Selasa, 22 Oktober 2013

Mengajak Ortu Lebih Bijak Saat Anak Sakit (Review Buku "Anakku Sehat Tanpa Dokter")



Judul Buku: Anakku Sehat Tanpa Dokter
Penulis : Sugi Hartati, S.Psi
Penerbit : Stiletto
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku : 192 hal.
ISBN : 978-602-7572-14-0

Mengajak Ortu Lebih Bijak

Buku ini tak terlalu tebal, dengan warna dasar dan gambar yang eye catching. Apalagi judulnya, menggelitik dan membuat penasaran,terutama bagi ibu-ibu. Buku “Anakku Sehat Tanpa Dokter” ini dari sampul luarnya saja sudah menarik, bagaimana dengan isinya? Yuk kita kupas...
Buku ini mencoba mengajak orang tua untuk tidak selalu mengandalkan dokter setiap kali anak mengalami gejala sakit. Apalagi untuk sakit ringan yang sering terjadi pada anak  seperti demam, batuk, flu, gatal-gatal, diare, dan lain-lain. Bukannya kita dilarang pergi ke dokter, namun jika kita bisa berperan sebagai dokter di rumah bagi buah hati kita selama itu bukan kegawatan, bukankah itu lebih baik? 

Isi buku ini lumayan padat untuk bacaan orang tua dan cara penyajiannya umpama makanan sangat mengundang selera. Dibuka dengan "Reality Story", "Sebuah Alasan Mengapa Tanpa Dokte"r, "Berpikir Cerdas", "Berjuang Menjadi Sehat", "Mengenali Gejala", "Do The Bes"t, di tutup dengan "Kesimpulan Dan Penutup". Semua paparan dalam buku ini adalah informasi yang sangat penting dan bermanfaat bagi orang tua. Selain cerdas tema, buku ini juga kaya. Sepetinya tak ada sebuah kalimat pun yang boleh dilewatkan saat membaca. Ada info tentang gejala penyakit, mengobati dengan food therapy, obat tradisional,  pemijatan serta akupressure, memberikan panduan gaya hidup sehat sebagai upaya pencegahan, dan tambahan info tentang obat-obatan serta tambahan makanan yang tak layak dikonsumsi. 
Dalam buku ini disebutkan beberapa alasan mengapa sebaiknya kita tidak langsung menyerahkan anak yang sakit pada dokter, dilengkapi gambaran Reality Story yang dialami oleh penulis sendiri bersama buah hatinya. Penulis adalah seorang ibu yang cukup jeli melihat pola sakit yang terjadi pada anak-anaknya, sehingga suatu waktu ia membuat kesimpulan bahwa tak selamanya anak sakit harus diobati oleh dokter. Maka penulis mulai menangani sendiri buah hatinya setiap kali gejala sakit datang, tentunya dengan didasari referensi dan informasi yang tepat. Dari pengalamannya sendiri itulah maka Ibu Sugi Hartati ingin berbagi pengalaman pada pembaca.
Dalam Reality Story, sepertinya penulis ingin menyampaikan inti dari sekian alasan agar tak langsung ke dokter adalah: karena dokter hoby memberikan antibiotik, padahal tak semua orang sakit butuh antibiotik. Saya menemukan alasan-alasan lain yang dikemukakan Sugi Hartati, yang bila seorang dokter membacanya maka mungkin akan “tersentil”, yaitu: biaya dokter mahal, ilmu kedokteran tidak sempurna, meminimalkan resiko salah obat, menghindari menjadi objek eksperimen, disamping alasan lainnya. Benarkah pergi ke dokter selalu seperti itu? Walau mungkin jaman sekarang banyak dokter yang lebih manusiawi, tapi bagimanapun buku ini memberi efek positif bagi dokter bila membacanya yaitu: memberi informasi bahwa pasien sekarang adalah manusia cerdas, sudah tidak jamannya lagi dokter asal kasih antibiotik, atau dokter pelit informasi. Siapa tahu juga dengan adanya buku ini menggerakkan dokter-dokter untuk membuat buku pembelaan bahwa dokter juga bekerja dengan hati, dimana tudingan-tudingan itu tidak selamanya benar dan bisa dijelaskan alasan-alasan medisnya.
Memiliki buku ini, saya pikir wajib bagi orang tua sebagai masukan dalam mengambil tindakan saat menghadapi buah hati yang sakit. Tak hanya dipakai sekali baca, tapi akan selalu kita buka saat menghadapi gejala anak sakit untuk menemukan tips-tipsnya.



11 komentar:

  1. Mbak.... makasih ya, bagus reviewnya. Semoga kedepannya bermanfaat. Good luck!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah penulisnya datang.... makasih ya sudah mampir. Jadi pengen nulis tenatng kesehatan juga nih, bisa nggak ya?

      Hapus
  2. saya belum baca bukunya ,tapi dari resensinya pasti sgt menarik untuk dibaca,,setuju bu,,,,,,tidak semua penyakit harus ke dokter(biarpun saya dokter)he he...tapi yang perlu dicermati adalah case by case tidak lgsung dijudge bahwa semua bisa diseleisakn tanpa dokter biarpun menurut pengalamn penulis bahwa anaknya bisa sehat tanpa dokter.tanpa harus mengdiskreditkan suatu profesi,menurut saya,yang pas adalah anakku sehat tanpa obat,bahasannya akan sangat luas,baik tentnag alternatif pengobatan,tindakan tndkan preventif.seperti yg sy sebutkan diatas kita harus cermati case by case karna sarana informasi saat ini sangat maju.tinggal klik kita bs tahu apa saja yg kita pengin tahu,termasuk pengobatan,penyakit,sehingga banyak sekali informasi yang menurut saya kita harus cermat dalam memilih mana yang pas.saya tdk bs banyak koment karna belum bc bukunya sehinnga mana yg yang pas dan tdk saya blm bs memmberikan pendapat saya.tapi saya sangat setuju pada ibu pengaranggnya,,,,dan bu ela bahwa sebagai ibu kita harus bs jadi dokter untuk keluraga kita sendiri ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bu Dokter Ika yang sangat well come dan perhatian pada anak-anak saya... makasih udah mampir. Saya yakin Bu Dokter adalah dokter yang sangat baik kerjasamanya, dan saya tahu, beliau tak selalu memberi antibiotik, hehe... bahakan ngasih tahu kalau alergi pada anak saya tak perlu antibiotik, yang penting makan sayur dan buah yang banyak.... semoga suatu hari kelak kita bisa nulis bareng Bu ya....

      Hapus
  3. menarik nih bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mnak Wuri... makasih mampir di sini juga. Iya mbak,isinya bermanfaat sekali. Saya juga tahu sendiri bagaimana penulis dalam menjaga kesehatan anak-anak dan suami. Beliau serba bisa, pintar, salut deh pokoknya. Akhirnya cita2nya membuat buku tentang ini terwujud juga

      Hapus
  4. makasi komen2nya ya mak mak. Ada mak sugi, penulis buku, ada bu ika yg dokter, juga mbak wuri temen sesama penulis. Smg bermanfaat...

    BalasHapus
  5. menarik, buku ini tidak jauh berbeda dengan buku yg pernah sy baca bu (Jangan ke dokter lagi, The miracle of enzime)..
    disisi lain dokter tersedia utk membantu disaat diperlukan, tapi yg terlihat saat ini dokter disediakan supaya harus di gunakan, & tidak sedikit sistem kesehatan kita & oknum dokter justru membuat kita jadi sakit..
    Salam Sehat...
    By : Agus Samsudrajat S/ http://agus34drajat.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mungkin kita yang harus nambah ilmu dan memilih dokter mana yang tepat saat kita membutuhkan ya Pak? Kalau dokternya bagus, nggak akan asal ngasih antibiotik, justru dijelaskan tentang seluk beluk penyakit dan pencegahannya. kalau dokter yang asal, ditanyain aja malas njawab, pokoke minum aja obatnya! gitu....

      Hapus
  6. Selamat ya Mbak, udah menang lomba reviewnya ^_^
    -Hanna Natalisa-
    punyahannawilbur.wordpress.com

    BalasHapus
  7. sama-sama mbak...mbak hana juga menang ya? ntar saya juga main2 ke sana deh. follow follow yuk...

    BalasHapus

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...