Selasa, 24 Desember 2013

“Keong Racun" hingga “Buka Sithik, Jos! “ (Tulisan Ibu yang Khawatir akan virus pengganggu untuk anak-anaknya)




Prihatin. Itulah kata yang terlintas dalam benak saya sebagai seorang ibu yang memiliki buah hati  yang sedang dalam masa pertumbuhan. Hampir setiap hari mereka tak lepas dari mendengar lirik-lirik lagu berbahasa Indonesia yang isinya sangat tidak layak, baik untuk konsumsi pendengaran anak-anak ataupun untuk kategori dewasa. Dalam hal ini penulis bukannya ingin mendiskreditkan jenis musik tertentu (Dangdut). Hanya kebetulan saja lirik-lirik tidak bermutu itu akhir-akhir ini ada di barisan jenis lagu tersebut. Mungkin ada juga Jenis lagu lain yang memiliki lirik kurang mendidik, namun kebetulan yang akhir-akhir ini yang lagi booming dan dihapal luar kepala oleh banyak anak masuk dalam jenis lagu tersebut.
            Sebut saja penggalan lirik lagu ini,”Dasar kau keong racun, baru kenal sudah minta tidur.” Kalau tidak salah lagu “Keong Racun” ini populer dua tahun lalu. begitu muncul di You tube, lagu ini seakan menggantikan posisi lagu kebangsaan di Indonesia, di setiap tempat, setiap saat, setiap hari berkumandang mengisi otak dan jiwa pendengarnya. Tak perlu dibela itu adalah seni yang  memiliki kebebasan berkreasi yang tak boleh dibatasi. Seniman manapun sesungguhnya membohongi hati nurani jika mengatakan kalimat lirik lagu tersebut adalah seni yang perlu dibela. Orang dewasa manapun tahu arti dari kalimat tersebut tanpa harus berpikiran kotor. Bukan pikiran pendengar lagu itu yang kotor, tapi justru lagu itulah yang memancing pikiran-pikiran kotor pada “penderita” yaitu pendengarnya. Apalagi yang masih anak bawang, yang belum terlalu paham mana yang baik dan mana yang harus dijauhi. Tidak miriskah anda jika saat mendengar lagu itu lalu anak Tk atau SD anda bertanya, “Maksudnya minta tidur gimana sih Ma?” Taruhlah kita bisa mengolah kalimat dan sedikit berbohong pada anak-anak kecil kita agar tak ketahuan maksud sesungguhnya kalimat itu, tapi kalau mereka mendengar penjelasan makna kalimat itu dari temannya? mereka yang seharusnya masih memiliki otak seputih kapas jadi teracuni pikirannya oleh bayangan adegan jorok dari penjelasan temannya tadi. Lalu bagaimana dengan remaja kita yang berada pada fase “selalu ingin tahu”? Setiap hari setiap saat mendengar kalimat itu bukankah akan terbawa ke alam bawah sadar mereka dan memancing untuk ingin tahu rasanya “Minta tidur” tersebut saat mereka sedang dekat dengan lawan jenis? Miris!

Senin, 09 Desember 2013

Resensi Novel Temui Aku di Surga Oleh Leyla Hana (Dimuat di nabawia.com)

Menguak Intrik di Balik Pemilihan Kepala Desa

 

Foto: BAWIndonesia

Dimuat di sini
 
Di televisi secara nyata ditayangkan intrik-intrik perebutan kekuasaan di kalangan eksekutif dan legislatif. Politik itu kejam, demikian ungkapan yang sering terdengar. Demi menempati posisi-posisi penting dalam pemerintahan, tokoh-tokoh partai saling menjatuhkan satu sama lain dengan melakukan tindakan-tindakan negatif baik berupa pemutarbalikan fakta, fitnah harta dan wanita, permainan media, sampai hal-hal di luar logika seperti menggunakan jasa dukun dan bahkan membunuh lawan politiknya.

Ternyata, intrik-intrik politik itu tak hanya terjadi pada pemerintah pusat, melainkan juga sampai ke daerah. Contohnya, intrik politik yang terjadi pada pemilihan Kepala Desa. Malik dan Yudho adalah dua sahabat yang digambarkan memiliki wajah dan perawakan mirip satu sama lain, meski terlahir dari orang tua yang berbeda. Malik adalah anak dari keluarga menengah ke atas, sedangkan Yudho adalah anak dari keluarga miskin. Malik sempat menjadi anak nakal, bergabung dengan geng motor yang hobi membuat kerusakan dan bertempur dengan geng motor lawan. Yudho sebaliknya, seorang pemuda  baik-baik yang ikut mencari nafkah untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya.
Yudho  yang semula bekerja di toko pemasangan kaca, diajak oleh Malik untuk membuat usaha sendiri. Hal ini membuat geram Solikin, mantan bos Yudho. Sementara itu, orang tua Malik bercita-cita mencalonkan anaknya menjadi Petinggi Desa (Kepala Desa) karena petinggi yang sudah memerintah dirasa tak becus. Contohnya, jalanan desa semakin rusak, sementara pemasukan desa dipakai foya-foya oleh Kepala Desa.
Sayangnya, rencana pencalonan Malik tak berjalan lancar, karena pemuda itu keburu dibunuh oleh orang lain dalam tabrak lari. Yudho pun digadang-gadang oleh orang tua Malik dan sesepuh desa yang menginginkan perbaikan desa, sebagai calon Kepala Desa selanjutnya. Mereka menyumbang dana untuk pencalonan Yudho dan berharap kondisi desa akan menjadi lebih baik dengan terpilihnya Yudho.
Ide novel ini sangat menarik, mengenai intrik-intrik di balik pencalonan Kepala Desa. Membaca novel ini, kita dapat mengetahui bahwa tidak mudah untuk menjadi Kepala Desa. Bahkan, untuk mencalonkan diri pun, membutuhkan kekuatan fisik, mental, dan sudah tentu materi. Yudho yang anak orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemasang kaca, mendapatkan bantuan dari warga desa yang sudah ingin mengubah kondisi desa dengan melengserkan Kepala Desa yang lama. Akan tetapi, jalan itu tetap tidak mulus. Ada kecurangan-kecurangan disertai ancaman pembunuhan yang menarik untuk diikuti. Yudho pun bertanya-tanya, apakah penyebab terbunuhnya Malik juga ada hubungannya dengan pencalonannya sebagai Kepala Desa?
Membaca novel ini, wawasan kita menjadi terbuka bahwasanya permainan politik itu benar-benar ada: politik uang, ancaman pembunuhan, pemakaian jasa preman untuk mengancam (di sini disebutkan sebagai orang abangan), bahkan memakai jasa dukun, di mana Kepala Desa yang lama memakai Jas Ontokusumo untuk memikat pemilih. Bila pemilihan Kepala Desa saja sudah mengandung intrik yang sedemikian rupa, bagaimana dengan pemilihan anggota legislatif dan eksekutif pusat? Tentu dapat kita dapat ambil kesimpulan bahwa kasus-kasus politik yang ramai di media massa hanyalah bagian dari intrik para penguasa untuk memperoleh kekuasaan atau mempertahankan kekuasaannya.
Setting novel di Jepara juga amat terasa dari logat para tokohnya yang kental, seperti panggilan “Nang” untuk anak laki-laki dan gaya menulis sang novelis yang mengentak-entak, khas Jepara. Tak heran karena penulisnya pun asli Jepara. Pembaca dibuat penasaran mengenai misteri di balik kematian Malik dan kegagalan Yudho menduduki posisi Kepala Desa walaupun sudah didukung oleh sebagian besar penduduk desa. Kita juga bisa belajar dari semangat dan tekad Yudho yang anak orang tidak mampu, untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik dengan bekerja keras dan bercita-cita melanjutkan sekolahnya sampai jenjang yang lebih tinggi. 
Judul: Temui Aku di Surga
Penulis: Ella Sofa
Penerbit: Quanta, Elex Media
Tahun Terbit: Cetakan I, Juni 2013            
ISBN:  97806020213606
Tebal: vii+279 hal

Senin, 18 November 2013

Festival Kuliner Jepara di Pasar Kerajinan



              Ada yang istimewa pada hari Sabtu dan Minggu di kampungku. Dua hari itu berlangsung sebuah acara unik dan istimewa di Pasar Kerajinan yang terletak di Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Acara tersebut diberi nama “Festival Kuliner Jepara”. 

            Ada beberapa jenis kegiatan dalam paketacara tersebut,diantaranya yaitu: lomba memasak umum, lomba memasak nasi goreng oleh antar kepala desa, lomba fotografi, pameran kuliner home industry daerah Jepara, lomba joged, serta tampilan beberapa hiburan dari pemuda Jepara.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Monster Menyeramkan Itu Bernama Sampah

membakar sampah


Aku berdiri terpaku didepan bak pembakaran itu. Asap putih mengepul di atasnya. Dengan niat melatih kesabaran, kali ini kutunggui proses pembakaran sampah di bak yang memang sengaja dibuat sebagai penampung sampah sekaligus sebagai tempat pembakarannya. Beruntung, pikirku. Pemilik rumah sebelum kami telah membuat bak sampah yang lumayan besar ini. Aku tak perlu lagi mengemas sampah untuk dibawa ke tempat penampungan sementara (TPS) di sebelah pasar tradisional di daerah kami. aku mengalami sedikit kesulitan kali ini, karena timbunan sampah di depanku ini semalam teguyur hujan. Yah, tentu saja api susah menyala. Paling menyala di sampah kertas yang sengaja kubakar duluan, menjalar ke bagian sampah di kanan kirinya sebentar, lalu mati. Berulangkali mencoba, tetapi hal yang sama terjadi. Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakan hal lain, dengan harapan siang nanti timbunan sampah akan kering oleh sinar matahari (semoga tidak hujan) dan sorenya siap dibakar.
            Mengapa harus dibakar? Kalau di sekitar tempat tinggalku (desa) membakar sampah sudah jadi hal biasa dalam memperlakukan sampah. Biasanya setelah bersih-bersih rumah, sampah dikumpulkan di suatu tempat (kalau di rumah saya ya bak tadi), lalu langsung dibakar di sore hari atau pagi hari. Asap yang timbul dari pembakaran pun sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Polusi? Ya begitulah.... Tapi, kebiasaan di desa ini jika kita renungkan sebenarnya merupakan salah satu cara meng”akhirkan” perjalanan sampah yang lumayan praktis. Membakar sampah berperan mengurangi problema penumpukan sampah di muka bumi ini. Walau memang resikonya terjadi polusi udara. Tapi itu tak lama, dan tak terlalu jadi masalah bagi masyarakat kami, asalkan saat membakar diusahakan pas waktu arah anginnya tepat. Ya di sore/malam dan pagi hari tadi di saat angin bergerak terarah dan cepat (menurut beberapa tetangga) artinya asap tidak ngendon muter-muter saja sehingga mengganggu rumah warga sekitar _Seperti kasus pembakaran sampah di depan rumah kontrakan saya (sebelum rumah sekarang), dimana seorang tetangga sering membakar sampah di dekat halaman depan rumah kami di siang hari, sehingga kami selalu mendapatkan kiriman paket asap yang lancang masuk hingga ke bagian dapur, terjebak di dalam rumah dan nggak keluar-keluar dalam waktu lama. Hingga akhirnya aku protes pada tetangga ybs. karena kasihan sama anak2 yang harus menghisap asap yang ngendon hampir satu jam-an lah di dalam rumah_

Selasa, 22 Oktober 2013

Mengajak Ortu Lebih Bijak Saat Anak Sakit (Review Buku "Anakku Sehat Tanpa Dokter")



Judul Buku: Anakku Sehat Tanpa Dokter
Penulis : Sugi Hartati, S.Psi
Penerbit : Stiletto
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku : 192 hal.
ISBN : 978-602-7572-14-0

Mengajak Ortu Lebih Bijak

Buku ini tak terlalu tebal, dengan warna dasar dan gambar yang eye catching. Apalagi judulnya, menggelitik dan membuat penasaran,terutama bagi ibu-ibu. Buku “Anakku Sehat Tanpa Dokter” ini dari sampul luarnya saja sudah menarik, bagaimana dengan isinya? Yuk kita kupas...
Buku ini mencoba mengajak orang tua untuk tidak selalu mengandalkan dokter setiap kali anak mengalami gejala sakit. Apalagi untuk sakit ringan yang sering terjadi pada anak  seperti demam, batuk, flu, gatal-gatal, diare, dan lain-lain. Bukannya kita dilarang pergi ke dokter, namun jika kita bisa berperan sebagai dokter di rumah bagi buah hati kita selama itu bukan kegawatan, bukankah itu lebih baik? 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Mencoba Memaknai Qurban



Umat Islam sedang berbahagia karena kedatangan sebuah hari yang dinanti-nantikannya, yaitu hari raya ‘Idul Adha. Sungguh suatu berkah dan rahmat dari Allah karena memberikan hari-hari penuh makna secara berturut-turut bagi umatnya, yaitu hari hari-hari puasa atau Bulan Ramadhan, hari raya ‘Idul Fitri, serta sekarang ini kita akan merayakan hari raya ‘Idul Adha
Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar atau melihat di kalender bahwa ‘Idul Adha akan tiba?
Yang pertama tergambar dalam benak kita pastilah tentang sholat ‘Ied berjamaah yang akan mempererat tali persaudaraan umat. Yang kedua, kita akan melihat, menikmati, dan sebaiknya turut mnegeluarkan hewan qurban bagi yang mampu dalam memperingati hari raya ini. Suasana akan ramai oleh banyaknya hewan-hewan seperti kambing, sapi, ataupun kerbau yang di-qurban-kan oleh masyarakat yang telah mampu, sementara ribuan warga juga telah menantikan menikmati daging sembelihan qurban itu.
Menilik arti dari kata Qurban sendiri, pernahkah kita mencoba untuk lebih meresapi adakah makna lain dari kata Qurban selain sebagai kerelaan kita menyembelih hewan seperti kambing, sapi, kerbau, atau unta untuk membuktikan rasa cinta kepada Allah? Sebagaimana jaman dulu, ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim As. untuk menyembelih Ismail, maka demi pengbdiannya pada Allah, Ibrahim rela melakukannya dengan persetujuan Ismail, karena Ismail percaya sepenuhnya kepada Ayah dan tentu saja Allah Tuhannya. Walau kemudian Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk menggantikan Ismail dengan seekor domba. 

Rabu, 09 Oktober 2013

Review Buku "Think Green, Go Green"

Judul Buku : Think Green Go Green
Penulis : Erni Misran, Novel Nian, dkk.
Penerbit : Pustaka Jingga
ISBN : 978-602-7880-41-2
Tebal buku : 219 hal.


"SMP Negeri 7 Bandung memasukkan Waste Management dalam kurikulum sekolahnya. Mereka juga mengolah limbah air wudlu untuk menyiram tanaman. SMP Negeri 6 Bogor mengolah PUORIN (pupuk organik Urin) yang berasal dari toilet siswa laki-laki. Sekolah ini juga membuat sketsel (sekat ruangan), bros, dan pijatan refleksi dari limbah pulpen. Juga mengolah briket dari sampah dan kulit rambutan. SMA Negeri 1 Yogyakarta membuat kolam ikan yang berfungsi menampung air wudlu dan makanan sisa kantin."
Paragraf di atas adalah cuplikan dari informasi-informasi yang tersaji dalam sebuah buku nan "berisi" yang berjudul "Think Green, Go Green" 
 Demikian juga dengan paragraf di bawah ini:
 "Bumi bukanlah warisan nenek moyang kita, melainkan warisan anak cucu kita. Buku “Think green Go Green” ini hadir untuk kembali mengingatkankita semua akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan. Diawali dengan fakta kondisi bumi saat ini, buku ini kemudian menyentak kita dengan pertanyaan menggelitik nurani agar berbuat yang terbaik untuk kehidupan kita dan anak cucu kita kelak. Beragam kisah yang ditampilkan dalam buku ini akan membuka wawasan pembaca tentang berbagai upaya pelestarian lingkungan yang dapat dilakukan. Pada akhirnya, pembaca diajak untuk turut terlibat dalam beragam aksi sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari."
            Ada beberapa penulis yang tergabung dalam antologi “Think Green,Go Green” ini yaitu: Erni Misran,Novela Nian, Okta nursanti, Dedi Saeful Anwar, LinaW. Sasmita, Ruwaidah Anwar, Hida Azzam,dan beberapapenulislain yang menceritakan pengalaman masing-masing tentang upaya menyelamatkan bumi lewat pelestarian lingkungan. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan sehari-hari hingga program  hebat terpadu seperti Program Adiwiyata yang dicanangkan sebagai upaya pelestarian lingkungan yang dimasukkan pada sistem kebijakan, kurikulum, kegiatan-kegiatan, serta sarana pendukung di sekolah.
            Buku ini kaya akan info-info yang  berhubungan dengan kesehatan lingkungan, seperti tentang bahayanya styrofoam, seni kolase yang berperan membantu mengurangi jumlah sampah, manfaat pohon, Program Earth Hour 2013, Hutan Tanman Industri (HTI), penghargaan Golden Enviromental Prize, dan masih banyak lagi.
            Membaca buku ini akan membuat kita tersentak, betapa selama ini banyak diantara kita yang telah merugi, menambahkan volume sampah bumi, merusak lingkungan, menjajah bumi tanpa imbalan setimpal, hingga timbul pertanyaan, wajah bumi yang bagaimanalagikah kah nanti yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Tak pedulikah kita dengan kehidupan anak cucu di masa depan? Akankah kita biarkan mereka bertetangga dengan gunungan sampah, kehausan karena sumber air mengering, kebanjiran tiap kali musim hujan datang, tak tersisa lahan pemukiman yang layak, tak bisa mengkonsumsi makanan sehat, dan tak bisa tidur nyenyak? Baca buku ini, agar hati kita makin tergerak untuk mencegah adanya mega proyek pindahnya anak cucu kita ke planet lain (walau sekarang wacana seperti ini masih hanya terealisir sebatas dalam film seperti " Wall E"), meninggalkan bumi hanya karena bumi tak lagi layak bagi kesejahteraan dan kesehatan manusia.

Rabu, 25 September 2013

Tentang Novel ke-dua "Temui Aku di Surga"



Kejadian setengah tahun lalu saat ia ikut tawuran terbayang lagi. Saat perutnya kena tendang dan tiba-tiba berakhir di penjara. Mendadak hatinya bimbang. Menunjukkan loyalitas pada geng, atau... kembali ke markas?
Akhirnya ia mengikuti akal sehatnya, memutuskan meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba seseorang dari geng lawan melihat kelebat Malik.
“Hoiiii! Jangan lariii!” anak geng lain itu meneriakinya.
 Malik langsung berlari menjauh! Tapi anak itu mengejar. Malik mempercepat larinya, dan si pengejar juga makin cepat! Malik sangat gusar karena anak itu membawa clurit. Tiba-tiba saja ia sudah sangat dekat di belakang Malik. Dan...
SHREK!
”Aaagggh!” pekik Malik.
Mata clurit itu dikibaskan ke arahnya. Malik merasa punggungnya tergores sesuatu.  Namun Ia tetap berlari sekencang mungkin. Tak dipedulikannya  kulit punggung yang terasa basah dan perih. Ia berlari makin kencang menuju terminal. Tentu saja banyak orang di sana. Beruntung! pikir Malik.
Setelah sempat menoleh sekali ke belakang dan tak ada lagi yang mengejar, ia memperlambat lari. Lutut dan seluruh badannya terasa lemas, dan tiba-tiba ia ambruk! Tubuhnya tertelungkup di tanah, di antara orang-orang yang lalu lalang sibuk dengan kegiatan khas terminal. Jaket kulit hitam yang dipakainya dengan sobekan bekas bacokan clurit disertai darah segar yang masih mengalir, kontan menjadikannya kerumunan massa beberapa menit kemudian.

Sinopsis:
            Malik, si anak manja dan mantan preman itu telah insaf. Bahkan ia sempat menikmati kehidupan dalam pesantren selama beberapa tahun. Ia bertemu dengan Yudho, seorang pemuda miskin yang memberikan energi baik padanya. Mereka menjadi sahabat layaknya saudara.
            Saat mereka begitu akrab, Malik menghadapi situasi berat dalam hidupnya. Ia harus rela melepas hubungan cintanya dengan Hesti, yang memilih meneruskan hafalan AlQur’annya dengan mengorbankan cintanya pada Malik. Pada saat yang sama, Malik juga sedang mempersiapkan diri menjadi calon petinggi (kepala desa) di desanya. Yudho, sahabatnya, begitu khawatir dengan keputusan Malik yang tiba-tiba bertolak ke Surabaya. Dan kekhawatiran itu terjawab dengan pulangnya Malik dalam keadaan sebagai jenazah.
            Waktu berjalan, kehidupan bergulir.Yudho yang berjanji menjaga ayah ibu Malik sebagai orang tua sendiri bertemu dengan takdir yang membuatnya harus berpikir keras. Ia harus menerima amanat warga untuk meneruskan pencalonan petinggi yang dulu akan diberikan pada Malik. Walau kehidupan ekonomi dan usia mudanya seakan tak mendukung pencalonan itu, namun dengan dukungan para sesepuh desa ia memutuskan menghadapi tantangan itu demi perubahan nasib warga. Beberapa kesulitan ia temui dari pihak lawan yang tak lain adalah petinggi yang sedang menjabat, Pak Thamrin. Pak Thamrin yang tidak fair, main dukun, main ancaman kekerasan, justru menjadikan Yudho kian menunjukkan kedewasaannya serta makin dekat dengan Allah.
            Takdir membuat cerita bahwaYudho pernah sekali bertemu dengan Hesti, gadis yang pernah dipuja sahabatnya itu. Dari pertemuan itu Yudho makin paham mengapa Malik begitu terpesona pada sosok Hesti yang memang berbeda dengan gadis kebanyakan seusianya.
            Lalu bagaimana kelanjutan sepak terjang Yudho? Mampukan ia memenangkan pemilihan petinggi itu? Mampukan ia menguak tabir kematian Malik? Mampukah Hesti mengatasi rasa bersalah yang melandanya? Apakah ada kelanjutan kisah indah antara Yudho dengan Hesti? 

            Jawabannya ada di novel saya, “Temui Aku di Surga”
Judul Novel     : Temui Aku di Surga
Penulis             : Ella Sofa
Penerbit           : Quanta, Imprint dari Elex Media Komputindo (Grup Kompas Gramedia)
Tebal buku      : 228 hal.
Harga Buku     : Rp. 44.800,-
Novel bisa didapat di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya. Temukan di deretan Buku Islami Quanta, ya...

Senin, 01 Juli 2013

Hot Kopinya, Hot Spotnya “Warnet Ersa” di Pati


Hot Kopinya, Hot Spotnya “Warnet Ersa” di Pati


Siang ini tak terlalu panas di kota Pati, Jawa Tengah. Bahkan angin bertiup semilir seakan mengajak mata buat merem aja. Tapi, no no no! Sayang sekali kesempatan yang cuma  sehari di kota Pati ini dilewatkan hanya dengan bermalas-malasan or tiduran aja di rumah saudara. Hari ini, selain  punya agenda sillaturrahmi, aku juga berencana mampir ke satu tempat yang asyik punya. Jadi, setelah ngobrol ngalor ngidul dengan sanak saudara, aku dan keluarga langsung cabut menuju tempat istimewa tersebut. Ahayy.. tempat apakah gerangan? Hmm...
            Lima menit kemudian,
            Nha...! ini dia “Warnet Ersa”, tempat istimewa yang pengen kuliput. Eit! Jangan salah, ini bukan warnet sembarang warnet lho! Ada beberapa alasan yang bikin aku merasa harus mengekspose tempat ini. Selain buat nambah wawasan teman-teman, juga supaya pengusaha warnet lain (hehe, siapa tahu pembaca ada yang pengusaha warnet) bisa terinspirasi dari ide kreatif di warnet ini.
            Begitu turun di depan bangunan warnet yang lokasinya di pojok perempatan depan SMP 8 Pati dan bersebelahan dengan kantor PKPRI Kabupaten Pati, serta ada di belakang gedung kantor Kabupaten Pati ini, kita akan disambut oleh pagar biru garis-garis sederhana. Dibalik pagar, dua set meja makan dengan payung pelindung panas, serta dua buah kursi panjang siap menjadi tempat istirahat sejenak. Bagi orang tua yang mengantar dan menunggu anaknya, halaman depan warnet ini adalah tempat yang cukup nyaman untuk istirahat sambil menikmati pemandangan lalu lintas di depannya. . 

Selasa, 25 Juni 2013

Review Novel "PING! A Message from Borneo"


Membaca buku cerita remaja yang satu ini membawa saya seakan sedang memasuki dunia petualangan layaknya cerita di pulau Kirrin dalam novel karya Enid Blyton yang dulu sering membuat saya takjub.  Saya lebih suka menyebut ”Ping! a Message from Borneo “ sebagai  novel detektif remaja daripada novel cinta. Walaupun novel ini juga memenuhi kriteria sebagai novel teenlit dengan  cerita khas yang biasanya tak lepas dari pengalaman ABG dalam menjalani kisah cinta yang ringan. Jadi membaca novel ini laksana menikmati hidangan rujak cingur yang komplit. Protein ada, serat serta vitamin juga tak kurang.
Hal istimewa yang sangat berbeda dengan novel kebanyakan adalah, ada dua penulis dengan jalan cerita serta gaya penulisannya sendiri dalam novel ini. Shabrina Ws dengan penuturan khas fabelnya yang menguras air mata, serta Riawany Elyta  dengan kelincahan mempermainkan susunan kalimat dengan ciri khasnya sendiri mampu menyuguhkan satu paket cerita tak biasa yang meninggalkan kesan mendalam serta pesan edukatif setelah membacanya.

Resensi Novel "Aku Ingin Sekolah Lagi" nya Eric Keroncong


Judul               : Aku Ingin Sekolah Lagi
IISBN             : 978-602-19781-5-3
Penerbit           : Selaksa Publising (Era Intermedia)
Tebal Buku      : xii + 220 hal.
Harga             

Aku Ingin Sekolah Lagi, menurut saya adalah sebuah terobosan berani bagi seorang penulis pemula yang menorehkan goresan tintanya benar-benar dengan hati. Ia tak menghiraukan trend saat itu, dimana novel romance sedang booming. Tema yang sepertinya sangat jarang dilirik oleh penulis-penulis pemula lain yang notabene sedang merintis karir. Tak jauh dari novel pertama Erick yang mengusung tema sosial berjudul “Dokter Sampah”. Tetapi sesungguhnya mungkin novel seperti itulah, yang membidik keadaan kemiskinan sebagian besar masyarakat yang perlu menjadi perhatian saat ini. Kemiskinan yang hampir tak terperhatikan oleh pemerintah, dimana justru di sanalah muncul bibit-bibit berkualitas yang bila dibimbing dan diberi perlakuan lebih baik akan memberikan andil tak ternilai bagi masa depan bangsa Indonesia kelak.
Novel ini berkisah tentang petualangan Gilang, seorang pemuda pemecah batu bersama teman-teman seusianya yaitu Nino, Akbar,dan Lis. Pengalaman demi pengalaman unik dilakoni oleh ketiga lakon dalam novel, yang menunjukkan bakat dan kemauan keras tiga bersahabat itu di tengah keadaan yang serba minim. Mereka tak hanya ingin berjuang untuk kehidupan dan sekolah mereka sendiri, tetapi juga memikirkan keberlanjutan institusi sekolah tempat mereka menuntut ilmu, serta lingkungan di masyarakat di sekitarnya. Gilang dengan kehidupannya bersama sang Ibu sebagai pemecah batu, bakat melukis Nino dan Akbar, bakat menari Lis, serta bakat gilang sendiri dalam hal menulis, menciptakan kisah demi kisah  tersendiri, tetapi juga saling berkaitan yang sedikit demi sedikit membantu mereka untuk tetap bertahan meneruskan pendidikannya plus membantu kehidupan ekonomi masyarakat sekitar mereka. Kisah yang mengaharukan, menggugah kesadaran agar kita tak melulu memikirkan kebutuhan hidup kita sendiri, bahwa di sana masih banyak mereka yang membutuhkan uluran tangan kita semua.

Behind The Scene of "Temui Aku di surga"



Behind the Scene of “Temui Aku di Surga”

                Awalnya novel ini akan saya beri judul “Balas Budi Pak Petinggi”. Ya, ide awal memang terinspirasi dari kisah nyata. Maka dalam rangka mengejar DL lomba novel Republika waktu  (tahun 2011 klo gak salah), saya bertekad menyelesaikan tulisan saya hingga bab terakhir berdasarkan urutan kejadian nyata itu dalam keadaan perut buncit dan seakan tak mempedulikan lingkungan sekitar saya. Pokoknya harus kelaaar, gitu tekad saya. Biarpun mertua protes di belakang saya (berdasarkan laporan anak, hehe), biarpun dirasani tetangga kok gak pernah keluar rumah, biarpun ibuku sendiri heran dengan keadaanku yang berantakan dan masih di depan lepi saat beliau mampir rumah mau berangkat kerja di pagi hari, yang penting novel harus selesai. Ya, saya benar-benar super nekad. Sampai-sampai pernah jemuran diangkatin mertua sore-sore dan aku ttp nekad nulis meneruskan tulisan. (jadi, mertua apa menantu yang gak bener ya?)  Tepat di hari ketika saya menyelesaikan novel saya, saya baru tahu bahwa saya sudah ketinggalan hari ‘H’ DL lomba itu. Yah.. ada rasa sesal tentu saja, haduh... kok ya bisa telat sihh! Tapi di sisi lain saya harus syukuri bahwa saya bisa menyelesaikan novel ke dua saya. Ya, itu sesuatu yang menurut saya harusnya melegakan di tengah kesibukan merawat dua krucil, mbabu, tanpa pembantu, di tempat yang kurang kondusif buat nulis lagi.
              Setelah hari itu, saya agak rileks dan tak lagi terlalu ngoyo nulis lagi. Sambil mempersiapkan kelengkapan persalinan kelahiran anak ke tiga dan memasukkannya dalam tas malam itu, dengan janin di perut yang terasa makin keras tendangannya, akhirnya saya nekad mengirimkan karya saya itu ke Gema Insani Pers (GIP) dengan judul “Menantang Matahari” sesuai usulan Mbak Leyla Hana.  Tetapi inisiatif ke GIP berasal dari saya sendiri. Dan, tara....! keesokan harinya air ketuban saya merembes sedikit demi sedikit, lalu deras dan makin deras, dan singkat cerita anak saya pun lahir ke muka dunia dengan sehat. Alhamdulillah...
               Sambil merawat sang jabang bayi, dengan harap-harap cemas saya menantikan balasan kiriman novel saya dari GIP. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga menginjak bulan ke empat, tak ada kabar jua. Saya sendiri sebelumnya tak ada alasan pasti kenapa memilih penerbit itu, pokoknya sesuai kata hati saja.  Akhirnya saya putuskan untuk mengirim surel menanyakan kabar novel saya, bisa terbit atau tidak? Surat balasan pun datanglah. Naskah saya ditolak dengan sukses, dengan kalimat seperti ini “Maaf, novel ibu ceritanya bagus tapi alurnya tidak banyak disukai saat ini.” Kucoba mencerna kata demi kata, apa maksudnya ya? Kalau jelek bilang aja jelek, kok bagus, tapi alurnya yang tidak disukai? Samakah alur dengan jalan cerita? Atau maksudnya idenya bagus, tapi jalan ceritanya yang mungkin terlalu biasa, tidak ada greget atau variasi gitu?

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...