih sedikit lah, saya bisa menatap wajah beliau langsung serta berjabat tangan, kemudian dipersilakan duduk di ruang tamu, lebih tepatnya di tempat usaha baru yang sedang dirintis keluarga Mbak Win. 

Mbak Winahyu, seorang ibu rumah tangga yang selama ini juga menjalankan bisnis mebel, adalah sosok yang sederhana, apa adanya, tapi semangatnya dalam mempopulerkan kearifan lokal budaya di Jepara tak kalah dengan para muda. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, pagelaran pesta baratan diselenggarakan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Biasanya diselenggarakan bertepatan dengan malam yang sebagian orang Islam menyebutnya sebagai malam nisyfu sya’ban. Nha, Mbak Winahyu yang lahir pada tanggal 28 September 1975 inilah wanita pencetus pagelaran seni baratan dengan rangkaian acaranya, bersama sanggar lembanyung yang didirikannya di tahun 2004. 

Kebetulan, menurut Mbak Win hari ini anak-anak lembayung akan datang untuk melakukan briefing setelah pesta baratan tahun ini terselenggara pada Hari Minggu, tanggal 29 April 2018. Sepertinya saya memang sedang beruntung hari ini. Ketika saya datang belum pada berkumpul. Hanya ada satu orang yang datang bersamaan dengan saya, yang kebetulan adalah ketua panitia pesta baratan tahun ini, namanya Sodikin dari Desa Kriyan. 
Mbak winahyu ada di tengah

Sambil menunggu kedatangan yang lain, saya mulai saja melakukan wawancara.
Pertama yang ingin saya tanyakan adalah tentang tempat penyelenggaraan yang berubah-ubah. Sebelum tiga tahun ini, beberapa tahun berturut-turut, rute arak-arakan Ratu Kalinyamat dan pembawa impes (lampion) adalah dari Masjid Al Makmur Kriyan menuju pendopo Kecamatan Kalinyamatan. Kemudian finish arak-arakan beralih ke lapangan Kenari Purwogondo, tahun berikutnya ke lapangan sebelah kantor UPT Disdikpora Kalinyamatan (belakang pasar Kalinyamatan), dan kali ini beralih lagi ke lapangan Desa Banyuputih.

Wanita lulusan IKIP Negeri Semarang JurusanPendidikan Prancis ini  dengan tersenyum menjelaskan, bahwa sebenarnya untuk tahun ini, dalam proposal penyelenggaraan acara sudah direncanakan bahwa finish arak-arakan dan penampilan panggung teatrikal ada di lapangan kenari Purwogondo. Akan tetapi ada beberapa hal yang kemudian menjadikan finish acara tersebut diputuskan dipindah di lapangan Banyuputih. Kenapa saya tanyakan ini? Karena menurut pengamatan saya, justru letak penyelenggaraan teatrikal sudah cocok di Purwogondo, karena letaknya ada di tengah-tengah wilayah Kalinyamatan, bisa menampung banyak penonton dari pada saat di kantor kecamatan. Dan…yang pasti tempatnya tetap tidak jauh dari kediaman saya (Taman Baca Pelangi Cita)- ini alasan pribadi sih… hehe. Beberapa warga memang agak kecewa karena mereka merasa kecele, sudah nunggu-nunggu di jalan yang dianggap akan dilewati arak-arakan Ratu Kalinyamat, ternyata rutenya diganti. Termasuk dua malam di dua tahun berturut-turut ini…. masih ada beberapa warga yang salah lokasi menunggu arak-arakan. 

Kamis, 12 April 2018

LEPTOSPIROSIS (PENYAKIT KENCING TIKUS): SEBUAH KLB DI JEPARA

foto diambil dari google

Bulan April 2018 dunia kesehatan Jepara dikejutkan oleh sebuah KLB (Kejadian Luar Biasa) yaitu adanya seorang warga Jepara yang terjangkit penyakit leptospirosis. Penyakit leptospirosis ini termasuk sangat jarang terjadi, sehingga jika seorang saja warga terkena penyakit ini, maka sudah termasuk sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) di dalam ranah ilmu kesehatan. Warga yang tinggal di Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan ini saat dibawa ke PKU Muhammadiyah Mayong, keadaannya sudah memasuki tahap gejala berat, yaitu tubuh dan mata sudah menguning, pendarahan pada hidung dan mata, serta persendian yang kaku. Begitu tertera hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya kuman leptospira, maka kejadian itu langsung dilaporkan ke DKK Jepara karena masuk sebagai Kejadian Luar Biasa yang harus segera ditindaklanjuti.

Pada Hari Kamis tanggal 12 April 2018 DKK Jepara bekerjasama dengan Puskesmas Kalinyamatan segera beraksi. Hal pertama yang dilakukan adalah mendatangi pasien yang dirawat di ruang ICU PKU Muhammadiyah Mayong, untuk melihat sejauh mana gejala yang diderita, perkembangan kesehatannya, juga untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang hasil pemeriksaan dari pihak PKU Muhammadiyah Mayong.  Kemudian tim mendatangi rumah penderita untuk melihat kondisi lingkungan rumah, mendapatkan keterangan dari anggota keluarga dan warga sekitar tentang riwayat penderita dan gejala-gejala penyakit yang dialami penderita. 





Pada kunjungan rumah tersebut juga dilakukan penyuluhan kepada warga sekitar tentang penyakit leptopirosis sebagai edukasi agar warga tahu apa itu leptospirosis, penyebabnya, penanggulangannya, dan terutama cara pencegahannya. 

Memang, sudah seharusnya rumah sebagai tempat tinggal utama kita selalu terjaga kebersihannya. Tidak menjadi tempat timbunan sampah apalagi sarang tikus. Selain kotor dan menjijikkan, binatang tikus juga bisa menjadi perantara penularan penyakit berbahaya. Selain penyakit pes, kita juga perlu tahu bahwa tikus bisa menjadi perantara penularan penyakit leptospirosis, atau yang biasa disebut sebagai penyakit kencing tikus. Meski bisa dibawa oleh hewan lain, seperti sapi, babi, kuda, dan anjing, di Indonesia termasuk Jepara, yang paling sering menularkan penyakit ini adalah tikus. Itulah sebabnya penyakit ini disebut penyakit kencing tikus. Adapun daerah yang rawan terjadi penyakit ini adalah daerah yang sering banjir, karena bakteri itu hidup lama di air, dan manusia rawan terpapar ketika anggota tubuh sering kontak dengan genangan air tersebut. Dan pekerjaan petani juga rawan terkena leptospirosis karena selalu kontak dengan genangan air yang diduga terpapar kencing tikus. Selain itu, pekerjaan yang sering berinteraksi dengan hewan seperti peternak, dokter hewan (karena tidak hanya ditularkan oleh tikus), juga beresiko tertular penyakit ini. 

Adapun proses penularannya: kuman leptospira menghuni darah dan urine hewan yang terinfeksi kuman leptospira, tetapi hewan tidak terlihat mengalami gejala leptospirosis. Hanya saja, kencing hewan dalam hal ini kencing tikus yang terinfeksi, membawa kuman ini dan bisa menularka ke manusia ketika kuman tersebut masuk ke tubuh manusia, baik melalui mulut, mukosa ( pada hidung dan mata), atau kulit yang luka. 

Sejak kuman masuk ke tubuh, gejala akan muncul setelah empat sampai Sembilan belas hari kemudian. Gejala awal masih ringan dan tidak khas sebagai penyakit leptospirosis karena mirip dengan sakit flu, yaitu demam, meriang, pusing, pilek, bisa juga disertai mual, nyeri otot, diare, damn kehilangan nafsu makan.. Setelah lima hingga satu minggu keadaan terlihat membaik, tapi ternyata bisa berlanjut menjadi gejala yang lebih berat, yaitu perdarahan, rusaknya organ-organ tubuh, dan yang khas adalah tubuh seperti orang sakit kuning. Resiko terbesar jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat adalah terjadi kematian. Menurut keterangan warga setempat serta anak




, memang beberapa hari sebelumnya Bapak  sakit panas dan flu yang sepertinya hanya penyakit ringan. Tetapi keadaan terakhir ssbelum masuk ruang ICU, badan sudah menguning, telapak kaki kuning, mata kuning dan memerah, mimisan, serta sendi-sendi susah digerakkan. 

gejala berat leptospirosis (gambar dari google)

Tindakan pencegahan agar tidak tertular penyakit ini adalah harus senantiasa menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tak menjadi sarang tikus, menjebak dan membunuh tikus yang tertangkap, menutup makanan dan minuman, serta sangat penting untuk selalu cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah melakukan aktivitas-aktivitas. 

Sebagai bentuk tindak lanjut dari kunjungan DKK Jepara dan Puskesmas, selain penyuluhan, warga dipinjami alat jebakan tikus. Juga akan diagendakan penyuluhan dengan skup yang lebih besar yaitu melalui pertemuan PKK. Dan sebagai bentuk penyehatan lingkungan agar tikus tidak betah berada dilingkungan itu, maka diagendakan kegiatan pembersihan sarang tikus (membersihkan rumah dan lingkungan secara serentak), dengan terlebih dulu berkoordinasi dengan pengurus RT setempat. Selain itu, DKK Jepara juga membagikan kaporit untuk digunakan sebagai desinfektan yang dimasukkan dalam sumur (dengan ukuran tertentu yang tidak membahayakan), serta dimasukkan ke selokan-selokan yang dikhawatirkan telah terpapar urine tikus. Pada kunjungan saat itu Bapak Wahono dari Bagian Kesehatan Lingkungan DKK Jepara berkesempatan memberikan arahan tentang tata cara pemberian kaporit kepada warga yang ikut penyuluhan.

 

Kepala Puskesmas Kalinyamatan, Ibu dr. Lupi Murwani M.M. mengatakan, "Dengan kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat memutuskan mata rantai penyebaran kuman leptospira, sehingga tidak ada lagi warga yang tertular penyakit kencing tikus ini."

Untuk Provinsi Jawa Tengah sendiri, dari data tahun 2017 telah ada sebelas kabupaten dengan kasus leptospirosis, di antaranya  Kebumen, Blora, Jepara, Cilacap, Klaten, Magelang, Boyolali, dan Pati. Hendaknya kita semua perlu waspada dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan agar tidak ada kasus leptospirosis di sekitar kita. Juga apabila mengalami gejala sperti flu yang kemudian berlanjut dengan keadaan yang lebih berat maka segeralah periksakan diri ke dokter dan minta dilakukan tes laboratorium, agar jika diketahui adanya kuman leptopira maka bisa dilakukan tindakan pengobatan segera.








Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...