Rabu, 04 April 2012

"Tragedi" Sebuah Jeruk


                Ruangan ini terbuka. Mereka telah memindah aku dan kawan-kawan menempati lantai bawah di bagian pinggir ruangan supermarket ini.  Sedikit berbeda dengan ruangan sebelumnya yang terhalang oleh tembok-tembok yang rapat menutup pandanganku ke dunia luar.  Walaupun sama-sama ber-AC,  tapi di sini aku bisa merasakan semilir angin, menatap mobil-mobil yang parkir, berikut debu dari jalan raya yang terkadang memang membuatku agak risih. Tapi aku suka ini, sebuah susana baru setelah bertahun-tahun aku berada di lantai atas. Debu jalanan pun tak sampai membuatku batuk dan melusuhkan bajuku.  Ramainya sih sama saja. Setiap hari aku harus rela dipelototi oleh mata-mata yang langsung terpana jika melihat penampilanku yang ngejreng dengan busana transparan bergambar kemerahan ini.  Apalagi jika melihat plang harga yang dipasang di samping tempatku berada. Yang ini tak membuatku tersinggung, aku malah bangga. Biasanya mereka akan bergegas menghampiriku dan memegan-megangku. Begitulah setiap hari.
                Pada suatu hari, di siang yang  terik aku mendengar suara sekelompok anak kecil yang lewat di pinggir jalan raya itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tiba-tiba saja mereka berbalik dan melihat ke arah supermarket tempatku berada. Mereka bukan pengunjung yang seperti biasanya. Sandal jepit murah serta baju lusuh menempel di tubuh mereka. Mau apa mereka? Heranku. Mau beli apa mereka dengan penampilan seperti itu? Apa mereka punya uang? Kutatap mereka dengan sinis. Wah..wah.. ternyata mereka menghampiriku, menatapku dengan penuh ketertarikan. Yang begini ini benar-benar membuatku risih!
                “Mbak... kalau yang ini berapa mbak?”
                Aku cuek saja, pura-pura tak mendengar.
                “Oh... sekilonya enam ribu sembilan ratus sembilan puluh rupiah dek, tujuh ribu lah... mau beli ?” sahut seorang karyawati yang dari tadi berdiri di sampingku.
                Kepala-kepala berambut kusut itu mengangguk-angguk. Sesekali mereka melirik nakal ke arahku. Idihh...
                “Beli satu boleh, Mbak?” jawab salah satu dari tiga anak itu.
                “Satu? “sahut si karyawati sambil memegang-megang bibirnya pakai telunjuk, seperti orang yang sedang bingung. Sekilas ia melirikku juga. Huh! Jangan sampai deh mereka menyentuhku.

                “Boleh, boleh lah! Jadi satunya...berapa ya?” iba juga karyawati itu pada tiga anak lusuh itu. Ia mengambil sebuah jeruk lalu membawanya ke timbangan digital.  Untung saja bukan aku yang harus ke timbangan itu.
                Eh! Tapi jeruk itu belum sempat naik ke timbangan karena keburu seorang ibu menaikkan bungkusan plastik berisi sekitar sekilo jeruk.  Wah..sepertinya ibu itu kaya. Udah cantik, bajunya bagus lagi. Aku jadi ingin dekat-dekat sama ibu itu. Mobilnya? Rumahnya? Rasanya sudah kecium gimana mewahnya kendaraan dan tempat tinggal orang kaya itu. Andaikan...
                “Saya beli lagi, Mbak..., tolong satu kilo lagi ya?” ujar ibu cantik itu. Si Karyawati urung lagi menimbang  satu buah jeruk di tangannya. Aku bersiap-siap pasang pose seramah mungkin.
                Satu, dua, tiga, kapan giliranku? Nha...! Sukacitanya hatiku saat ibu cantik itu mengarahkan tangan kanannya ke arahku. Hap! Dalam sekejap tubuhku telah masuk ke dalam kantong plastik dan naik ke atas timbangan. Horeee!
                “Bentar-bentar Mbak, jangan diikat dulu plastiknya.” Kata ibu cantik itu tiba-tiba saat Si Karyawati akan mengikat kantong plastik setelah ditempeli label harga.
                “Ini, tiga aja buat mereka.” lanjut si Ibu membuat karyawati itu agak bingung.
                “ Nha, sekarang diiket plastiknya. Ini kasihkan mereka Mbak...” kata Si Ibu memperjelas.
                Jadi...Olala! No no no... kenapa harus aku yang dikeluarkan dari kantong plastik itu? Kuharap ia mengurungkan  niatnya, atau mengembalikan aku dan menggantikan dengan jeruk lain untuk diberikan pada ketiga bocah dekil itu.
“Ibu cantik...! Anda salah ambil jeruk! “ teriakku yang hanya bisa didengar oleh teman-temanku yaitu para jeruk ponkam di supermarket ini.  Tapi apalah dayaku, aku hanya sebuah jeruk yang tak bisa bersuara, apalagi bergerak dan lari menghindar.Tiga buah jeruk, termasuk diriku, telah beralih tangan. Tiga bocah kecil tertawa bahagia menyambut kami.
“Bilang terimakasih pada Ibu ...” kata karyawati itu sambil matanya mengarah pada ibu yang telah berbaik hati memberikan kami pada anak-anak itu.
“Ah... sudahlah Mbak. Gitu aja kok....” sahut  Si Ibu.
Dan aku mengikuti langkah-langkah kecil mereka yang menyusuri pinggiran jalan raya sambil melompat-lompat kegirangan. Ada binar bahagia di mata mereka yang membuatku sedikit terenyuh. Aku terenyuh? Iya.... entah kenapa kini ada setetes rasa damai juga di hatiku. Mereka bahagia karena mendapatkan aku. Jadi, rasa bahagia ini apakah karena hal itu? Yang jelas, tiba-tiba muncul kerelaan untuk menghilangkan rasa haus bocah-bocah kecil itu dengan menikmati segarnya daging dan sari tubuhku. Begini jugakah rasa yang dialami oleh ibu cantik tadi? Dan sebongkah keangkuhan yang kupertahankan selama ini seakan runtuh berganti dengan rasa iba dan ingin berbagi. Ibu cantik, terimakasih....
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar