Selasa, 25 Juni 2013

Resensi Novel "Aku Ingin Sekolah Lagi" nya Eric Keroncong


Judul               : Aku Ingin Sekolah Lagi
IISBN             : 978-602-19781-5-3
Penerbit           : Selaksa Publising (Era Intermedia)
Tebal Buku      : xii + 220 hal.
Harga             

Aku Ingin Sekolah Lagi, menurut saya adalah sebuah terobosan berani bagi seorang penulis pemula yang menorehkan goresan tintanya benar-benar dengan hati. Ia tak menghiraukan trend saat itu, dimana novel romance sedang booming. Tema yang sepertinya sangat jarang dilirik oleh penulis-penulis pemula lain yang notabene sedang merintis karir. Tak jauh dari novel pertama Erick yang mengusung tema sosial berjudul “Dokter Sampah”. Tetapi sesungguhnya mungkin novel seperti itulah, yang membidik keadaan kemiskinan sebagian besar masyarakat yang perlu menjadi perhatian saat ini. Kemiskinan yang hampir tak terperhatikan oleh pemerintah, dimana justru di sanalah muncul bibit-bibit berkualitas yang bila dibimbing dan diberi perlakuan lebih baik akan memberikan andil tak ternilai bagi masa depan bangsa Indonesia kelak.
Novel ini berkisah tentang petualangan Gilang, seorang pemuda pemecah batu bersama teman-teman seusianya yaitu Nino, Akbar,dan Lis. Pengalaman demi pengalaman unik dilakoni oleh ketiga lakon dalam novel, yang menunjukkan bakat dan kemauan keras tiga bersahabat itu di tengah keadaan yang serba minim. Mereka tak hanya ingin berjuang untuk kehidupan dan sekolah mereka sendiri, tetapi juga memikirkan keberlanjutan institusi sekolah tempat mereka menuntut ilmu, serta lingkungan di masyarakat di sekitarnya. Gilang dengan kehidupannya bersama sang Ibu sebagai pemecah batu, bakat melukis Nino dan Akbar, bakat menari Lis, serta bakat gilang sendiri dalam hal menulis, menciptakan kisah demi kisah  tersendiri, tetapi juga saling berkaitan yang sedikit demi sedikit membantu mereka untuk tetap bertahan meneruskan pendidikannya plus membantu kehidupan ekonomi masyarakat sekitar mereka. Kisah yang mengaharukan, menggugah kesadaran agar kita tak melulu memikirkan kebutuhan hidup kita sendiri, bahwa di sana masih banyak mereka yang membutuhkan uluran tangan kita semua.

 
Menurut saya, agak disayangkan mengapa judulnya terlalu mudah ditebak. Yaitu “Aku Ingin Sekolah Lagi”. Atau mungkin justru penulis sengaja memakai judul tersebut agar membuat penasaran calon pembaca, “Jadi, masih ada ya yang untuk sekolah saja kesulitan? Coba kayak apa sih ceritanya?"
Kisah demi kisah memang menunjukkan konfliknya masing-masing dan berkesan kurang ada benang merah antara petualangan  satu dengan petualangan yang lain yang mengarah pada klimaks cerita. Jadi meski konflik cukup banyak, tetapi sepertinya alur dan plot kurang terolah dengan baik. Tetapi cukup mengagumkan jika keberanian penulis mengangkat tema kemiskinan ini mendapat sambutan baik dari penerbit untuk memasarkannya, yang pastinya dengan penilaian dan pertimbangan masak yang sepertinya tak hanya bersifat komersil, tetapi mepunyai misi kritik sosial pada pemerintah dan edukasi kepada masyarakat. Tiba-tiba novel ini mengingatkan saya pada novel “Laskar Pelangi”-nya Andrea Hirata.
Keberanian mengusung tema tak populer yang menurut saya patut ditiru, dan perlu diteruskan oleh Erick kroncong sebagai cirikhas karya-karyanya mendatang. Indonesia butuh bacaan mencerahkan seperti novel ini, terutama bagi remaja yang masih mencari jatidiri dan butuh banyak informasi yang membangun mental. Agar tak melulu larut dalam kehidupan hedonis dan pacaran.
Reaksi:

4 komentar:

  1. wow..Eric akhirnya punya buku, ikut senang ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak eni ya..., iya, ikut senang juga. justru karena ia bisa nerbitin bukunya, saya terpacu untuk bisa terbit juga :)

      Hapus
  2. Aku suka novel tema pendidikan, *bookmark :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, sama. BTW, novel saya juga tentang pendidikan politik ke masyarakat...:)

      Hapus