Kamis, 05 April 2012

Belajar Dari Seorang Asisten Rumah Tangga (Pembantu)


           Belajar adalah suatu proses menambah pengetahuan atau keahlian baru. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara dan juga dari siapa saja. Umumnya orang belajar dengan membaca, seperti membaca buku pengetahuan, buku ketrampilan, koran, majalah, kitab, dan lain-lain. Selain membaca, belajar juga bisa dilakukan dengan melihat orang lain melakukan suatu hal, atau bertanya pada orang yang lebih tahu tentang sesuatu yang ingin kita pelajari. Belajar juga tak terbatas hanya pada sesuatu yang ingin kita pelajari saja, tetapi proses belajar tersebut bisa juga terjadi tanpa sengaja dan tidak kita rencanakan. Seperti pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, bahkan obrolan atau kalimat yang kita dengar sekilas saja pun bisa juga membuat kita mengalami proses belajar saat itu juga.
            Seperti yang baru-baru ini kualami di rumah. Akhir-akhir ini aku sering dipusingkan dengan ulah beberapa orang yang seakan suka memanfaatkan keberadaan suamiku di kampung ini. Kami adalah keluarga yang baru pindah dari kota, pulang kampung karena ingin tinggal lebih dekat dengan orang tua. Sayangnya, beberapa orang seakan melihat “kesempatan” untuk memanfaatkan keberadaan kami di sini. Mereka menganggap suamiku begitu banyak uang sehingga “proyek” demi “proyek” mereka sodorkan dengan berbagai dalih sehingga suamiku mau mengeluarkan koceknya. Kalau memang keperluan itu masuk akal, wajar, dan kocek suami lagi “ada”, mungkin aku tak terlalu keberatan. Tetapi seringkali yang mereka sodorkan adalah hal-hal diluar kewajaran, dengan ajuan dana yang “memeras” kantong suami. Tak peduli suamiku lagi ada uang atau tidak. Yang ada di otak mereka, ada suamiku, berarti ada uang berapapun itu. Aku sering mengurut dada dan menangis sendiri karena sering melihat suamiku yang seakan tak henti mendapat berbagai tekanan dari mereka yang berkepentingan.
           
            Padahal mereka bukanlah orang yang miskin, apalagi fakir. Mereka dalam keadaan tercukupi segala kebutuhannya. Ada saja kebutuhan- kebutuhan duniawi yang mereka angankan dengan menggantungkan “talangan dana” dari suamiku. Entah itu dikembalikan ataukah tidak, memang masih remang-remang. Sebenarnya kami ingin tegas. Jika tak ada, bilang tak ada. Tapi untuk bersikap seperti itu, seringkali suami tak sampai hati. Sehingga sudah berapa juta uang yang dicarikan dengan pinjam ke teman, akhirnya hingga sekarang tak kembali juga. Padahal suamiku sudah menyicil hingga lunas ke temannya tempat ia pinjam. Terus terang, sebenarnya aku tak ingin pelit. Tapi aku bosan dengan hal-hal seperti itu. Apa kami juga tak butuh nabung dan dana cadangan untuk keperluan mendadak (siapa tahu) di depan nanti? Untuk biaya sekolah anak-anak jika mereka sudah besar? Untuk membangun rumah yang kami sendiri pun belum punya, masih ngontrak di kampung ini?
            Suntuk aku memikirkan hal itu. Apalagi ditambah dengan beberapa sanak yang sedang meributkan harta warisan yang tak kunjung tuntas. Ada yang merasa telah memiliki beberapa bagian tanah, ada yang merasa ditipu, ada yang merasa bagiannya kurang. Haduuuh... rasanya kepalaku tambah pening karena bagaimanapun kami juga dilibatkan dalam urusan itu.
            Di sela-sela kesuntukanku kadang muncul pikiran ingin meninggalkan tempat ini, kembali ke kota. Juga timbul penyesalan, kenapa juga dulu harus pindah ke kampung? Tapi, itu hanya pemikiran sementara orang yang sedang galau. Aku tak benar-benar ingin meninggalkan tempat ini karena ada orang tua suami juga orang tuaku yang tinggal dekat dari rumah kami.
            Jika aku berkeluh kesah ke suami, dia malah marah-marah. Dan aku maklum, dia sendiri pun pasti lebih pusing dari pada aku. Maka aku pendam sendiri kekesalanku itu. Tetapi ternyata aku tak sendiri menahan perasaan ini. Ada seseorang yang selalu mengamati apa yang sering terjadi di rumah kami, namun selama ini ia diam dan pura-pura tak mengerti.
            Pada satu kesempatan saat aku sedang memasak dengan dibantu oleh asisten rumah tanggaku (baca: pembantu). Tiba-tiba ibu setengah tua itu bergumam. “Orang-orang kaya... apa yang mereka cari? Saya ini... sengsara dari kecil. Sampai sekarang, yang saya pikirkan adalah... selama masih bisa makan layak setiap hari, sudah sangat bersyukur... Kalau orang-orang kaya itu, mikir apa lagi ya?”
            Oh... Tuhan. Seperti setetes embun yang tiba-tiba membasahi pucuk tunas yang hampir mengering. Rasanya bagai mendengar penuturan seorang pencerah dikala hati sedang dirundung kegelapan.
            Seketika aku seperti diingatkan bahwa sesungguhnya di kala hati gundah gulana khawatir akan urusan-urusan materi dan duniawi, sepantasnyalah kita kembali melihat pada apa-apa yang telah dan masih bisa kita miliki. Suami yang setia, anak-anak yang sehat ceria, pekerjaan suami yang baik dan lancar, rejeki yang mengalir, tempat berteduh waupun masih kontrakan, jiwa dan raga yang sehat dan normal. Lho, apa lagi yang dicari di dunia ini? Sejenak menghirup nafas panjang untuk melepaskan segala persoalan dan menikmati indahnya kehidupan yang ada di depan mata, sangatlah menenangkan dan mengobati.
            Ucapan pembantuku benar. Orang-orang kaya itu, mikir apa lagi ya? Apakah yang dimaksud itu termasuk aku? Entahlah. Tapi mendengar kalimat yang terlontar spontan itu aku mendapatkan suatu pelajaran, bahwa masih banyak orang yang hidupnya tak seberuntung aku. Pendidikan cukup, tak perlu mikir cari uang, tinggal nerima jatah dan merawat anak- suami dengan baik, memiliki orang tua yang lumayan berkecukupan sehingga tak perlu ikut susah payah waktu kecil. Berbeda jauh dengan kehidupan pembantuku yang hanya lulusan SD dan sedari kecil sudah harus ikut mencari nafkah itu. Aku bersyukur bisa mendengar kalimat sederhana itu dan memetik hikmah di dalamnya. Tentang mereka yang masih suka memanfaatkan suamiku, aku serahkan semua pada yang kuasa, semoga dibukakan hati mereka untuk berpikir jernih. Dan jika memang bisa membantu semampunya, aku akan berusaha ikhlas.....
Reaksi:

3 komentar:

  1. Kegundahan mbak Ella wajar menurut saya. Setiap istri pasti bersikap demikian. Adalah hak kita mempertahankan 'area' kita.

    Tapi kalaupun memilih ikhlas, itu pun baik. Semoga rejeki makin lancar ya mbak ...

    #Main ke blog saya ya mbak ^__^#

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak dah main ke sini. sederhana banhet ya... maklum masih baru pgn serius nulis di blog... blog mbak keren ya... yg menang itu kan? subhanallah... jd terispirasi bgts...

      Hapus
  2. mak Ella salam kenal yaa ^^
    semoga semua masalah itu sekarang sudah terlewati dengan baik, sudah hampir 2 thn yg lalu ya mak..

    BalasHapus