Selasa, 25 Juni 2013

Behind The Scene of "Temui Aku di surga"



Behind the Scene of “Temui Aku di Surga”

                Awalnya novel ini akan saya beri judul “Balas Budi Pak Petinggi”. Ya, ide awal memang terinspirasi dari kisah nyata. Maka dalam rangka mengejar DL lomba novel Republika waktu  (tahun 2011 klo gak salah), saya bertekad menyelesaikan tulisan saya hingga bab terakhir berdasarkan urutan kejadian nyata itu dalam keadaan perut buncit dan seakan tak mempedulikan lingkungan sekitar saya. Pokoknya harus kelaaar, gitu tekad saya. Biarpun mertua protes di belakang saya (berdasarkan laporan anak, hehe), biarpun dirasani tetangga kok gak pernah keluar rumah, biarpun ibuku sendiri heran dengan keadaanku yang berantakan dan masih di depan lepi saat beliau mampir rumah mau berangkat kerja di pagi hari, yang penting novel harus selesai. Ya, saya benar-benar super nekad. Sampai-sampai pernah jemuran diangkatin mertua sore-sore dan aku ttp nekad nulis meneruskan tulisan. (jadi, mertua apa menantu yang gak bener ya?)  Tepat di hari ketika saya menyelesaikan novel saya, saya baru tahu bahwa saya sudah ketinggalan hari ‘H’ DL lomba itu. Yah.. ada rasa sesal tentu saja, haduh... kok ya bisa telat sihh! Tapi di sisi lain saya harus syukuri bahwa saya bisa menyelesaikan novel ke dua saya. Ya, itu sesuatu yang menurut saya harusnya melegakan di tengah kesibukan merawat dua krucil, mbabu, tanpa pembantu, di tempat yang kurang kondusif buat nulis lagi.
              Setelah hari itu, saya agak rileks dan tak lagi terlalu ngoyo nulis lagi. Sambil mempersiapkan kelengkapan persalinan kelahiran anak ke tiga dan memasukkannya dalam tas malam itu, dengan janin di perut yang terasa makin keras tendangannya, akhirnya saya nekad mengirimkan karya saya itu ke Gema Insani Pers (GIP) dengan judul “Menantang Matahari” sesuai usulan Mbak Leyla Hana.  Tetapi inisiatif ke GIP berasal dari saya sendiri. Dan, tara....! keesokan harinya air ketuban saya merembes sedikit demi sedikit, lalu deras dan makin deras, dan singkat cerita anak saya pun lahir ke muka dunia dengan sehat. Alhamdulillah...
               Sambil merawat sang jabang bayi, dengan harap-harap cemas saya menantikan balasan kiriman novel saya dari GIP. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga menginjak bulan ke empat, tak ada kabar jua. Saya sendiri sebelumnya tak ada alasan pasti kenapa memilih penerbit itu, pokoknya sesuai kata hati saja.  Akhirnya saya putuskan untuk mengirim surel menanyakan kabar novel saya, bisa terbit atau tidak? Surat balasan pun datanglah. Naskah saya ditolak dengan sukses, dengan kalimat seperti ini “Maaf, novel ibu ceritanya bagus tapi alurnya tidak banyak disukai saat ini.” Kucoba mencerna kata demi kata, apa maksudnya ya? Kalau jelek bilang aja jelek, kok bagus, tapi alurnya yang tidak disukai? Samakah alur dengan jalan cerita? Atau maksudnya idenya bagus, tapi jalan ceritanya yang mungkin terlalu biasa, tidak ada greget atau variasi gitu?
              Saya tak tahu novel itu harus diapain. Saya juga tak berusaha bertanya dengan mngirimkannya pada penulis lain. Apakah karena saya sombong atau gengsi, atau takut ketahuan kalau novel itu memang tidak layak? Hahaha, bisa jadi semua alasan itu benar. Mungkin ada setahun saya mendiamkan novel itu. Saat itu saya isi dengan menulis cerpen demi cerpen dan mengirimkannya ke beberapa media (yang hingga saat ini tak satupun berkabar alias belum ada yang dimuat, kasiaaan deh). Sementara itu di Fb saya mulai menerima kabar bermunculannya karya teman “seangkatan” satu persatu ke media massa, atau menang lomba blog, atau novelnya terbit, atau buku nonfiksinya di acc penerbit, sementara saya masih begini-begini saja. Ingin ikut nulis nonfiksi di suatu agensi dimana dua kali outline saya di acc penerbit, tapi tidak diijinkan suami serta memang sepertinya terlalu memaksakan diri buat ngikutin DL dan