Selasa, 09 September 2014

sholat juga katarsis lho....


Masih ingat dengan istilah katarsis yang pernah saya tulis? Iya, suatu metode untuk membersihkan diri dari tumpukan energi yang menjadi sampah dalam jiwa, atau istilah psikologisnya “Penyucian jiwa”. Tumpukan energi itu bisa berupa masalah-masalah kecil yang satu demi satu menumpuk dan tak pernah terselesaikan, atau suatu masalah besar yang menjadi momok dalam diri seseorang yang sangat susah diurai dan diatasi, atau beban pekerjaan dan tuntutan sosial yang makin hari makin membuat seseorang benar-benar bak tempat penampungan sampah sehingga ia tak memiliki sisa ruang kosong untuk merasakan kebahagian pribadi atau meraskan suasana free.
Ya, dalam tulisan itu saya sebutkan bahwa menendang barang di sekitar kita seperti kaleng, atau memukul bantal, saat emosi kita tak tertahan karena suatu masalah bisa juga dikatakan sebagai salah satu cara katarsis. Begitu juga dengan berteriak keras-keras disertai gejolak emosi, juga saya sebut sebagai salah satu metode katarsis. Ya.. seorang pakar psikologi yang kerap menangani masalah anak-anak yang depresi juga menggunakan metode berteriak agar si anak terbebas dari beban mental atau pikiran yang selama ini membuatnya “sakit”. Baru setelah ia merasa puas dengan therapy tersebut, sang therapist akan mulai mengurai masalah dengan mendengarkan penuturan si anak, tentu dengan cara komunikasi khusus.
Oke, selain menendang atau memukul atau berteriak yang identik dengan hal “negatif” , masih ada beberapa cara katarsis yang saya sebutkan dalam artikel tersebut, yaitu dengan cara –cara yang lebih “kalem”, ramah, halus, dan terarah. Contohnya adalah olah vokal (menyanyi, baca puisi, main teater), bermain air (berenang, surfing, arung jeram, mandi sepuasnya), menulis (curhat, diary, atau sekalian membuat fiksi atau artikel), olahraga, dan melakukan hobbi.
Semua cara yang bisa membuat kita merasa plong dan lega tersebut bukan berarti selalu pas dan tepat untuk mengkatarsis diri dari beban pikiran. Kita tetap harus tahu batas-batas kesopanan, menghargai privaci dan harga diri orang lain, serta tentu saja tidak melanggar aturan agama. Tetap tergantung seperti apa masalah atau beban yang sedang kita hadapi, juga untuk setiap orang memang memiliki kecenderungan yang tak harus sama dalam memilih metode katarsis yang cocok untuknya.

Katarsis Versi Islam

Saya sempat menyebutkan bahwa berwudlu atau mandi yang dalam agama islam sangat ditekankan (bahkan wajib) juga salah satu bentuk cara berkatarsis. Di sini saya tertarik membahas hal ini lebih jauh. Saya ingin membicarakan metode katarsis dalam lingkup agama Islam. Masuk akal nggak sih?
Jika dalam Yoga merupakan suatu metode penyucian diri atau bisa disebut katarsis, maka menurut saya, syah-syah saja jika saya menyebut sholat dalam agama Islam juga bisa disebut metode katarsis. Tapi, sungguh bukan maksud saya untuk membandingkan atau mencari tandingan dalam beragama, tapi saya hanya ingin mengemukakan pendapat saya bahwa dalam agama Islam pun ada metode-metode katarsis, yang mungkin selama ini tak kita sadari karena kita tidak tahu atau mungkin karena kita kurang maksimal dalam menjalankan katarsis (baca: ritual agama) tersebut.
Jadi, Allah memerintahkan hambanya untuk menjalankan ritual ini dan itu bukan tanpa maksud dan manfaat. Saya mungkin tidak akan berlama-lama di ranah dalil atau pahala yang insyaallah sudah banyak sekali yang sudah membahasnya. Tapi saya lebih tertarik untuk meninjaunya dari sudut kesehatan khususnya kesehatan jiwa atau psikologi.

