Sabtu, 17 Maret 2012

Kekhawatiran Saya, Kekhawatiran Anda Jugakah?




Beginikah Pemuda Kita?
Beberapa orang ibu dalam sebuah acara parenting yang diadakan sebuah sekolah menangis melihat kenyataan tentang pemuda di Indonesia. Disebutkan dalam presentasi sesi awal acara tersebut bahwa survei empat tahun lalu, yaitu tahun 2007 menghasilkan data bahwa 97% remaja Indonesia pernah nonton video porno, 93,7% pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks ketika pacaran, 62,7% remaja putri SMP sudah tidak perawan, dan 21,2% remaja putri pernah aborsi. Angka-angka tersebut memang membuat miris setiap orang tua yang peduli dengan anak-anaknya.
Sementara hasil browsing saya, untuk kasus Narkoba, menurut data Perkumpulan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) pada tahun 2007, sejumlah 81.702 pelajar SD, SMP, SMA, menggunakan Narkoba dan angka ini terus meningkat tiap tahunnya. Sedangkan kejadian tawuran pelajar juga tidak sedikit kejadiannya terutama di kota-kota besar di Indonesia. Seperti yang terjadi di Palembang, Subang, dan Makassar pada tahun 2006, dan di Semarang pada tahun 2005. Dan dari tahun ke tahun kita selalu saja mendengar adanya kejadian tawuran di beberapa kota di Indonesia.
Tidak prihatinkah kita? Tidak khawatirkan jika suatu saat kita mendengar anak kita termasuk dalam daftar pemuda yang memprihatinkan tersebut?
Saya jadi teringat sebuah lagu, yang diciptakan seorang komponis hebat pendiri grup Nasyidaria dari Semarang, yaitu Bapak Zain Alm. yang syair lagunya seperti ini:
“Anakku anakku anakku... Dunia yang akan kau alami, tak sama-tak sama tak samaa...! Dengan dunia yang kualami. Makin berliku-likuuu.. liku-liku cari sekolah, liku-liku cari nafkah. Namun jangan berekecil hati, jadilah manusia sakti, cerdas tabah, kreatif! Dengar-dengar-dengar semboyanku....”

Saya yang sejak kecil hanya menghafal di luar kepala lagu ini tanpa tahu maknanya, sekarang begitu meresapi arti setiap kata-kata dalam syair lagu itu. Lagu yang sederhana, namun isinya begitu “menohok” kita sebagai orang tua (seharusnya). Tiba-tiba saja saya sering mendendangkan lagu itu disela-sela kesibukan saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengasuh mereka. Selain saya merasa salut dengan pencipta lagunya yang begitu lihai “meramalkan” hari ini, lagu ini juga merupakan peringatan bagi saya, bahwa dunia mereka memang tak sama dengan dunia kita dulu. Dan, tentu ini juga harus diikuti dengan stretegi yang tak sama dengan cara orang tua kita dulu mendidik anaknya.

Internet = Game Online ?
Internet memang bukan lagi menjadi barang mahal dan langka. Sepuluh tahun lalu, untuk pergi ke warnet saja saya harus pikir-pikir jika memang tidak begitu perlu untuk mencari data atau mengirimkan sesuatu yang harus memakai fasilitas e-mail. Sekarang? Warung internet menjamur di mana-mana, bahkan jaraknya tak jarang berdekatan antara warnet satu dan yang lainnya. Harga pakainya per jam pun terbilang murah. Semua orang baik dari kalangan pejabat hingga orang bawah, rasanya hampir semua pernah menikmati fasilitas internet. Tak terkecuali anak-anak, termasuk yang tergolong dalam kategori di bawah umur. Mereka bebas keluar-masuk warnet, tidak jelas apakah memang perlu mencari informasi tentang pelajaran sekolah, atau mengirim e-mail ke suatu alamat tertentu, atau hanya untuk chatting dan bermain game online.
Hal yang merisaukan, seakan-akan tidak ada peraturan sama sekali tentang batasan umur seseorang yang boleh masuk ke warnet. Padahal di internet ini banyak sekali ‘sesuatu’ yang sangat belum pantas dilihat oleh anak-anak lho.. Banyak sekali situs yang tadinya menawarkan informasi tentang hal-hal yang positif yang diperlukan banyak orang, setelah dibuka ternyata mereka menyuguhkan tawaran-tawaran yang tidak sopan, yang tentu saja membuat penasaran bagi yang terlanjur membuka situs itu. Apalagi anak-anak yang berjiwa ingin tahu tinggi, pasti mereka juga tak mau ketinggalan akan informasi yang baru bagi mereka itu.
Kekhawatiran yang ke dua, saat ini plang nama warnet di berbagai tempat bukan lagi hanya WARNET, tapi diberi embel-embel GAME ONLINE. Artinya apa? Artinya seakan-akan telah diakui secara tidak resmi bahwa semakin banyak pengunjung yang memanfaatkan  warnet untuk sekedar bermain game online disamping pengunjungyang datang untuk mencari informasi atau mengirimkan sesuatu lewat e-mail. Artinya betapa banyaknya orang termasuk anak-anak yang menghabiskan waktunya hanya dengan duduk diam dan bermain game online. Padahal menurut berbagai sumber, selain banyak jenis game yang yang bertema kekerasan sekarang ini banyak jenis game online yang ujung-ujungnya menawarkan sesuatu yang sangat tidak layak untuk anak-anak (pornografi). Dan ditinjau dari segi kesehatan  pun bila terlalu lama duduk tidak baik bagi kesehatan tubuh. Apalagi main game  tak luput dari hentakan-hentakan emosi, perasan tegang yang terbawa oleh adegan-adegan game tanpa diikuti gerakan tubuh yang berarti. Misalnya seseorang merasa seolah-olah dia sedang berlari menghindari musuh, padahal itu hanya perasaannya saja yang merasa demikian sedangkan sebenarnya tubuhnya hanya berada pada posisi yang statis. Secara psikologis, ini bisa menimbulkan stress pada pelaku. Jadi, bukankah sangat menghawatirkan terlalu lama dan sering main game online?
Berawal dari itulah, saya tergerak mengajak  para orang tua untuk memikirkan nasib anak-anak kita ke depan. Setiap hari saya menyaksikan puluhan anak berduyun-duyun masuk ke warnet hanya untuk main game online atau FB-an yang sekedar untuk bersenang-senang. Saya membayangkan, seandainya anak saya seusia itu nanti, bukan tidak mungkin ia juga termasuk salah satu dari anak-anak yang menggilai game online. Dan namanya anak yang dalam masa-masa membutuhkan teman sebaya, sepertinya tak mudah untuk melarang mereka agar tak mengikuti teman-temannya. Bukannya tak percaya sama anak, tetapi kita sendiri seharusnya bisa menyelami dunia mereka. Rasa solid antar teman menjadikan mereka tak ingin ketinggalan apa pun yang sedang digemari teman-temannya. Bukan tak mungkin ia terlihat aman-aman saja di rumah, tetapi di luar ternyata “kurang aman”,  atau bahkan “tidak aman”. Walaupun kita telah menyediakan fasilitas internet itu sendiri di rumah, masa kita akan melarang anak kita bergaul sama sekali? Bukankah itu juga membunuh kemampuan bersosial mereka yang juga sangat dibutuhkan sebagai bekal hidup nantinya?
Jaman serba canggih, daya pikir anak-anak juga kelihatannya makin canggih. Nha, sebagai orang tua, seharusnya kita juga makin mempercanggih strategi kita dalam memantau pergaulan anak, supaya tak melenceng, supaya kelak menjadi seseorang yang mampu survive dalam hidupnya di jalan yang diridhoi-Nya. Supaya tak masuk dalam gambaran pemuda yang terpuruk masa depannya gara-gara salah pergaulan dan salah pengasuhan.

Lalu bagaimana?
Anak canggih, orang tua tak boleh kalah canggih. Anak fesbukan, orang tua harus fesbukan juga. Bukan karena tak mau kalah saingan, tetapi dengan ikut membuka akun Facebook, kita bisa memantau pergaulan anak sejauh mana, dengan siapa saja, dan apa saja yang mereka obrolkan. Kita juga harus tampil gaul seperti mereka. Berlagak mempunyai jiwa muda kadang, bahkan sering dibutuhkan agar kita juga diterima oleh teman-teman anak kita. Ketika mereka bisa menerima kehadiran kita layaknya teman mereka juga, maka bisa dengan mudah berbagi dengan kita tentang apa saja kegiatan yang mereka lakukan di luar. Ketika mereka asyik dengan kita, kita juga akan asyik saja mengorek sejauh mana pergaulan anak-anak kita. Nasehat dan arahan pun lebih mudah masuk bila mereka tidak menganggap kita sebagai orang tua yang kolot, galak, dan menakutkan.
Mungkin main game online itu sendiri juga perlu kita kenali. Ada baiknya juga untuk menyelami dunia mereka, merasakan keasyikan game online bersama mereka.Tapi harus ingat, ini hanya langkah awal, agar kita memahami di sisi manakah keasyikan bermain game ini. Pelan-pelan, ketika mereka juga tahu kita ikut bermain, kita bisa sedikit memberi pengaruh pada mereka, memasukkan pemikiran bahwa sebenarnya bermain seperti itu saja membosankan. Lagi pula, uang jajan terbuang percuma. Atau pulsa habis tanpa ada hasilnya. Jadi, mereka tidak hanya tahu kita sebagai penasehat saja, tapi mereka juga tahu bahwa kita juga terlibat dalam dunia mereka. Artinya mereka akan menilai bahwa kita tak hanya memberikan larangan-larangan tanpa tahu apa yang mereka rasakan. Mereka akan merasa kita faham dengan dunia mereka, sehingga mudah untuk mereka menerima masukan dari kita. Semua memang perlu proses dan strategi bukan?
Sudah tidak jamannya lagi orang tua melarang tanpa memberikan alasan maupun solusi. Sebagai orang tua jika ingin berhasil dalam mencetak anak yang baik, memang harus kreatif dan selalu menambah wawasan. Sekali lagi, yang penting kita selami dulu dunia mereka, untuk kemudian kita hantarkan pemikiran kita ke dunia mereka. Selalu berusaha agar diterima dalam pergaulan mereka, akan memudahkan kita mengajak melakukan kegiatan kreatif yang menarik perhatian mereka.
Mungkin kita bisa menawarkan untuk malakukan permainan tradisional. Contohnya gobag sodor, yeye, petak umpet, dan lain-lain untuk usia SD. Sedangkan untuk usia remaja, kita bisa mengarahakan pemanfaatan energi lebih mereka untuk berolahraga seperti volly, basket, sepak bola, futsal, badiminton, boal tenes, dan masih banyak pilihan jenis olah raga lain.
 Bisa juga kita ajak mereka untuk berkreasi dengan tangan, menciptakan karya seni rupa yang bisa kelihatan hasilnya. Misalnya kegiatan membuat miniatur rumah dari gabus, menghias kaos polos dengan sablon, sulam, atau aplikasi, belajar membatik, belajar menganyam tikar, belajar membuat rak dari kayu, dan masih banyak pilihan kegiatan kreatif lain yang akan membuat mereka puas dengan karya yang dihasilkan tangan mereka sendiri.
Menyalurkan hobi anak juga merupakan pengalihan yang baik dari kegemaran mereka bermain game online di warnet. Bagi yang berminat di bidang seni, hendaknya kita bisa mengupayakan untuk mereka memperbanyak kegiatan di bidang itu. Untuk yang suka menulis, sarankan mereka untuk ikut lomba-lomba menulis, atau kirimkan hasil tulisan mereka ke media, atau ikutkan mereka dalam kelas menulis. Melakukan kegiatan yang sesuai hobi, adalah keasyikan tiada tara bagi anak. Sepanjang hobi itu positif, ini adalah kesempatan kita untuk mengalihkan perhatian mereka dari keasyikan menyambangi warnet untuk main game.
Ketika mereka tahu bahwa kegiatan-kegiatan tersebut nilai keasyikannya tak kalah dari sekedar duduk bermaian game online yang kenikmatannya hanyalah sesaat dan mudharatnya lebih besar, maka pelan namun pasti mereka akan memilih sendiri kegiatan mana yang akan mereka pertahankan.

Kebijakan Pemerintah dan Pentingnya Doa
Sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu berusaha. Sudah menjadi kewajiban kita untuk memperjuangkan masa depan anak-anak kita. Walaupun tak semudah teori yang telah kita pelajari dan tak semudah rencana yang telah kita susun dengan pasti. Berbagai faktor menjadi tantangan kita serta godaan bagi anak-anak kita di luar sana. Sekuat apapun kita berupaya agar anak tak sering-sering singgah di warnet, sepertinya tak sebanding dengan dukungan lingkungan. Warnet yang menawarkan Game Online sebagai menu utama bukannya berkurang tapi malah menjamur. Tampilan-tampilan porno di situs yang bukan game pun tak juga berkurang. Rasanya sebagai orang tua pantaslah kita jika masih dilanda kekhawatiran.
Kebijakan pemerintah memang sangat diperlukan dalam mengatasi hal ini. Sekali lagi, jika saya sebagai warga negara biasa boleh memberi usul, batasan umur sangat diperlukan bagi pengunjung warnet. Karena ini menyangkut pembentukan generasi muda bibit cikal bakal para penggerak roda kemajuan bangsa, secepatnyalah pemerintah membuat kebijakan tentang ijin pendirian warnet serta aturan yang ketat tentang operasional bisnis warnet ini. Tapi memang itu tak semudah membalik telapak tangan. Di sisi lain  anak-anak dan remaja yang notabene berada pada usia-usia efektif belajar sangat memerlukan fasilitas internet karena kecanggihannya dalam mengekses informasi sangat dibutuhkan di masa kini.  Tapi di sisi lain  kecanggihan itu sendiri mengandung potensial 'racun' bagi pembentukan pribadi mereka.
Juga bagi para pengusaha warnet, jangan hanya memikirkan kepentingan sendiri dengan meraup laba yang sangat mudah dengan mempertaruhkan masa depan generasi muda. Mau untung, juga harus mau ikut peraturan. Apakah anda tidak merasa berdosa jika oleh peran bisnis anda ini, telah tercipta calon-calon manusia dengan mental mengenaskan? Ya, bagaimanapun kebijakan pemerintah memang sangat penting artinya dalam mengendalikan situasi yang menurut saya memburuk saat ini.
Yah... upaya terakhir namun harus terus kita lakukan adalah berdoa. Doa yang tak putus-putus untuk anak-anak kita. Bagaimanapun, segala sesuatu harus kita serahkan kembali kepada-Nya setelah kita berusaha dengan maksimal. Jaman telah berbeda, pada siapa lagi kita meminta perlindungan dan petunjuk yang lurus bagi anak-anak kita, selain meminta kepada-Nya? Sepanjang kita selalu berusaha, yakinlah tak akan sia-sia perjuangan kita menyelamatkan generasi muda. Semoga argumen saya mendapat perhatian dam bermanfaat bagi para pembaca, serta semoga Tuhan mengabulkan doa-doa para orang tua yang ingin menyelamatkan masa depan anak-anaknya.
Tambahan:
Beberapa contoh kebijakan pemerintah daerah yang telah ditegakkan  di berbagai tempat yang seharusnya mendapatkan dukungan semua pihak:
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=141449&actmenu=36
http://techno.okezone.com/read/2012/03/01/326/585482/warnet-di-depok-dilarang-sediakan-game-online-untuk-pelajar
http://www.pikiran-rakyat.com/node/180322
http://news.detik.com/read/2012/03/16/125520/1869124/10/17-pelajar-di-medanterjaring-razia-2-warnet-diputus-jaringan?9922032

Reaksi:

4 komentar:

  1. betul mba..sy juga khawatir..semoga anak-anak kita terhindar dari hal-hal yang negatif

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah...mbak. terimakasih sudah mbaca dan komentar. semoga ke depan nanti, pergaulan anak2 lebih baik...ada blog jg?

      Hapus
  2. Aamiin.. Betul sekali bunda.. Orang tua harus tidak boleh gaptek atau kudet.. Orang tua juga harus bisa menjadi teman yang baik untuk anak-anaknya.. Semoga saya juga nantinya bisa memberikan yang terbaik serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang soleh dan solehah..

    BalasHapus
  3. Salam kenal mak...benar sekali yg ditulis mak ella, pergaulan anak skrg mengkhawatirkan kita semua, bl dilihat hsl2 survei begitu hati jd remuk redam rasanya. Jd sbg orang tua kita mmg hrs selalu waspada, mengarahkan mrk dg teman2 yg baik, kegiatan2 yg bermanfaat, menguatkan iman mrk dan tentunya doa-doa kita ya mak....Semoga anak-anak kita diberi jalan yg diterangi oleh Allah, sehingga menjd anak yg sholeh dan sholehan...amiiin

    BalasHapus