Sabtu, 12 Oktober 2013

Mencoba Memaknai Qurban



Umat Islam sedang berbahagia karena kedatangan sebuah hari yang dinanti-nantikannya, yaitu hari raya ‘Idul Adha. Sungguh suatu berkah dan rahmat dari Allah karena memberikan hari-hari penuh makna secara berturut-turut bagi umatnya, yaitu hari hari-hari puasa atau Bulan Ramadhan, hari raya ‘Idul Fitri, serta sekarang ini kita akan merayakan hari raya ‘Idul Adha
Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar atau melihat di kalender bahwa ‘Idul Adha akan tiba?
Yang pertama tergambar dalam benak kita pastilah tentang sholat ‘Ied berjamaah yang akan mempererat tali persaudaraan umat. Yang kedua, kita akan melihat, menikmati, dan sebaiknya turut mnegeluarkan hewan qurban bagi yang mampu dalam memperingati hari raya ini. Suasana akan ramai oleh banyaknya hewan-hewan seperti kambing, sapi, ataupun kerbau yang di-qurban-kan oleh masyarakat yang telah mampu, sementara ribuan warga juga telah menantikan menikmati daging sembelihan qurban itu.
Menilik arti dari kata Qurban sendiri, pernahkah kita mencoba untuk lebih meresapi adakah makna lain dari kata Qurban selain sebagai kerelaan kita menyembelih hewan seperti kambing, sapi, kerbau, atau unta untuk membuktikan rasa cinta kepada Allah? Sebagaimana jaman dulu, ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim As. untuk menyembelih Ismail, maka demi pengbdiannya pada Allah, Ibrahim rela melakukannya dengan persetujuan Ismail, karena Ismail percaya sepenuhnya kepada Ayah dan tentu saja Allah Tuhannya. Walau kemudian Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk menggantikan Ismail dengan seekor domba. 

 
Sungguh, Allah memerintahkan sesuatu kepada umat islam tidaklah semata-mata untuk dilaksanakan begitu saja tetapi hendaknya kita bisa mencari dan menggali maksud dibalik perintah ber-qurban tersebut. Hendaknya kita tidak hanya melaksanakan perintah ber-qurban ini di hari besar itu saja, kemudian melupakan makna inti dari ajaran-Nya.
Menurut saya, ada keharusan bagi umat Islam untuk tetap mengaplikasikan kegiatan ber-qurban ini dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Bukannya setiap hari atau setiap bulan kita harus mengeluarkan hewan qurban, tetapi qurban yang di sini adalah qurban dalam bentuk lain, yaitu kerelaan kita untuk berkorban bagi kemaslahatan umat serta kesejahteraan masyarakat lain, terutama masyarakat Islam di kehidupan sehari-hari. Berkorban di sini bisa dalam bentuk materi, tenaga, pemikiran, atau apapun yang bisa kita sumbangkan untuk kebahagiaan sesama.
 Contohnya, bagi kita yang mempunyai harta berlebih, maka bisa membagikan atau menyumbangkan kelebihan harta itu kepada saudara kita yang membutuhkan bantuan, misalnya dalam bentuk sedekah atau sebagai zakat mal yang insyaAllah akan meringankan beban hidup mereka. Bisa juga kita abadikan harta kita sebagai amal jariyah yang akan turut menfasilitasi kepentingan umat dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Atau kerelaan kita memberikan sumbangan dana bagi perjuangan teman-teman yang sedang berperang di medan laga, di negara yang umat muslimnya sedang teraniaya.
Selain harta, berkorban bisa diwujudkan dalam bentuk pengabdian bagi kepentingan umat, misalnya mengabdi di dunia pendidikan seperti menjadi guru yang akan mencerdaskan generasi muda, atau pengabdian di masyarakat seperti modin yang setiap saat dibutuhkan warganya, sebagai ketua RT, RW, Lurah, dan seterusnya yang dilakukan dengan niat sungguh-sungguh demi kemaslahatan warga.
Berdakwah juga butuh semangat jihad dan kerelaan berkorban. Dengan ilmu agama yang dimilikinya, seorang yang jiwa berdakwahnya tinggi mau melakukan apa saja yang bertujuan untuk lebih meningkatkan pengetahuan masyarakatnya tentang ilmu agama, dan berusaha mengajak umat untuk melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-laranganNya. Ini bukanlah pekerjaan sepele, banyak tantangan yang harus dihadapi di lapangan. Tetapi bila dilakukan dengan niat berkorban demi umat, insyaAllah akan mendapatkan kemudahan dari Allah.
Semangat berkorban yang perlu kita acungi jempol adalah kerelaan para sahabat kita untuk mengorbankan jiwa raganya melawan musuh nyata umat islam, yaitu berjuang di medan laga. Contohnya adalah para pejuang Palestina, terutama relawan-relawan dari berbagai negara lain yang ingin turut serta membela saudaranya di negeri terjajah di sana. Semoga kita tak pernah lupa mendoakan mereka bagi yang syahid maupun yang masih terus berjuang. Semoga Allah mengijabahi doa-doa kita dengan menempatkan mereka di surga, serta kemerdekaan bagi Palestina yang menjadi impian sejak lama.
Yang baru-baru ini sedang kita hadapi adalah adanya gempa yang berturut-turut menimpa sebagian masyarakat di Indonesia. Dengan semangat Qurban, marilah kita tunjukkan kepedulian kita dengan mengorbankan sedikit milik kita untuk membantu mereka. Bagi yang ingin menyumbangkan hewan qurbannya untuk dikirim ke sana, alhamdulillah...itu suatu  niat yang mulia. Namun yang lebih utama di sini tidak sekedar berupa hewan qurban karena bertepatan dengan hari raya qurban, tetapi adalah wujud kepedulian dan kerelaan kita untuk menyumbangkan sebagian rizki kita untuk mereka yang memang sangat membutuhkan, yang insyaAllah bisa sedikit mencerahkan hari-hari mereka. Jadi, apa yang kita berikan sesuai dengan kemampuan kita, apapun yang berguna untuk mereka. Semoga Allah segera mengentaskan mereka dari penderitaan, dan mengampuni dosa-dosa kita semua.
Kesemua peran kita di masyarakat, apa pun profesi dan kedudukan kita, apapun yang kita “korban”kan demi kebahagiaan sesama, selain mungkin saja merupakan sumber rejeki bagi kita (contoh: guru, lurah, juru dakwah, dll), hendaknya selalu kita warnai dengan niat untuk berkorban secara ikhlas demi kepentingan umat, meringankan beban sesama, agar tercipta kehidupan yang saling melengkapi, saling melindungi, saling mengingatkan, dan saling membahagiakan. Ikhlas berkorban, ikhlas untuk berbagi apapun yang kita miliki untuk kepentingan umat.
Lalu, makna apa lagikah yang bisa kita petik dari kata Qurban ini?
Allah memberi perintah untuk ber-qurban bagi yang telah mampu. Artinya, Allah memberi perintah kepada orang yang hartanya berlebih setelah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,  untuk membeli seekor hewan qurban yang akan disembelih untuk dinikmati bersama orang lain. Selain mengajak kepada keikhlasan untuk berbagi, menurut saya perintah ini juga mengajak manusia supaya tidak berlebihan dalam membelanjakan hartanya untuk berfoya-foya dan bersenang-senang sendiri. Jadi, kegiatan menyembelih hewan qurban ini juga melatih kita agar mengekang hawa nafsu kita dari penggunaan harta yang hanya memenuhi kebutuhan duniawi kita. Ada unsur latihan menahan diri dari pemenuhan nafsu demi kepentingan dan kebahagiaan saudara kita yang lain agar mereka turut merasakan kebahagiaan yang kita miliki.
Dari uraian opini saya sebagai seorang ibu rumah tangga di atas, marilah kita sama-sama menemukan makna di balik kata Qurban, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari walaupun hari raya ‘Idul Adha telah berlalu nanti. Marilah kita tumbuhkan semangat ikhlas untuk berbagi dan mengekang hawa nafsu demi kebahagiaan sesama, dalam rangka memperingati hari besar ‘Idul Adha, hari kebahagiaan umat Islam sedunia. Wallahua’lam Bisshowab… Semoga Allah selalu meridhoi.


By: Elasofa (Ibu Rumah Tangga)

Reaksi:

2 komentar:

  1. Setuju sama yang ini mbak:
    kerelaan kita untuk berkorban bagi kemaslahatan umat serta kesejahteraan masyarakat lain, terutama masyarakat Islam di kehidupan sehari-hari ...

    Dalam keseharian kita sering perlu banyak "berqurban" ... dalam melaksanakan hal2 yangbutuh keikhlasan dan kesabaran yang luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dah mampir ya mbak... hi aku malu blognya masih sedrhana banget, jauh dari punya mbak mugniar. Ini tulisan lama, saat masih belajar bikin artikel... hehe. semoga bermanfaat

      Hapus