 Ajaibnya sholat

Ritual keagamaan wajib yangs senantiasa kita lakukan setiap hari adalah sholat sekaligus dengan wudlu sebagai rangkaiannya. Apa yang kita rasakan saat pagi hari bangun tidur membasuh wajah tangan dan kaki dengan air wudlu? Rasa kantuk yang masih menggayut seketika berkurang atau bahkan hilang.
Lalu siang harinya, saat lelah dan kantuk mulai terasa, serta saat ketahanan oemosi seseorang telah sampai pada batasnya, kita diperintahkan untuk menjalankan sholat dhuhur. Alangkah segarnya air wudlu membasuh wajah kusut masai kita. Kita merasa sejuk dan segar di tengah hari yang panas. Nikmat sekali rasanya. Entah bagaimana ritual sholat di tengah hari itu rasanya memiliki fungsi untuk mengistirahtkan tubuh dan otak kita. Baik yang bekerja di luar rumah ataupun juga ibu-ibu yang mejalani hari-hari di rumah bersama anak-anaknya. Dan setelahnya, saya maupun pembaca yang melaksanakan sholat, seakan telah menjalani suatu terapi yang membuat tubuh, otak, dan hati menjadi fresh kembali dan siap menjalani aktifitas selanjutnya.
Demikian juga dengan waktu sholat ashar, magrib dan isyak. Dengan sendirinya waktu-waktu sholat tersebut menjadi pembatas hari, pembagi waktu dari satu sesi ke sesi lainnya. Waktu ashar mengingatkan kita untuk istirahat,  membersihkan diri atau mandi, dan lebih santai. Sebagian besar instansi pemerintah atau swasta pun memulangkan pegawai pada jam-jam ini, meski ada yang masih melanjutkan aktifitas hingga pukul lima. Atau justru bagi sebagian masyarakat, waktu ashar adalah pembatas hari di mana kita sudah harus beranjak dari waktu istirahat menuju aktifitas lagi. Waktu maghrib adalah pembatas hari di mana semua anak sudah harus di rumah, tidak berkeliaran main di halaman dengan teman-teman, pembatas waktu sore dan malam. Magrhrib menjadi awal untuk aktifitas semua anggota keluarga untuk di rumah (kecuali ada kepentingan khusus). Orang  tua membimbing anak mengaji, belajar, makan malam bersama, atau becengkerama di depan televisi. Sedangkan isyak, bagi Nabi Muhammad dulu setelah menjalankan sholat isyak beliau biasanya tidur untuk kemudian bangun di sepertiga malam untuk menjalankan sholat tahajjud. Khusus untuk kebiasaan tidur setelah isyak, ada sebagian keluarga muslim yang sudah menjalankannya, tapi juga ada yang masih menggunakan waktu habis isyak untuk beraktifitas.
Maksud saya menjabarkan bahwa waktu sholat dengan sendirinya menjadi batas hari dari sesi kegiatan satu ke kegiatan lain, adalah untuk menunjukkan betapa dengan sholat itu, kita seperti mendapatkan kembali semangat dan energi baru, lebih damai, lebih segar dan lebih ringan. Saat kita masuk dalam sholat dengan bertakbiratulihram disertai niat sungguh-sungguh dalam hati, kita seakan memasuki zona kesunyian yang terpisah dengan dunia luar.  Entah bagaimana, hadir rasa damai, tenang, nikmat, dan segala rasa gelisah atau istilah kerennya “galau” mendadak menyingkir. Apalagi jika kita mekanjutkannya dengan berdzikir, istighfar mengingat kesalahan-kesalahan yang kita perbuat baik kecil maupun besar, menyebut kebesaran dan kesucian Allah, berterimakasih pada kebaikan-kebaikan Allah, mengakui keesaan Allah. Betapa rasa damai mendadak mengalir deras hingga kadang membuat tubuh menjadi merinding. Dan...t ibalah saatnya kita curhat pada Allah, mengeluh, memelas, menceritakan semua hal yang membuat kita terbeban, yang membuat kita marah, yang membuat kita menangis, yang membuat kita tak bisa berpikir jernih. Lalu kita meminta dengan sangat pada-Nya, dengan bercucuran air mata, agar dicarkan jalan keluar, agar dimudahkan, agar dikawal dan ditunjukkan jalan yang benar, dan diberi yang terbaik dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Apa yang kemudian kita Rasakan? Apa yang sesungguhnya telah kita alami saat menjalankan sholat tersebut? Tiba-tiba semua terasa ringan, lega, plong, dengan sendirinya kita percaya bahwa semua masalah kita pasti ada jalan keluarnya,  meski kita belum tahu pasti solusi seperti apa yang akan kita dapatkan. Aktifitas dari mulai berwudlu hingga selesai berdoa dengan sungguh-sungguh dan khusyuk itulah yang akhirnya berani saya namakan dengan katarsis versi agama Islam.
Jadi bersyukurlah kita yang beragama Islam, bahwa Allah telah memberi kita fasilitas atau metode terapi katarsis yang bernama sholat. Jika kita mampu menjalankan terapi sholat dengan sungguh-sungguh dan rutin ini (tentu bukan sholat yang asal ngisi daftar absen), maka insyaallah kita tak perlu merogoh kocek mahal-mahal untuk ke seorang psikolog, kita tak perlu menjadi depresi, atau minum obat penenang. Apalagi jika rutin menjalankan sholat sunnah tahajjud dengan khusuk pula.
Namun, terapi sholat tak menutup pentingnya peran jenis katarsis lain seperti dengan menulis, menyalurkan hobi, berpiknik, olahraga, dll. Bahkan, kombinasi dari sholat yang khusyuk dengan metode katarsis lain (tentu yang tidak ekstrim dan sesuai dengan minat kita)  insyaalah akan  membuat jiwa kita makin sehat. Juga, untuk orang-orang tertentu yang telah masuk pada fase depresi atau bahkan lebin parah, ya memang seharusnya mendapat penanganan khusus agar kembali berada dalam keadaan equilibrium atau seimbang, untuk kemudian dibimbing untuk bisa melakukan sholat dengan rutin dan khusyuk.
Secara psikologis (saya tidak mengatakan benar atau salahnya masing-masing ajaran), jika kita tahu dan bisa mengambil manfaatnya, maka sholat, semedi, ataupun yoga bisa dikatakan memiliki fungsi yang sama yaitu untuk “menyucikan jiwa” atau katarsis. Fungsi katarsis itu tentunya akan berlaku ketika dalam melaksanakan sholat kita memenuhi beberapa syarat berikut:
Tidak tergesa-gesa (tepat waktu, tidak takut kehabisan waktu)
Tumakninah (menghayati setiap gerakan da ucapan, sebisa mungkin mengerti arti bacaan sholat)
Ikhlas, tidak terpaksa atau karena takut pada seseorang
Ada kemauan untuk khusyuk (karena khusyuk juga tidak mudah)
Benar-benar ingin menjadikan sholat sebagai sarana berserah pada Allah
Maka, marilah kita syukuri perintah Allah yang sejatinya adalah fasilitas untuk kita juga ini, dengan memperbaiki kualitas sholat kita, belajar untuk menambah ilmu tentang gerakan dan bacaan sholat yang benar serta makna setiap bacaanya, serta tentu saja berusaha agar sholat kita tepat waktu.
Demikian ulasan saya, semoga bermanfaat....l

Senin, 08 September 2014

kroket kentang


resep kroket kentang

bahan: kulit
- kentang ukuran besar satu buah/ kecil 2 buah
- kuning telur 1 butir
- tepung terigu 200 gram
- mentega 3 sdm
- air secukupnya
- garam 1 sdt
caranya:
kentang direbus sampai empuk, hancurkan. panasksn wajan,
masukkan mentega, kentang halus, terigu, kuning telur, garam, dan air, aduk2 hingga tercsmpur rata dan kalis.

isi:
bahan:
-wortel 250 gr
- daging ayam  1 ons
- bawang putih tiga siung
- bawang merah 2 siung
- merica 5 butir
- garam dan gula pasir secukupnya
- bawang prei
- terigu dua sendok makan
- air satu setengah gelas
- minyak goreng 3 sdt

caranya:
- bumbu dihauskan, wortel diiriss dadu kecil, bawang prei diiris halus, daging ayam dicincang. psnaskan wajan, tumis bumbu, daging ayam sampai harum baunya. masukkan wortel, beri air tunggu hingga mendidih dan empuk samvil dibei garsm dan gula secukupnya. stlh empuk masukkan terigu yang sudah bercanpur air (agak encer), orak arik hingga menjadi rogout (ragu) yang agak lengket.




ambil sekepal adonan kulit, bulatkan dan pipihkan hingga melebar. isilah dengan ragu, bulatksn lagi.  lakukan hingga adonan habis. gulingkan bulatan2 itu pada putih telur, lalu gulingkan di tepung roti halus. goreng sampai kuning kecoklatan. selamat mencoba....!


catatan: isi bisa dimodifokasi sesuai isi kulkas n kantong ya.... eh iya ini resep bukan dari ahlinya jadi kurang lebihnya harap maklum.......

Minggu, 31 Agustus 2014

Belajar Menjadi Wartawan





Ada beberapa bentuk atau jenis tulisan. Bentuk-bentuk tulisan tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu: fiksi dan non fiksi. Tulisan fiksi adalah tulisan yang berisi tentang kisah yang tidak nyata terjadi, atau berisi imajinasi penulis. Tulisan yang masuk dalam kelompok fiksi adalah: puisi, cerpen, naskah drama dan novel. Karya nonfiksi adalah karya tulisan yang memaparkan fakta, tanpa imajinasi atau karangan penulis. Sedangkan tulisan yang masuk dalam kelompok nonfiksi adalah: berita, artikel, buku pelajaran, laporan, proposal, skripsi, buku psikologi, karya tulis, dan bermacam jenis buku selain novel.
Sedangkan ide menulis bisa dari mana saja. Kamu bisa menulis tentang banyak hal yang kamu ketahui, kamu sukai, kamu lihat, kamu dengar atau kamu alami. Dari bangun pagi hingga tidur lagi, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari ruang kelas hingga kamar mandi, dari lingkungan sekolah hingga kembali ke rumah, semua hal bisa menjadi bahan tulisan.
Kejadian nyata sehari-hari yang kamu alami tersebut bisa ditulis menjadi karya fiksi seperti cerpen, puisi, atau novel, bisa juga ditulis sebagai paparan fakta saja seperti dalam bentuk diari atau berita. Kali ini kita akan belajar tentang menulis berita.
             Berita adalah: suatu karya tulisan yang berisi kalimat-kalimat yang mengandung  informasi tentang kejadian yang baru dan penting.

Unsur-unsur yang terkandung dalam berita dalam berita:
1.      Apa                 : Tulisan berbicara tentang apa? Kejadian apa yang sedang berlangsung?
2.      Siapa               : Siapa saja pelaku atau tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu?
3.      Kapan              : Kapan peristiwa itu berlangsung?
4.      Di mana           : Dimana tempat peristiwa itu berlangsung?
5.      Mengapa         : Mengapa ada kejadian itu? Untuk apa hal atau kejadian itu diselenggarakan?
6.      Bagaimana      : Bagaimana peristiwa itu berlangsung? Apa saja yang terjadi dalam kejadian itu?



Pernahkah kamu membayangkan menjadi seorang wartawan? Apakah wartawan bisa disebut sebagai penulis juga? Tahukah kamu apa saja yang harus dilakukan sebagai seorang wartawan?
Wartawan ialah orang yang pekerjaannya mencari berita dan melaporkannya di media. Media tempat melaporkan berita bisa berupa media cetak seperti koran dan majalah, atau non cetak seperti radio dan televisi. Wartawan di media cetak atau online juga termasuk penulis, karena ia melaporkan hasil pencarian beritanya dalam bentuk tulisan.
Kegiatan mencari berita bisa berupa mencari keterangan atau informasi dari sumber terpercaya tentang sebuah kejadian yang telah berlangsung, bisa juga meliput suatu acara yang sedang berlangsung, atau mewawancari seorang tokoh tertentu. Adapun cara mendapatkan informasi itu bisa dengan: pengamatan langsung, menelusur informasi lewat internet, mendengarkan pidato, atau mewawancarai sumber yang terkait.
Salah satu kegiatan yang sering dilakukan wartawan adalah melakukan wawancara. Wawancara yang dimaksud di sini adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan seorang wartawan kepada seseorang yang dianggap tahu mengenai informasi yang dicarinya.
            Tahukah kamu bagaimana cara melakukan wawancara yang baik? Berikut ini urutan saat melakukan wawancara dengan seseorang:
1.      Mengucap salam
2.      Memperkenalkan diri
3.      Memberitahukan  tujuan
4.      Melontarkan beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu mengandung unsur:
a.       Apa?
b.      Siapa?
c.       Kapan?
d.      Dimana?
e.       Mengapa?
f.       Bagaimana?
Atau biasanya unsur-unsur tersebut dikenal dengan: 5W + 1 (what, who, when, where, why, dan how)
5.      Megucapkan terimakasih
Untuk wartawan media cetak, setelah melakukan wawancara, informasi yang didapat disusun dalam bentuk tulisan atau yang disebut berita.



Contoh tulisan berita bisa dilihat berikut ini:

Ratusan Orang Mengadakan Unjuk Rasa di Sejumlah Kota di Indonesia Menyusul Pengumuman Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak
Unjuk rasa berlangsung antara lain di Jakarta, Yogyakarta dan Makassar pada Jumat malam (21/06) hingga Sabtu dini hari (22/06). Demonstrasi terutama dimotori oleh kalangan mahasiswa berbagai perguruan tinggi.
Di Jakarta demonstran dari kelompok mahasiswa Universitas Nasional sempat terlibat bentrok dengan aparat keamanan, namun aparat berhasil membubarkan mahasiswa. Mereka dilaporkan melempar batu, botol dan bom molotov ke arah polisi dan polisi membalasnya dengan tembakan gas air mata.
Unjuk rasa juga berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, menjelang pengumuman kenaikan harga BBM. Sebagian massa kemudian bergerak ke Jalan Diponegoro. Mereka merusak beberapa fasilitas umum dan merusak mobil yang melintas. Di Bandung, unjuk rasa mahasiswa juga berlangsung ricuh.
Demonstrasi pada malam pengumuman kenaikan BBM tidak sebesar unjuk rasa ketika DPR Klik mengesahkan RUU RAPBN-P tahun 2013 yang meliputi pemangkasan subsidi untuk bahan bakar.
Sementara itu para pemilik kendaraan bermotor mengantre untuk membeli BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum sebelum Jumat tengah malam. Para pemilik sepeda motor dan mobil ingin mengisi penuh tangki sebelum harga baru premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar menjadi Rp 5.500/liter diberlakukan. Harga keduanya semula sebesar Rp 4.500/liter.


Tugas: Lakukanlah wawancara dengan seorag guru tentang pelaksanaan kurikulum baru 2013 di SDmu. Buatlah terlebih dahulu rencana pertanyaan yang akan dilontarkan.
 
Demikian materi kita kali ini, tentu akan kita sambung dengan materi berikutnya tentang bentuk tulisan yang lain.

Minggu, 24 Agustus 2014

Kenalan dengan Katarsis, Yuk...!




Hai hai hai.... Apa kabar? Lagi senyum atau lagi manyun? Ngapain manyun? Lagi ada masalah serius nih? Nggak dapat solusi maknyus ya? Sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nggak optimal juga hasilnya? Atau merasa tak ada yang memperhatikan ide-ide cemerlangmu? Merasa semua orang memusuhimu? Merasa pelajaran dan tugas sekolah begitu suka membuntutimu? Atau... mungkin lagi bete karena merasa ditolak sang pujaan hati? Hihihi... banyak banget ya macam alasan anak muda untuk memilih manyun daripada tersenyum ceria.
Oke, oke... jangan tambah manyun gara-gara baca kalimat di atas ya? Manyun karena ada masalah atau beban pikiran yang menyesak itu hal wajar kok. Beneran...! Justru itu menunjukkan bahwa kamu-kamu masih normal, mampu berekspresi dengan semestinya. Tapi begini... masalahnya kalau perasaan marah, kecewa, sedih, dan sejenisnya (yang bikin susah senyum pokoknya) itu diterus-terusin tanpa ada penyaluran, maka kamu bakalan rugi lho... Tahu kan yang namanya depresi? Sesungguhnya hal-hal seperti itu yang dalam hal ini disebut sebagai energi negatif, perlu penyaluran. Nha... depresi bisa terjadi, saat seseorang tak lagi mampu menahan tumpukan beban dalam dirinya. Atau bisa dkatakan bahwa depresi adalah stres dalam skala agak parah. Ciri-cirinya? Kamu susah konsentrasi, gampang marah-marah, tidak berpikir jernih, hingga keinginan untuk bunuh diri. Atau pada beberapa orang tertentu akhirnya menderita yang namanya  bipolar disorder.
Memang, kita diajarkan untuk selalu bersyukur dan bersabar. Itu benar. Dengan bersabar dan bersyukur kita akan terhindar dari masalah yang lebih berat yang berkaitan dengan orang lain. Nha, mungkin karena khawatir kalau kamu menyalurkan rasa marah, kecewa, dan sedih tersebut kepada teman atau orang lain yang bersangkutan justru akan mengacaukan keadaan dan bukannya malah masalah selesai, maka kamu memilih menahannya sendiri. Kamu berusaha bersabar dengan merelakan diri menjadi tong sampah dari energi-energi negatif yang tidak tersalurkan tersebut.  Tapi, bagaimana dengan energi negatif yang masuk lagi ke dalam dan menumpuk di alam bawah sadar kita? Mungkin kita terhindar dari masalah dengan orang lain, tapi energi yang menumpuk tadi akan jadi penyakit jika tidak mendapatkan penyaluran lho... Nha.... hasilnya, pada satu titik, otak dan hati kamu merasa jenuh dan tak kuat menanggung beban energi negatif tersebut. Akhirnya tanpa kamu sadari, kamu menjadi seorang pemurung, sensitif, jutek, suka manyun, karena terlalu banyaknya tumpukan energi yang seharusnya dikeluarkan tersebut. Keadaan itulah yang disebut depresi.  Lalu bagaimana bisa jadi lebih bahagia jika sampah-sampah itu tidak kamu keluarkan?
Oya, energi yang menumpuk dalam jiwa itu nggak melulu energi negatif yang identik dengan sedih dan bete lho. Energi positif yang tidak tersalurkan juga bisa menumpuk dan menjejal sebagai sampah dalam jiwa. Lho, masak rasa bahagia bisa bikin depresi? Rasa bahagia yang dipendam sendiri, tidak tersalurkan, mungkin karena kurangnya sambutan rasa bahagia kamu dari orang-orang di sekitarmu, tak ada yang peduli bahwa kamu sedang bahagia, ternyata juga bisa tertimbun jadi sampah dalam diri.
Jadi... Yap! Betul banget, kamu harus keluarin sampah-sampah menumpuk dari dirimu agar terjadi keseimbangan lagi, atau yang namanya keadaan equilibrium. Jika tidak ingin tumpukan sampah itu menjadi penyakit psikis maupun fisik dalam dirimu. Penyakit fisik? Iya... penyakit fisik yang merupakan dampak dari keadaan psikis yang tertekan, seperti pusing kepala, maag, rasa lelah berkepanjangan, dan seterusnya yang lebih parah..
“Lalu gimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?”  Nha nha nha... pasti kamu nanya gitu deh... Gini nih ya, ada satu cara terapi yang bisa kamu lakukan yang namanya katarsis. Waduh, jenis terapi macam apa tuh katarsis? Katarsis adalah suatu upaya yang dilakukan sebagai cara mengeluarkan energi yang bertumpuk dalam pikiran, jiwa seseorang, agar kembali menjadi bersih, kembali menjadi seimbang, sehingga lebih ringan menjalani kehidupan. Definisinya kurang lebihnya kayak gitu deh. Adapun caranya bisa dengan berbagai macam cara lho... Kita bahas satu-satu yuk...!
Salah satu cara katarsis bisa dilakukan dengan langsung dan cepat yaitu dengan melampiaskan emosi saat itu juga, saat sedang menghadapi masalah. Kamu tidak harus marah pada orang yang bersangkutan (kecuali dengan menunjukkan marahmu berharap yang bersangkutan menyadari kesalahannya), tapi rasa marahmu bisa disalurkan dengan meninju angin, memukul bantal, atau melempar barang yang ada di dekatmu tanpa melukai orang lain.. Hahaha... mungkin ini terlihat konyol, lucu, dan tidak dewasa. Tapi jika kamu melihat ada seseorang yang melakukan hal itu, harusnya kamu tahu bahwa itu merupakan satu cara seseorang menyalurkan amarahnya dengan tidak merugikan orang lain. Jadi, keinginan menyalurkan amarah tidak membawa korban kekerasan dengan memukul orang lain, atau melempar tubuh lawan bicara meski mungkin dalam benak orang tersebut seperti sedang melampiaskan amarahnya pada orang yang membuatnya kesal. Jadi, jika memilih cara cepat seperti ini juga mesti lihat-lihat dan kira-kira ya... jangan sampai salah sasaran atau justru melukai diri sendiri kayak nendang mobil misalnya. Sakiiiit. Sering lihat adegan kayak gitu di sinetron? Di dunia nyata juga ada, dan itu pilihan yang lebih baik daripada tindak kekerasan. Jika tidak ingin ekstrim kayak gitu, bisa dicoba cara katarsis lain.
Cara katarsis lain adalah dengan berteriak keras-keras. Dalam ilmu psikologi, berteriak keras dan sebebas-bebasnya bisa menjadi cara untuk mengeluarkan energi menumpuk dan beban yang menyesak dalam jiwa seseorang. Seolah dengan keluarnya suara teriakan, keluara pula sampah-sampah yang memenuhi jiwa seseorang. Hal yang dapat dirasakan setelah berteriak keras adalah rasa plong, lega, dan tubuh terasa lebih ringan. Nha, tapi... ya harus liat situsi juga kali ya... Jangan sampai teriakan kamu yang dimaksudkan sebagai katarsis justru mengundang masalah baru, yaitu digrebek tetangga karena mengganggu kenyamanan hidup mereka, atau justru kamu dapat cap baru sebagai orang gila. Hahaha! Ya... teriaknya cari lokasi yang tepat dong... misalnya di tengah hutan belantara, di atas gunung, atau di dalam gedung dengan pengedap suara. Dalam praktek terapi psikologi biasanya disediakan ruangan khusus untuk pengobatan seperti itu.
Nha, sehubungan dengan cara katarsis dengan berteriak tersebut, kamu bisa kok melakukan teriakan yang lebih sopan dan tidak begitu mengganggu stabilitas kenyamanan orang lain, yaitu dengan olah suara seperti menyanyi, main teater, dan mendeklamasikan puisi. Yuhuuuuu... ini sih keren! Apalagi jika kebetulan kamu punya suara oke. Kamu bisa menyanyi di kamar mandi (Ups... sopan nggak ya?), di kamar, di dapur, sekalian di studio atau di atas panggung. Maen teater juga bisa di dalam ruangan atau alam terbuka bareng banyak teman, juga bisa dipentaskan sekalian pas ada acara gebyar seni misalnya. Begitu juga dengan deklamasi puisi. Walaupun untuk menyanyi di rumah harus kira-kira waktunya juga, setidaknya bukan di malam buta saat semua orang pada tidur nyeyak. Nha, katarsis dengan menyanyi ini, kalau pas kebetulan situasinya nggak tepat, paling-paling dapat komentar gini, “Enak ya dengerin kamu nyanyi? Tapi lebih enak lagi kalau kamu diem...”  Hehehe... sebisa mungkin tetep liat sikon lah ya...
“Ada cara lain nggak?” Tenang... masih banyak cara kok. Cara berikutnya yang bisa kamu pilih adalah dengan menulis. Ya, menulis. Tulislah segala uneg-uneg dan beban di hatimu di atas kertas hingga kamu puas. Tulis apa saja yang terpikir olehmu, keluarkan dan keluarkan semuanya. Lalu kau bisa membuang kertas coretan tersebut ke tempat sampah! Aatau kau bisa menuliskan segala kegalauanmu, rasa kesalmu, nama orang yang bikin kamu bete, di papan tulis. Tentu ketika tidak banyak orang ya... Nha, puas? Hapus dah semuanya sampai bersih sih sih! Plong, kan? Cara ini relatif aman dan tidak berpotensi mengganggu lingkungan sekitar. Apalagi jika kamu suka dan menikmati kegiatan merangkai kata. Nulisnya bisa diolah menjadi sebuah karya yang enak dibaca dan bisa dinikmatiorang lain, atau setidaknya bisa dinikmati sendiri sebagai bahan refleksi diri di lain hari. Tulisan itu bisa berupa curahan hati pada buku diari, paparan kisah nyata, atau dalam bentuk karya fiksi seperti cerpen bahkan novel. Jika kamu rutin melakukan hal ini, dan kamu tekuni dengan baik, maka bisa berbuah rejeki lho...
Nha, baru-baru ini kamu-kamu pasti keranjingan main facebook ya? Atau twitter? Atau friendster? Atau Path? Atau media sosial lain? Nha... nha... nha... eng ing eng! Ini dia media katarsis yang sekarang ini paling banyak diminati. Nggak tua, nggak muda, nggak sedengan, hampir semua aktif di media medsos. Pernah baca status teman yang kamu pikir lebay, cengeng, jutek? Ada baiknya kamu tidak ber-negative thinking dulu ya... Tahu nggak? Teman kamu itu lagi melakukan yang namanya katarsis, sadar atau tidak sadar. Masalah dan beban pikiran yang menyesak memang harus segera di selesaikan. Tapi kan belum tentu semua itu bisa diselesaikan seketika. Belum tentu juga di sampingnya ada temen yang bisa diajak curhat saat itu juga. Nha, temen fbmu itu perlu penyaluran emosi untuk membuang energi negatifnya. Akhirnya dengan fasilitas yang sangat mudah tersedia sekarang ini, temanmu nge-share masalah atau beban hidup yang menyesak itu ke dalam bentuk postingan status. Dan karena tahu masalahnya telah berhasil dikeluarkan dengan berbagi kata-kata di fb dan sejenisnya, maka perasaan menjadi lebih ringan, meski masalahnya belum terselesaikan. Jadi, kamu lebih memilih risih dan mencibir pada teman yang sering curat di status, atau memilih peduli dan membantu masalahnya dengan bersedia diajak sharing? Atau ada teman yang curhat tentang kebahagiaan atau kebrhasilannya, sebaiknya kamu nggak langsung  ngecap dia pamer atau membanggakan diri. Positive thinking aja kali ya bahwa temenmu itu butuh tempat berbagi kebahagiaan yang juga merupakan sebuah katarsis seperti yang udah disebut di atas. Atau... jangan-jangan kisah update status curhat itu nggak cuma dialami temenmu, tapi kamu juga kayak gitu? Hahaha... tenang.... itu hal wajar kok asalkan tidak menyebarkan keburukan orang lain dengan menyebut nama sehingga merugikan dan mencemarkan nama orang tersebut.  Jadi... katarsis dengan masih dalam koridor aturan kali ya?
Terus... masih ada cara lain lagi nih, belum kehabisan stok hehe, yaitu katarsis dengan  bermain air. Kayak anak kecil? Ah, nggak juga. Pernah nggak kamu lihat adegan sinetron (sinetron lagi...), seorang tokoh yang sedang emosi lari ke dalam kamar mandi lalu mengambil air dengan gayung, di buang, ambil lagi, buang lagi, begitu seterusnya hingga air di dalam bak mandi habis. Atau sekalian ia mengguyur tubuhnya dengan air sebanyak mungkin. Nha, itu sih cara katarsis yang agak ekstrim kali ya... Bermain air jenis yang wajar dan tak perlu membuat ibu uring-uringan karena air di bak habis, ada kok...! Contohnya berenang, terjun dan sekadar bermain - main di dalam kolam renang, main air di sungai, mandi di laut, surfing, berperahu dayung, hujan-hujanan, atau ikutan arung jeram sekalian. Asal nggak lupa pakai minyak kayu putih setelahnya ya, biar nggak malah jadi masuk angin. Kegiatan yang bersentuhan dengan air memang menyegarkan, baik fisik maupun psikis. Cara katarsis dengan air ini disebut dengan hydrotherapy. Mandi, juga berwudlu, bisa juga masuk dalam kategori hydrotherapy ini. Yang pasti setelah mandi atau wudlu, hati jadi lebih segar dan ringan kan?
Ada lagi lho variasi cara katarsis yang lain. Yaitu dengan bepergian ke tempat yang baru seperti pikinik ke gunung, kebun teh, atau pantai dan menikmati suasanan yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, backpakeran juga berguna untuk katarsis lho.... Selain itu bisa dengan pergi mengunjungi saudara yang jauh, nginep di rumah saudara atau teman untuk refreshing.
Eits... jangan buru-buru pergi ya... masih ada satu info lagi tentang cara katarsis, yaitu dengan berolahraga. Denger eh.. baca kata olahraga, kayaknya langsung seger ya? Atau malah loyo duluan? Hehehe. Gini nih ya... sebenernya olahraga merupaka kebutuhan penting bagi tubuh manusia, baik suka atau tidak suka, hobi atau bukan hobi. Beruntunglah kamu yang punya hobi berolahraga. Sebaiknya kamu mempunyai minimal satu jenis olahraga yang rutin kamu lakukan, minimal seminggu sekali deh... syukur-syukur bisa setiap hari. Karena eh karena, olahraga selain bermanfaat untuk menjaga kelancaran metabolisme tubuh, juga berfungsi sebagai penyalur keluarnya energi negatif ataupun positif yang menumpuk dalam diri kamu. Gerakan tubuh yang dinamis seperti jalan kaki, besepeda, lari, senam, sepak bola, volly, badminon, dan sekian macam jenis olahraga mampu membuat emosi terpendam itu tersalurkan, terpuaskan tanpa merugikan orang lain, bahkan justru sangat menguntungkan asalkan tidak melebihi porsi maksimal agar tidak justru menjadi kecapekan dan jatuh sakit. Nha, jadi kenapa harus malas berolahraga, Guys?
Apa hanya yang sudah disebutkan itu saja cara buat katarsis? Hmm belum puas juga? Kamu punya hobi nggak sih? Setiap orang pasti punya hobi kan? Nha... nggak usah sulit-sulit deh, ikuti hobimu itu, ikuti kata hatimu. Salurkanlah hobimu, maka tersalur juga emosi dan energi menumpuk yang jadi sampah di tubuh dan jiwamu. Hobi melukis, membuat layangan, main layangan, memancing, main musik, berpetualang, bersepeda, bermain clay..., apa lagi ya? Kamu nggak salah kok menyalurkan hobimu asalkan kamu benar-benar menikmati, tidak merugikan orang lain, dan tidak justru membuatmu stress  seperti tiba-tiba jadi punya hutang gedhe sama renternir misalnya. Jadi, sebaiknya kamu bisa lah menyesuaikan hobimu dengan doku yang ada. Ya nggak sih? Sepeti menyanyi dan menulis yang sudah lebih dulu disebut di atas, hobi jika ditekuni dengan sedikit keseriusan bisa jadi passion yang mnghasilkan juga lho... Tapi sebagai katarsis, tak apalah jika kamu hanya mengerjakan hobi untuk kenikmatan saja tanpa komersialisasi. Kan yang penting membuang energi menumpuk dan hidup jadi  hepi lagi..., ya nggak?
Nha, gimana nih, udah pada paham kan apa dan bagaimana manfaat katarsis? Memang, katarsis tidak akan langsung membuat masalahmu terselesaikan. Tapi... sekali lagi katarsis sangat bermanfaat untuk membuang tumpukan energi yang menjadi sampah merugikan di dalam diri seseorang, sehingga seseorang akan merasa lebih lega, ringan, dan jernih otak dan hatinya. Jadi, melakukan katarsis bukan berarti tidak bersyukur. Justru katarsis menjadi pendamping agar kita tetap bisa bersabar dan bersyukur karena kita tahu kemana menyalurkan energi sampah itu dengan baik. Nha, bukankah dengan otak dan hati yang jernih, seseorang akan lebih siap untuk memikirkan cara menyelesaikan masalahnya serta menjalani kehidupannya kembali yang nota bene akan selalu dihadapkan dengan tugas dan masalah?
Masalah memang bukan untuk ditinggal lari, tapi pergi sejenak untuk mengkatarsis diri akan sangat bermanfaat untuk memperolah energi baru yang fresh untuk berpetualang dalam kehidupanmu lagi. Kamu bisa memilih cara katarsis yang mana saja, atau mungkin mencobanya satu persatu. So pasti, Insya Allah hidup akan lebih indah dan berwarna... Selamat mencoba ya....

Penulis: Ella Sofa

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...