Selasa, 25 Juni 2013

Review Novel "PING! A Message from Borneo"


Membaca buku cerita remaja yang satu ini membawa saya seakan sedang memasuki dunia petualangan layaknya cerita di pulau Kirrin dalam novel karya Enid Blyton yang dulu sering membuat saya takjub.  Saya lebih suka menyebut ”Ping! a Message from Borneo “ sebagai  novel detektif remaja daripada novel cinta. Walaupun novel ini juga memenuhi kriteria sebagai novel teenlit dengan  cerita khas yang biasanya tak lepas dari pengalaman ABG dalam menjalani kisah cinta yang ringan. Jadi membaca novel ini laksana menikmati hidangan rujak cingur yang komplit. Protein ada, serat serta vitamin juga tak kurang.
Hal istimewa yang sangat berbeda dengan novel kebanyakan adalah, ada dua penulis dengan jalan cerita serta gaya penulisannya sendiri dalam novel ini. Shabrina Ws dengan penuturan khas fabelnya yang menguras air mata, serta Riawany Elyta  dengan kelincahan mempermainkan susunan kalimat dengan ciri khasnya sendiri mampu menyuguhkan satu paket cerita tak biasa yang meninggalkan kesan mendalam serta pesan edukatif setelah membacanya.

Resensi Novel "Aku Ingin Sekolah Lagi" nya Eric Keroncong


Judul               : Aku Ingin Sekolah Lagi
IISBN             : 978-602-19781-5-3
Penerbit           : Selaksa Publising (Era Intermedia)
Tebal Buku      : xii + 220 hal.
Harga             

Aku Ingin Sekolah Lagi, menurut saya adalah sebuah terobosan berani bagi seorang penulis pemula yang menorehkan goresan tintanya benar-benar dengan hati. Ia tak menghiraukan trend saat itu, dimana novel romance sedang booming. Tema yang sepertinya sangat jarang dilirik oleh penulis-penulis pemula lain yang notabene sedang merintis karir. Tak jauh dari novel pertama Erick yang mengusung tema sosial berjudul “Dokter Sampah”. Tetapi sesungguhnya mungkin novel seperti itulah, yang membidik keadaan kemiskinan sebagian besar masyarakat yang perlu menjadi perhatian saat ini. Kemiskinan yang hampir tak terperhatikan oleh pemerintah, dimana justru di sanalah muncul bibit-bibit berkualitas yang bila dibimbing dan diberi perlakuan lebih baik akan memberikan andil tak ternilai bagi masa depan bangsa Indonesia kelak.
Novel ini berkisah tentang petualangan Gilang, seorang pemuda pemecah batu bersama teman-teman seusianya yaitu Nino, Akbar,dan Lis. Pengalaman demi pengalaman unik dilakoni oleh ketiga lakon dalam novel, yang menunjukkan bakat dan kemauan keras tiga bersahabat itu di tengah keadaan yang serba minim. Mereka tak hanya ingin berjuang untuk kehidupan dan sekolah mereka sendiri, tetapi juga memikirkan keberlanjutan institusi sekolah tempat mereka menuntut ilmu, serta lingkungan di masyarakat di sekitarnya. Gilang dengan kehidupannya bersama sang Ibu sebagai pemecah batu, bakat melukis Nino dan Akbar, bakat menari Lis, serta bakat gilang sendiri dalam hal menulis, menciptakan kisah demi kisah  tersendiri, tetapi juga saling berkaitan yang sedikit demi sedikit membantu mereka untuk tetap bertahan meneruskan pendidikannya plus membantu kehidupan ekonomi masyarakat sekitar mereka. Kisah yang mengaharukan, menggugah kesadaran agar kita tak melulu memikirkan kebutuhan hidup kita sendiri, bahwa di sana masih banyak mereka yang membutuhkan uluran tangan kita semua.

Behind The Scene of "Temui Aku di surga"



Behind the Scene of “Temui Aku di Surga”

                Awalnya novel ini akan saya beri judul “Balas Budi Pak Petinggi”. Ya, ide awal memang terinspirasi dari kisah nyata. Maka dalam rangka mengejar DL lomba novel Republika waktu  (tahun 2011 klo gak salah), saya bertekad menyelesaikan tulisan saya hingga bab terakhir berdasarkan urutan kejadian nyata itu dalam keadaan perut buncit dan seakan tak mempedulikan lingkungan sekitar saya. Pokoknya harus kelaaar, gitu tekad saya. Biarpun mertua protes di belakang saya (berdasarkan laporan anak, hehe), biarpun dirasani tetangga kok gak pernah keluar rumah, biarpun ibuku sendiri heran dengan keadaanku yang berantakan dan masih di depan lepi saat beliau mampir rumah mau berangkat kerja di pagi hari, yang penting novel harus selesai. Ya, saya benar-benar super nekad. Sampai-sampai pernah jemuran diangkatin mertua sore-sore dan aku ttp nekad nulis meneruskan tulisan. (jadi, mertua apa menantu yang gak bener ya?)  Tepat di hari ketika saya menyelesaikan novel saya, saya baru tahu bahwa saya sudah ketinggalan hari ‘H’ DL lomba itu. Yah.. ada rasa sesal tentu saja, haduh... kok ya bisa telat sihh! Tapi di sisi lain saya harus syukuri bahwa saya bisa menyelesaikan novel ke dua saya. Ya, itu sesuatu yang menurut saya harusnya melegakan di tengah kesibukan merawat dua krucil, mbabu, tanpa pembantu, di tempat yang kurang kondusif buat nulis lagi.
              Setelah hari itu, saya agak rileks dan tak lagi terlalu ngoyo nulis lagi. Sambil mempersiapkan kelengkapan persalinan kelahiran anak ke tiga dan memasukkannya dalam tas malam itu, dengan janin di perut yang terasa makin keras tendangannya, akhirnya saya nekad mengirimkan karya saya itu ke Gema Insani Pers (GIP) dengan judul “Menantang Matahari” sesuai usulan Mbak Leyla Hana.  Tetapi inisiatif ke GIP berasal dari saya sendiri. Dan, tara....! keesokan harinya air ketuban saya merembes sedikit demi sedikit, lalu deras dan makin deras, dan singkat cerita anak saya pun lahir ke muka dunia dengan sehat. Alhamdulillah...
               Sambil merawat sang jabang bayi, dengan harap-harap cemas saya menantikan balasan kiriman novel saya dari GIP. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga menginjak bulan ke empat, tak ada kabar jua. Saya sendiri sebelumnya tak ada alasan pasti kenapa memilih penerbit itu, pokoknya sesuai kata hati saja.  Akhirnya saya putuskan untuk mengirim surel menanyakan kabar novel saya, bisa terbit atau tidak? Surat balasan pun datanglah. Naskah saya ditolak dengan sukses, dengan kalimat seperti ini “Maaf, novel ibu ceritanya bagus tapi alurnya tidak banyak disukai saat ini.” Kucoba mencerna kata demi kata, apa maksudnya ya? Kalau jelek bilang aja jelek, kok bagus, tapi alurnya yang tidak disukai? Samakah alur dengan jalan cerita? Atau maksudnya idenya bagus, tapi jalan ceritanya yang mungkin terlalu biasa, tidak ada greget atau variasi gitu?

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...