Jumat, 20 April 2012

Sanna, Psikolog Bagi Pribadinya


Sanna, Psikolog Bagi Pribadinya (sebuah novel pemenang)

          Ada tiga pribadi lain yang akhir- akhir ini merampas waktu dan kesadarannya. Beberapa kejadian aneh dialami Sanna. Bagaimanapun, kehadiran Febrine, Vita, dan Sari tak pernah diharapkannya. Apakah ia mengalami gejala kelainan berkepribadian ganda seperti kejadian Sybil?
          Ia punya masa lalu yang membuat trauma. Semua itu ingin ia lupakan, walaupun seringkali kejadian-kejadian lama itumuncul kembali bagai kilasan slide-slide yang selalu mengikutinya. Namun ia punya satu harapan di saat benih-benih cinta mulai dirasakannya dengan seorang lelaki bernama Tito. Ia ingin Tito menolongnya untuk hidup dalam lembaran kisah baru, bersama dengan langkahnya yang mulai percaya diri memasuki dunia kerja.
          Namun mengapa tiba-tiba Sanna menjadi begitu membenci Tito? Dapatkah Sanna mengatasi masalah kemunculan pribadi-pribadi lain dari dalam dirinya? Lalu siapakah dia, seorang lelaki bernama Stanley yang tiba-tiba saja menjadi dekat dengan Sanna.

         Kisah mengharukan ini ditulis dengan narasi serta deskripsi setting yang begitu mendetail, sehingga membawa kita untuk ikut hanyut pada kehidupan Sanna. Sebuah novel inspiratif, edukatif, dan sedikit mengajak kita agak serius membacanya. Sebuah novel pemenang di lomba Novelku di Leutika Prio.

Judul Buku      : Sanna, Psikolog Bagi Pribadinya
Penulis            :  Tati Amila alias Sugi Hartati
Penerbit          : Leutika Prio
Tebal Buku      : 156 hal.
Genre              : Remaja- Dewasa

Bisa di pesan di FB Leutika Prio atau langsung pada penulisnya FB Sugi Hartati

Selasa, 17 April 2012

Antara Pensil dan Air Minum Ajaib dengan Sistem Pendidikan di Finlandia

          Saya bukan seorang ahli pendidikan, praktisi pendidikan formal juga bukan lagi menjadi aktifitas saya. saya hanya seorang ibu rumah tangga yang mengamati, mengikuti, dan akhirnya memprihatini (benar nggak kata ini?) dunia pendidikan. Kok begitu?
         Beberapa tahun lalu saya sempat membuat sebuah karya tulis sebagai syarat kelulusan sebuah diklat pendidikan guru SD tentang sistem pendidikan di Indonesia yang masih dominan mengaktifkan kinerja otak kiri saja (waktu itu, dan kayaknya sekarang pun tak jauh berubah kecuali di sekolah-sekolah terpilih). Dan komentar dosen pembimbing yang notabene praktisi pendidikan beneran (nggak kayak saya yang baru taraf kenpingin jadi), membenarkan hal tersebut, bahkan malah menambahkan bahwa tak hanya seperti itu, tetapi memang dari dulu sistem pendidikan di Indonesia ini memang "ya wis begitulah...". Mulai kurikulum yang sering gonta-ganti, materi belajar yang kurang mengarahkan anak pada minat atau bakat khususnya sehingga optimal dalam mengejar profesi, materi yang terlalu berat namun tidak terlalu terpakai dalam kehidupan sehari-hari, biayanya, sistem ujian nasionalnya yang bla bla bla...
         Maka, ketika malam ini tadi, sekitar sejam yang lalu saya menyaksikan tayangan di televisi (nggak terlalu merhatikan acara apa dan stasiun mana karena sambil ini itu) yang memberitakan beberapa pelajar yang mendatangi seorang tokoh spiritual untuk minta "sesuatu" yang melancarkan ujian mereka, lalu sang tokoh membagikan beberapa botol air minum dalam kemasan (semacam aqua lah...) dan pensil yang banyaknya sejumlah siswa yang datang tsb. Saya merasa sangat prihatin.... Hai... ini jaman apa? saya malah jatuh kasihan pada anak-anak didik tersebut.
         Jadi apa hubungannya dengan sistem pendidikan Indonesia? Terus Kok Judulnya nyinggung2 Sistem Pendidikan Finlandia? Ya kalau dihubung-hubungkan, ya ada hubungannya lah!

Senin, 16 April 2012

Cinta di Tepi Geumho

  Aku menatap matanya.
"Karena itulah... jauhi Jun So. aku tak mau hubungan kami rusak oleh wanita manapun termasuk dirimu."
         Mulutku terkunci rapat. Benar-benar tak sanggup menelurkan sepatah kata pun untuk membalas kata-kata wanita ini.
         "Hanya itu yang bisa aku sampaikan, permisi."
          Perlahan dia meninggalkanku.
          Aku seperti patung menghadap dinding beton berhias gambar langit dan awan-awan putih. Tubuhku hampir ambruk. Kepalaku pusing dan berbintang-bintang. Lalu....
-----------------------------------------------

           Bulan di atas Seoul sangat percaya diri menampakkan wujudnya yang bulat keperakan. Bintang gemintang seakan menemaninya dalam malam yang sebenarnya sunyi buatku. Tak ada sms, tak ada suara-suara riuh ramai, tak ada Jun So.

                                                    ***

           Sebuah kisah cinta yang sederhana. Diwarnai konflik yang sederhana pula. Namun kepiawaian penulisnya dalam menampilkan suguhan bacaan bersetting kalimantan serta korea- lah yang membuatnya menjadi unik dan istimewa. Bacalah dari awal hingga akhir, sebuah wawasan baru kan memperkaya khasanah pengetahuan kita. Tentang taekwondo, budaya Dayak, makanan-makanan khas Borneo maupun Korea, bahasa Korea, muslim Korea, dan tentu saja tentang rasa cinta yang tak lepas dari perih-bahagianya.

                                                    ***
            "Kini aku di tepi sungai Geumho...jantungku berdebar. Kian lama kian kuat. Seisi jiwaku didekap rasa gugup. Ya, kegugupan yang sebelumnya tak pernah kurasakan sebesar ini. Inikah yang disebut cobaan di detik-detik pernikahan itu, tanyaku dalam hati."

                                                   ***
           Suara hati dua tokoh bisa kita baca sekaligus dalam satu novel ini, novel yang bukan novel biasa. Novel "Cinta di Tepi Geumho" (Mahmud Jauhari Ali)

Judul Buku      : Cinta di Tepi Geumho
Penulis             : Mahmud Jauhari Ali
Penerbit          : Araska, Yogyakarta
Tebal Buku       : 143 hal.
Genre               : remaja- dewasa
ISBN                 : 978-602-9371-74-1

Bisa diperoleh di toko buku Gramedia, dan toko buku lainnya.....

Kamis, 05 April 2012

Belajar Dari Seorang Asisten Rumah Tangga (Pembantu)


           Belajar adalah suatu proses menambah pengetahuan atau keahlian baru. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara dan juga dari siapa saja. Umumnya orang belajar dengan membaca, seperti membaca buku pengetahuan, buku ketrampilan, koran, majalah, kitab, dan lain-lain. Selain membaca, belajar juga bisa dilakukan dengan melihat orang lain melakukan suatu hal, atau bertanya pada orang yang lebih tahu tentang sesuatu yang ingin kita pelajari. Belajar juga tak terbatas hanya pada sesuatu yang ingin kita pelajari saja, tetapi proses belajar tersebut bisa juga terjadi tanpa sengaja dan tidak kita rencanakan. Seperti pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, bahkan obrolan atau kalimat yang kita dengar sekilas saja pun bisa juga membuat kita mengalami proses belajar saat itu juga.
            Seperti yang baru-baru ini kualami di rumah. Akhir-akhir ini aku sering dipusingkan dengan ulah beberapa orang yang seakan suka memanfaatkan keberadaan suamiku di kampung ini. Kami adalah keluarga yang baru pindah dari kota, pulang kampung karena ingin tinggal lebih dekat dengan orang tua. Sayangnya, beberapa orang seakan melihat “kesempatan” untuk memanfaatkan keberadaan kami di sini. Mereka menganggap suamiku begitu banyak uang sehingga “proyek” demi “proyek” mereka sodorkan dengan berbagai dalih sehingga suamiku mau mengeluarkan koceknya. Kalau memang keperluan itu masuk akal, wajar, dan kocek suami lagi “ada”, mungkin aku tak terlalu keberatan. Tetapi seringkali yang mereka sodorkan adalah hal-hal diluar kewajaran, dengan ajuan dana yang “memeras” kantong suami. Tak peduli suamiku lagi ada uang atau tidak. Yang ada di otak mereka, ada suamiku, berarti ada uang berapapun itu. Aku sering mengurut dada dan menangis sendiri karena sering melihat suamiku yang seakan tak henti mendapat berbagai tekanan dari mereka yang berkepentingan.
           
            Padahal mereka bukanlah orang yang miskin, apalagi fakir. Mereka dalam keadaan tercukupi segala kebutuhannya. Ada saja kebutuhan- kebutuhan duniawi yang mereka angankan dengan menggantungkan “talangan dana” dari suamiku. Entah itu dikembalikan ataukah tidak, memang masih remang-remang. Sebenarnya kami ingin tegas. Jika tak ada, bilang tak ada. Tapi untuk bersikap seperti itu, seringkali suami tak sampai hati. Sehingga sudah berapa juta uang yang dicarikan dengan pinjam ke teman, akhirnya hingga sekarang tak kembali juga. Padahal suamiku sudah menyicil hingga lunas ke temannya tempat ia pinjam. Terus terang, sebenarnya aku tak ingin pelit. Tapi aku bosan dengan hal-hal seperti itu. Apa kami juga tak butuh nabung dan dana cadangan untuk keperluan mendadak (siapa tahu) di depan nanti? Untuk biaya sekolah anak-anak jika mereka sudah besar? Untuk membangun rumah yang kami sendiri pun belum punya, masih ngontrak di kampung ini?

Rabu, 04 April 2012

"Tragedi" Sebuah Jeruk


                Ruangan ini terbuka. Mereka telah memindah aku dan kawan-kawan menempati lantai bawah di bagian pinggir ruangan supermarket ini.  Sedikit berbeda dengan ruangan sebelumnya yang terhalang oleh tembok-tembok yang rapat menutup pandanganku ke dunia luar.  Walaupun sama-sama ber-AC,  tapi di sini aku bisa merasakan semilir angin, menatap mobil-mobil yang parkir, berikut debu dari jalan raya yang terkadang memang membuatku agak risih. Tapi aku suka ini, sebuah susana baru setelah bertahun-tahun aku berada di lantai atas. Debu jalanan pun tak sampai membuatku batuk dan melusuhkan bajuku.  Ramainya sih sama saja. Setiap hari aku harus rela dipelototi oleh mata-mata yang langsung terpana jika melihat penampilanku yang ngejreng dengan busana transparan bergambar kemerahan ini.  Apalagi jika melihat plang harga yang dipasang di samping tempatku berada. Yang ini tak membuatku tersinggung, aku malah bangga. Biasanya mereka akan bergegas menghampiriku dan memegan-megangku. Begitulah setiap hari.
                Pada suatu hari, di siang yang  terik aku mendengar suara sekelompok anak kecil yang lewat di pinggir jalan raya itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tiba-tiba saja mereka berbalik dan melihat ke arah supermarket tempatku berada. Mereka bukan pengunjung yang seperti biasanya. Sandal jepit murah serta baju lusuh menempel di tubuh mereka. Mau apa mereka? Heranku. Mau beli apa mereka dengan penampilan seperti itu? Apa mereka punya uang? Kutatap mereka dengan sinis. Wah..wah.. ternyata mereka menghampiriku, menatapku dengan penuh ketertarikan. Yang begini ini benar-benar membuatku risih!
                “Mbak... kalau yang ini berapa mbak?”
                Aku cuek saja, pura-pura tak mendengar.
                “Oh... sekilonya enam ribu sembilan ratus sembilan puluh rupiah dek, tujuh ribu lah... mau beli ?” sahut seorang karyawati yang dari tadi berdiri di sampingku.
                Kepala-kepala berambut kusut itu mengangguk-angguk. Sesekali mereka melirik nakal ke arahku. Idihh...
                “Beli satu boleh, Mbak?” jawab salah satu dari tiga anak itu.
                “Satu? “sahut si karyawati sambil memegang-megang bibirnya pakai telunjuk, seperti orang yang sedang bingung. Sekilas ia melirikku juga. Huh! Jangan sampai deh mereka menyentuhku.

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...