Sabtu, 17 Maret 2012

Jalan Setapak Menuju Mimpi


Aku pernah membayangkan diriku menjadi seorang penulis. Penulis apa saja.  Menjadi seorang wartawati, seorang cerpenis, seorang novelis, atau penulis buku populer yang inspiratif. Hmm... indahnya andaikan aku bisa menjadi seperti itu, mimpiku waktu itu.
            Menjadi penulis saat itu bagaikan bermimpi meraih bulan. Betapa tidak, aku tak tahu apa yang akan kutulis, walau keinginan untuk bisa menulis sangat besar. Aku masih ingat, saat masih kuliah, aku pernah iri pada dua orang temanku yang terpilih sebagai seorang pengurus mading (majalah dinding). Kebetulan mereka adalah teman terdekatku. Salah satu dari mereka adalah teman satu kos, dan satunya lagi adalah sahabat karibku. Aku begitu ingin seperti mereka, aku berusaha nimbrung kegiatan mereka dengan harapan suatu hari nanti aku bisa ikut menulis untuk majalah dinding di kampus.
            Kubaca-baca apa yang artikel mereka. Hmm... tulisan yang menarik, dan aku merasa tidak percaya diri untuk bisa menulis seperti mereka. Lalu kucoba membuat tulisan yang idenya kuambil dari sebuah buku motivasi karya penulis barat. Kalau tidak salah nama penulis itu adalah Dale Carnegie. Kupikir isi buku itu bagus. Aku berusaha membuat ulasan isi buku itu dengan bahasaku sendiri. Tahukah kau kawan? Saat itu aku tak punya komputer, jadi aku menulisnya dengan pena. Dengan separuh tidak pede, aku serahkan tulisanku pada teman pengurus mading itu. Aku sangat berharap tulisanku bisa ikut nebeng di majalah dinding kampus.
            Kutunggu kelanjutan nasib tulisanku. Sehari, dua hari, tiga hari, hingga satu bulan tak ada konfirmasi apa-apa dari mereka. Aku pasrah, ya sudahlah..... Aku juga sadar aku tak bisa merangkai kata menjadi kalimat-kalimat yang enak dibaca seperti mereka. Apalagi aku hanya memakai pena untuk menulis, bukan mesin ketik apalagi komputer. Rencanaku, seandainya menurut mereka tulisanku layak pajang, maka akan kuketik di rental komputer. Sempat terpikir olehku, andainya orang tuaku mampu membelikanku komputer saat itu..... mungkin banyak yang bisa kulakukan. Ah!.... sudahlah. Maafkan Ela Bu, Pak, sempat merasa kurang beruntung karena kalian tak membelikanku komputer seperti mereka. Hahaha! Itu sesuatu yang teramat mahal bagi kami saat itu. Tapi, sebenarnya bukan masalah pakai komputer atau coretan tangan yang menjadi sebabnya. Pasti karena memang tulisanku belum layak baca saat itu. 

            Setelah kejadian itu, aku tak pernah berusaha lagi membuat tulisan untuk majalah dinding. Aku hanya melanjutkan hobi corat-coretku di atas lembar-lembar buku harian saja. Membuat puisi, membuat tulisan  curahan hati, pokoknya asal ingin menulis ya aku menulis saja walaupun tak beraturan. Pokoknya selesai menulis aku merasa ada kelegaan tersendiri.
            Waktu berjalan. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Saat sibuk dengan berbagai aktifitasku sebagai ibu rumah tangga dan bekerja di luar rumah, aku semakin jarang menulis. Aku seakan lupa dengan mimpiku itu. Bahkan aku juga jarang membaca buku ataupun majalah. Praktis, aku juga jarang membaca cerpen ataupun novel. Aku benar-benar sudah jauh dari dunia yang pernah menjadi anganku.
            Ketika sudah memiliki anak, aku memutuskan mengasuh anakku sendiri di rumah dan keluar dari tempat kerja. Peran sebagai seorang istri dan ibu yang tidak mempunyai asisten makin membuatku hanyut dalam kegiatan-kegiatan domestik saja. Aku merasa jenuh. Rasanya hidupku berjalan seperti itu-itu saja, dengan pola yang sama berulang setiap harinya. Menyiapkan sarapan, mencuci, membersihkan rumah, menyuapi makan anak-anak, dan sebagainya. Rasanya tiada habisnya pekerjaan-pekerjaan itu.
            Pada suatu hari, suamiku yang seakan tahu akan kejenuhanku membawakanku sebuah majalah islam. Aku berusaha menyempatkan waktu di sela-sela pekerjaan yang seabrek itu untuk membacanya. Subhanallah... ternyata isinya sangat menarik. Ada artikel, obrolan, cerpen, dan lain-lain yang semuanya inspiratif. Aku mulai suka membaca lagi. Aku senang sekali mendapatkan masukan ilmu dari majalah itu. Suamiku juga membawakan majalah-majalah donatur dari berbagai lembaga amal. Tentu saja isinya  bukan hanya artikel biasa-biasa saja. Aku semakin menikmati kegiatan membaca walaupun harus pandai –pandai mencari waktu yang tepat.
            Semakin banyak membaca, aku menjadi ingin bisa membuat tulisan yang inspiratif seperti yang ada di majalah-majalah itu. Tapi bagaiamana caranya ya? Tanyaku dalam hati. Terus, mau dikemanakankah tulisanku itu? Tanyaku lagi. Apakah majalah-majalah itu mau memuat tulisanku? Ah... ternyata aku masih bermimpi.
            Tapi, keinginanku untuk menulis semakin besar. Terutama saat melihat fenomena-fenomena di perumahan tempat aku tinggal. Kadang aku ingin mengkritik beberapa kebiasaan tetangga-tetangga yang kurang baik. Tapi rasanya aku tak mungkin langsung menegur mereka. Siapalah aku ini? Apalagi aku termasuk penduduk yang berumur masih muda dibandingkan beberapa tetangga lain. Tetapi hati kecilku berkata bahwa aku harus melakukan sesuatu yang sedikit banyak bisa menjadi teguran untuk mereka. Dengan adanya fakta yang membutuhkan perbaikan di sekelilingku, dan terinspirasi oleh artikel-artikel di majalah-majalah yang kubaca, maka aku memutuskan bahwa aku harus menulis. Aku nekat  membuat sebuah buletin.
            Kawan, jangan dibayangkan buletin yang kubuat adalah buletin dengan desain dan lay out yang bagus. Aku belum bisa membuat yang seperti itu. Ini masih buletin sederhana, sangat sederhana. Artikel yang kuketik di komputer itu kucetak, lalu kuperbanyak dengan cara difotokopi. Aku bagi-bagikan lembaran demi lembaran artikel pertamaku itu dengan diam-diam di waktu pagi buta setelah sholat subuh. Walau masih sederhana, aku berharap artikelku yang berbicara tentang surat Al Ashr itu bermanfaat bagi para tetangga yang mau membacanya. Saat itu aku benar-benar ingin menjadikan kegiatanku menulis sebagai caraku berdakwah. Aku sempat membayangkan suatu hari nanti bisa membuat buletin perumahan yang bagus, terencana dengan matang setiap detilnya, serta bisa terbit setiap bulan. Bahkan, aku juga sempat bercita-cita memiliki sebuah redaksi penerbitan majalah. Oh...cita-cita, begitu tingginya engkau hingga aku tak tahu bagaimana harus mewujudkannya.
            Buletin yang kubuat itu ternyata adalah buletin pertama dan terakhirku. Hehehe... yah... beberapa faktor membuatku tak jadi meneruskan keinginanku untuk menerbitkan buletin setiap bulannya. Untuk membuat tulisan yang bermanfaat bagi orang banyak ternyata tidak bisa asal menulis saja. Agar tulisan menjadi berkualitas dan benar-benar tepat sasaran, maka aku harus banyak membaca fenomena di sekitar serta mencari referensi dan dalil-dalil yang pas. Dan itu butuh waktu dan keseriusan tersendiri. Aku tak mau tulisanku nanti malah tidak menjadi berkah karena ternyata yang kutulis tidak tepat. Aku juga khawatir nanti ada beberapa tetangga yang menilaiku dan membandingkan antara yang kutulis dengan kehidupanku sehari-hari. Terlalu banyak kekhawatiranku yang sebenarnya itu tak perlu. Karena kurang support dan tak ada teman, aku tidak membuat buletin itu lagi.
