Selasa, 09 September 2014

sholat juga katarsis lho....


Masih ingat dengan istilah katarsis yang pernah saya tulis? Iya, suatu metode untuk membersihkan diri dari tumpukan energi yang menjadi sampah dalam jiwa, atau istilah psikologisnya “Penyucian jiwa”. Tumpukan energi itu bisa berupa masalah-masalah kecil yang satu demi satu menumpuk dan tak pernah terselesaikan, atau suatu masalah besar yang menjadi momok dalam diri seseorang yang sangat susah diurai dan diatasi, atau beban pekerjaan dan tuntutan sosial yang makin hari makin membuat seseorang benar-benar bak tempat penampungan sampah sehingga ia tak memiliki sisa ruang kosong untuk merasakan kebahagian pribadi atau meraskan suasana free.
Ya, dalam tulisan itu saya sebutkan bahwa menendang barang di sekitar kita seperti kaleng, atau memukul bantal, saat emosi kita tak tertahan karena suatu masalah bisa juga dikatakan sebagai salah satu cara katarsis. Begitu juga dengan berteriak keras-keras disertai gejolak emosi, juga saya sebut sebagai salah satu metode katarsis. Ya.. seorang pakar psikologi yang kerap menangani masalah anak-anak yang depresi juga menggunakan metode berteriak agar si anak terbebas dari beban mental atau pikiran yang selama ini membuatnya “sakit”. Baru setelah ia merasa puas dengan therapy tersebut, sang therapist akan mulai mengurai masalah dengan mendengarkan penuturan si anak, tentu dengan cara komunikasi khusus.
Oke, selain menendang atau memukul atau berteriak yang identik dengan hal “negatif” , masih ada beberapa cara katarsis yang saya sebutkan dalam artikel tersebut, yaitu dengan cara –cara yang lebih “kalem”, ramah, halus, dan terarah. Contohnya adalah olah vokal (menyanyi, baca puisi, main teater), bermain air (berenang, surfing, arung jeram, mandi sepuasnya), menulis (curhat, diary, atau sekalian membuat fiksi atau artikel), olahraga, dan melakukan hobbi.
Semua cara yang bisa membuat kita merasa plong dan lega tersebut bukan berarti selalu pas dan tepat untuk mengkatarsis diri dari beban pikiran. Kita tetap harus tahu batas-batas kesopanan, menghargai privaci dan harga diri orang lain, serta tentu saja tidak melanggar aturan agama. Tetap tergantung seperti apa masalah atau beban yang sedang kita hadapi, juga untuk setiap orang memang memiliki kecenderungan yang tak harus sama dalam memilih metode katarsis yang cocok untuknya.

Katarsis Versi Islam

Saya sempat menyebutkan bahwa berwudlu atau mandi yang dalam agama islam sangat ditekankan (bahkan wajib) juga salah satu bentuk cara berkatarsis. Di sini saya tertarik membahas hal ini lebih jauh. Saya ingin membicarakan metode katarsis dalam lingkup agama Islam. Masuk akal nggak sih?
Jika dalam Yoga merupakan suatu metode penyucian diri atau bisa disebut katarsis, maka menurut saya, syah-syah saja jika saya menyebut sholat dalam agama Islam juga bisa disebut metode katarsis. Tapi, sungguh bukan maksud saya untuk membandingkan atau mencari tandingan dalam beragama, tapi saya hanya ingin mengemukakan pendapat saya bahwa dalam agama Islam pun ada metode-metode katarsis, yang mungkin selama ini tak kita sadari karena kita tidak tahu atau mungkin karena kita kurang maksimal dalam menjalankan katarsis (baca: ritual agama) tersebut.
Jadi, Allah memerintahkan hambanya untuk menjalankan ritual ini dan itu bukan tanpa maksud dan manfaat. Saya mungkin tidak akan berlama-lama di ranah dalil atau pahala yang insyaallah sudah banyak sekali yang sudah membahasnya. Tapi saya lebih tertarik untuk meninjaunya dari sudut kesehatan khususnya kesehatan jiwa atau psikologi.

 Ajaibnya sholat

Ritual keagamaan wajib yangs senantiasa kita lakukan setiap hari adalah sholat sekaligus dengan wudlu sebagai rangkaiannya. Apa yang kita rasakan saat pagi hari bangun tidur membasuh wajah tangan dan kaki dengan air wudlu? Rasa kantuk yang masih menggayut seketika berkurang atau bahkan hilang.
Lalu siang harinya, saat lelah dan kantuk mulai terasa, serta saat ketahanan oemosi seseorang telah sampai pada batasnya, kita diperintahkan untuk menjalankan sholat dhuhur. Alangkah segarnya air wudlu membasuh wajah kusut masai kita. Kita merasa sejuk dan segar di tengah hari yang panas. Nikmat sekali rasanya. Entah bagaimana ritual sholat di tengah hari itu rasanya memiliki fungsi untuk mengistirahtkan tubuh dan otak kita. Baik yang bekerja di luar rumah ataupun juga ibu-ibu yang mejalani hari-hari di rumah bersama anak-anaknya. Dan setelahnya, saya maupun pembaca yang melaksanakan sholat, seakan telah menjalani suatu terapi yang membuat tubuh, otak, dan hati menjadi fresh kembali dan siap menjalani aktifitas selanjutnya.
Demikian juga dengan waktu sholat ashar, magrib dan isyak. Dengan sendirinya waktu-waktu sholat tersebut menjadi pembatas hari, pembagi waktu dari satu sesi ke sesi lainnya. Waktu ashar mengingatkan kita untuk istirahat,  membersihkan diri atau mandi, dan lebih santai. Sebagian besar instansi pemerintah atau swasta pun memulangkan pegawai pada jam-jam ini, meski ada yang masih melanjutkan aktifitas hingga pukul lima. Atau justru bagi sebagian masyarakat, waktu ashar adalah pembatas hari di mana kita sudah harus beranjak dari waktu istirahat menuju aktifitas lagi. Waktu maghrib adalah pembatas hari di mana semua anak sudah harus di rumah, tidak berkeliaran main di halaman dengan teman-teman, pembatas waktu sore dan malam. Magrhrib menjadi awal untuk aktifitas semua anggota keluarga untuk di rumah (kecuali ada kepentingan khusus). Orang  tua membimbing anak mengaji, belajar, makan malam bersama, atau becengkerama di depan televisi. Sedangkan isyak, bagi Nabi Muhammad dulu setelah menjalankan sholat isyak beliau biasanya tidur untuk kemudian bangun di sepertiga malam untuk menjalankan sholat tahajjud. Khusus untuk kebiasaan tidur setelah isyak, ada sebagian keluarga muslim yang sudah menjalankannya, tapi juga ada yang masih menggunakan waktu habis isyak untuk beraktifitas.
Maksud saya menjabarkan bahwa waktu sholat dengan sendirinya menjadi batas hari dari sesi kegiatan satu ke kegiatan lain, adalah untuk menunjukkan betapa dengan sholat itu, kita seperti mendapatkan kembali semangat dan energi baru, lebih damai, lebih segar dan lebih ringan. Saat kita masuk dalam sholat dengan bertakbiratulihram disertai niat sungguh-sungguh dalam hati, kita seakan memasuki zona kesunyian yang terpisah dengan dunia luar.  Entah bagaimana, hadir rasa damai, tenang, nikmat, dan segala rasa gelisah atau istilah kerennya “galau” mendadak menyingkir. Apalagi jika kita mekanjutkannya dengan berdzikir, istighfar mengingat kesalahan-kesalahan yang kita perbuat baik kecil maupun besar, menyebut kebesaran dan kesucian Allah, berterimakasih pada kebaikan-kebaikan Allah, mengakui keesaan Allah. Betapa rasa damai mendadak mengalir deras hingga kadang membuat tubuh menjadi merinding. Dan...t ibalah saatnya kita curhat pada Allah, mengeluh, memelas, menceritakan semua hal yang membuat kita terbeban, yang membuat kita marah, yang membuat kita menangis, yang membuat kita tak bisa berpikir jernih. Lalu kita meminta dengan sangat pada-Nya, dengan bercucuran air mata, agar dicarkan jalan keluar, agar dimudahkan, agar dikawal dan ditunjukkan jalan yang benar, dan diberi yang terbaik dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Apa yang kemudian kita Rasakan? Apa yang sesungguhnya telah kita alami saat menjalankan sholat tersebut? Tiba-tiba semua terasa ringan, lega, plong, dengan sendirinya kita percaya bahwa semua masalah kita pasti ada jalan keluarnya,  meski kita belum tahu pasti solusi seperti apa yang akan kita dapatkan. Aktifitas dari mulai berwudlu hingga selesai berdoa dengan sungguh-sungguh dan khusyuk itulah yang akhirnya berani saya namakan dengan katarsis versi agama Islam.
Jadi bersyukurlah kita yang beragama Islam, bahwa Allah telah memberi kita fasilitas atau metode terapi katarsis yang bernama sholat. Jika kita mampu menjalankan terapi sholat dengan sungguh-sungguh dan rutin ini (tentu bukan sholat yang asal ngisi daftar absen), maka insyaallah kita tak perlu merogoh kocek mahal-mahal untuk ke seorang psikolog, kita tak perlu menjadi depresi, atau minum obat penenang. Apalagi jika rutin menjalankan sholat sunnah tahajjud dengan khusuk pula.
Namun, terapi sholat tak menutup pentingnya peran jenis katarsis lain seperti dengan menulis, menyalurkan hobi, berpiknik, olahraga, dll. Bahkan, kombinasi dari sholat yang khusyuk dengan metode katarsis lain (tentu yang tidak ekstrim dan sesuai dengan minat kita)  insyaalah akan  membuat jiwa kita makin sehat. Juga, untuk orang-orang tertentu yang telah masuk pada fase depresi atau bahkan lebin parah, ya memang seharusnya mendapat penanganan khusus agar kembali berada dalam keadaan equilibrium atau seimbang, untuk kemudian dibimbing untuk bisa melakukan sholat dengan rutin dan khusyuk.
Secara psikologis (saya tidak mengatakan benar atau salahnya masing-masing ajaran), jika kita tahu dan bisa mengambil manfaatnya, maka sholat, semedi, ataupun yoga bisa dikatakan memiliki fungsi yang sama yaitu untuk “menyucikan jiwa” atau katarsis. Fungsi katarsis itu tentunya akan berlaku ketika dalam melaksanakan sholat kita memenuhi beberapa syarat berikut:
Tidak tergesa-gesa (tepat waktu, tidak takut kehabisan waktu)
Tumakninah (menghayati setiap gerakan da ucapan, sebisa mungkin mengerti arti bacaan sholat)
Ikhlas, tidak terpaksa atau karena takut pada seseorang
Ada kemauan untuk khusyuk (karena khusyuk juga tidak mudah)
Benar-benar ingin menjadikan sholat sebagai sarana berserah pada Allah
Maka, marilah kita syukuri perintah Allah yang sejatinya adalah fasilitas untuk kita juga ini, dengan memperbaiki kualitas sholat kita, belajar untuk menambah ilmu tentang gerakan dan bacaan sholat yang benar serta makna setiap bacaanya, serta tentu saja berusaha agar sholat kita tepat waktu.
Demikian ulasan saya, semoga bermanfaat....l
Reaksi:

4 komentar:

  1. Betul, mak Ella. Sholat itu adalah sarana komunikasi dengan Sang Maha Sutradara Kehidupan.

    BalasHapus
  2. Saya pernah dengar kata katarsis tapi baru kali ini paham maksudnya. Islam memang telah menyediakan solusi atas masalah umatnya..Subhanalloh

    BalasHapus
  3. Katarsis dari bahasa Yunani: κάθαρσις, diungkapkan para filsuf Yunani merujuk pada upaya "pembersihan" atau "penyucian" diri, pembaruan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. Apakah tradisi Islam mengenal katarsis?
    Istilah dalam Islam yg barangkali mendekati konsep katarsis adalah zakat (menyucikan diri & harta), atau thoharoh (menyucikan dari najis dan hadats). Sementara sholat lebih bermakna penghormatan, dan zikir berarti menyebut & mengingatkan. Islam juga mengenal tasbih yg lebih dipahami sbg upaya mensucikan Allah semata, daripada pembersihan/penyucian diri kita sendiri. Bbrp istilah di atas, kendatipun memiliki kedekatan semantik dg kata katarsis, namun memiliki konsep & implikasi yg cukup berbeda. Atau setidaknya, Islam menolak konsep2 spt baptis sbg proses katarsis.
    Konsep syukur, mengajak kita untuk fokus pd anugrah, bukan pd nestapa (bandingkn dg ascetisme Budhis). Konsep sholat mengajarkan pentingnya penghormatan pd kebesaran Gusti, daripada melawan kehendak-Nya. Konsep Zikir lebih mengarah pd menyebut, mengingat & merenungkan kebesaranNya untuk mengendapkan & menenangkan hati, bukan justru sebaliknya melepaskan id dan ego dalam pengertian psychology Freudian/ psycoanalize.
    Apakah Sholat merupakan katarsis?
    Tradisi untuk membenarkan agama dg dalil2 sain tentu saja sangat menarik. Dalam tradisi kristen, Thomas Aquinas dianggap mampu menyandingkan dogma gereja & sains. Kita juga mengenal Mukti Ali dg konsep scientific cum doctriner dan al-Faruqi dg konsep islamisasi sains. Dalam aspek pembelaan ini, konsep kuntowijoyo dg Ilmu profetik bisa didekatkan dg kepentingan ini.
    Hemat saya, Kitab Risalatus sholah dari Mahmud Thoha bisa menginspirasi utk memberikan alternatif yg berbeda dg tokoh2 sebelumnya. Tradisi sufistik yg dijunjung Thoha, mendekatkan kita pada pemikiran Rumi, Ibn Arabi & al-Ghozali.
    Sukses slalu untuk Mbak Ella.

    BalasHapus
  4. iya pak qowim, zakat adalah cara membersihkan diri. agar apa yg menjadi hak org lain di harta kita tersampaikan. Zakat membuat kt menjadi"suci kembali". kemudian mengapa saya menyebut sholat jg katarsis, saya lebih meninjau dari segi psikologis, berdasarkan pengalaman pribadi juga sih..., Bukankah ketika kita sholat khusyuk, menghayatinya, kemudian menangis kepada-Nya, minta dosa2 diampuni, lalu berdoa agar segala amanah bisa dijalani dengan baik, segala pesoalan di mudahkan, bercerita tentang isi hati pada Allah, setelahnya akan terasa berbeda? itulah saat di mana proses katarsis terjadi. Tiba-tiba otak dan hati kita menjadi bersih kembali, plong, dan lebih ringan dalam melangkah, Mekaten, semoga tidak ada pertentangan karna ini bukan memperdebatkan dalil. Hanya tinjauan dr segi psikologis. trims....

    BalasHapus