Sabtu, 17 Maret 2012

Lelaki Telaga

        Aku datang ke telaga bening ini lagi. Artinya aku sedang lelah... dunia terasa tak ramah lagi padaku. Di sini aku bisa merenung tanpa diganggu, menikmati segarnya air telaga yang kubasuhkan di wajah kusutku, duduk sambil mengayunkan kedua kaki pada airnya yang dingin. Menarik nafas panjang, menikmati pemandangan sekitar yang dipagari indahnya taman bunga seribu warna. Hatiku merasa damai...
           Pagi hari, aku tersadar dari mimpi. Seperti biasa, hari ini aku akan menghadiri jadwal kuliah di kampus bersama mereka. Kadang aku berpikir, andaikan mereka semua tahu tentang apa yang ada di hatiku.... Hhh...tapi aku lebih sering menyerah dengan situasi, dan terpuruk oleh rasa tak percaya diri. “Teman, aku butuh dukungan...!” seringkali suara hati ini minta didengar. Sayang, aku tak pernah mampu melisankannya, hanya berhenti dan tercekat di dalam mulut yang tak pernah terbuka. “Aku butuh seseorang....” rintihku di setiap malamku yang seringkali terisi oleh kehampaan. Aku merasa sendirian di kota perantauan ini. Aku butuh teman bicara, teman yang selalu memahami bagaimana sesungguhnya aku, teman yang tak hanya bisa menyalahkanku. Aku butuh seseorang yang akan berkata, ”Aku percaya kau bisa, aku percaya kau adalah orang baik, aku akan selalu menemaninmu...” Sayangnya aku belum menemukan dia. Aku juga ragu apakah dia akan ada untukku.
             Berbagai kekurangan yang kumiliki membuatku larut dalam ketidak percayaan diri yang parah. Untuk mengatasi rasa terpuruk yang kumiliki, kuterima tawaran cinta seorang teman. Tawaran cinta? Ya, dalam rangka pencarianku akan seseorang yang aku butuhkan itu, aku menjalin hubungan spesial dengan seseorang. Waktu berjalan cepat, dan aku merasa bukan dia yang kucari. Karena tak mau lebih lama membuatnya berada dalam pengharapan, maka kuputuskan dia. Dan aku merasa bebas.... Namun itu hanya sementara. Aku mulai lagi merasa kehilangan percaya diri di antara mereka, teman –teman kuliahku. Entahlah ada apa dengan diriku sebenarnya. Aku mulai mencari dan mencari lagi. Apakah dia berada diantara mereka? Kucoba memberanikan diri menjalin satu hubungan lagi dengan seseorang, teman kuliahku. Dan ternyata hatiku berkata, “ Bukan dia yang kau cari...” Yah... Maaf teman.... ternyata kali ini aku keliru lagi.
                                                                    ***
             Aku kembali lagi ke telaga ini. Jiwaku terasa letih... Sekali lagi kunikmati segarnya air telaga ditengah rimbunnya taman bunga aneka rupa. Kubasuh wajah kusutku sambil memejamnkan mata. Terasa segar... dan ketika mataku terbuka aku terpana oleh pemandangan yang tak seperti biasanya. Aku melihat dia! Aku melihat seseorang berdiri di seberang telaga, tak jauh dari pandangan mataku karena ini hanya telaga kecil. Ia tersenyum entah pada siapa. Apakah padaku? Bukankah di sini hanya ada aku? Adakah dia adalah seseorang yang selama ini kucari? Dia berjalan menyusuri pinggiran telaga menuju ke arahku.
            Ups...! Aku kembali terjaga oleh suara azan shubuh. Hari ini aku akan ke tempat itu lagi, tempat kuliah yang sering membuatku merasa terhempas. Ah... tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. Dengan bersemangat aku langsung mengambil wudlu dan melaksanakan sholat shubuh. Kemudian aku larut dalam doa, “Ya Allah... lelaki di tepi telaga itu, tunjukkanlah kemana aku harus mencarinya. Benarkah dia yang akan menghapuskan segala kegalauanku menghadapi kehidupan? Hadirkan dia untukku Ya Allah...” Kuliah, bergaul dengan mereka... ah! Kadang aku ingin lari dari semua ini. Entahlah, mungkin karena aku memang tak pandai bersyukur akan takdirku berada di sini. Paling-paling tinggal skripsi, aku menghibur diri. Dan aku masih dalam pencarianku....
                                                                   ***
               “Ada buku bagus di meja Mbak Ir...” kata seorang adik kosku.
               “Yang judulnya apa?” tanyaku.
               “Kalau nggak salah judulnya ...perbarui hidupmu. Iya, bener, judulnya perbarui hidupmu...”
               Ah iya, buku itu memang bagus. Pinjaman seorang teman, tetangga di kampung. Suatu kebetulan jika ia bekerja di Surabaya. Merasa mendapatkan teman senasib, kami sering berkomunikasi lewat telepon. Ini hal yang patut disyukuri, karena aku memang butuh seseorang untuk berbagi. Seseorang? Ah...tapi bukan seseorang seperti yang ada dalam khayalanku di tepi telaga itu. Nggak mungkin lah! Dia itu kan tetangga yang kebetulan bekerja di kota yang sama dengan tempatku kuliah.
             “Beli baru Mbak ya?”
             “Nggak... dipinjami teman. Dia itu kakak kelasku di SMP dan SMA lho. Aneh... dulu aku nggak kenal dia. Cuman sih, pernah suatu kali aku diajak satu becak sama dia karena aku sendirian menuju ke sekolah. Saat itu jam masuk udah mepet... ya aku mau saja. Tapi percaya nggak kalau keesokan hari dan seterusnya kami nggak pernah saling nyapa kalau ketemu. Ya, kayak lupa gitu lho....hahaha! eh... nggak tahunya sekarang ketemu di Surabaya. Aneh ya?”
                                                                  ***
              Aku juga sempat mengagumi seseorang yang sangat baik padaku. Namun aku hanya sebatas mengagumi, karena ia telah menemukan belahan jiwanya. Bukan hal yang menyedihkan bagiku, karena aku selalu yakin akan ada seseorang yang akan mencintaiku seutuhnya, tak menyakitiku, tak membuatku kecewa, tak menjatuhkanku dalam perasaan terhempas. Seseorang dari balik rimbunnya bebunga.... di tepi telaga itu.... Aku datang ke telaga bening itu lagi tiapkali merasa pedih dan terluka, atau terpojok oleh rasa bersalah. Aku selalu datang untuk mencari kedamaian di antara segarnya air telaga dan wanginya seribu bunga. Dan dia selalu menghampiriku, menyunggingkan seulas senyum ramah, seakan menawarkan obat untuk segala sakitku, dan sandaran untuk seluruh rapuhku. Sayangnya itu hanya di tepi telaga khayalku. Lalu dimana dia sebenarnya Tuhan? Aku masih terus mencari dan mencari...
                                                               ***
              Aku telah selesai membaca lembar demi lembar buku berjudul “Perbarui Hidupmu” itu. Buku yang mengagumkan dan membuatku terinspirasi. Aku mulai mengamalkan apa yang disampaikan dalam buku itu. Aku mulai sedikit tenang setelah meresapi isi buku itu. Tentang hakikat hidup, tujuan hidup, makna hidup ... aku seperti mendapatkan sebuah pencerahan. Buku yang bagus, penulisnya pastilah orang dengan tingkat keimanan yang bagus, dan pemilik buku itu? Bagus jugakah? Aku jadi sedikit penasaran. Ternyata tak hanya berhenti pada satu buku. Satu demi satu buku berdatangan bersamaan dengan kedatangan pemiliknya ke tempat kosku. Ia tak selalu datang sendiri, bahkan lebih sering ditemani oleh sahabatnya. Tetanggaku yang satu ini lumayan juga selera bacaannya. Semua bukunya berkualitas. Aku larut dalam bacaan –bacaan yang menuntunkan untuk menjadi percaya diri menghadapi kehidupan ini. Aku seperti menemukan jalan menuju tempat yang semestinya dituju oleh setiap manusia yang hidup di dunia. Rasanya seperti ada tangan seseorang yang menujukkan jalan setapak itu. Hai... tangan siapakah itu? Lalu, apakah ini ada hubungannya dengan lelaki di tepi telaga itu?           
                                                                  ***
              Aku menangis dalam syukur. Aku telah menjalani hampir delapan tahun kehidupan bersama lelaki dari tepi telaga itu. Pencarianku tak sia-sia. Akhirnya aku menemukan dia dalam dunia nyataku, bukan hanya di tepi telaga itu. Hidupku berubah karena kehadirannya bersama buku-buku yang sarat akan ilmu bekal hidup. Ia benar-benar berbeda dari kekasih-kekasihku yang dulu.... Jika tahu dialah lelaki yang kucari itu, terbersit tanya, “Kenapa nggak dari dulu-dulu?”. Ah... mungkin itulah yang bernama kuasa Allah.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar