Kamis, 10 Mei 2012

Meniti Jejak Bocah di Peti Sejarah (Patungan Yuuuk...)


Patungan Yuuuk…

Aku tak suka nge-game. Aku tak suka melihat anakku main game, apalagi suamiku yang main game. Suer…! Tak perlu pake penjelasan yang bertele-tele seperti orang pinter untuk menguatkan ketidaksukaanku. Yang pasti, saat main game, mata, telinga, tangan, dan hati dan pikiran mereka seakan-akan hanya untuk game itu. Disuruh makan atau mandi , yang keluar dari mulut mereka adalah “Iya”, atau“He’eh”, tetapi tak juga beranjak dari depan komputer. Bila diajak ngomong menyahut, “Apa?”, tetapi menoleh pun tidak. Apalagi saat aku lagi perlu memakai komputer untuk mengerjakan tugas-tugasku. Maka mendongkollah hatiku jadinya, sambil mondar-mandir dan komat-kamit meminta mereka segera berhenti nge-game.
Nggak heran juga sih, anak-anak sekarang lebih suka meringkuk di dalam rumah menikmati permainan yang serba memakai teknologi canggih, menarik, dan tidak perlu menguras energi. Seperti nge-game di komputer, play station, nge-game di hand phone, atau yang lebih canggih lagi main online game. Permainan seperti itu memang menarik animo yang sangat besar bagi mereka. Bagiku semua itu bukannya tidak boleh, tetapi harusnya ada batasan-batasan tertentu agar mereka pun bisa menikmati kehidupan yang penuh warna di sekelilingnya seperti bercengkrama dengan keluarga, beramah-tamah dengan tetangga, atau permainan yang melibatkan anggota tubuh untuk bergerak secara nyata. Itung-itung olahraga.
Aku Jadi ingat masa keciku dulu di daerah Jepara, Jawa Tengah. Saat itu komputer adalah barang aneh bin ajaib. Apalagi hand phone, apaan tuh? Telepon rumah saja yang punya hanya tetangga yang paling kaya. Pada saat itu, nggak ada anak main game, apalagi Online Game. Paling puol ya mobil atau pesawat remote control oleh-oleh dari orang naik haji. Tapi kami lebih suka main petak umpet, main gundu, main jamuran, main patungan, dakon, dan masih banyak lagi permainan yang sering kami lakukan. Semua itu murni tidak bersentuhan dengan kecanggihan teknologi elektronika.
Permainan masa kecil yang paling aku sukai adalah patungan. Apakah permainan patungan itu dan bagaimanakah cara permainannya?
Permainan ini bisa dilakukan oleh dua orang anak atau lebih. Patungan adalah sebuah permainan yang mengajak anak untuk berpura-pura menjadi patung dengan berbagai gaya yang di sukai. Aku sangat menyukai permainan ini karena aku bisa bebas mengkhayal menjadi patung apa saja. Anak-anak lainnya pasti begitu juga.
Cara bermainnya? Sangat mudah. Setelah anak-anak berkumpul untuk mulai permainan ini, kami melakukan hompimpa. Ada lagunya lho…
“Hompimpa alaihom gambreng!!!”

Jumat, 04 Mei 2012

Tentang Buku "Madre" nya Dee


Judul        : Madre (kumpulan cerita)
Penulis      :Dewi Dee Lestari
Penerbit    :Bentang Pustaka
Tanggal terbit    :Juli - 2011
Harga        : Rp 47.000

Pertama melihat penampilan buku ini kesan yang akan kita tangkap adalah: sederhana. Tidak ada ilustrasi fantastik seperti buku-buku fiksi ataupun nonfiksi jaman sekarang. Bahkan terkesan seperti buku kuno dengan dominasi warna coklat dan krem. Mungkin justru di situlah letak daya tarik buku yang berkesan etnik, ditambah pula dengan tulisan cukup jelas di bagian bawah, DEE. Ya, siapa yang tak kenal DEE? Buku yang saya maksud adalah karya terbaru DEE yang berjudl Madre.
Madre. Judul yang cukup simple. Penampilan buku yang simple, nama penulis yang simple, serta judul yang simple. Kesan simple ini bukan berarti mengisyaratkan isi di dalamnya pun simple-simple aja. Buku fiksi yang merupakan kumpulan cerita karya DEE selama lima tahun tarakhir (dari tahun 2006 sampai 2011) ini menurut saya sungguh kaya. Kaya akan tema, jenis tulisan, serta gaya dalam penulisan itu sendiri.
Buku ini terdiri dari beberapa cerita fiksi (terus terang saya bingung menyebutnya sebagai cerpen atau novelet atau novel), puisi, serta prosa. Satu buku kaya rasa. Kita akan menemukan kesan dan pengetahuan yang berbeda dari setiap tulisan dalam buku ini. Hingga Sitok Srengenge mengatakan bahwa harmoni dalam Madre adalah miniatur Indonesia yang ideal.
Pada tulisan pertama, berjudul sama dengan judul buku, yaitu Madre, saya merasa sangat mudah mencerna bahasa yang digunakan DEE. Tidak terlalu kaya idiom, bahasanya mengalir bahkan terkesan sederhana. Bobot tulisan ini ada pada ide serta jalannya cerita. Jauh dari karya fiksi kebanyakan yang mengangkat tema cinta sebagai ide utama, namun daya tariknya tak kalah dengan cerita bertema cinta. Setiap orang yang belum membaca pasti akan penasaran dengan kata Madre itu sendiri. Nama orangkah? Nama tempatkah? Nama binatangkah? Ya, seperti halnya saya yang akhirnya manggut-manggut dan tersenyum, lalu geleng-geleng kepala mengakui kepiawaian DEE mengangkat tema yang unik dalam karya fiksinya. Tiba-tiba saja saya seperti dibawa ke sebuah dapur roti milik orang china yang masih menggunakan tehnik tradisional dalam pembuatannya. Di sinilah seorang Tansen untuk pertama kalinya bertemu dengan Madre. Kisah ini diawali  kekesalan Tansen mendapatkan surat wasiat dari orang yang tidak dikenal, dan isi wasiat tersebut adalah sebuah kunci. Bukan kunci rumah, apalagi kunci mobil. Tapi kunci dari sebuah tempat penyimpanan benda bernama madre yang baginya sama sekali tak menarik.

Rabu, 02 Mei 2012

Novel Tara Puccino


Tara dan Raffi. Sepasang enterpreuner muda yang sedang gigih mengembangkan bisnis bakery bernama “Bread Time”, menghadapi teror yang cukup menguras energi semenjak memutuskan hubungan kerja dengan sebuah pemasok bahan baku yang disinyalir sebagai penyelundup bahan makanan yang mengandung lemak babi.
            Namun pelakunya masih abu-abu karena teror-teror itu bertepatan dengan hadirnya Hazel, seorang karyawan baru di bakery mereka yang semula adalah seorang pengunjung setia. Selain karena cemburu yang seakan tanpa diundang hadir di hati Raffi, beberapa hal seakan makin menguatkan tuduhannya bahwa Hazel ada kaitan dengan teror-teror tersebut. Meski jauh di lubuk hati Tara mengadakan pembelaan kepada Hazel.
            Sebelumnya, pada dimensi dan waktu yang telah berlalu, sempat terukir sebuah kenangan manis antara Tara dengan Diaz, meski mereka tak pernah menjalin komun ikasi atau bertemu muka sekalipun. Namun sebuah tragedi terpaksa membuat Diaz menghilang sebelum rencana ta’aruf  terlaksana.
            Semerbak aroma roti yang baru keluar dari pemanggang, kesan spesial pada buah peach, teror-teror di Bread time, menghilangnya Hazel yang meninggalkan sebuah subfolder khusus di hati Tara, seluk beluk bisnis ilegal trading di pulau batam , masa lalu Diaz, serta benang merah yang bisa tersambung hanya jika kita membacanya tanpa melewatkan satu kalimat pun dari awal hingga akhir, adalah bukti canggihnya racikan resep istimewa yang tersuguh dalam sebuah novel terbaik yang pernah saya baca, “Tara Puccino”.
Novel dengan sentuhan fiksi yang begitu kental, namun pembelajaran sosial, ilmiah dan agamanya tak kalah dengan nonfiksi ternama. Begitu berkesan dan melekat erat, menegangkan, membuat penasaran, menyatukan segala rasa.
            Meski sempat terbersit sedikit tanya, adakah kisah semanis itu dalam kehidupan nyata, tentang password bagi subfolder yang tersimpan di hati Tara?

Judul Buku      : Tara Puccino
Penulis             `: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Tebal buku      :
ISBN               :

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...