Jumat, 04 Mei 2012

Tentang Buku "Madre" nya Dee


Judul        : Madre (kumpulan cerita)
Penulis      :Dewi Dee Lestari
Penerbit    :Bentang Pustaka
Tanggal terbit    :Juli - 2011
Harga        : Rp 47.000

Pertama melihat penampilan buku ini kesan yang akan kita tangkap adalah: sederhana. Tidak ada ilustrasi fantastik seperti buku-buku fiksi ataupun nonfiksi jaman sekarang. Bahkan terkesan seperti buku kuno dengan dominasi warna coklat dan krem. Mungkin justru di situlah letak daya tarik buku yang berkesan etnik, ditambah pula dengan tulisan cukup jelas di bagian bawah, DEE. Ya, siapa yang tak kenal DEE? Buku yang saya maksud adalah karya terbaru DEE yang berjudl Madre.
Madre. Judul yang cukup simple. Penampilan buku yang simple, nama penulis yang simple, serta judul yang simple. Kesan simple ini bukan berarti mengisyaratkan isi di dalamnya pun simple-simple aja. Buku fiksi yang merupakan kumpulan cerita karya DEE selama lima tahun tarakhir (dari tahun 2006 sampai 2011) ini menurut saya sungguh kaya. Kaya akan tema, jenis tulisan, serta gaya dalam penulisan itu sendiri.
Buku ini terdiri dari beberapa cerita fiksi (terus terang saya bingung menyebutnya sebagai cerpen atau novelet atau novel), puisi, serta prosa. Satu buku kaya rasa. Kita akan menemukan kesan dan pengetahuan yang berbeda dari setiap tulisan dalam buku ini. Hingga Sitok Srengenge mengatakan bahwa harmoni dalam Madre adalah miniatur Indonesia yang ideal.
Pada tulisan pertama, berjudul sama dengan judul buku, yaitu Madre, saya merasa sangat mudah mencerna bahasa yang digunakan DEE. Tidak terlalu kaya idiom, bahasanya mengalir bahkan terkesan sederhana. Bobot tulisan ini ada pada ide serta jalannya cerita. Jauh dari karya fiksi kebanyakan yang mengangkat tema cinta sebagai ide utama, namun daya tariknya tak kalah dengan cerita bertema cinta. Setiap orang yang belum membaca pasti akan penasaran dengan kata Madre itu sendiri. Nama orangkah? Nama tempatkah? Nama binatangkah? Ya, seperti halnya saya yang akhirnya manggut-manggut dan tersenyum, lalu geleng-geleng kepala mengakui kepiawaian DEE mengangkat tema yang unik dalam karya fiksinya. Tiba-tiba saja saya seperti dibawa ke sebuah dapur roti milik orang china yang masih menggunakan tehnik tradisional dalam pembuatannya. Di sinilah seorang Tansen untuk pertama kalinya bertemu dengan Madre. Kisah ini diawali  kekesalan Tansen mendapatkan surat wasiat dari orang yang tidak dikenal, dan isi wasiat tersebut adalah sebuah kunci. Bukan kunci rumah, apalagi kunci mobil. Tapi kunci dari sebuah tempat penyimpanan benda bernama madre yang baginya sama sekali tak menarik.

 Madre adalah benda terpenting bagi dapur pembuatan roti di toko roti Tan De Bekker, tempat dimana Tansen terpaksa tinggal untuk beberapa hari, bahkan akhirnya memutuskan untuk menetap di tempat itu. Tan De bekker sendiri adalah sebuah toko roti yang telah tutup karena tak mampu bertahan ditengah persaingan toko-toko roti lain yang lebih modern baik dalam pembuatan maupun pemasaran. Namun, sebenarnya keklasikan pembuatan roti yang tidak menggunakan ragi instan tetapi menggunakan adonan biang bernama madre itu sesungguhnya adalah daya tarik yang sangat besar bagi konsumen pecinta roti sesungguhnya. Hanya saja Bapak Tan (pemilik Tan De Bekker yang sudah meninggal) masih mengunakan sistem tradisional dalam pemasaran sehingga kalah bersaing dengan toko-toko lain yang memiliki strategi dagang yang lebih canggih, sehingga akhirnya ditutup.
Mantan-mantan pegawai Tan De Bekker ternyata adalah pekerja yang sangat setia kepada madre. Mereka menunggu-nunggu saat datangnya sang pahlawan yang akan membuat madre berfungsi kembali. Tansenlah pahlawan yang mereka harapkan sebagai pewaris madre, karena ternyata Tansen adalah cucu Tan, pemilik Tan De Bekker. Di tengah pertentangan batin antara ingin kembali menjadi dirinya yang lama sebelum mendapat wasiat madre, dengan kenyataan bahwa ia sangat diharapkan bisa menghidupkan kembali Tan De Bekker, Tansen bertemu dengan Mei, anak seorang pemilik toko roti modern yang sangat tertarik dengan madre dan berniat membelinya. Justru setelah bertemu Mei ini Tansen sadar betapa berharganya madre bagi almarhum Tan maupun mantan-mantan pekerjanya sehingga ia berpikir lagi apakah akan melepas madre ataukah mempertahankannya.
Itu baru satu judul yang memang membuat saya berdecak kagum. Bertambahlah pengetahuan saya tentang macam –macam jenis roti klasik serta biang pembuat roti yang ternyata tidak selalu berbentuk bubuk seperti yang saya ketahui selama ini. Madre yang telah berumur puluhan tahun itulah contohnya.
Bagaimana dengan karya yang lain? Dalam puisi berjudul Perempuan dan Rahasia  serta Ingatan tentang Kalian, saya seperti membaca syair-syair karangan Kahlil Gibran. Satu warna yang sama sekali berbeda dengan Madre. Sementara dalam Have You Ever? Kita akan menemukan ending yang tak meninggalkan jawaban. Sepertinya pembaca disuruh menyimpulkan sendiri bagaimana keputusan Howard yang singgah ke Byron Bay yang hanya karena ingin menyelesaikan teka-teki antara ia dan seorang gadis muda bernama Intan Cahaya. Sesuatu yang sangat lain dengan aroma sedap roti di dapur Tan De Bekker. Sedangkan pada Cerpen mini Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan saya merasa kurang sreg, seperti tak menangkap pesan di dalamnya. Seperti hanya memperlihatkan kebencian tokoh yang sedang frustasi akan dua pertanyaan, Apa itu cinta? Dan Apa itu Tuhan?
Satu cerita lagi, mungkin bisa dikatakan novelet karena terlalu panjang untuk sebuah cerpen, dan terlalu singkat untuk dikatakan sebagai novel, berjudul Menunggu Layang-Layang mengahadirkan suasana kehidupan kota besar, metro pop, serta terkesan bebas. Membaca cerita ini dari awal rasanya tak ingin putus, penasaran hingga akhir. Cara penulisannya ada kemiripan dengan Madre, yaitu mengalir, sederhana, sangat mudah dicerna. Bercerita tentang dua orang bersahabat namun saling bertentangan cara masing-masing memperlakukan cinta. Cristian yang yang tak mudah menambatkan cinta, sedangkan Starla begitu mudah berganti-ganti pacar hingga hampir semua jenis pria dengan profesi berbeda-beda pernah dikencaninya. Cristian sangat membenci kelakukan Starla, apalagi setelah seorang sahabatnya yang baru datang dari luar negeri menjadi korbannya. Namun mengapa tiba-tiba saja Starla merasa menemukan sesuatu yang selama ini ia cari ada pada Cristian? Akankah Cristian menerima Starla dengan segala kepahamannya akan siapa Starla selama ini? Cerita berbasis cinta memang selalu membuat dada berdegup dan sangat penasaran, begitu pula saya membacanya. Namun menurut saya, cerita ini seakan mendukung kehidupan bebas yang tak terlalu mensakralkan perkawinan, walaupun di akhir cerita tokoh-tokohnya memimpikan tentang  pernikahan.
Lagi-lagi kita akan mendapatkan warna yang berbeda dalam cerpen berjudul Guruji. Kisah cinta dalam suasana kehidupan yang tidak pada umumnya. Dua tokoh laki-laki dan perempuan yang sam-sama bernama Ari bertemu dalam sebuah workshop tentang hipnosi regresi, sebuah metode untuk menelusuri kehidupan lampau. Ari laki-laki yang kemudian berprofesi sebagi seorang penyembuh dan Ari perempuan yang seorang peramal bergaya gypsy merasa mereka adalah soulate, pasangan jiwa yang lama terpisah. Namun entah mengapa tiba-tiba sang penyembuh menghilang dan beberapa waktu kemudian mereka bertemu dengan situasi yang berbeda. Ari penyembuh telah menjadi seorang Guruji pada sebuah padepokan pengikut Budha. Ia dihormati dan begitu stabil. Tokoh aku (Ari wanita) sangat frustasi dengan semua yang dialaminya. Begitu susah menerima kenyataan bahwa soulmate-nya telah menjadi orang lain dalam bingkai tubuh yang sama. DEE sangat liahi memainkan kata-kata dan pengetahuannya sehingga pembaca merasa lagi-lagi mendapatkan pengalaman baru, bukan hanya tentang cinta.
Beberapa puisi dan prosa dalam buku ini menunjukkan bahwa DEE memang penulis dengan berbagai talenta sastra. Cerpen atau novelet yang tak biasa, puisi dan dan prosa yang kaya warna, sangat menghibur dan menambah wawasan saya.
Jika ditanya kelemahan buku ini, sebagai orang awam saya kira tak banyak kekurangan, sudah sangat pantas bagi DEE dianggap sebagai penulis sastra yang berkelas. Tapi secara pribadi, saya lebih suka karya fiksi yang ada muatan dakwah dan tidak menganggap biasa kehidupan bebas ala orang barat (hubungan lawan jenis). Tapi bagaimanapun dalam beberapa judul ada yang mengisyaratakan bahwa kehidupan pernikahan tetap hal yang perlu diutamakan. Bacaan yang mengesankan. Madre, dengan 13 judul cerita, puisi dan prosa, adalah bacaan yang sangat kaya mengesankan.



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar