Selasa, 24 Desember 2013

“Keong Racun" hingga “Buka Sithik, Jos! “ (Tulisan Ibu yang Khawatir akan virus pengganggu untuk anak-anaknya)




Prihatin. Itulah kata yang terlintas dalam benak saya sebagai seorang ibu yang memiliki buah hati  yang sedang dalam masa pertumbuhan. Hampir setiap hari mereka tak lepas dari mendengar lirik-lirik lagu berbahasa Indonesia yang isinya sangat tidak layak, baik untuk konsumsi pendengaran anak-anak ataupun untuk kategori dewasa. Dalam hal ini penulis bukannya ingin mendiskreditkan jenis musik tertentu (Dangdut). Hanya kebetulan saja lirik-lirik tidak bermutu itu akhir-akhir ini ada di barisan jenis lagu tersebut. Mungkin ada juga Jenis lagu lain yang memiliki lirik kurang mendidik, namun kebetulan yang akhir-akhir ini yang lagi booming dan dihapal luar kepala oleh banyak anak masuk dalam jenis lagu tersebut.
            Sebut saja penggalan lirik lagu ini,”Dasar kau keong racun, baru kenal sudah minta tidur.” Kalau tidak salah lagu “Keong Racun” ini populer dua tahun lalu. begitu muncul di You tube, lagu ini seakan menggantikan posisi lagu kebangsaan di Indonesia, di setiap tempat, setiap saat, setiap hari berkumandang mengisi otak dan jiwa pendengarnya. Tak perlu dibela itu adalah seni yang  memiliki kebebasan berkreasi yang tak boleh dibatasi. Seniman manapun sesungguhnya membohongi hati nurani jika mengatakan kalimat lirik lagu tersebut adalah seni yang perlu dibela. Orang dewasa manapun tahu arti dari kalimat tersebut tanpa harus berpikiran kotor. Bukan pikiran pendengar lagu itu yang kotor, tapi justru lagu itulah yang memancing pikiran-pikiran kotor pada “penderita” yaitu pendengarnya. Apalagi yang masih anak bawang, yang belum terlalu paham mana yang baik dan mana yang harus dijauhi. Tidak miriskah anda jika saat mendengar lagu itu lalu anak Tk atau SD anda bertanya, “Maksudnya minta tidur gimana sih Ma?” Taruhlah kita bisa mengolah kalimat dan sedikit berbohong pada anak-anak kecil kita agar tak ketahuan maksud sesungguhnya kalimat itu, tapi kalau mereka mendengar penjelasan makna kalimat itu dari temannya? mereka yang seharusnya masih memiliki otak seputih kapas jadi teracuni pikirannya oleh bayangan adegan jorok dari penjelasan temannya tadi. Lalu bagaimana dengan remaja kita yang berada pada fase “selalu ingin tahu”? Setiap hari setiap saat mendengar kalimat itu bukankah akan terbawa ke alam bawah sadar mereka dan memancing untuk ingin tahu rasanya “Minta tidur” tersebut saat mereka sedang dekat dengan lawan jenis? Miris!

Senin, 09 Desember 2013

Resensi Novel Temui Aku di Surga Oleh Leyla Hana (Dimuat di nabawia.com)

Menguak Intrik di Balik Pemilihan Kepala Desa

 

Foto: BAWIndonesia

Dimuat di sini
 
Di televisi secara nyata ditayangkan intrik-intrik perebutan kekuasaan di kalangan eksekutif dan legislatif. Politik itu kejam, demikian ungkapan yang sering terdengar. Demi menempati posisi-posisi penting dalam pemerintahan, tokoh-tokoh partai saling menjatuhkan satu sama lain dengan melakukan tindakan-tindakan negatif baik berupa pemutarbalikan fakta, fitnah harta dan wanita, permainan media, sampai hal-hal di luar logika seperti menggunakan jasa dukun dan bahkan membunuh lawan politiknya.

Ternyata, intrik-intrik politik itu tak hanya terjadi pada pemerintah pusat, melainkan juga sampai ke daerah. Contohnya, intrik politik yang terjadi pada pemilihan Kepala Desa. Malik dan Yudho adalah dua sahabat yang digambarkan memiliki wajah dan perawakan mirip satu sama lain, meski terlahir dari orang tua yang berbeda. Malik adalah anak dari keluarga menengah ke atas, sedangkan Yudho adalah anak dari keluarga miskin. Malik sempat menjadi anak nakal, bergabung dengan geng motor yang hobi membuat kerusakan dan bertempur dengan geng motor lawan. Yudho sebaliknya, seorang pemuda  baik-baik yang ikut mencari nafkah untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya.
Yudho  yang semula bekerja di toko pemasangan kaca, diajak oleh Malik untuk membuat usaha sendiri. Hal ini membuat geram Solikin, mantan bos Yudho. Sementara itu, orang tua Malik bercita-cita mencalonkan anaknya menjadi Petinggi Desa (Kepala Desa) karena petinggi yang sudah memerintah dirasa tak becus. Contohnya, jalanan desa semakin rusak, sementara pemasukan desa dipakai foya-foya oleh Kepala Desa.
Sayangnya, rencana pencalonan Malik tak berjalan lancar, karena pemuda itu keburu dibunuh oleh orang lain dalam tabrak lari. Yudho pun digadang-gadang oleh orang tua Malik dan sesepuh desa yang menginginkan perbaikan desa, sebagai calon Kepala Desa selanjutnya. Mereka menyumbang dana untuk pencalonan Yudho dan berharap kondisi desa akan menjadi lebih baik dengan terpilihnya Yudho.
Ide novel ini sangat menarik, mengenai intrik-intrik di balik pencalonan Kepala Desa. Membaca novel ini, kita dapat mengetahui bahwa tidak mudah untuk menjadi Kepala Desa. Bahkan, untuk mencalonkan diri pun, membutuhkan kekuatan fisik, mental, dan sudah tentu materi. Yudho yang anak orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemasang kaca, mendapatkan bantuan dari warga desa yang sudah ingin mengubah kondisi desa dengan melengserkan Kepala Desa yang lama. Akan tetapi, jalan itu tetap tidak mulus. Ada kecurangan-kecurangan disertai ancaman pembunuhan yang menarik untuk diikuti. Yudho pun bertanya-tanya, apakah penyebab terbunuhnya Malik juga ada hubungannya dengan pencalonannya sebagai Kepala Desa?
Membaca novel ini, wawasan kita menjadi terbuka bahwasanya permainan politik itu benar-benar ada: politik uang, ancaman pembunuhan, pemakaian jasa preman untuk mengancam (di sini disebutkan sebagai orang abangan), bahkan memakai jasa dukun, di mana Kepala Desa yang lama memakai Jas Ontokusumo untuk memikat pemilih. Bila pemilihan Kepala Desa saja sudah mengandung intrik yang sedemikian rupa, bagaimana dengan pemilihan anggota legislatif dan eksekutif pusat? Tentu dapat kita dapat ambil kesimpulan bahwa kasus-kasus politik yang ramai di media massa hanyalah bagian dari intrik para penguasa untuk memperoleh kekuasaan atau mempertahankan kekuasaannya.
Setting novel di Jepara juga amat terasa dari logat para tokohnya yang kental, seperti panggilan “Nang” untuk anak laki-laki dan gaya menulis sang novelis yang mengentak-entak, khas Jepara. Tak heran karena penulisnya pun asli Jepara. Pembaca dibuat penasaran mengenai misteri di balik kematian Malik dan kegagalan Yudho menduduki posisi Kepala Desa walaupun sudah didukung oleh sebagian besar penduduk desa. Kita juga bisa belajar dari semangat dan tekad Yudho yang anak orang tidak mampu, untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik dengan bekerja keras dan bercita-cita melanjutkan sekolahnya sampai jenjang yang lebih tinggi. 
Judul: Temui Aku di Surga
Penulis: Ella Sofa
Penerbit: Quanta, Elex Media
Tahun Terbit: Cetakan I, Juni 2013            
ISBN:  97806020213606
Tebal: vii+279 hal

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...