Senin, 26 Maret 2012

Warisan Nenek Moyang yang Kaya Filosofi


Batik yang Makin Populer
Kain batik Indonesia. Siapa yang tak kenal batik? Walau identik dengan budaya etnik warisan nenek moyang, namun pada saat-saat ini justru sentuhan batik mewarnai hampir semua lini kehidupan. Lihatlah betapa populernya hiasan rumah dan perlengkapan rumah tangga yang berhiaskan indahnya corak batik. Seperti korden berkombinasi kain batik, taplak meja batik atau kombinasi polos dan batik, seprei batik, penutup magic com bercorak batik, selimut dengan kombinasi kain batik, mukena batik, sajadah batik, dan lain-lain.  Benda lain seperti tas, sandal, juga telah banyak yang mendapat sentuhan corak batik.
Baju bercorak batik? Hmm, siapa yang tidak punya baju batik? Dari kalangan rakyat jelata hingga presiden, hampir bisa dipastikan memiliki setidaknya satu buah baju bercorak batik. Hampir di semua instansi termasuk di sekolah-sekolah, ada hari tertentu dimana anggotanya harus memakai seragam batik. Pak RT hingga Bapak Presiden pun begitu nampak berwibawa dengan mengenakan busana batik dalam acara-acara resminya. Batik juga telah disulap menjadi berbagai model pakaian. Mulai pakaian resmi yang berbentuk hem hingga piyama untuk tidur. Apalagi untuk kalangan wanita, batik kini tak terbatas hanya untuk dipakai sebagai kain padanan kebaya saja sebagaimana pakaian adat. Tetapi bisa kita lihat dalam jelmaannya sebagai baju santai seperti daster atau baby doll, sebagai gaun pesta, gaun santai, setelan untuk jalan-jalan dengan berbagai gaya, atau bentuk atasan dengan rancangan yang beraneka ragam pula. Tak hanya nenek-nenek atau di hari khusus saja kain batik dikenakan, tetapi dari balita, remaja hingga orang tua sekarang ini makin percaya diri mengenakan pakaian  batik sebagai busana sehari-hari. Bermunculannya kios-kios yang menjual khusus baju-baju batik dengan berbagai model masa kini dan dengan harga yang terjangkau pun makin menambah banyaknya penggemar batik di masyarakat.

Apa dan Bagaimanakah Kain Batik Sesungguhnya?
Kain Batik adalah kain yang telah diberi corak dengan tehnik pewarnaan dan pola-pola khusus. Tehnik pewarnaan kain batik tradisional adalah dengan menggunakan canting yang berisi malam cair, yang ditorehkan ke atas kain yang masih polos, yang gunanya untuk menutup bagian yang telah diberi pola agar tidak terkena zat warna saat pencelupan warna. Setelah proses pewarnaan berkali-kali, selanjutnya kain dicelup ke cairan khusus untuk melarutkan malam sehingga didapat sebuah kain dengan corak indah yang siap dijual atau dibentuk untuk berbagai produk lebih lanjut. Kain batik dengan tehnik ini biasanya memang berharga mahal, karena saat pembuatannya butuh kesabaran, ketelitian, jiwa seni yang tinggi, serta memakan waktu lumayan lama yaitu sekitar dua sampai tiga bulan. Inilah yang disebut kain batik asli atau batik tulis.
Sedangkan pada saat ini, telah banyak kain batik yang harganya cukup terjangkau, dimana pembuatannya lebih sederhana yaitu menggunakan tehnik cap sehingga disebut kain batik cap. Alat untuk menghasilkan corak cap pada kain biasanya terbuat dari tembaga. Proses yang dibutuhkan hingga selesai satu kain batik sekitar dua sampai tiga hari. Ada juga tehnik batik dengan cara dilukis langsung pada kain putih sehingga menghasilkan corak yang diinginkan yang disebut dengan batik lukis.
Kain batik Indonesia dihasilkan di beberapa daerah. Walau yang lebih dikenal adalah batik dari Jawa, namun sebenarnya daerah lain seperti Bali, Tasik, Madura, Aceh, Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua juga merupakan daerah pembuat kain batik dengan cirikhasnya masing-masing.
Kain batik merupakan produk kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama yaitu dimulai sekitar abad ke tiga belas. Sedangkan untuk di luar negeri, batik Indonesia mencapai masa keemasannya pertamakali di abad ke sembilan belas saat seorang saudagar Belanda bernama Van Rijekevorsel memberikan selembar kain batik yang diperolehnya dari Indonesia kepada Museum Etnik Rotterdam. Sedangkan Presiden Indonesia yang pertamakali memperkenalkan baju batik kepada dunia adalah Presiden Suharto dengan mengenakannya saat menghadiri konferensi PBB. Hal yang paling menggembirakan adalah anugrah yang diberikan UNESCO untuk kain batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009. Satu prestasi yang membanggakan bukan?

Batik Mengandung Filosofi?
Batik Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh kultur Jawa, selain memiliki nilai tinggi untuk segi artistik dan tehnik, juga memiliki kandungan falsafah Jawa yang luar biasa untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah buku agenda yang diterbitkan oleh Perusahaan Gas Negara pada tahun 2011, tertulis bahwa: “Melebihi sekadar motif pada permukaan kain, batik adalah representasi nyata dari kerja keras, ketekunan, dan kebijaksanaan bangsa. Proses pebuatannya mengandung filosofi bahwa segalanya bermula dari titik awal nan kecil, yang pada akhirnya sambung-menyambung menjadi beragam pola kaya warna. Keindahannya turut mengingatkan kita bahwa hidup merupakan perjuangan yang harus dilaksanakan dengan hati-hati, telaten dan mawas diri.”
Begitu indahnya filosofi yang terkandung dalam proses pembuatan maupun corak yang dihasilkan, perusahaan Gas Negara ini menjadikan filosofi batik sebagai falsafah acuan dalam pengelolaan perusahaan yang ditujukan untuk mengabdi pada negara. Beberapa contoh filosofi batik Indonesia menurut pola atau corak tradisionalnya adalah:
1.      Batik Cuwiri, mengandung filosofi: Sesuatu yang dihormati pun terdiri dari elemen-elemen kecil yang menjadi besar hanya dengan persatuan.
2.      Batik Nitik mencerminkan kedewasaan berpikir dan pengetahuan.
3.      Batik Parang mencerminkan kekuatan dan kecepatan gerak.
4.      Batik Udan Liris mengandung filosofi: Seperti hujan gerimis yang mendatangkan kesuburan
5.      Batik Megamendung menyiratkan siklus kehidupan.
6.      Batik Ciptoning mengandung filosofi harapan akan kebijaksanaan dan kebenaran
7.      Batik Pamiluto yang menyatukan berbagai corak batik dalam satu kain, maka pola ini melambangkan persatuan.
8.      Batik Kawung melambangkan keadilan dan keperkasaan.
9.      Batik Sekar Jagad melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan.
10.  Batik Sido Mukti mengandung filosofi harapan akan kebahagiaan langgeng.
Filosofi yang telah tertulis di atas hanyalah beberapa contoh saja. Sedangkan corak batik yang lain dari berbagai daerah lain pun masih banyak lagi dan tentunya memiliki nilai seni serta filosofi yang tinggi pula. Tapi dari contoh tersebut itu saja kita bisa menilai bahwa batik adalah warisan nenek moyang di Indonesia yang patut diacungi jempol dan tentu saja perlu kita pertahankan dan kembangkan terus baik dalam pengembangan variasi produk, corak, maupun pemasarannya.
Jadi, rasanya tak ada alasan lagi bagi kita untuk malu mengenakan batik. Biarpun bernuansa etnik, tetapi tetap mampu tampil dengan citarasa modern dan tidak ketinggalan jaman. Di saat negara lain sedang mengagumi salah satu khasanah budaya negara kita ini, mengapa kita harus merasa kuno memiliki koleksi benda-benda bernuansa batik? Tentu akan lebih baik selain melestarikan nilai kebendaan batik itu sendiri, kita juga berusaha mengamalkan hikmah atau filosofi yang terkandung dalam kain batik tersebut. Mencintai batik Indonesia, berarti juga mencintai filosofi bijak yang menjadi warisan nenek moyang untuk kita hingga anak cucu kelak yang akan meneruskan corak tulisan sejarah tentang bangsa Indonesia.
****
Ditulis Oleh: Ella Sofa
Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar