Minggu, 24 Agustus 2014

Kenalan dengan Katarsis, Yuk...!




Hai hai hai.... Apa kabar? Lagi senyum atau lagi manyun? Ngapain manyun? Lagi ada masalah serius nih? Nggak dapat solusi maknyus ya? Sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nggak optimal juga hasilnya? Atau merasa tak ada yang memperhatikan ide-ide cemerlangmu? Merasa semua orang memusuhimu? Merasa pelajaran dan tugas sekolah begitu suka membuntutimu? Atau... mungkin lagi bete karena merasa ditolak sang pujaan hati? Hihihi... banyak banget ya macam alasan anak muda untuk memilih manyun daripada tersenyum ceria.
Oke, oke... jangan tambah manyun gara-gara baca kalimat di atas ya? Manyun karena ada masalah atau beban pikiran yang menyesak itu hal wajar kok. Beneran...! Justru itu menunjukkan bahwa kamu-kamu masih normal, mampu berekspresi dengan semestinya. Tapi begini... masalahnya kalau perasaan marah, kecewa, sedih, dan sejenisnya (yang bikin susah senyum pokoknya) itu diterus-terusin tanpa ada penyaluran, maka kamu bakalan rugi lho... Tahu kan yang namanya depresi? Sesungguhnya hal-hal seperti itu yang dalam hal ini disebut sebagai energi negatif, perlu penyaluran. Nha... depresi bisa terjadi, saat seseorang tak lagi mampu menahan tumpukan beban dalam dirinya. Atau bisa dkatakan bahwa depresi adalah stres dalam skala agak parah. Ciri-cirinya? Kamu susah konsentrasi, gampang marah-marah, tidak berpikir jernih, hingga keinginan untuk bunuh diri. Atau pada beberapa orang tertentu akhirnya menderita yang namanya  bipolar disorder.
Memang, kita diajarkan untuk selalu bersyukur dan bersabar. Itu benar. Dengan bersabar dan bersyukur kita akan terhindar dari masalah yang lebih berat yang berkaitan dengan orang lain. Nha, mungkin karena khawatir kalau kamu menyalurkan rasa marah, kecewa, dan sedih tersebut kepada teman atau orang lain yang bersangkutan justru akan mengacaukan keadaan dan bukannya malah masalah selesai, maka kamu memilih menahannya sendiri. Kamu berusaha bersabar dengan merelakan diri menjadi tong sampah dari energi-energi negatif yang tidak tersalurkan tersebut.  Tapi, bagaimana dengan energi negatif yang masuk lagi ke dalam dan menumpuk di alam bawah sadar kita? Mungkin kita terhindar dari masalah dengan orang lain, tapi energi yang menumpuk tadi akan jadi penyakit jika tidak mendapatkan penyaluran lho... Nha.... hasilnya, pada satu titik, otak dan hati kamu merasa jenuh dan tak kuat menanggung beban energi negatif tersebut. Akhirnya tanpa kamu sadari, kamu menjadi seorang pemurung, sensitif, jutek, suka manyun, karena terlalu banyaknya tumpukan energi yang seharusnya dikeluarkan tersebut. Keadaan itulah yang disebut depresi.  Lalu bagaimana bisa jadi lebih bahagia jika sampah-sampah itu tidak kamu keluarkan?
Oya, energi yang menumpuk dalam jiwa itu nggak melulu energi negatif yang identik dengan sedih dan bete lho. Energi positif yang tidak tersalurkan juga bisa menumpuk dan menjejal sebagai sampah dalam jiwa. Lho, masak rasa bahagia bisa bikin depresi? Rasa bahagia yang dipendam sendiri, tidak tersalurkan, mungkin karena kurangnya sambutan rasa bahagia kamu dari orang-orang di sekitarmu, tak ada yang peduli bahwa kamu sedang bahagia, ternyata juga bisa tertimbun jadi sampah dalam diri.
Jadi... Yap! Betul banget, kamu harus keluarin sampah-sampah menumpuk dari dirimu agar terjadi keseimbangan lagi, atau yang namanya keadaan equilibrium. Jika tidak ingin tumpukan sampah itu menjadi penyakit psikis maupun fisik dalam dirimu. Penyakit fisik? Iya... penyakit fisik yang merupakan dampak dari keadaan psikis yang tertekan, seperti pusing kepala, maag, rasa lelah berkepanjangan, dan seterusnya yang lebih parah..
“Lalu gimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?”  Nha nha nha... pasti kamu nanya gitu deh... Gini nih ya, ada satu cara terapi yang bisa kamu lakukan yang namanya katarsis. Waduh, jenis terapi macam apa tuh katarsis? Katarsis adalah suatu upaya yang dilakukan sebagai cara mengeluarkan energi yang bertumpuk dalam pikiran, jiwa seseorang, agar kembali menjadi bersih, kembali menjadi seimbang, sehingga lebih ringan menjalani kehidupan. Definisinya kurang lebihnya kayak gitu deh. Adapun caranya bisa dengan berbagai macam cara lho... Kita bahas satu-satu yuk...!
Salah satu cara katarsis bisa dilakukan dengan langsung dan cepat yaitu dengan melampiaskan emosi saat itu juga, saat sedang menghadapi masalah. Kamu tidak harus marah pada orang yang bersangkutan (kecuali dengan menunjukkan marahmu berharap yang bersangkutan menyadari kesalahannya), tapi rasa marahmu bisa disalurkan dengan meninju angin, memukul bantal, atau melempar barang yang ada di dekatmu tanpa melukai orang lain.. Hahaha... mungkin ini terlihat konyol, lucu, dan tidak dewasa. Tapi jika kamu melihat ada seseorang yang melakukan hal itu, harusnya kamu tahu bahwa itu merupakan satu cara seseorang menyalurkan amarahnya dengan tidak merugikan orang lain. Jadi, keinginan menyalurkan amarah tidak membawa korban kekerasan dengan memukul orang lain, atau melempar tubuh lawan bicara meski mungkin dalam benak orang tersebut seperti sedang melampiaskan amarahnya pada orang yang membuatnya kesal. Jadi, jika memilih cara cepat seperti ini juga mesti lihat-lihat dan kira-kira ya... jangan sampai salah sasaran atau justru melukai diri sendiri kayak nendang mobil misalnya. Sakiiiit. Sering lihat adegan kayak gitu di sinetron? Di dunia nyata juga ada, dan itu pilihan yang lebih baik daripada tindak kekerasan. Jika tidak ingin ekstrim kayak gitu, bisa dicoba cara katarsis lain.
Cara katarsis lain adalah dengan berteriak keras-keras. Dalam ilmu psikologi, berteriak keras dan sebebas-bebasnya bisa menjadi cara untuk mengeluarkan energi menumpuk dan beban yang menyesak dalam jiwa seseorang. Seolah dengan keluarnya suara teriakan, keluara pula sampah-sampah yang memenuhi jiwa seseorang. Hal yang dapat dirasakan setelah berteriak keras adalah rasa plong, lega, dan tubuh terasa lebih ringan. Nha, tapi... ya harus liat situsi juga kali ya... Jangan sampai teriakan kamu yang dimaksudkan sebagai katarsis justru mengundang masalah baru, yaitu digrebek tetangga karena mengganggu kenyamanan hidup mereka, atau justru kamu dapat cap baru sebagai orang gila. Hahaha! Ya... teriaknya cari lokasi yang tepat dong... misalnya di tengah hutan belantara, di atas gunung, atau di dalam gedung dengan pengedap suara. Dalam praktek terapi psikologi biasanya disediakan ruangan khusus untuk pengobatan seperti itu.
Nha, sehubungan dengan cara katarsis dengan berteriak tersebut, kamu bisa kok melakukan teriakan yang lebih sopan dan tidak begitu mengganggu stabilitas kenyamanan orang lain, yaitu dengan olah suara seperti menyanyi, main teater, dan mendeklamasikan puisi. Yuhuuuuu... ini sih keren! Apalagi jika kebetulan kamu punya suara oke. Kamu bisa menyanyi di kamar mandi (Ups... sopan nggak ya?), di kamar, di dapur, sekalian di studio atau di atas panggung. Maen teater juga bisa di dalam ruangan atau alam terbuka bareng banyak teman, juga bisa dipentaskan sekalian pas ada acara gebyar seni misalnya. Begitu juga dengan deklamasi puisi. Walaupun untuk menyanyi di rumah harus kira-kira waktunya juga, setidaknya bukan di malam buta saat semua orang pada tidur nyeyak. Nha, katarsis dengan menyanyi ini, kalau pas kebetulan situasinya nggak tepat, paling-paling dapat komentar gini, “Enak ya dengerin kamu nyanyi? Tapi lebih enak lagi kalau kamu diem...”  Hehehe... sebisa mungkin tetep liat sikon lah ya...
“Ada cara lain nggak?” Tenang... masih banyak cara kok. Cara berikutnya yang bisa kamu pilih adalah dengan menulis. Ya, menulis. Tulislah segala uneg-uneg dan beban di hatimu di atas kertas hingga kamu puas. Tulis apa saja yang terpikir olehmu, keluarkan dan keluarkan semuanya. Lalu kau bisa membuang kertas coretan tersebut ke tempat sampah! Aatau kau bisa menuliskan segala kegalauanmu, rasa kesalmu, nama orang yang bikin kamu bete, di papan tulis. Tentu ketika tidak banyak orang ya... Nha, puas? Hapus dah semuanya sampai bersih sih sih! Plong, kan? Cara ini relatif aman dan tidak berpotensi mengganggu lingkungan sekitar. Apalagi jika kamu suka dan menikmati kegiatan merangkai kata. Nulisnya bisa diolah menjadi sebuah karya yang enak dibaca dan bisa dinikmatiorang lain, atau setidaknya bisa dinikmati sendiri sebagai bahan refleksi diri di lain hari. Tulisan itu bisa berupa curahan hati pada buku diari, paparan kisah nyata, atau dalam bentuk karya fiksi seperti cerpen bahkan novel. Jika kamu rutin melakukan hal ini, dan kamu tekuni dengan baik, maka bisa berbuah rejeki lho...
Nha, baru-baru ini kamu-kamu pasti keranjingan main facebook ya? Atau twitter? Atau friendster? Atau Path? Atau media sosial lain? Nha... nha... nha... eng ing eng! Ini dia media katarsis yang sekarang ini paling banyak diminati. Nggak tua, nggak muda, nggak sedengan, hampir semua aktif di media medsos. Pernah baca status teman yang kamu pikir lebay, cengeng, jutek? Ada baiknya kamu tidak ber-negative thinking dulu ya... Tahu nggak? Teman kamu itu lagi melakukan yang namanya katarsis, sadar atau tidak sadar. Masalah dan beban pikiran yang menyesak memang harus segera di selesaikan. Tapi kan belum tentu semua itu bisa diselesaikan seketika. Belum tentu juga di sampingnya ada temen yang bisa diajak curhat saat itu juga. Nha, temen fbmu itu perlu penyaluran emosi untuk membuang energi negatifnya. Akhirnya dengan fasilitas yang sangat mudah tersedia sekarang ini, temanmu nge-share masalah atau beban hidup yang menyesak itu ke dalam bentuk postingan status. Dan karena tahu masalahnya telah berhasil dikeluarkan dengan berbagi kata-kata di fb dan sejenisnya, maka perasaan menjadi lebih ringan, meski masalahnya belum terselesaikan. Jadi, kamu lebih memilih risih dan mencibir pada teman yang sering curat di status, atau memilih peduli dan membantu masalahnya dengan bersedia diajak sharing? Atau ada teman yang curhat tentang kebahagiaan atau kebrhasilannya, sebaiknya kamu nggak langsung  ngecap dia pamer atau membanggakan diri. Positive thinking aja kali ya bahwa temenmu itu butuh tempat berbagi kebahagiaan yang juga merupakan sebuah katarsis seperti yang udah disebut di atas. Atau... jangan-jangan kisah update status curhat itu nggak cuma dialami temenmu, tapi kamu juga kayak gitu? Hahaha... tenang.... itu hal wajar kok asalkan tidak menyebarkan keburukan orang lain dengan menyebut nama sehingga merugikan dan mencemarkan nama orang tersebut.  Jadi... katarsis dengan masih dalam koridor aturan kali ya?
Terus... masih ada cara lain lagi nih, belum kehabisan stok hehe, yaitu katarsis dengan  bermain air. Kayak anak kecil? Ah, nggak juga. Pernah nggak kamu lihat adegan sinetron (sinetron lagi...), seorang tokoh yang sedang emosi lari ke dalam kamar mandi lalu mengambil air dengan gayung, di buang, ambil lagi, buang lagi, begitu seterusnya hingga air di dalam bak mandi habis. Atau sekalian ia mengguyur tubuhnya dengan air sebanyak mungkin. Nha, itu sih cara katarsis yang agak ekstrim kali ya... Bermain air jenis yang wajar dan tak perlu membuat ibu uring-uringan karena air di bak habis, ada kok...! Contohnya berenang, terjun dan sekadar bermain - main di dalam kolam renang, main air di sungai, mandi di laut, surfing, berperahu dayung, hujan-hujanan, atau ikutan arung jeram sekalian. Asal nggak lupa pakai minyak kayu putih setelahnya ya, biar nggak malah jadi masuk angin. Kegiatan yang bersentuhan dengan air memang menyegarkan, baik fisik maupun psikis. Cara katarsis dengan air ini disebut dengan hydrotherapy. Mandi, juga berwudlu, bisa juga masuk dalam kategori hydrotherapy ini. Yang pasti setelah mandi atau wudlu, hati jadi lebih segar dan ringan kan?
Ada lagi lho variasi cara katarsis yang lain. Yaitu dengan bepergian ke tempat yang baru seperti pikinik ke gunung, kebun teh, atau pantai dan menikmati suasanan yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, backpakeran juga berguna untuk katarsis lho.... Selain itu bisa dengan pergi mengunjungi saudara yang jauh, nginep di rumah saudara atau teman untuk refreshing.
Eits... jangan buru-buru pergi ya... masih ada satu info lagi tentang cara katarsis, yaitu dengan berolahraga. Denger eh.. baca kata olahraga, kayaknya langsung seger ya? Atau malah loyo duluan? Hehehe. Gini nih ya... sebenernya olahraga merupaka kebutuhan penting bagi tubuh manusia, baik suka atau tidak suka, hobi atau bukan hobi. Beruntunglah kamu yang punya hobi berolahraga. Sebaiknya kamu mempunyai minimal satu jenis olahraga yang rutin kamu lakukan, minimal seminggu sekali deh... syukur-syukur bisa setiap hari. Karena eh karena, olahraga selain bermanfaat untuk menjaga kelancaran metabolisme tubuh, juga berfungsi sebagai penyalur keluarnya energi negatif ataupun positif yang menumpuk dalam diri kamu. Gerakan tubuh yang dinamis seperti jalan kaki, besepeda, lari, senam, sepak bola, volly, badminon, dan sekian macam jenis olahraga mampu membuat emosi terpendam itu tersalurkan, terpuaskan tanpa merugikan orang lain, bahkan justru sangat menguntungkan asalkan tidak melebihi porsi maksimal agar tidak justru menjadi kecapekan dan jatuh sakit. Nha, jadi kenapa harus malas berolahraga, Guys?
Apa hanya yang sudah disebutkan itu saja cara buat katarsis? Hmm belum puas juga? Kamu punya hobi nggak sih? Setiap orang pasti punya hobi kan? Nha... nggak usah sulit-sulit deh, ikuti hobimu itu, ikuti kata hatimu. Salurkanlah hobimu, maka tersalur juga emosi dan energi menumpuk yang jadi sampah di tubuh dan jiwamu. Hobi melukis, membuat layangan, main layangan, memancing, main musik, berpetualang, bersepeda, bermain clay..., apa lagi ya? Kamu nggak salah kok menyalurkan hobimu asalkan kamu benar-benar menikmati, tidak merugikan orang lain, dan tidak justru membuatmu stress  seperti tiba-tiba jadi punya hutang gedhe sama renternir misalnya. Jadi, sebaiknya kamu bisa lah menyesuaikan hobimu dengan doku yang ada. Ya nggak sih? Sepeti menyanyi dan menulis yang sudah lebih dulu disebut di atas, hobi jika ditekuni dengan sedikit keseriusan bisa jadi passion yang mnghasilkan juga lho... Tapi sebagai katarsis, tak apalah jika kamu hanya mengerjakan hobi untuk kenikmatan saja tanpa komersialisasi. Kan yang penting membuang energi menumpuk dan hidup jadi  hepi lagi..., ya nggak?
Nha, gimana nih, udah pada paham kan apa dan bagaimana manfaat katarsis? Memang, katarsis tidak akan langsung membuat masalahmu terselesaikan. Tapi... sekali lagi katarsis sangat bermanfaat untuk membuang tumpukan energi yang menjadi sampah merugikan di dalam diri seseorang, sehingga seseorang akan merasa lebih lega, ringan, dan jernih otak dan hatinya. Jadi, melakukan katarsis bukan berarti tidak bersyukur. Justru katarsis menjadi pendamping agar kita tetap bisa bersabar dan bersyukur karena kita tahu kemana menyalurkan energi sampah itu dengan baik. Nha, bukankah dengan otak dan hati yang jernih, seseorang akan lebih siap untuk memikirkan cara menyelesaikan masalahnya serta menjalani kehidupannya kembali yang nota bene akan selalu dihadapkan dengan tugas dan masalah?
Masalah memang bukan untuk ditinggal lari, tapi pergi sejenak untuk mengkatarsis diri akan sangat bermanfaat untuk memperolah energi baru yang fresh untuk berpetualang dalam kehidupanmu lagi. Kamu bisa memilih cara katarsis yang mana saja, atau mungkin mencobanya satu persatu. So pasti, Insya Allah hidup akan lebih indah dan berwarna... Selamat mencoba ya....

Penulis: Ella Sofa
Reaksi:

8 komentar:

  1. wah baru denger istilah ini mak.. emang kalau depresi itu ga enak banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya mbak susan udah mampir.... iya, semoga bermanfaat

      Hapus
  2. sama, saya juga br denger istilah yg satu ini mak, tq infonya ya

    BalasHapus
  3. kalo dalam ilmu psikologi katarsis itu merupakan upaya psikoterapi yang digunakan untuk menghilangkan beban mental seseorang dengan cara menghilangkan traumanya, atau hal2 yang menyebabkan permasalahan. Metodenya bisa dengan cara sharing dengan orang lain. Mungkin diilmu lain cakupannya akan lebih luas. Karena katarsis juga bisa diartikan sebagai bentuk "Penyucian diri".

    *tulisannya bagus mbak, bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak.... makasih banget masukannya. Iya mbak, cara terbaik menyelesaikan masalah memang dengan menyelesaikan inti masalahnya....

      Hapus
    2. Jadi... guru saya itu kan sering dimintai tolong untuk mengatasi anak2 yang bermasalah, diantaranya yang depresi gitu. Nha... salh satu terapy yg beiau lakukan adalah membawa anak ke auatu ruangan lalu disuruh untuk mengungkapakan segala kepenatan hatinya dengan berteriak sampai puas. lalu setelah ia merasa cukup, baru ia bisa berbicara tentang apa yg menjadi masalahnya dengan lancar.... Nha, awalnya dari situ saya tertarik nulis ini... maaf jika masih acakadut dan mungkin kurang sempurna. Tapi ternyata katarsis tidak harus menunggu depresi dulu, gitu kayaknya mbak Sugi Hartati, dan bisa dilakkan dengan cara yang bervariasi....

      Hapus
  4. Banyak yang bilang saya ini pemarah dan masuk dalam katagori bipolar disorder loh Mbak..

    BalasHapus