Selasa, 25 Juni 2013

Review Novel "PING! A Message from Borneo"


Membaca buku cerita remaja yang satu ini membawa saya seakan sedang memasuki dunia petualangan layaknya cerita di pulau Kirrin dalam novel karya Enid Blyton yang dulu sering membuat saya takjub.  Saya lebih suka menyebut ”Ping! a Message from Borneo “ sebagai  novel detektif remaja daripada novel cinta. Walaupun novel ini juga memenuhi kriteria sebagai novel teenlit dengan  cerita khas yang biasanya tak lepas dari pengalaman ABG dalam menjalani kisah cinta yang ringan. Jadi membaca novel ini laksana menikmati hidangan rujak cingur yang komplit. Protein ada, serat serta vitamin juga tak kurang.
Hal istimewa yang sangat berbeda dengan novel kebanyakan adalah, ada dua penulis dengan jalan cerita serta gaya penulisannya sendiri dalam novel ini. Shabrina Ws dengan penuturan khas fabelnya yang menguras air mata, serta Riawany Elyta  dengan kelincahan mempermainkan susunan kalimat dengan ciri khasnya sendiri mampu menyuguhkan satu paket cerita tak biasa yang meninggalkan kesan mendalam serta pesan edukatif setelah membacanya.

 
Ada dua POV orang pertama dalam buku ini, yaitu tokoh Ping, seekor orangutan yang mengalami beberapa kali kisah kehilangan orangutan-orangutan terdekatnya, serta Molly, seorang gadis pecinta petualangan. Kehilangan ibu kandung dengan cara mengenaskan membuat Ping menangis pilu. Ia kembali menemukan kebahagiaannya saat diangkat menemukan ibu dan saudara angkat yang mencintainya dengan segenap kasih sayang hingga ia beranjak besar. Namun kisah sedih itu kembali datang serta meninggalkan trauma lebih parah saat ibunya terbunuh dengan cara sadis serta saudaranya tiba-tiba menghilang. Pada kisah petualangan Molly, aroma khas teenlit terlihat saat Molly bertemu kembali dengan seorang teman lamanya saat berpetualang bersama dua sahabatnya di tanah Borneo. Dengan alur yang berjalan sendiri-sendiri, kita akan menemukan titik temu antara perjalanan Ping dengan petualangan Molly hingga pertemuan yang sedikit banyak telah membantu Ping sembuh dari trauma psikisnya. Namun pertemuan itu tak lama. Mereka berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing.  Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan Molly dengan teman lamanya yang ternyata anak pengsaha kelapa sawit? Apa hubungannya usaha kelapa sawit itu dengan pemburuan orangutan besar-besaran yang terjadi di tanah hutan kalimantan? Mengapa Molly bersikeras untuk tak mau pacaran? Konflik-konflik dari ringan hingga berat mengalir dengan lancar dan mudah dicerna.
Membuat novel seperti ini tentu tak bisa sekedar menghayal dan mengira-ngira. Perlu survei serta pengumpulan data yang tak sederhana sebelum novel ini ditulis, begitu penuturan salah satu penulisnya. Dengan penggabungan yang klop dua karya dari dua penulis yang telah makan asam garam ini, maka pantaslah jika novel ini memenangkan lomba yang diadakan penerbit besar Bentang Media. Dan sangat pas jika seorang Dee bersedia menuliskan beberapa larik kalimat sebagai apresiasi sekaligus endorsement di sampul novel ciamik ini. Hanya satu pertanyaan yang tertinggal di benak saya setelah sempat membaca di beberapa bab secara berulang, yaitu: sebenarnya Molly bertemu Ping berapa kali? Satu atau dua kali? Tapi, selain pertanyaan itu, komentar saya bisa terhimpun dalam satu kalimat: Novel ini tak terlupakan!
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar