Rabu, 25 September 2013

Tentang Novel ke-dua "Temui Aku di Surga"



Kejadian setengah tahun lalu saat ia ikut tawuran terbayang lagi. Saat perutnya kena tendang dan tiba-tiba berakhir di penjara. Mendadak hatinya bimbang. Menunjukkan loyalitas pada geng, atau... kembali ke markas?
Akhirnya ia mengikuti akal sehatnya, memutuskan meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba seseorang dari geng lawan melihat kelebat Malik.
“Hoiiii! Jangan lariii!” anak geng lain itu meneriakinya.
 Malik langsung berlari menjauh! Tapi anak itu mengejar. Malik mempercepat larinya, dan si pengejar juga makin cepat! Malik sangat gusar karena anak itu membawa clurit. Tiba-tiba saja ia sudah sangat dekat di belakang Malik. Dan...
SHREK!
”Aaagggh!” pekik Malik.
Mata clurit itu dikibaskan ke arahnya. Malik merasa punggungnya tergores sesuatu.  Namun Ia tetap berlari sekencang mungkin. Tak dipedulikannya  kulit punggung yang terasa basah dan perih. Ia berlari makin kencang menuju terminal. Tentu saja banyak orang di sana. Beruntung! pikir Malik.
Setelah sempat menoleh sekali ke belakang dan tak ada lagi yang mengejar, ia memperlambat lari. Lutut dan seluruh badannya terasa lemas, dan tiba-tiba ia ambruk! Tubuhnya tertelungkup di tanah, di antara orang-orang yang lalu lalang sibuk dengan kegiatan khas terminal. Jaket kulit hitam yang dipakainya dengan sobekan bekas bacokan clurit disertai darah segar yang masih mengalir, kontan menjadikannya kerumunan massa beberapa menit kemudian.

Sinopsis:
            Malik, si anak manja dan mantan preman itu telah insaf. Bahkan ia sempat menikmati kehidupan dalam pesantren selama beberapa tahun. Ia bertemu dengan Yudho, seorang pemuda miskin yang memberikan energi baik padanya. Mereka menjadi sahabat layaknya saudara.
            Saat mereka begitu akrab, Malik menghadapi situasi berat dalam hidupnya. Ia harus rela melepas hubungan cintanya dengan Hesti, yang memilih meneruskan hafalan AlQur’annya dengan mengorbankan cintanya pada Malik. Pada saat yang sama, Malik juga sedang mempersiapkan diri menjadi calon petinggi (kepala desa) di desanya. Yudho, sahabatnya, begitu khawatir dengan keputusan Malik yang tiba-tiba bertolak ke Surabaya. Dan kekhawatiran itu terjawab dengan pulangnya Malik dalam keadaan sebagai jenazah.
            Waktu berjalan, kehidupan bergulir.Yudho yang berjanji menjaga ayah ibu Malik sebagai orang tua sendiri bertemu dengan takdir yang membuatnya harus berpikir keras. Ia harus menerima amanat warga untuk meneruskan pencalonan petinggi yang dulu akan diberikan pada Malik. Walau kehidupan ekonomi dan usia mudanya seakan tak mendukung pencalonan itu, namun dengan dukungan para sesepuh desa ia memutuskan menghadapi tantangan itu demi perubahan nasib warga. Beberapa kesulitan ia temui dari pihak lawan yang tak lain adalah petinggi yang sedang menjabat, Pak Thamrin. Pak Thamrin yang tidak fair, main dukun, main ancaman kekerasan, justru menjadikan Yudho kian menunjukkan kedewasaannya serta makin dekat dengan Allah.
            Takdir membuat cerita bahwaYudho pernah sekali bertemu dengan Hesti, gadis yang pernah dipuja sahabatnya itu. Dari pertemuan itu Yudho makin paham mengapa Malik begitu terpesona pada sosok Hesti yang memang berbeda dengan gadis kebanyakan seusianya.
            Lalu bagaimana kelanjutan sepak terjang Yudho? Mampukan ia memenangkan pemilihan petinggi itu? Mampukan ia menguak tabir kematian Malik? Mampukah Hesti mengatasi rasa bersalah yang melandanya? Apakah ada kelanjutan kisah indah antara Yudho dengan Hesti? 

            Jawabannya ada di novel saya, “Temui Aku di Surga”
Judul Novel     : Temui Aku di Surga
Penulis             : Ella Sofa
Penerbit           : Quanta, Imprint dari Elex Media Komputindo (Grup Kompas Gramedia)
Tebal buku      : 228 hal.
Harga Buku     : Rp. 44.800,-
Novel bisa didapat di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya. Temukan di deretan Buku Islami Quanta, ya...

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar