Sabtu, 26 Oktober 2013

Monster Menyeramkan Itu Bernama Sampah

membakar sampah


Aku berdiri terpaku didepan bak pembakaran itu. Asap putih mengepul di atasnya. Dengan niat melatih kesabaran, kali ini kutunggui proses pembakaran sampah di bak yang memang sengaja dibuat sebagai penampung sampah sekaligus sebagai tempat pembakarannya. Beruntung, pikirku. Pemilik rumah sebelum kami telah membuat bak sampah yang lumayan besar ini. Aku tak perlu lagi mengemas sampah untuk dibawa ke tempat penampungan sementara (TPS) di sebelah pasar tradisional di daerah kami. aku mengalami sedikit kesulitan kali ini, karena timbunan sampah di depanku ini semalam teguyur hujan. Yah, tentu saja api susah menyala. Paling menyala di sampah kertas yang sengaja kubakar duluan, menjalar ke bagian sampah di kanan kirinya sebentar, lalu mati. Berulangkali mencoba, tetapi hal yang sama terjadi. Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakan hal lain, dengan harapan siang nanti timbunan sampah akan kering oleh sinar matahari (semoga tidak hujan) dan sorenya siap dibakar.
            Mengapa harus dibakar? Kalau di sekitar tempat tinggalku (desa) membakar sampah sudah jadi hal biasa dalam memperlakukan sampah. Biasanya setelah bersih-bersih rumah, sampah dikumpulkan di suatu tempat (kalau di rumah saya ya bak tadi), lalu langsung dibakar di sore hari atau pagi hari. Asap yang timbul dari pembakaran pun sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Polusi? Ya begitulah.... Tapi, kebiasaan di desa ini jika kita renungkan sebenarnya merupakan salah satu cara meng”akhirkan” perjalanan sampah yang lumayan praktis. Membakar sampah berperan mengurangi problema penumpukan sampah di muka bumi ini. Walau memang resikonya terjadi polusi udara. Tapi itu tak lama, dan tak terlalu jadi masalah bagi masyarakat kami, asalkan saat membakar diusahakan pas waktu arah anginnya tepat. Ya di sore/malam dan pagi hari tadi di saat angin bergerak terarah dan cepat (menurut beberapa tetangga) artinya asap tidak ngendon muter-muter saja sehingga mengganggu rumah warga sekitar _Seperti kasus pembakaran sampah di depan rumah kontrakan saya (sebelum rumah sekarang), dimana seorang tetangga sering membakar sampah di dekat halaman depan rumah kami di siang hari, sehingga kami selalu mendapatkan kiriman paket asap yang lancang masuk hingga ke bagian dapur, terjebak di dalam rumah dan nggak keluar-keluar dalam waktu lama. Hingga akhirnya aku protes pada tetangga ybs. karena kasihan sama anak2 yang harus menghisap asap yang ngendon hampir satu jam-an lah di dalam rumah_

Selasa, 22 Oktober 2013

Mengajak Ortu Lebih Bijak Saat Anak Sakit (Review Buku "Anakku Sehat Tanpa Dokter")



Judul Buku: Anakku Sehat Tanpa Dokter
Penulis : Sugi Hartati, S.Psi
Penerbit : Stiletto
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku : 192 hal.
ISBN : 978-602-7572-14-0

Mengajak Ortu Lebih Bijak

Buku ini tak terlalu tebal, dengan warna dasar dan gambar yang eye catching. Apalagi judulnya, menggelitik dan membuat penasaran,terutama bagi ibu-ibu. Buku “Anakku Sehat Tanpa Dokter” ini dari sampul luarnya saja sudah menarik, bagaimana dengan isinya? Yuk kita kupas...
Buku ini mencoba mengajak orang tua untuk tidak selalu mengandalkan dokter setiap kali anak mengalami gejala sakit. Apalagi untuk sakit ringan yang sering terjadi pada anak  seperti demam, batuk, flu, gatal-gatal, diare, dan lain-lain. Bukannya kita dilarang pergi ke dokter, namun jika kita bisa berperan sebagai dokter di rumah bagi buah hati kita selama itu bukan kegawatan, bukankah itu lebih baik? 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Mencoba Memaknai Qurban



Umat Islam sedang berbahagia karena kedatangan sebuah hari yang dinanti-nantikannya, yaitu hari raya ‘Idul Adha. Sungguh suatu berkah dan rahmat dari Allah karena memberikan hari-hari penuh makna secara berturut-turut bagi umatnya, yaitu hari hari-hari puasa atau Bulan Ramadhan, hari raya ‘Idul Fitri, serta sekarang ini kita akan merayakan hari raya ‘Idul Adha
Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar atau melihat di kalender bahwa ‘Idul Adha akan tiba?
Yang pertama tergambar dalam benak kita pastilah tentang sholat ‘Ied berjamaah yang akan mempererat tali persaudaraan umat. Yang kedua, kita akan melihat, menikmati, dan sebaiknya turut mnegeluarkan hewan qurban bagi yang mampu dalam memperingati hari raya ini. Suasana akan ramai oleh banyaknya hewan-hewan seperti kambing, sapi, ataupun kerbau yang di-qurban-kan oleh masyarakat yang telah mampu, sementara ribuan warga juga telah menantikan menikmati daging sembelihan qurban itu.
Menilik arti dari kata Qurban sendiri, pernahkah kita mencoba untuk lebih meresapi adakah makna lain dari kata Qurban selain sebagai kerelaan kita menyembelih hewan seperti kambing, sapi, kerbau, atau unta untuk membuktikan rasa cinta kepada Allah? Sebagaimana jaman dulu, ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim As. untuk menyembelih Ismail, maka demi pengbdiannya pada Allah, Ibrahim rela melakukannya dengan persetujuan Ismail, karena Ismail percaya sepenuhnya kepada Ayah dan tentu saja Allah Tuhannya. Walau kemudian Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk menggantikan Ismail dengan seekor domba. 

Rabu, 09 Oktober 2013

Review Buku "Think Green, Go Green"

Judul Buku : Think Green Go Green
Penulis : Erni Misran, Novel Nian, dkk.
Penerbit : Pustaka Jingga
ISBN : 978-602-7880-41-2
Tebal buku : 219 hal.


"SMP Negeri 7 Bandung memasukkan Waste Management dalam kurikulum sekolahnya. Mereka juga mengolah limbah air wudlu untuk menyiram tanaman. SMP Negeri 6 Bogor mengolah PUORIN (pupuk organik Urin) yang berasal dari toilet siswa laki-laki. Sekolah ini juga membuat sketsel (sekat ruangan), bros, dan pijatan refleksi dari limbah pulpen. Juga mengolah briket dari sampah dan kulit rambutan. SMA Negeri 1 Yogyakarta membuat kolam ikan yang berfungsi menampung air wudlu dan makanan sisa kantin."
Paragraf di atas adalah cuplikan dari informasi-informasi yang tersaji dalam sebuah buku nan "berisi" yang berjudul "Think Green, Go Green" 
 Demikian juga dengan paragraf di bawah ini:
 "Bumi bukanlah warisan nenek moyang kita, melainkan warisan anak cucu kita. Buku “Think green Go Green” ini hadir untuk kembali mengingatkankita semua akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan. Diawali dengan fakta kondisi bumi saat ini, buku ini kemudian menyentak kita dengan pertanyaan menggelitik nurani agar berbuat yang terbaik untuk kehidupan kita dan anak cucu kita kelak. Beragam kisah yang ditampilkan dalam buku ini akan membuka wawasan pembaca tentang berbagai upaya pelestarian lingkungan yang dapat dilakukan. Pada akhirnya, pembaca diajak untuk turut terlibat dalam beragam aksi sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari."
            Ada beberapa penulis yang tergabung dalam antologi “Think Green,Go Green” ini yaitu: Erni Misran,Novela Nian, Okta nursanti, Dedi Saeful Anwar, LinaW. Sasmita, Ruwaidah Anwar, Hida Azzam,dan beberapapenulislain yang menceritakan pengalaman masing-masing tentang upaya menyelamatkan bumi lewat pelestarian lingkungan. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan sehari-hari hingga program  hebat terpadu seperti Program Adiwiyata yang dicanangkan sebagai upaya pelestarian lingkungan yang dimasukkan pada sistem kebijakan, kurikulum, kegiatan-kegiatan, serta sarana pendukung di sekolah.
            Buku ini kaya akan info-info yang  berhubungan dengan kesehatan lingkungan, seperti tentang bahayanya styrofoam, seni kolase yang berperan membantu mengurangi jumlah sampah, manfaat pohon, Program Earth Hour 2013, Hutan Tanman Industri (HTI), penghargaan Golden Enviromental Prize, dan masih banyak lagi.
            Membaca buku ini akan membuat kita tersentak, betapa selama ini banyak diantara kita yang telah merugi, menambahkan volume sampah bumi, merusak lingkungan, menjajah bumi tanpa imbalan setimpal, hingga timbul pertanyaan, wajah bumi yang bagaimanalagikah kah nanti yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Tak pedulikah kita dengan kehidupan anak cucu di masa depan? Akankah kita biarkan mereka bertetangga dengan gunungan sampah, kehausan karena sumber air mengering, kebanjiran tiap kali musim hujan datang, tak tersisa lahan pemukiman yang layak, tak bisa mengkonsumsi makanan sehat, dan tak bisa tidur nyenyak? Baca buku ini, agar hati kita makin tergerak untuk mencegah adanya mega proyek pindahnya anak cucu kita ke planet lain (walau sekarang wacana seperti ini masih hanya terealisir sebatas dalam film seperti " Wall E"), meninggalkan bumi hanya karena bumi tak lagi layak bagi kesejahteraan dan kesehatan manusia.

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...