Selasa, 17 April 2012

Antara Pensil dan Air Minum Ajaib dengan Sistem Pendidikan di Finlandia

          Saya bukan seorang ahli pendidikan, praktisi pendidikan formal juga bukan lagi menjadi aktifitas saya. saya hanya seorang ibu rumah tangga yang mengamati, mengikuti, dan akhirnya memprihatini (benar nggak kata ini?) dunia pendidikan. Kok begitu?
         Beberapa tahun lalu saya sempat membuat sebuah karya tulis sebagai syarat kelulusan sebuah diklat pendidikan guru SD tentang sistem pendidikan di Indonesia yang masih dominan mengaktifkan kinerja otak kiri saja (waktu itu, dan kayaknya sekarang pun tak jauh berubah kecuali di sekolah-sekolah terpilih). Dan komentar dosen pembimbing yang notabene praktisi pendidikan beneran (nggak kayak saya yang baru taraf kenpingin jadi), membenarkan hal tersebut, bahkan malah menambahkan bahwa tak hanya seperti itu, tetapi memang dari dulu sistem pendidikan di Indonesia ini memang "ya wis begitulah...". Mulai kurikulum yang sering gonta-ganti, materi belajar yang kurang mengarahkan anak pada minat atau bakat khususnya sehingga optimal dalam mengejar profesi, materi yang terlalu berat namun tidak terlalu terpakai dalam kehidupan sehari-hari, biayanya, sistem ujian nasionalnya yang bla bla bla...
         Maka, ketika malam ini tadi, sekitar sejam yang lalu saya menyaksikan tayangan di televisi (nggak terlalu merhatikan acara apa dan stasiun mana karena sambil ini itu) yang memberitakan beberapa pelajar yang mendatangi seorang tokoh spiritual untuk minta "sesuatu" yang melancarkan ujian mereka, lalu sang tokoh membagikan beberapa botol air minum dalam kemasan (semacam aqua lah...) dan pensil yang banyaknya sejumlah siswa yang datang tsb. Saya merasa sangat prihatin.... Hai... ini jaman apa? saya malah jatuh kasihan pada anak-anak didik tersebut.
         Jadi apa hubungannya dengan sistem pendidikan Indonesia? Terus Kok Judulnya nyinggung2 Sistem Pendidikan Finlandia? Ya kalau dihubung-hubungkan, ya ada hubungannya lah!
          Sekarang sekilas kita tengok bagaimana sistem pendidikan di negara lain, sebagai contoh di negara Finlandia. Saya juga tidak sengaja menyaksikan tayangan ini di TV sambil lempit-lempit. Seger rasanya melihat suasana belajar di negera tersebut.

Beberapa poin yang saya tangkap dari Sistem Pendidikan di Finlandia adalah sbb:

- memungut bayaran dari orang tua murid adalah tindakan ilegal, melanggar hukum, baik sekolah negeri atau swasta. Lha yang swasta? Dibantu pemerintah lah...biayanya.
- guru pendidik, minimal lulusan S2, lulusan terbaik (10 besar) dari PT terpercaya.
- satu kelas maksimal 20 anak didik, dengan 3 orang guru yang mengikuti mereka dari awal hingga akhir program (SD, SMP, SMA dengan guru yang sama) agar benar-benar diketahui bagaimana perkembangan anak didik satu persatunya (keren kan?)
- ulangan alias tes, nih... ini nih mungkin yang sangat berbeda dengan negara kita, simak ya...: ulangan atau tes, bukan untuk menguji kecerdasan siswa (yang seringkali membuat siswa stress) akan tetapi lebih kepada melihat sejauh mana keberhasilan guru dalam menyampaikan materinya pada mereka. Dan... (nah ini paling puenting) ulangan tidak dijadwalkan seperti di sekolah sekolah kita dari jaman penjajahan hingga dijajah negeri sendiri, namun sesuai dengan kesiapan masing-masing siswa. Waktu dan mata pelajaran untuk ulangan sesuai keinginan dan  kesiapan masing-masing siswa (catet...). Jadi, oalah nggak ada siswa yang pada stress gara-gara seminggu ujian full untuk semua mata pelajaran (alamak... kita banget yah...!)
- tidak ada sistem kelulusan dengan menerapkan ujian nasional. ini dia nih!
- cara pembelajaran sangat santai, dengan berbagai metode, guru berhak membuat kurikulum sendiri karena ia lebih mengenal segala sesuatu tentang siswanya (baik minat, bakat, faktor2 pendukung,kebutuhan, gaya belajarnya, dsb) dan jangan lupa, ia juga seorang yang profesional berbasic S2 lulusan terbaik... jadi syah syah saja ia membuat kurikulum sendiri.
         Dari sekilas yang saya tangkap, ya jelaslah pendidikan di Indonesia  lebih sering membuat siswa stress takut tidak lulus. jadi, tujuan belajar akhirnya melenceng menjadi: sekolah agar lulus ujian nasional. Lulus dengan apa? ya dengan nilai? nilai didapat dari mana? ya harus menjawab soal-soal dengan benar. soal yang bikin siapa? ya dari atas, lha wong nasional  e.... trus yang keluar soalnya kira-kira yang mana? Yo... embuh!  padahal materi yang harus dipelajari segitu banyaknya. Orang tua mana juga yang tidak ikut tegang saat anaknya mau UNAS. Gurunya? so pasti juga nggak kalah "kemrungsung". So, lalu berbagai upaya dilakukan agar anaknya (bagi ortu), anak didiknya (bagi guru) lulus dengan sukses di sini.  Upaya apa saja?
          Ini dia nih... Upaya yang logis tentu wajib : mendorong anak belajar sungguh sungguh, memberikan les tambahan, memberikan latihan2 soal, mendoakan, dan.... sayangnya ada yang kemudian melakukan cara nekat, seperti ke dukun (astaghfirullah... jangan deh...). Dan itu tuh... seperti yang barusan saya liat di TIVI, minta doa restu tokoh spiritual. Lho, kan nggak salah? doa orang yang lebih dekat dengan Allah kan lebih mustajab? Memang tidak salah... tetapi kalau pulang pulang mbawa oleh2 pensil "ajaib" dan botol minuman "ajaib"?. Hadhuuuuh! Kalau pembaca sekalian nggak merasa resah seperti saya, rasanya TERLALU! Mereka bilang sebagai sugesti..., kenapa caranya harus begitu? bagaimana kalau mereka terjebak pada syirik? mungkin saja kan? apalagi yang malas belajar... jadi makin pede dengan pensil dan air ajaib itu, tapi pedenya karena "jimat" yang dipegangnya. Salahkan jika saya berpikir ini merupakan tindakan "pembodohan" terhadap anak-anak kita? 
         Selanjutnya mohon dikaji sendiri dalam hati, atau sesama orang tua lain yang nota bene punya anak usia didik, atau sama gurunya, atau bahkan kalau yang mbaca adalah seorang guru, saya mohon, please...(khusus untuk praktisi pendidikan) adakah yang berani usul pada pemerintah bagian... yang ngurusi pendidikan itu loh...) agar mencoba mengkaji sistem pendidkan di negara lain, semisal di Finlandia tersebut demi bibit-bibit emas kita, sehingga anak didik tidak perlu stress, kebingungan takut tidak lulus karena soal-soal yang "tak terduga", yang akhirnya tidak maksimal konsentrasinya dalam belajar karena ktegangan tersebut, dan... mendorong tindakan tindakan tak logis yang seperti saya ceritakan di atas.
          Apakah memang sistem UNAS adalah satu-satunya cara penentuan kelulusan siswa yang paling valid? kenapa ternyata di negara lain tak harus menerapkan hal itu dan hasil didikannya pun bisa dijamin"Oke", kenapa juga yang menerapkan metode belajar bervariasi dan menyamankan siswa hanyalah sekolah-sekolah khusus dengan tarif khusus pula? Lalu dana BOS buat apa? Halah! banyak banget yang ingn saya tanyakan.
          Sekian dulu lah.... saya juga capek dan ngantuk. Kerjaan lempitan malah gak mari ki... tapi saya memang tidak plong jika tulisan ini belum saya publish. Apakah saya sok tahu? sok menggurui? sok suci? sok jujur? sok pintar? jika terkesan demikian saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, ini lahir dari keprihatinan saya semata, karena saya sayang anak saya, tentu ana- anak indonesia pada umumnya. Ya Allah... semoga kau maafkan jika ada kemudhoratan dari tulisan ini, dan semoga mata serta telinga-telinga mereka yang peduli, tergerak mengusahakan suatu perubahan ke arah yang sebaik-baiknya demi anak cucu kita nanti. Salam... semoga bermanfaat.
Reaksi:

2 komentar:

  1. moga sistem pendidikan di indo smakin bagus ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dah mampir mbak ya, iya semoga ya kurikulum terbaru makin bagus...

      Hapus