Jumat, 21 September 2012

Isi Materi Puisi 1

Rencana Pembelajaran Menulis Puisi Bebas

A. Guru membacakan sebuah puisi

B. Belajar Menulis Puisi
1. Mari kita memejamkan mata, memikirkan tentang sesuatu (benda, perasaan, kejadian, suasana, ide, dll)
2. Tulislah di kertas tentang "sesuatu" tersebut dengan huruf besar di bagian tengah kertas.
3. Lingkarilah atau beri batasan untuk tulisan tersebut dengan bentuk sesuai keinginan (bentuk elips, kotak, segi lima, lengkung-lengkung, dll)
4. Pikirkan satu ide kata lagi sebuah kata yang berhubungan dengan "sesuatu" tersebut.
5. Tarik garis dari "sesuatu"  ke arah luar sebagai anak panah, lalu tuliskan lagi ide kata yang baru ditemukan.
6. Lakukan seperti langkah no. 4 dan 5, begitu seterusnya hingga ide habis.
7. Rangkailah kata-kata yang tertulis di kertas menjadi bait-bait puisi, satu kata boleh berulang dan boleh menambah kata lain.
8. Baca sekali lagi, jika masih belum sreg bisa dikoreksi, ditambah dan dikurangi hingga mencapai tulisan yang indah dibaca.

 C. Saling membaca puisi hasil karya teman sebagai bahan tambahan belajar juga dalam rangka menghargai karya. Setiap puisi diberi komentar.

D. Senam Ringan sebagai refreshing
E. Teori tentang sejarah satra
F. Penutup






Kamis, 10 Mei 2012

Meniti Jejak Bocah di Peti Sejarah (Patungan Yuuuk...)


Patungan Yuuuk…

Aku tak suka nge-game. Aku tak suka melihat anakku main game, apalagi suamiku yang main game. Suer…! Tak perlu pake penjelasan yang bertele-tele seperti orang pinter untuk menguatkan ketidaksukaanku. Yang pasti, saat main game, mata, telinga, tangan, dan hati dan pikiran mereka seakan-akan hanya untuk game itu. Disuruh makan atau mandi , yang keluar dari mulut mereka adalah “Iya”, atau“He’eh”, tetapi tak juga beranjak dari depan komputer. Bila diajak ngomong menyahut, “Apa?”, tetapi menoleh pun tidak. Apalagi saat aku lagi perlu memakai komputer untuk mengerjakan tugas-tugasku. Maka mendongkollah hatiku jadinya, sambil mondar-mandir dan komat-kamit meminta mereka segera berhenti nge-game.
Nggak heran juga sih, anak-anak sekarang lebih suka meringkuk di dalam rumah menikmati permainan yang serba memakai teknologi canggih, menarik, dan tidak perlu menguras energi. Seperti nge-game di komputer, play station, nge-game di hand phone, atau yang lebih canggih lagi main online game. Permainan seperti itu memang menarik animo yang sangat besar bagi mereka. Bagiku semua itu bukannya tidak boleh, tetapi harusnya ada batasan-batasan tertentu agar mereka pun bisa menikmati kehidupan yang penuh warna di sekelilingnya seperti bercengkrama dengan keluarga, beramah-tamah dengan tetangga, atau permainan yang melibatkan anggota tubuh untuk bergerak secara nyata. Itung-itung olahraga.
Aku Jadi ingat masa keciku dulu di daerah Jepara, Jawa Tengah. Saat itu komputer adalah barang aneh bin ajaib. Apalagi hand phone, apaan tuh? Telepon rumah saja yang punya hanya tetangga yang paling kaya. Pada saat itu, nggak ada anak main game, apalagi Online Game. Paling puol ya mobil atau pesawat remote control oleh-oleh dari orang naik haji. Tapi kami lebih suka main petak umpet, main gundu, main jamuran, main patungan, dakon, dan masih banyak lagi permainan yang sering kami lakukan. Semua itu murni tidak bersentuhan dengan kecanggihan teknologi elektronika.
Permainan masa kecil yang paling aku sukai adalah patungan. Apakah permainan patungan itu dan bagaimanakah cara permainannya?
Permainan ini bisa dilakukan oleh dua orang anak atau lebih. Patungan adalah sebuah permainan yang mengajak anak untuk berpura-pura menjadi patung dengan berbagai gaya yang di sukai. Aku sangat menyukai permainan ini karena aku bisa bebas mengkhayal menjadi patung apa saja. Anak-anak lainnya pasti begitu juga.
Cara bermainnya? Sangat mudah. Setelah anak-anak berkumpul untuk mulai permainan ini, kami melakukan hompimpa. Ada lagunya lho…
“Hompimpa alaihom gambreng!!!”

Jumat, 04 Mei 2012

Tentang Buku "Madre" nya Dee


Judul        : Madre (kumpulan cerita)
Penulis      :Dewi Dee Lestari
Penerbit    :Bentang Pustaka
Tanggal terbit    :Juli - 2011
Harga        : Rp 47.000

Pertama melihat penampilan buku ini kesan yang akan kita tangkap adalah: sederhana. Tidak ada ilustrasi fantastik seperti buku-buku fiksi ataupun nonfiksi jaman sekarang. Bahkan terkesan seperti buku kuno dengan dominasi warna coklat dan krem. Mungkin justru di situlah letak daya tarik buku yang berkesan etnik, ditambah pula dengan tulisan cukup jelas di bagian bawah, DEE. Ya, siapa yang tak kenal DEE? Buku yang saya maksud adalah karya terbaru DEE yang berjudl Madre.
Madre. Judul yang cukup simple. Penampilan buku yang simple, nama penulis yang simple, serta judul yang simple. Kesan simple ini bukan berarti mengisyaratkan isi di dalamnya pun simple-simple aja. Buku fiksi yang merupakan kumpulan cerita karya DEE selama lima tahun tarakhir (dari tahun 2006 sampai 2011) ini menurut saya sungguh kaya. Kaya akan tema, jenis tulisan, serta gaya dalam penulisan itu sendiri.
Buku ini terdiri dari beberapa cerita fiksi (terus terang saya bingung menyebutnya sebagai cerpen atau novelet atau novel), puisi, serta prosa. Satu buku kaya rasa. Kita akan menemukan kesan dan pengetahuan yang berbeda dari setiap tulisan dalam buku ini. Hingga Sitok Srengenge mengatakan bahwa harmoni dalam Madre adalah miniatur Indonesia yang ideal.
Pada tulisan pertama, berjudul sama dengan judul buku, yaitu Madre, saya merasa sangat mudah mencerna bahasa yang digunakan DEE. Tidak terlalu kaya idiom, bahasanya mengalir bahkan terkesan sederhana. Bobot tulisan ini ada pada ide serta jalannya cerita. Jauh dari karya fiksi kebanyakan yang mengangkat tema cinta sebagai ide utama, namun daya tariknya tak kalah dengan cerita bertema cinta. Setiap orang yang belum membaca pasti akan penasaran dengan kata Madre itu sendiri. Nama orangkah? Nama tempatkah? Nama binatangkah? Ya, seperti halnya saya yang akhirnya manggut-manggut dan tersenyum, lalu geleng-geleng kepala mengakui kepiawaian DEE mengangkat tema yang unik dalam karya fiksinya. Tiba-tiba saja saya seperti dibawa ke sebuah dapur roti milik orang china yang masih menggunakan tehnik tradisional dalam pembuatannya. Di sinilah seorang Tansen untuk pertama kalinya bertemu dengan Madre. Kisah ini diawali  kekesalan Tansen mendapatkan surat wasiat dari orang yang tidak dikenal, dan isi wasiat tersebut adalah sebuah kunci. Bukan kunci rumah, apalagi kunci mobil. Tapi kunci dari sebuah tempat penyimpanan benda bernama madre yang baginya sama sekali tak menarik.

Rabu, 02 Mei 2012

Novel Tara Puccino


Tara dan Raffi. Sepasang enterpreuner muda yang sedang gigih mengembangkan bisnis bakery bernama “Bread Time”, menghadapi teror yang cukup menguras energi semenjak memutuskan hubungan kerja dengan sebuah pemasok bahan baku yang disinyalir sebagai penyelundup bahan makanan yang mengandung lemak babi.
            Namun pelakunya masih abu-abu karena teror-teror itu bertepatan dengan hadirnya Hazel, seorang karyawan baru di bakery mereka yang semula adalah seorang pengunjung setia. Selain karena cemburu yang seakan tanpa diundang hadir di hati Raffi, beberapa hal seakan makin menguatkan tuduhannya bahwa Hazel ada kaitan dengan teror-teror tersebut. Meski jauh di lubuk hati Tara mengadakan pembelaan kepada Hazel.
            Sebelumnya, pada dimensi dan waktu yang telah berlalu, sempat terukir sebuah kenangan manis antara Tara dengan Diaz, meski mereka tak pernah menjalin komun ikasi atau bertemu muka sekalipun. Namun sebuah tragedi terpaksa membuat Diaz menghilang sebelum rencana ta’aruf  terlaksana.
            Semerbak aroma roti yang baru keluar dari pemanggang, kesan spesial pada buah peach, teror-teror di Bread time, menghilangnya Hazel yang meninggalkan sebuah subfolder khusus di hati Tara, seluk beluk bisnis ilegal trading di pulau batam , masa lalu Diaz, serta benang merah yang bisa tersambung hanya jika kita membacanya tanpa melewatkan satu kalimat pun dari awal hingga akhir, adalah bukti canggihnya racikan resep istimewa yang tersuguh dalam sebuah novel terbaik yang pernah saya baca, “Tara Puccino”.
Novel dengan sentuhan fiksi yang begitu kental, namun pembelajaran sosial, ilmiah dan agamanya tak kalah dengan nonfiksi ternama. Begitu berkesan dan melekat erat, menegangkan, membuat penasaran, menyatukan segala rasa.
            Meski sempat terbersit sedikit tanya, adakah kisah semanis itu dalam kehidupan nyata, tentang password bagi subfolder yang tersimpan di hati Tara?

Judul Buku      : Tara Puccino
Penulis             `: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Tebal buku      :
ISBN               :

Jumat, 20 April 2012

Sanna, Psikolog Bagi Pribadinya


Sanna, Psikolog Bagi Pribadinya (sebuah novel pemenang)

          Ada tiga pribadi lain yang akhir- akhir ini merampas waktu dan kesadarannya. Beberapa kejadian aneh dialami Sanna. Bagaimanapun, kehadiran Febrine, Vita, dan Sari tak pernah diharapkannya. Apakah ia mengalami gejala kelainan berkepribadian ganda seperti kejadian Sybil?
          Ia punya masa lalu yang membuat trauma. Semua itu ingin ia lupakan, walaupun seringkali kejadian-kejadian lama itumuncul kembali bagai kilasan slide-slide yang selalu mengikutinya. Namun ia punya satu harapan di saat benih-benih cinta mulai dirasakannya dengan seorang lelaki bernama Tito. Ia ingin Tito menolongnya untuk hidup dalam lembaran kisah baru, bersama dengan langkahnya yang mulai percaya diri memasuki dunia kerja.
          Namun mengapa tiba-tiba Sanna menjadi begitu membenci Tito? Dapatkah Sanna mengatasi masalah kemunculan pribadi-pribadi lain dari dalam dirinya? Lalu siapakah dia, seorang lelaki bernama Stanley yang tiba-tiba saja menjadi dekat dengan Sanna.

         Kisah mengharukan ini ditulis dengan narasi serta deskripsi setting yang begitu mendetail, sehingga membawa kita untuk ikut hanyut pada kehidupan Sanna. Sebuah novel inspiratif, edukatif, dan sedikit mengajak kita agak serius membacanya. Sebuah novel pemenang di lomba Novelku di Leutika Prio.

Judul Buku      : Sanna, Psikolog Bagi Pribadinya
Penulis            :  Tati Amila alias Sugi Hartati
Penerbit          : Leutika Prio
Tebal Buku      : 156 hal.
Genre              : Remaja- Dewasa

Bisa di pesan di FB Leutika Prio atau langsung pada penulisnya FB Sugi Hartati

Selasa, 17 April 2012

Antara Pensil dan Air Minum Ajaib dengan Sistem Pendidikan di Finlandia

          Saya bukan seorang ahli pendidikan, praktisi pendidikan formal juga bukan lagi menjadi aktifitas saya. saya hanya seorang ibu rumah tangga yang mengamati, mengikuti, dan akhirnya memprihatini (benar nggak kata ini?) dunia pendidikan. Kok begitu?
         Beberapa tahun lalu saya sempat membuat sebuah karya tulis sebagai syarat kelulusan sebuah diklat pendidikan guru SD tentang sistem pendidikan di Indonesia yang masih dominan mengaktifkan kinerja otak kiri saja (waktu itu, dan kayaknya sekarang pun tak jauh berubah kecuali di sekolah-sekolah terpilih). Dan komentar dosen pembimbing yang notabene praktisi pendidikan beneran (nggak kayak saya yang baru taraf kenpingin jadi), membenarkan hal tersebut, bahkan malah menambahkan bahwa tak hanya seperti itu, tetapi memang dari dulu sistem pendidikan di Indonesia ini memang "ya wis begitulah...". Mulai kurikulum yang sering gonta-ganti, materi belajar yang kurang mengarahkan anak pada minat atau bakat khususnya sehingga optimal dalam mengejar profesi, materi yang terlalu berat namun tidak terlalu terpakai dalam kehidupan sehari-hari, biayanya, sistem ujian nasionalnya yang bla bla bla...
         Maka, ketika malam ini tadi, sekitar sejam yang lalu saya menyaksikan tayangan di televisi (nggak terlalu merhatikan acara apa dan stasiun mana karena sambil ini itu) yang memberitakan beberapa pelajar yang mendatangi seorang tokoh spiritual untuk minta "sesuatu" yang melancarkan ujian mereka, lalu sang tokoh membagikan beberapa botol air minum dalam kemasan (semacam aqua lah...) dan pensil yang banyaknya sejumlah siswa yang datang tsb. Saya merasa sangat prihatin.... Hai... ini jaman apa? saya malah jatuh kasihan pada anak-anak didik tersebut.
         Jadi apa hubungannya dengan sistem pendidikan Indonesia? Terus Kok Judulnya nyinggung2 Sistem Pendidikan Finlandia? Ya kalau dihubung-hubungkan, ya ada hubungannya lah!

Senin, 16 April 2012

Cinta di Tepi Geumho

  Aku menatap matanya.
"Karena itulah... jauhi Jun So. aku tak mau hubungan kami rusak oleh wanita manapun termasuk dirimu."
         Mulutku terkunci rapat. Benar-benar tak sanggup menelurkan sepatah kata pun untuk membalas kata-kata wanita ini.
         "Hanya itu yang bisa aku sampaikan, permisi."
          Perlahan dia meninggalkanku.
          Aku seperti patung menghadap dinding beton berhias gambar langit dan awan-awan putih. Tubuhku hampir ambruk. Kepalaku pusing dan berbintang-bintang. Lalu....
-----------------------------------------------

           Bulan di atas Seoul sangat percaya diri menampakkan wujudnya yang bulat keperakan. Bintang gemintang seakan menemaninya dalam malam yang sebenarnya sunyi buatku. Tak ada sms, tak ada suara-suara riuh ramai, tak ada Jun So.

                                                    ***

           Sebuah kisah cinta yang sederhana. Diwarnai konflik yang sederhana pula. Namun kepiawaian penulisnya dalam menampilkan suguhan bacaan bersetting kalimantan serta korea- lah yang membuatnya menjadi unik dan istimewa. Bacalah dari awal hingga akhir, sebuah wawasan baru kan memperkaya khasanah pengetahuan kita. Tentang taekwondo, budaya Dayak, makanan-makanan khas Borneo maupun Korea, bahasa Korea, muslim Korea, dan tentu saja tentang rasa cinta yang tak lepas dari perih-bahagianya.

                                                    ***
            "Kini aku di tepi sungai Geumho...jantungku berdebar. Kian lama kian kuat. Seisi jiwaku didekap rasa gugup. Ya, kegugupan yang sebelumnya tak pernah kurasakan sebesar ini. Inikah yang disebut cobaan di detik-detik pernikahan itu, tanyaku dalam hati."

                                                   ***
           Suara hati dua tokoh bisa kita baca sekaligus dalam satu novel ini, novel yang bukan novel biasa. Novel "Cinta di Tepi Geumho" (Mahmud Jauhari Ali)

Judul Buku      : Cinta di Tepi Geumho
Penulis             : Mahmud Jauhari Ali
Penerbit          : Araska, Yogyakarta
Tebal Buku       : 143 hal.
Genre               : remaja- dewasa
ISBN                 : 978-602-9371-74-1

Bisa diperoleh di toko buku Gramedia, dan toko buku lainnya.....

Kamis, 05 April 2012

Belajar Dari Seorang Asisten Rumah Tangga (Pembantu)


           Belajar adalah suatu proses menambah pengetahuan atau keahlian baru. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara dan juga dari siapa saja. Umumnya orang belajar dengan membaca, seperti membaca buku pengetahuan, buku ketrampilan, koran, majalah, kitab, dan lain-lain. Selain membaca, belajar juga bisa dilakukan dengan melihat orang lain melakukan suatu hal, atau bertanya pada orang yang lebih tahu tentang sesuatu yang ingin kita pelajari. Belajar juga tak terbatas hanya pada sesuatu yang ingin kita pelajari saja, tetapi proses belajar tersebut bisa juga terjadi tanpa sengaja dan tidak kita rencanakan. Seperti pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, bahkan obrolan atau kalimat yang kita dengar sekilas saja pun bisa juga membuat kita mengalami proses belajar saat itu juga.
            Seperti yang baru-baru ini kualami di rumah. Akhir-akhir ini aku sering dipusingkan dengan ulah beberapa orang yang seakan suka memanfaatkan keberadaan suamiku di kampung ini. Kami adalah keluarga yang baru pindah dari kota, pulang kampung karena ingin tinggal lebih dekat dengan orang tua. Sayangnya, beberapa orang seakan melihat “kesempatan” untuk memanfaatkan keberadaan kami di sini. Mereka menganggap suamiku begitu banyak uang sehingga “proyek” demi “proyek” mereka sodorkan dengan berbagai dalih sehingga suamiku mau mengeluarkan koceknya. Kalau memang keperluan itu masuk akal, wajar, dan kocek suami lagi “ada”, mungkin aku tak terlalu keberatan. Tetapi seringkali yang mereka sodorkan adalah hal-hal diluar kewajaran, dengan ajuan dana yang “memeras” kantong suami. Tak peduli suamiku lagi ada uang atau tidak. Yang ada di otak mereka, ada suamiku, berarti ada uang berapapun itu. Aku sering mengurut dada dan menangis sendiri karena sering melihat suamiku yang seakan tak henti mendapat berbagai tekanan dari mereka yang berkepentingan.
           
            Padahal mereka bukanlah orang yang miskin, apalagi fakir. Mereka dalam keadaan tercukupi segala kebutuhannya. Ada saja kebutuhan- kebutuhan duniawi yang mereka angankan dengan menggantungkan “talangan dana” dari suamiku. Entah itu dikembalikan ataukah tidak, memang masih remang-remang. Sebenarnya kami ingin tegas. Jika tak ada, bilang tak ada. Tapi untuk bersikap seperti itu, seringkali suami tak sampai hati. Sehingga sudah berapa juta uang yang dicarikan dengan pinjam ke teman, akhirnya hingga sekarang tak kembali juga. Padahal suamiku sudah menyicil hingga lunas ke temannya tempat ia pinjam. Terus terang, sebenarnya aku tak ingin pelit. Tapi aku bosan dengan hal-hal seperti itu. Apa kami juga tak butuh nabung dan dana cadangan untuk keperluan mendadak (siapa tahu) di depan nanti? Untuk biaya sekolah anak-anak jika mereka sudah besar? Untuk membangun rumah yang kami sendiri pun belum punya, masih ngontrak di kampung ini?

Rabu, 04 April 2012

"Tragedi" Sebuah Jeruk


                Ruangan ini terbuka. Mereka telah memindah aku dan kawan-kawan menempati lantai bawah di bagian pinggir ruangan supermarket ini.  Sedikit berbeda dengan ruangan sebelumnya yang terhalang oleh tembok-tembok yang rapat menutup pandanganku ke dunia luar.  Walaupun sama-sama ber-AC,  tapi di sini aku bisa merasakan semilir angin, menatap mobil-mobil yang parkir, berikut debu dari jalan raya yang terkadang memang membuatku agak risih. Tapi aku suka ini, sebuah susana baru setelah bertahun-tahun aku berada di lantai atas. Debu jalanan pun tak sampai membuatku batuk dan melusuhkan bajuku.  Ramainya sih sama saja. Setiap hari aku harus rela dipelototi oleh mata-mata yang langsung terpana jika melihat penampilanku yang ngejreng dengan busana transparan bergambar kemerahan ini.  Apalagi jika melihat plang harga yang dipasang di samping tempatku berada. Yang ini tak membuatku tersinggung, aku malah bangga. Biasanya mereka akan bergegas menghampiriku dan memegan-megangku. Begitulah setiap hari.
                Pada suatu hari, di siang yang  terik aku mendengar suara sekelompok anak kecil yang lewat di pinggir jalan raya itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tiba-tiba saja mereka berbalik dan melihat ke arah supermarket tempatku berada. Mereka bukan pengunjung yang seperti biasanya. Sandal jepit murah serta baju lusuh menempel di tubuh mereka. Mau apa mereka? Heranku. Mau beli apa mereka dengan penampilan seperti itu? Apa mereka punya uang? Kutatap mereka dengan sinis. Wah..wah.. ternyata mereka menghampiriku, menatapku dengan penuh ketertarikan. Yang begini ini benar-benar membuatku risih!
                “Mbak... kalau yang ini berapa mbak?”
                Aku cuek saja, pura-pura tak mendengar.
                “Oh... sekilonya enam ribu sembilan ratus sembilan puluh rupiah dek, tujuh ribu lah... mau beli ?” sahut seorang karyawati yang dari tadi berdiri di sampingku.
                Kepala-kepala berambut kusut itu mengangguk-angguk. Sesekali mereka melirik nakal ke arahku. Idihh...
                “Beli satu boleh, Mbak?” jawab salah satu dari tiga anak itu.
                “Satu? “sahut si karyawati sambil memegang-megang bibirnya pakai telunjuk, seperti orang yang sedang bingung. Sekilas ia melirikku juga. Huh! Jangan sampai deh mereka menyentuhku.

Senin, 26 Maret 2012

Warisan Nenek Moyang yang Kaya Filosofi


Batik yang Makin Populer
Kain batik Indonesia. Siapa yang tak kenal batik? Walau identik dengan budaya etnik warisan nenek moyang, namun pada saat-saat ini justru sentuhan batik mewarnai hampir semua lini kehidupan. Lihatlah betapa populernya hiasan rumah dan perlengkapan rumah tangga yang berhiaskan indahnya corak batik. Seperti korden berkombinasi kain batik, taplak meja batik atau kombinasi polos dan batik, seprei batik, penutup magic com bercorak batik, selimut dengan kombinasi kain batik, mukena batik, sajadah batik, dan lain-lain.  Benda lain seperti tas, sandal, juga telah banyak yang mendapat sentuhan corak batik.
Baju bercorak batik? Hmm, siapa yang tidak punya baju batik? Dari kalangan rakyat jelata hingga presiden, hampir bisa dipastikan memiliki setidaknya satu buah baju bercorak batik. Hampir di semua instansi termasuk di sekolah-sekolah, ada hari tertentu dimana anggotanya harus memakai seragam batik. Pak RT hingga Bapak Presiden pun begitu nampak berwibawa dengan mengenakan busana batik dalam acara-acara resminya. Batik juga telah disulap menjadi berbagai model pakaian. Mulai pakaian resmi yang berbentuk hem hingga piyama untuk tidur. Apalagi untuk kalangan wanita, batik kini tak terbatas hanya untuk dipakai sebagai kain padanan kebaya saja sebagaimana pakaian adat. Tetapi bisa kita lihat dalam jelmaannya sebagai baju santai seperti daster atau baby doll, sebagai gaun pesta, gaun santai, setelan untuk jalan-jalan dengan berbagai gaya, atau bentuk atasan dengan rancangan yang beraneka ragam pula. Tak hanya nenek-nenek atau di hari khusus saja kain batik dikenakan, tetapi dari balita, remaja hingga orang tua sekarang ini makin percaya diri mengenakan pakaian  batik sebagai busana sehari-hari. Bermunculannya kios-kios yang menjual khusus baju-baju batik dengan berbagai model masa kini dan dengan harga yang terjangkau pun makin menambah banyaknya penggemar batik di masyarakat.

Apa dan Bagaimanakah Kain Batik Sesungguhnya?
Kain Batik adalah kain yang telah diberi corak dengan tehnik pewarnaan dan pola-pola khusus. Tehnik pewarnaan kain batik tradisional adalah dengan menggunakan canting yang berisi malam cair, yang ditorehkan ke atas kain yang masih polos, yang gunanya untuk menutup bagian yang telah diberi pola agar tidak terkena zat warna saat pencelupan warna. Setelah proses pewarnaan berkali-kali, selanjutnya kain dicelup ke cairan khusus untuk melarutkan malam sehingga didapat sebuah kain dengan corak indah yang siap dijual atau dibentuk untuk berbagai produk lebih lanjut. Kain batik dengan tehnik ini biasanya memang berharga mahal, karena saat pembuatannya butuh kesabaran, ketelitian, jiwa seni yang tinggi, serta memakan waktu lumayan lama yaitu sekitar dua sampai tiga bulan. Inilah yang disebut kain batik asli atau batik tulis.
Sedangkan pada saat ini, telah banyak kain batik yang harganya cukup terjangkau, dimana pembuatannya lebih sederhana yaitu menggunakan tehnik cap sehingga disebut kain batik cap. Alat untuk menghasilkan corak cap pada kain biasanya terbuat dari tembaga. Proses yang dibutuhkan hingga selesai satu kain batik sekitar dua sampai tiga hari. Ada juga tehnik batik dengan cara dilukis langsung pada kain putih sehingga menghasilkan corak yang diinginkan yang disebut dengan batik lukis.

Minggu, 18 Maret 2012


KUIS BUKU DETIK DEMI DETIK (“3D”) Antologi Kisah Nyata tentang Rahasia Tuhan.
Harian Republika telah mengulas buku “3D” edisi Minggu 3 Maret 2012. Ulasannya bisa dibaca pada web kami  www.rumahoren.com kolom ARTIKEL.
Semua yang membaca buku “3D”pasti akan mengatakan, “Benar-benar menyentuh, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan melakukan hal terbaik sepanjang hidup.”
Bahkan kalimat pertama dari Dedi Setiadi (sutradara senior) dalam kata pengantar di buku ini adalah, “Wow, luar biasa! Tidak kan bosan membacanya.”

Kini Penerbit Pena Oren mengadakan KUIS untuk para pembaca buku “3D”.
Caranya:

Sabtu, 17 Maret 2012

Jalan Setapak Menuju Mimpi


Aku pernah membayangkan diriku menjadi seorang penulis. Penulis apa saja.  Menjadi seorang wartawati, seorang cerpenis, seorang novelis, atau penulis buku populer yang inspiratif. Hmm... indahnya andaikan aku bisa menjadi seperti itu, mimpiku waktu itu.
            Menjadi penulis saat itu bagaikan bermimpi meraih bulan. Betapa tidak, aku tak tahu apa yang akan kutulis, walau keinginan untuk bisa menulis sangat besar. Aku masih ingat, saat masih kuliah, aku pernah iri pada dua orang temanku yang terpilih sebagai seorang pengurus mading (majalah dinding). Kebetulan mereka adalah teman terdekatku. Salah satu dari mereka adalah teman satu kos, dan satunya lagi adalah sahabat karibku. Aku begitu ingin seperti mereka, aku berusaha nimbrung kegiatan mereka dengan harapan suatu hari nanti aku bisa ikut menulis untuk majalah dinding di kampus.
            Kubaca-baca apa yang artikel mereka. Hmm... tulisan yang menarik, dan aku merasa tidak percaya diri untuk bisa menulis seperti mereka. Lalu kucoba membuat tulisan yang idenya kuambil dari sebuah buku motivasi karya penulis barat. Kalau tidak salah nama penulis itu adalah Dale Carnegie. Kupikir isi buku itu bagus. Aku berusaha membuat ulasan isi buku itu dengan bahasaku sendiri. Tahukah kau kawan? Saat itu aku tak punya komputer, jadi aku menulisnya dengan pena. Dengan separuh tidak pede, aku serahkan tulisanku pada teman pengurus mading itu. Aku sangat berharap tulisanku bisa ikut nebeng di majalah dinding kampus.
            Kutunggu kelanjutan nasib tulisanku. Sehari, dua hari, tiga hari, hingga satu bulan tak ada konfirmasi apa-apa dari mereka. Aku pasrah, ya sudahlah..... Aku juga sadar aku tak bisa merangkai kata menjadi kalimat-kalimat yang enak dibaca seperti mereka. Apalagi aku hanya memakai pena untuk menulis, bukan mesin ketik apalagi komputer. Rencanaku, seandainya menurut mereka tulisanku layak pajang, maka akan kuketik di rental komputer. Sempat terpikir olehku, andainya orang tuaku mampu membelikanku komputer saat itu..... mungkin banyak yang bisa kulakukan. Ah!.... sudahlah. Maafkan Ela Bu, Pak, sempat merasa kurang beruntung karena kalian tak membelikanku komputer seperti mereka. Hahaha! Itu sesuatu yang teramat mahal bagi kami saat itu. Tapi, sebenarnya bukan masalah pakai komputer atau coretan tangan yang menjadi sebabnya. Pasti karena memang tulisanku belum layak baca saat itu. 

            Setelah kejadian itu, aku tak pernah berusaha lagi membuat tulisan untuk majalah dinding. Aku hanya melanjutkan hobi corat-coretku di atas lembar-lembar buku harian saja. Membuat puisi, membuat tulisan  curahan hati, pokoknya asal ingin menulis ya aku menulis saja walaupun tak beraturan. Pokoknya selesai menulis aku merasa ada kelegaan tersendiri.

Dicari "Penulis Gaul" demi Selamatkan Masa Depan Bangsa (nulisnya pas peringatan hari kebangkitan nasional dulu...)


Hai Pemuda, khususnya para penulis muda, bagaimana kabarmu? Bertepatan dengan peringatan hari kebangkitan nasional ini, tak ada salahnya jika kita sedikit berbicara tentang semangat kebangsaan yuk! Siapa tahu dari yang sedikit ini nanti akan membawa manfaat yang besar di kemudian hari.
Karena kebangkitan bangsa identik dengan kebangkitan pemuda, mari kita tengok sekilas keadaan pemuda Indonesia beberapa tahun terakhir ini.

Bagaimana sih Kondisi Teman-Teman Kita?
Sudah tidak diragukan lagi bahwa keadaan generasi muda kita sekarang ini berada pada tingkat yang memprihatinkan. Survei empat tahun lalu, yaitu tahun 2007 oleh BKKBN menghasilkan data bahwa 97% remaja Indonesia pernah nonton video porno, 93,7% pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks ketika pacaran, 62,7% remaja putri SMP sudah tidak perawan, dan 21,2% remaja putri pernah aborsi.
Untuk kasus Narkoba, menurut data Perkumpulan Rumah Sakit Seluruh Indonesia pada tahun 2007, sejumlah 81.702 pelajar SD, SMP, SMA, menggunakan Narkoba dan angka ini terus meningkat tiap tahunnya.
Sementara itu kejadian tawuran pelajar juga tidak sedikit kejadiannya terutama di kota-kota besar di Indonesia. Seperti yang terjadi di Palembang, Subang, dan Makassar pada tahun 2006, dan di Semarang pada tahun 2005. Dan dari tahun ke tahun kita selalu saja mendengar adanya kejadian tawuran di beberapa kota di Indonesia.
Adanya kenyataan tentang keadaan pemuda kita menurut data di atas, mencerminkan kondisi moral para pemuda Indonesia yang memprihatinkan. Padahal kualitas generasi muda merupakan cerminan masa depan bangsa. Suatu bangsa yang gagal membina generasi mudanya, baik moral maupun kapabilitasnya, maka bisa dibayangkan masa depan bangsa itu kelak. Namun sesungguhnya bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang terdiri dari orang-orang yang tidak berpendidikan atau kapabilitasnya kurang. Sesungguhnya kita memiliki orang-orang yang pandai di berbagai bidang. Indonesia juga memililiki kekayaan alam dan kuantitas sumber daya manusia yang sangat banyak. Namun semuanya tidak berdaya mengangkat derajat bangsa jika moral pemudanya banyak yang telah rusak.

Kekhawatiran Saya, Kekhawatiran Anda Jugakah?




Beginikah Pemuda Kita?
Beberapa orang ibu dalam sebuah acara parenting yang diadakan sebuah sekolah menangis melihat kenyataan tentang pemuda di Indonesia. Disebutkan dalam presentasi sesi awal acara tersebut bahwa survei empat tahun lalu, yaitu tahun 2007 menghasilkan data bahwa 97% remaja Indonesia pernah nonton video porno, 93,7% pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks ketika pacaran, 62,7% remaja putri SMP sudah tidak perawan, dan 21,2% remaja putri pernah aborsi. Angka-angka tersebut memang membuat miris setiap orang tua yang peduli dengan anak-anaknya.
Sementara hasil browsing saya, untuk kasus Narkoba, menurut data Perkumpulan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) pada tahun 2007, sejumlah 81.702 pelajar SD, SMP, SMA, menggunakan Narkoba dan angka ini terus meningkat tiap tahunnya. Sedangkan kejadian tawuran pelajar juga tidak sedikit kejadiannya terutama di kota-kota besar di Indonesia. Seperti yang terjadi di Palembang, Subang, dan Makassar pada tahun 2006, dan di Semarang pada tahun 2005. Dan dari tahun ke tahun kita selalu saja mendengar adanya kejadian tawuran di beberapa kota di Indonesia.
Tidak prihatinkah kita? Tidak khawatirkan jika suatu saat kita mendengar anak kita termasuk dalam daftar pemuda yang memprihatinkan tersebut?
Saya jadi teringat sebuah lagu, yang diciptakan seorang komponis hebat pendiri grup Nasyidaria dari Semarang, yaitu Bapak Zain Alm. yang syair lagunya seperti ini:
“Anakku anakku anakku... Dunia yang akan kau alami, tak sama-tak sama tak samaa...! Dengan dunia yang kualami. Makin berliku-likuuu.. liku-liku cari sekolah, liku-liku cari nafkah. Namun jangan berekecil hati, jadilah manusia sakti, cerdas tabah, kreatif! Dengar-dengar-dengar semboyanku....”

Lelaki Telaga

        Aku datang ke telaga bening ini lagi. Artinya aku sedang lelah... dunia terasa tak ramah lagi padaku. Di sini aku bisa merenung tanpa diganggu, menikmati segarnya air telaga yang kubasuhkan di wajah kusutku, duduk sambil mengayunkan kedua kaki pada airnya yang dingin. Menarik nafas panjang, menikmati pemandangan sekitar yang dipagari indahnya taman bunga seribu warna. Hatiku merasa damai...
           Pagi hari, aku tersadar dari mimpi. Seperti biasa, hari ini aku akan menghadiri jadwal kuliah di kampus bersama mereka. Kadang aku berpikir, andaikan mereka semua tahu tentang apa yang ada di hatiku.... Hhh...tapi aku lebih sering menyerah dengan situasi, dan terpuruk oleh rasa tak percaya diri. “Teman, aku butuh dukungan...!” seringkali suara hati ini minta didengar. Sayang, aku tak pernah mampu melisankannya, hanya berhenti dan tercekat di dalam mulut yang tak pernah terbuka. “Aku butuh seseorang....” rintihku di setiap malamku yang seringkali terisi oleh kehampaan. Aku merasa sendirian di kota perantauan ini. Aku butuh teman bicara, teman yang selalu memahami bagaimana sesungguhnya aku, teman yang tak hanya bisa menyalahkanku. Aku butuh seseorang yang akan berkata, ”Aku percaya kau bisa, aku percaya kau adalah orang baik, aku akan selalu menemaninmu...” Sayangnya aku belum menemukan dia. Aku juga ragu apakah dia akan ada untukku.

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...