            Telah lama aku tak menulis hingga lahir anakku yang ke dua. Sebenarnya, jauh di dalam hatiku masih tersimpan keinginan menjadi seorang penulis tiap kali membaca-baca buku atau majalah. Yang menjadi kendala saat itu lebih banyak pada keragu-raguan dalam hati, akan dikemanakankah tulisanku nanti? Kalau tidak ada yang mau memuatnya , kurasa akan sia-sia apa yang sudah kutuliskan. Untuk membuat buletin lagi, rasanya aku tambah tidak percaya diri. Tak ada suatu motivasi yang kuat yang bisa menarikku pada kegiatan menulis lagi.
            Hingga pada suatu hari.... Eng ing eng...!
            Mimpi terpendam yang telah lama ngendon di lubuk hati saja ini seperti mendapat jalan keluar dari Sang Maha Pendengar. Pada suatu event di sekolah anakku, aku dibelalakkan mata oleh sesosok perempuan sederhana yang mengumumkan tentang buku karyanya yang baru terbit. Penulis? Dia seorang penulis buku? Buku itu tulisannya? Aku seolah tak percaya bahwa  jenis manusia yang menurutku dulu tak terjamah itu sekarang ada di hadapanku, nyata adanya. Entah mengapa hatiku langsung berdebar-debar. Ya Allah..... inikah yang Kau namakan takdir? Dan takdir belum menjadi takdir jika aku tak berusaha meraih takdir baik itu. Aku memandang suamiku, meminta persetujuan untuk mendatangi penulis itu. Subhanallah.... entah kenapa aku merasa yakin bahwa ini adalah petunjuk bagiku sebagai langkah awal menjadi seorang penulis Ya Allah...?
            Aku berkenalan dengan dia, aku menjabat tangannya, aku menyatakan ketakjubanku bahwa diantara sekian manusia yang ada di sana ternyata ada seorang penulis beneran. Dan aku selalu kagum dengan makhluk yang bernama penulis. Teman, aku menuliskan ini sambil meneteskan air mata haru.
            Sejak saat itu, hidupku berubah. Aku sudah tahu kemana mengalamatkan mimpi-mimpiku itu agar menjadi nyata. Ia seorang penulis yang sangat baik. Ia menggandeng tanganku untuk bersama menarikan jari-jemari di atas tuts-tuts keyboard menuliskan  aspirasi dan ide-ide cerita yang ingin disampaikan ke banyak orang. Dia sama sekali tidak sombong. Dia sangat santun, ramah, rendah hati, dan yang paling kusukai, dia tak pernah berhenti meyakinkanku bahwa aku bisa menjadi seorang penulis seperti dia.
            Lomba demi lomba kuikuti, satu persatu buku yang mencantumkan karya dan namaku terbit. Aku sangat bersyukur padamu ya Allah...... aku seperti mendapat jawaban dari teka-teki masa silam yang sempat membuatku bertanya, akan kemana aku melangkah? Dan kini aku sangat bahagia bisa bersanding dan bercengkrama dengan kawan-lawan penulis yang ramahnya, santunnya, serta baik hatinya tak jauh beda dengan Shabrina.  Walapun kiata hanay berkawan lewat Facebook, tapi kuanggap kalian semua nyata. Dan bukankah kalian semua memang ada kan? Aku belajar banyak dari postingan-postingan  tulisan teman-teman di Fb. Aku yang semula selalu bingung untuk memulai suatu tulisan, sekarang menjadi sedikit terlatih, bahkan menjadi resah jika dalam tiga hari tak menghasilkan tulisan apa-apa. Semua kudapatkan di sini, di pertemanan kita lewat Facebook ini, kawan. Dan siapakah yang telah menggandengku ke dunia maya bertemu dengan para penulis seperti kalian? Ya Shabrina Ws yang sederhana dan murah senyum itu.
            Kawan, berkat dukungan dan doa kalaian semua, aku semakin yakin bahwa aku tak akan meninggalkan dunia menulis ini. Bahkan aku sempat berhasil membuat sebuah novel yang menang saat kuikutkan lomba, Alhamdulillah....
 Aku memang jauh dari sempurna, tapi saling mengingatkan lewat tulisan, kuharap akan menjadi jalan kita untuk semakin mendekati kata sempurna itu, Kawan. Amiiin.....

Specially Dedicated to : Shabrina Ws (Eni Wulansari)
Oleh: Ella Sofa (Wulan E. Budiono)
Reaksi:

2 komentar:

  1. Mbaak...aku kangen njenengan...*netesin air mata ingat perkenalan kita dan terakhir ketemu di sekolah sebelum kau pindah*

    Kau keren Mbak, sangat keren. Aku kagum padamu, sungguh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks... kangen juga. kebetulan nemu tulisan ini lagi di dokumen. langsung takposting. dulu tak ikutin lomba gak menang. tapi aku senang bisa bikin tulisan ini, spt prasasti hehe

      Hapus