peraturannya. Stress? Ya. Iri? Mmm iya lah! Dengki? Oh...no! apa salah mereka kok saya harus dengki. Orang mereka sukses juga karena usaha mereka sendiri dan tentu memang Allah menghendaki kok, kenapa harus dengki? Terus terang, ada rasa panas hati, penasaran, kenapa mereka pada berprestasi  sementara saya tidak? Sementara untuk karya antologi memang masih terbit satu demi satu. Tapi, sungguh tanpa mengurangi rasa bersyukur, saya tak bisa puas dengan karya-karya antologi itu. Rasanya sudah lain dengan saat awal-awal ikutan lomba nulis atau audisi nulis, yang begitu tahu karya nyanthol langsung jingkrak-jingkrak, apalagi pas sudah nerima bentuk bukunya. Oww.. serasa dunia hanya milikku.....! Oke, mungkin memang begitulah hukum tingkat kepuasan manusia. Dan kupikir aku tergolong normal. Tapi, aku tetap berusaha untuk mensyukuri setiap pencapaian dalam bidang menulis ini. Bagaimanapun, biarpun hasil baru segitu yang penting kan niat kita sama, yaitu berbagi ibroh kan?
Di tengah kegalauan saya akan masa depan saya di bidang tul menul ini, saya menerima beberapa job yang masih ada hubungannya dengan kegiatan menulis yang lumayan jadi “hiburan” buat saya. Diundang bedah buku (buku antologi) dengan honor lebih banyak dari hasil menulis antologi selama ini, diberi kehormatan oleh kantor tempat kerja suami untuk jadi juri lomba cerpen. Walau tanpa bayaran, tapi  buku antologi saya dibeli sepuluh buah untuk hadiah, padahal buku itu saya dapat gratis sebagai ganti royalti atas kebijakan koordinator antologi tersebut (dapat 30 buku). Nha... rejeki lagi kan? Dan yang pada suatu kesempatan saya ketemu mantan guru SMP saya yang jadi kepala sekolah, mengajak saya membimbing anak-anak yang suka nulis di kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang sekali pertemuan honornya Rp 50.000, padahal seberapalah ilmu saya. Saya terharu, ternyata Allah tak meninggalkan saya. Yah mungkin saat itu rejeki saya dalam hal nulis dialihkan ke situ.
Seiring dengan itu, saya memperbanyak membaca novel-novel yang belum saya baca ataupun yang sudah prnah dibaca. Ternyata membaca di saat galau gitu sangat nikmat. Saya mulai tak terlalu aktif  Fban atau nulis. Pokoknya lagi seneng baca, dan saya bahagia. Dan dari membaca itulah saya seperti mendapat petunjuk, bisikan halus (bukan jin loh...) buat ngerombak novel saya. “Hayoh... Ela, masa gitu aja nggak bisa? Kan udah contoh?” dan ketika saya mulai membuka-buka FB lagi, kebetulan membaca status seorang penulis (Faradina Izdhihary) nyari naskah buat penerbit mayor barunya.
Nha, saya seperti mendapatkan kekuatan super yang meledak-ledak yang memaksa saya agar melihat novel saya kembali. Siapa tahu ini rejeki saya, siapa tahu....!. dengan bismillah saya buka file usang itu lagi. Entah tiba-tiba saya seperti dituntun untuk  menghapus beberapa bab yang saya rasa tak perlu (langsung diblok dan di remove, sekitar tiga bab lebih). Beberapa bab masih saya pertahankan, kemudian tokoh Malik yang dulu tak terlalu saya ceritakan, akhirnya saya buatkan bab bab tersendiri pemunculannya berselang seling dengan kisah Yudho. Jadilah tokoh utamanya dua pemuda itu. Bahkan pada bab awal lebih banyak mengupas kisah hidup Malik. Ya, ya... sepertinya ini akan lebih menarik, pikir saya. Karena sebelumnya, penceritaan novel saya monoton tentang Yudho...melulu, dari kecil hingga dewasa. Tentu saja sangat membosankan bagi yang baca. Merasa hampir menemukan formula yang pas, saya bertekad harus mengatur waktu saya supaya bisa benar-benar fokus ngerombak nih novel. Tapi bagaimana? sungguh selama ini saya hanya punya sedikiiiit waktu luang. Malam hari saya isi dengan setrika baju atau terlelap kelelahan bersama Azka yang masih nenen. Tapi kalau tidak dikerjakan, alangkah sayangnya....!
Akhirnya saya nekad bilang ke suami, bahwa saya ingin novel itu terbit, dan saya harus bla bla bla... Dengan besar hati suami sanggup menggantikan tugas saya ngurusi baju-baju itu. Dan saya berjanji hanya untuk saat menyelesaikan novel ini saja, seterusnya nanti biarlah saya urusi lagi baju-baju menggunung itu. Ternyata, suami terlihat sangat menikmati kegiatan itu sambil nonton OVJ atau acara olahraga , dan malah melarang saya membantunya. “Sudah, nulis sana!” katanya. Alhamdulillah... batin saya. Perjuangan pun di mulai.
Apa yang pernah saya baca di sebuah catatan mbak Riawani Elyta saat dulu tentang kiat-kiat menulis terutama yang ini “menulis dengan bantuan doa, sholat malam, minta petunjuk Allah” (kurang lebihnya begitu) coba saya amalkan. Dan benar-benar terasa bahwa saya seperti dituntun untuk menemukan formula cerita yang pas, alur yang harus saya pakai, hingga saat penentuan judul. Sungguh, itu bukan sepenuhnya karya saya tapi saya merasa bahwa Allah terlibat di sini (Ih, ini ngomong terlalu berlebihan nggak sih?) Walaupun proses penemuan itu tak sekaligus saya dapatkan. Bertahap, sedikit demi sedikit. Setiap usia sholat saya berdoa, dan setelahnya saya seolah mendapatkan gambaran harus bagaimana membawa cerita dalam novel itu. Menghilangkan tokoh-tokoh yang tak perlu, menentukan ending yang saya rasa paling tak
mudah, menghadirkan tokoh baru, membuat cerita baru, semua terjadi sedikit demi sedikit. Dalam prakteknya, saya mungkin hanya bisa menulis seminggu sekali atau dua kali karena lebih sering ketiduran, dan pagi or siangnya sudah tak mungkin, tapi novel itu seakan terbawa terus dalam setiap detik kehidupan saya. Ya Allah... ini harus begini ya? Atau begini? Atau... begitu ya Allah? Atau... Nha! Begini saja, iya kan Ya Allah? Ya, seperti itulah proses yang saya alami. Sambil cuci piring, cuci baju, otak seakan bekerja mencari jawaban apa yang harus saya kerjakan selanjutnya di novel itu.
Pernah suatu ketika file novel saya ini terhapus oleh suami, karena salah pencet. Sebenarnya ia bermaksud baik, yaitu membagi naskah tiap bab menjadi satu file biar saya lebih mudah ngeditnya. Tapi, ternyata jari tanpa sengaja salah pencet. Ia terlihat sangat gusar, istighfar , dan minta maaf. Saya sendiri saat itu cuma bengong, antara percaya dan tidak. Hanya bilang,”Ya sudah... mungkin bukan rejekiku di situ...”. Tapi malamnya tidak bisa tidur, kepikiran, dan akhirnya nangis. Ya Allah... benarkah aku tak boleh menerbitkan novel yang sudah kutulis dan kuedit dengan susah payah itu? Kenapa? Saat itu baru terasa kalau terhapusnya file itu benar-benar membuat patah hati. Tapi.... suami ternyata ingatm bahwa seminggu sebelumnya ia pernah menyimpan file-file di disknya yang sekarang ketinggalan di kantor. “Benarkah?” tanyaku penuh harap. “Iya, aku ingat. Berdoalah file itu ada di sana.” Kata suamiku. Dan... Betapa bersyukurnya seorang penulis novel pemula ini mengetahui bahwa nasakah itu ada, tidak hilang. Tapi aku harus menulis ulang beberapa bagian karena yang baru saja kutulis kan belum tersimpan di disk itu. BTW, alhamdulillah....
              Dan... dengan segala kekurangan dan keterbatasan saya dalam menyusun kalimat demi kalimat, akhirnya novel itu rampung. Alhamdulillah... tinggal mempedekan diri kirim ke penerbit. Rencana saya memang awalnya akan saya kirin ke Mbak Faradina. Tapi, tiba-tiba tercetus ide untuk mengirim ke penerbit lain dulu, gitu. Dan kebetulan saat buka FB, saya nemu sebuah nama yang sepetinya tidak asing. Linda Razad. Kok dalam statusnya beliau nyari naskah novel islami ya? Apa ini yang pernah ketemu Mbak Leyla Hana ya? Tanya saya dalam hati. Lalu saya buka profilenya, dan... oh benar, bekerja di elex media komputindo. Saya nekad add belaiu, dan langsung dikonfirm. Ya Allah... bahagianya saya. Sepertinya ini jodoh saya, pede banget ya. Saya katakan niat untuk coba kirim naskah, dan beliau langsung mempersilakan dengan memberikan alamat emailnya, katanya naskah saya ditunggu. Lho... kurang apa coba! Jalan itu seolah telah kelihatan di depan mata.
                Dengan menarik napas panjang, merem dan membaca bismillah, dengan hati berdebar, malam itu saya diantar suami dan anak-anak ke warnet buat ngirim naskah saya. Berhasil terkirim. Tugas saya selanjutnya adalah berdoa. Saya sekan terlepas dari sebuah beban berat, walaupun hati tak bisa lepas dari penasaran. Tiga hari kemudian, saya buka email lewat hape. Ada dua email dari Mbak Linda. Email pertama: Naskah akan dipelajari dulu dan ditunggu sekitar tiga bulan lagi. Email kedua: ternyata penerbit tertarik untuk menerbitkan naskah saya, tapi harus revisi dengan syarat sbb, ada sekitar 12 poin. Jantung saya berdegur keras, antara percaya tidak percaya, saya bingung. Harus bahagia atau sedih ya? Maksudnya, inikah yang namanya di acc? Saya tanya suami, masih belum yakin. Saya nekad nanya mbah dukun saya alias guru spiritual saya dalam hal tulis menulis, tak lain dan tak bukan adalah Mbak Shabrina Ws, hehe. Kami saling berbalas SMS. “Iya, itu berati di acc, dan harus revisi. Coba deh kirim naskahnya ke sini, tak liat dulu...” katanya. Oh... revisi? Saya pengen nangis. Ya, saya nangis. Pertama dengan alasan di acc, sangat bahagia. Alasan ke dua, harus revisi dengan syarat sebanyak itu. Terus terang saya sudah capek dan mblenek berkutat di novel itu. Saya udah punya rencana mau nulis cerpen yang ide-idenya ngendon di kepala. Tapi, betapa tak bersyukurnya saya jika mengeluh. Tapi saya tak jadi mengirimkan  ke Mbak Shabrina saat itu karena saya gak pede, dan takut ngrepotin, serta saya masih bingung. BTW thanks so much...
Dengan bismillah saya pelajari lagi apa-apa yang harus di revisi. Dan ternyata tak terlalu harus banyak melakukan perubahan. Editor tak terlalu suka deskripsi yang terlalu panjang, dan ingin narasinya lebih hidup. Saya malah terinspirasi novel karya anak didik saya di kegiatan ekstrakurikuler yang pernah saya baca. Ya, walau untaian kalimatnya sangat sederhana, tapi begitu hidup. Sehingga membacanya jadi bersemangat. Saya coba terapkan. Dan... untuk ending, saya harus merubah lagi karena menurut editor terlalu mudah ditebak. Saya minta petunjuk Allah lagi. Ya Allah... saya harus bagaimana? setelah itu otak saya baru bekerja lagi mencari jawaban. Dan....eng ing eng!!! Revisian pun jadi. Kukirim kau (naskahku) dengan Alhamdulillah... dan tentu saja dengan Bismillah.
                   Wah, cerita saya begitu panjang ya? Tapi biarlah, biar semua yang saya rasakan ini diketahui teman-teman, siapa tahu menjadi inspirasi untuk melanjutkan calon novel atau nonfiksinya. Nha, saat antara di acc hingga terbit itu juga menjadikan saya agak tegang. Jangan-jangan ada perubahan, jangan-jangan nggak jadi, berbagai pikiran negatif menggoda saya. Tapi, karena saya ingin damai, saya coba pasrahkan semua pada Allah. Jika memang rejeki saya, maka tidak akan kemana. Jika bukan, ya mungkin memang belum yang terbaik.
           Begitulah sahabat penulis, perjalanan novel “Temui Aku di Surga” sejak pertama ditulis sekitar tiga tahun lalu hingga terbit beneran, mejeng di toko buku, yang hingga sekarang kadang saya masih bengong nggak percaya, dan masih belum seratus persen yakin. Tugas saya sekarang adalah bersyukur bersyukur dan bersyukur. Siapalah saya, hingga Allah memberi takdir indah ini. Ya, siapalah saya dulu... Alhamdulillah.
Khusus buat dua penulis yang saya todong di siang bolong buat kasih endorsement, Mbak Shabrina Ws (akhirnya kukirim juga naskahku padamu)  serta Mbak Riawani Elyta (Maaf yaa.....!) terimakasih banyak... Sepertinya endorsnya ada di bagian dalam buku, nggak pa-pa ya... yang nentuin penerbitnya soalnya. Karena jika melakukan banyak perubahan akan memperlambat proses produksi katanya.
Udahan dulu ya... saya juga capek nulisnya. Intinya jangan putus asa. Fokus terhadap naskah, berdoa, dan jodoh itu nanti akan ketemu deh (penerbit maksudnya). Makasih udah mau baca yang panjang ini. Selamat menulis......
Reaksi:

11 komentar:

  1. Dan saya selalu haru membaca perjuangan2 indah seperti ini mba, sayangnya impian saya jd penulis pun masih menjadi angan2 hiksss...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa harus dibiarkan tetap jadi angan2? Yuk dicoba nulis, banyak penerbit yg lagi butuh naskah. udah pernah nulis apa saja? Tapi nulis di blog juga bagus, kan tetep berbagi. tapi jika ingin ada yang terbit, berjuanglah mbak... :)

      Hapus
  2. Barakallah, selamat mbak...:)
    Sangat meng-inspirasi sekali tulisan nya....

    Smg belum telat jg...sy pengen ketularan semangat njenengan ---> Wanna be Writer 'Novel Islami'...aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiin, tak ada kata terlambat mbak... atau... mending telat dari pada tak mencoba sama sekali. kalau saya akhirnya bisa nerbitin, insyaallah mbak pasti juga bisaaaa!

      Hapus
  3. Terimakasih sharingnya Mba Ella, saat ini saya juga sedang mengalami stag dalam menulis. Ndak tahu harus nulis apa, opini kah, cernak kah, feature kah. saya juga ingin fokus dalam satu jenis tulisan tapi sampai sekarang belum ketemu yang klik, dimana sebenarnya potensi terbesar saya. Disaat teman-teman lain melesat jauh, saya malah jalan di tempat. hari-hari ini saya cuma nulis di blog pribadi saja. saya seperti kehilangan kemampuanmenulis untuk media cetak lagi. Weh, maaf malah curcol

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak, nulis di blog juga bagus. di temapat saya paling juga hanya beberapa ibu2 yg nulis di blog, hehe. tapi, jangan berhenti di sini. saya juga alami itu, bingung mau jadi penulis apa, waktu itu. kdg sekarang juga masih, hehe. Tapi, cobalah minta petunjuk-Nya, dan cari keyakinan hati, mbak pengennya nulis apa? dan perjuangkan itu... :) saya juga masih harus berjuang, terutama melawan rasa malas buat nulis...

      Hapus
  4. hebat mbak...salut deh sama perjuangannya..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih udah mampir ya..., saya bukan apa2 dan belum apa2. masih banyak kisah perjuangan penulis lain yg lebih berat/hebat. hanya ingin berbagi, bahwa tak ada perjuangan yang sia-sia...

      Hapus
  5. Waaah perjuangan yang patut ditiru nih!
    Semangaaaat mbaaak!!
    :)

    BalasHapus
  6. barakallah, mba Ella. perjuangan berat pastinya menanti jodoh naskah selama 3 tahun. bener kata mba lyta bahwa nulis memang harus diimbangi dengan doa dan shalat minta petunjuk sama Allah. karena aku juga seringnya gitu. yakinkan diri sendiri bahwa tulisan akan menemukan takdir terbaiknya, kapan pun itu. semoga jadi ladang pahala ya, mba. aamiin :)

    BalasHapus
  7. ila, maaf aku gak balas2 komenmu, kelewatan nih. Wkt itu pulsa modem habis. Jd lupa deh. Ini cb pk hape. Makasi ya udah baca, ayo kutunggu karyanya. Semangaat

    BalasHapus