Sabtu, 26 Desember 2015

Wisata Goa Kreo, Gunung Pati, Semarang, Kereeeen Bangetz!

          Sebagai orang Jawa Tengah, saya termasuk orang yang jarang jalan-jalan ke tempat wisata, pun tempat-tempat wisata di jawa tengah. Siang  itu saya dan adik-adik serta anak-anak saya tentu saja, sedang mengantar ayah-ibu ke bandara. Mereka akan terbang ke Lampung sore harinya. Karena perjalanan dari Jepara ke Semarang lumayan tidak sebentar, rasanya sayang jika kami tidak sekalian mampir ke tempat lain. Ada mendapat informasi jika ada sebuah tempat wisata yang lokasinya tak jauh dari Bandara Udara Ahmad Yani, yang namanya Goa Kreo. Meski saat itu orang satu mobil termasuk sopir belum pernah singgah ke tempat itu, tapi ternyata tak begitu sulit untuk sampai ke tempat wisata Goa Kreo tersebut. Dan tak ada setengah jam kami sudah tiba di sana.
          Rasa hati saya berdebar-debar saat kaki-kaki kami baru saja berjalan di bawah gapura selamat datang, karena penasaran oleh informasi yang kami dapat bahwa tempat ini sangat indah dan unik, karena di sana kita akan disambut oleh kawanan monyet yang bebas berkeliaran yang tak segan mendekat dan mengikuti pengunjung.
          Dan memang, begitu masuk ke temapt parkir di mana di sana juga berderet warung-warung kecil penjual makanan dan minuman ringan, sekelompok monyet langsung menyerbu. Antara senang dan takut, anak-anak serta ponakan saya menjerit-jerit sambil berlari atau melompat-lompat. Tapi bagi saya, ini sungguh sesuatu yang luar biasa. Tiba-tiba saya sangat bahagia menikmati sambutan alam saat pertama masuk ke tempat wisata ini. Monyet-monyet yang mendekat-dekat minta diberi cemilan, pemandangan indah menghijau yang siap telah menanti untuk saya jelajah lebih lanjut, serta udara yang sejuuuk. Wow.... rasanya saya akan betah.
          Untuk beberapa saat kami asyik dengan monyet-monyet itu. Ada yang taua, dewasa, remaja, bahakan yang masih imut dan masih nempel serta menyusu ibunya juga ada. Lucuuuu... ada yang tenang makan setelah kami beri krupuk. Ada yang rebutan makanan sama temannya. Bahkan, ketika plastik kresek yang kami ditenteng adikku terbuka, seekor monyet mengambil sepotong kue bolu. Kami tertawa geli melihat tingkah mereka.
          Dari tempat parkir kami menyusuri jalan menuju danau, tepatnya bendungan karena ternyata ini danau buatan. Jalan yang kami tak hanya lurus atau datar, akan tetapi naik turun. Jadi ada semacam tangga-tangga beton yang harus kami lalui, yang di bagian kanan kirinya berhiaskan patung monyet.  Tak berapa jauh, kami sampai di jembatan yang membentang di atas danau.  Danau ini.... airnya tenang...., dikelilingi oleh hijaunya pepohonan yang rimbun, dan sore itu dipayungi oleh langit biru jernih bersulamkan awan-awan putih tipis serta kepak-kepak kecil sayap hitam yang terbang berkelompok dengan manisnya. Subhanallah....indahnya....!
          Jembatan yang kami susuri di atas danau ini cukup panjang, dengan bagian kanan-kiri dilindungi oleh pagar besi, dan di beberapa bagian terdapat juga patung monyet. Benar-benar jadi maskot di sini nih teman kita yang satu ini. Dari jembatan ini, kita bisa menikmati ketenangan dan keindahan danau yang bagi saya sungguh bisa menjadi terapi soule detox. Di sini, saya sekali lagi mengakui, bahwa refreshing hati dengan berwisata itu sangat perlu. Semilir angin yang mempermainkan baju dan kerudung saya, benar-benar membahagiakan. Terimakasih, Ya Allah...saya diberi kesempatan menikmati suasana indah ini. Jika memungkinkan, dan tak ada amanah lain yang harus saya kerjakan, saya ingin seharian duduk di tepian jembatan hanya untuk menatapi tenangnya danau ini.
Ohya, ternyata danau ini memiliki nama sendiri seperti yang tertera di atas salah satu bagian tanggul danau, yaitu Bendungan Jatibarang. Ohya, sebagian danau nampak alami dengan garis pinggir airnya yang langsung bersentuhan dengan tanah, di separuh bagian lainnya nampak sebagai bendungan atau waduk buatan dengan tanggul di bagian pinggirnya. 
Anak-anak berlarian gembira menyusuri jembatan nan indah ini. lalu, sampailah kami di ujung jembatan. Jalanan yang kami lalui mulai menanjak, dan lumayan sempit. di bagian kiri dinding tebing, di bagian kanan.... danau yang setia menemani perjalanan kami. Jika kami terus berjalan, maka seharusnya kami akan sampai di goa yang disebut Goa Kreo tersebut. Tapi..., tapi kami urung sampai masuk ke dalam goa, karena sekawanan monyet menghadang kami. Seperti monyet-monyet sebelumnya, mereka juga mendekat untuk minta cemilan makanan yang kami bawa. Tapi kali ini monyet-monyetnya lebih agresif. Apalagi, dari atas tebing sebelah kanan kami, beberapa ekor monyet bergelantungan dan berloncatan ke bawah, ke arah kami tentunya. Anak-anak takut, dan berlarian dengan berbalik arah menuju jembatan lagi. Kata orang sih, kalau monyet-monyet itu tahu bahwa kita membawa tas kresek atau kantong yang berisi makanan, maka mereka akan mengikuti dan minta makan terus.  Nha... kebetulan adikku memang saat itu menenteng plastik kresek berisi makanan. Hmmmm... makanya.
          Oke, akhirnya kami berbalik arah, kembali menyusuri jembatan panjang di atas danau tenang nan menghanyutkan.  Perjalanan kembali di atas jembatan pun tetap menyenangkan. Kami sempat mengambil beberapa gambar untuk mengabadikan momen tak terlupakan ini. Untuk lebih jelasnya, melihat foto-foto hasil jepretan amatiran ini inshaallah akan lebih memuaskan. “Suatu hari saya pasti akan kembali ke tempat ini, pasti....,” bisik hati saya yang bahagia ini.






Jumat, 11 Desember 2015

Curhatku..... (Beberapa hari yg lalu)


Malam ini, saya ingin mulai lagi menulis setelah hampir sebulan atau bahkan lebih saya tak menghasilkn tulisan apa- apa. Paling hanya nulis status-status di fb atau komen di grup wa. Tak seperti biasanya, rasa lelah yang menghinggapi tubuh ini tak jua mampu membuat saya terlelap. Ada sesuatu yang berbeda, yang seakan mengganjal mata ini hingga susah menutup. Saya tidak bisa tidur. Rasanya saya harus melakukan suatu hal yang bisa membersihkan ganjalan-ganjalan tersebut agar mata ini mudah lelap dengan tenang dan damai.  Akhirnya...saya teringat laptop hijau tosca (kata suami saya biru muda) yang selama ini menjadi teman saya “bekerja” dan menghibur diri. Rasanya saya belum bisa mulai “bekerja” lagi dengan lepi kesayangan ini. Jadi anggap saja saya sedang melakukan hal ke dua, yaitu menghibur diri, meski sesungguhnya istilah itu juga kurang tepat. Kata-kata menghibur diri hanya akan memancing persepsi bahwa saya sedang sedih. Saya tidak ingin disebut sedang sedih, tapi saya memang butuh “rasa bahagia”.  Nha, pasti akan timbul pertanyaan bagi yang membaca, artinya saya sedang tidak bahagia? Mengapa saya tidak bahagia? Kemalangan apakah yang menimpa saya hingga saya tidak bahagia? Saya memiliki segalanya, benar, tak ada alasan wajar yang membuat orang lain maklum jika saya bilang saya tidak bahagia. Justru saya akan mendapat cap sebagai manusia yang tidak bersyukur, tidak bisa menikmati pemberian-pemberian Allah.... 
Ah... bagi manusia bijak nan penuh dengan pikiran positif pasti tidak akan semata menilai saya dengan pandangan prihatin karena saya tidak bisa mensyukuri hidup, karena saya tidak dewasa dan egois. Yang saya harapkan adalah mereka atau kalian yang membaca tulisan ini akan memiliki pikiran yang sama dengan saya, yaitu...bahwa saya sedang belajar memaknai hidup, mensyukurinya, dan menikmatinya dengan rasa bahagia. Pasti kalian penasaran, sesungguhnya apa yang ingin saya tuliskan atau apa sih yang sedang saya alami sehingga mengawali tulisan dengan gaya orang lagi “galau”?

Rabu, 08 Juli 2015

Oleh Seorang Sahabat, Tetang Aku...

Bukannya saya yang sudah narsis ini ingin tambah narsis. Tapi ulasan tentang profil saya yang ditulis oleh seorang teman ini ingin saya abadikan di sini, sebagai bentuk ungkapan rasa terimakasih saya. Dia dan saya memang jauh, bahkan bertahun-tahun tak pernah bersua. Namun kecanggihan dunia elektronika telah menakdirkan dia dan saya bertemu lagi meski secara maya. Jika kami  bertemu di dunia maya, benarkah dia maya? Saya pun maya? Nyatanya saya sering berdiskusi dengan dia tentang banyak hal. Akhirnya saya tak peduli apakah persahabatan itu sekedar ruang pengisi waktu sela di antara rutinitas, sarana hiburan, dan sejenisnya. Yang pasti, dia sangat berarti.

Nha, inilah hasil karya teman saya yang baik hati dan ramah ini, tentang saya. Terus terang saya tak sehebat seperti yang disebut dalam ulasannya. Sebagian isinya benar, sebagian lagi... semoga suatu saat menjadi benar :D. Apapun itu, kuharap kebaikan-kebaikan yang tersebut dalam tulisan di bawah ini adalah doa, meski sekali lagi... aku masih jauh dari kata "hebat". Selamat membaca...


Rika Haryani, Tentang Ella Sofa

Ini penting bagi Anda.
Dan Anda perlu tahu yang ini.
Irkhamna Faelasofa atau lebih dikenal dengan nama beken Ella Sofa. Profil ibu rumah tangga yang lembut dan sabar ini telah menelurkan kembali buku keren dengan judul "Sembuh dari Minder n Pede Aja Kali!"
Bisa kebayang kan, serunya buku itu. Diangkat dari true story, lho. Dan tahu ga, Ella Sofa juga sebelumnya sudah menulis novel "Rena Masih ada Cahaya," "Temui Aku di Surga". Ini pasti ibu rumah tangga kereeen euuyy.... Sempat-sempatnya nulis, padahal sudah memiliki 1 putri, Najwa, dan 2 putra, Sadiid dan Azka.
Ella Sofa yang lahir tahun 1979 dan kini tinggal di Jepara, sudah menorehkan prestasi dalam karier menulisnya. Mau tahu? Ini nih, ....
- 5 besar lomba novel di penerbit leutika prio, dengan judul "Rena Masih Ada Cahaya"
- juara harapan satu lomba karya tulis ttg Wisata di Jepara.
Ukiran prestasi tersebut bukan tanpa sebab, karena Ella Sofa sudah sangat produktif menulis dalam buku-buku antologi sekitar 20 karya. Memuat kisah sejati, cerpen, artikel, dan puisi. Ella juga banyak kontribusi di ummi online dan annida online berupa artikel-artikel islami.
Suaminya, Arif Zubaidi, tentu sangat mendukung aktifitas menulis Ella. Dan Ella sangat ingin kemampuan menulisnya semakin terasah dan bermanfaat juga buat orang lain. Karena itulah, menjadi guru ekskul jurnalistik menjadi pilihannya pula. Ilmu akan semakin melekat bila kita mengajarkannya. Ini alasan mengapa Ella memilih mengajarkan jurnalistik di salah satu sekolah dasar di kota Jepara.
Mungkin kita tidak akan menyangka kalau Ella adalah alumni FKM UNAIR. So, ibu yang ayu ini adalah seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat. Wewwww... Tidak ada "bau" sastra sama sekali, ya dalam karier studinya. Ella juga sempat mengikuti diklat pendidikan DGSD S1+ KPI Surabaya selama setahun penuh. Nah, buat apa ikut diklat selama itu? Yaa.. Supaya jadi ibu rumah tangga yang melek pendidikan juga dong... ( ini yg jawab teman diklatnya) kiki emotikon
Motivasi menulis Ella sangat tinggi. Katanya, "Nulis itu untuk berbagi. Terus, dari hasil tulisan itu sendiri, ketika dibaca orang lain dan membawa manfaat, maka akan melahirkan rasa bahagia yang berlipat-lipat, yang tidak bisa ternilai dengan uang. Saat menikmati proses nulis itu sendiri, apa yang ada dalam otak dan hati, bisa kita salurkan, sehingga membantu menyalurkan energi negatif agar tidak menumpuk dalam jiwa, ceile...."
Nah, itu yang Ella sampaikan. Nulis itu untuk berbagi, menebar manfaat untuk orang lain.
Ella juga kasih saran buat kamu yang pingin sukses nulis. Katanya begini, "Kalau pingin berhasil, ya harus istiqomah. Sepertinya simpel tapi praktiknya butuh perjuangan dalam melawan rasa ragu dan malas. Jangan lupa banyak membaca, latihan (menulis itu sendiri), membaca, menulis, membaca, menulis, begitu terus. Berteman dengan banyak penulis atau ikut grup nulis agar bisa melihat peluang. Dan...sebisa mungkin mendapat restu suami, dan berdoa agar segalanya dimudahkan. Boleh menulis dijadikan sarana mencari penghasilan, tapi usahakan inti dari niat kita adalah untuk menebar kebaikan."
Nah mantap kan, nasihat buat kamu yang ingin jadi penulis...
Ayuuukk nulis eeuyy..

( Rika, sahabat Ella Sofa)

Selasa, 07 Juli 2015

Tradisi "Premanan" Sambut Ramadhan di Kampungku


            Setelah postingan saya tentang pesta tradisi Baratan beberapa waktu lalu, kali ini saya ingin bercerita tentang tradisi Premanan di tempat kami, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Tradisi premanan adalah sebuah bentuk penyambutan masyarakat akan datangnya bulan Ramadhan dan lebaran yang telah ada sejak dahulu, yang dilaksanakan sepanjang bulan Ramadhan, yaitu adanya pasar malam di sepanjang jalan raya di sekitar Desa Purwogondo, Margoyoso, dan Kriyan, atau sebut saja sekitar daerah Kecamatan Kalinyamatan. 

            Pasar malam dadakan selama sebulan itu setiap hari dimulai setelah waktu sholat maghrib hingga sekitar pukul sepuluh malam, bahkan kadang lebih larut lagi. Di sepanjang jalan berjajar pedagang aneka macam produk, seperti mainan anak-anak, perlatan dapur, guci dan bunga plastik, pakaian anak-anak hingga dewasa, kerudung, peci, dan lain-lain. Beraneka macam makanan juga tiba-tiba bisa kita temukan  sepanjang bulan Ramadhan di pasar malam seperti kerak telor, es sari jeruk batu, manisan kapas, martabak, bakso, empek-empek, gorengan, fried chicken, sosis bakar, kentang spiral, dan masih banyak lagi. Makanan kerak telor selama ini memang hanya bisa ditemui saat ada premanan di bulan Ramadhan.
              Selain deretan pedagang berbagai barang dan makanan, di lapangan Kenari, Purwogondo, juga tiba-tiba penuh dengan berbagai wahana maina anak. Seperti komedi putar, ombak banyu, mandi bola, perahu Nabi Nuh, Bianglala (Jinontrol), kereta-keretaan, dan lain-lain. Ada juga istana hantu dan motor cross yang suaranya memekakkan telinga. Di antara wahana –wahana yang berjajar itu, berderet juga pedagang jamur crispy, sosis, es, juga pedagang pakaian.
Ramadhan di kampungku memang ramaiiii! 

             Di rumah, terdengar antara suara ayat-ayat suci yang berkumandang bersaing dengan suara motor cross, serta alunan lagu dangdut dari luar sana. Sepertinya memang agak ironis ya...? Tapi begitulah tradisi di kampungku setiap tahunnya. Kita tak bisa semata menjustifikasi bahwa premanan adalah kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama yang menganjurkan kita memperbanyak ibadah di bulan puasa dan bukannya keluyuran di jalan, tetapi memang sebaiknya menilai hal ini secara proporsional.  Bagaimanapun, tradisi ini adalah dalam rangka menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, dengan adanya kemeriahan dan keramaian di sepanjang bulan ini. Bagaimanapun, ada perputaran rejeki di dalam tradisi premana ini. Mereka (para pedagang dan pemilik wahana bermain) mendapatkan rejekinya di sini. Ada yang butuh, ada yang jual, dua-duanya sama-sama untung. Anak-anak pun tertawa bahagia saat menikmati wahana mainan tersebut, walau sebaiknya kita mengarahkan agar memilih wahana mainan yang aman dan tidak setiap hari menikmatinya.
Yang perlu kita lakukan sebagai umat islam yang baik adalah tetap menjalankan ibadah dengan baik, sesekali tak apa lah sekedar menengok situasi di luar, menikmati kemeriahan tradisi premanan, melihat mereka menjemput rejekinya di kampung ini. Sesekali melihat tawa riang anak-anak saat kita membelikan mereka makanan, mainan, atau menikmati mandi bola dan komedi putar juga membahagiakan lho.  Ya..., asal tidak setiap hari, karena bagaimanapun apa-apa yang berlebihan juga menjadi pemborosan dan kesia-siaan. 


               Ramadhan di kampungku adalah harapan untuk THR para pedagang, kita lah yang seharusnya pandai-pandai memanage agar tak larut dalam hura-hura. Meski....bagi saya yang tinggal di rumah yang sangat dekat dengan lokasi premanan, teori itu agak susah diterapkan. Hampir tiap malam anak-anak minta ke “premanan”. Hmmh... tak mudah jadi orang tua yang baik. Hehehe,,,
Yuk, yang di luar Jepara, sesekali mampir menikmati premanan di Kalinyamatan. Pasti berkesan....

Minggu, 21 Juni 2015

Mungkin Butuh Kursus Merangkai Kata



gambar dari google


Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara...., dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu.... Jam dinding pun tertawa namun ku hanya diam, dan membisu. Ingin kumaki diriku sendiri yang tak berkutik di depanmu.....”
Mendengar lagu yang dibawakan olek Zamrud dengan manis itu, saya terkesan dengan rangkaian kata ini, “kursus merangkai kata”. Kursus merangkai kata seperti apakah  yang dimaksud oleh grup band ini? Apakah semacam les conversation, atau ekstrakurikuler jurnalistik? Bisa jadi pelatihan merangkai kata seperti itu yang dimaksud, bisa juga kursus dalam tanda petik. Maksudnya? Kursus merangkai kata yang dimaksud Zamrud adalah berlatih menyusun kata demi kata dan mengucapkannya agar bisa lancar berbicara di depan seseorang yang dikagumi. Jadi, agak berbeda dengan kursus Bahasa Inggris atau latihan menulis. Kursus merangkai kata di sini lebih cenderung pada tujuan agar menjadi percaya diri saat harus menyatakan perasaan pada seseorang.
Sedangkan bagi penulis, jika diresapi, kursus merangkai kata memiliki makna yang sangat dalam di setiap aspek kehidupan. Ya, kehidupan kita sehari-hari tak pernah lepas dari kata. Entah itu kata yang berdiri sendiri, ataupun yang telah berderetan dengan kata-kata lain membentuk kalimat. Maksud di dalam hati seseorang tak akan  ditangkap oleh orang lain jika kita tidak menyampaikannya lewat kata-kata atau kalimat. Kata-kata adalah ciri utama adanya  kehidupan sosial manusia. Dengan kata-kata, kita bisa meminta, memohon, memerintah, melarang, mengajak, memuji, bertanya, dan lain-lain, sehingga terpenuhilah apa yang kita inginkan.
Tetapi, kata-kata yang keluar dari mulut kita, sadar atau tak sadar, kadang (atau bahkan sering?) membuat lawan bicara menjadi terluka atau kecewa. Padahal sebenarnya maksud kita tak sejauh itu - membuat lawan bicara tersinggung. Apa yang ingin kita sampaikan diterima dengan hasil yang berbeda oleh lawan bicara sehingga memicu lahirnya konflik baru yang mungkin lebih rumit untuk diurai. Ketika kita mencoba memperbaiki dengan meminta maaf dan memberikan klarifikasi, bisa jadi lawan bicara langsung maklum dan menganggap tak ada masalah lagi, tetapi bisa juga lawan bicara tersebut sudah telanjur tersinggung dan tak percaya dengan klarifikasi kita, lalu hubungan menjadi kacau.
Hal seperti itu bisa dialami oleh siapa saja. Seperti antar teman, antar tetangga, antara orang tua dan anak atau sebaliknya, antara suami dan istri, antar relasi kerja, antara atasan dan bawahan, dan lain-lain. Contoh, seorang suami ingin memastikan apakah istrinya  memasak pagi itu. Ia mengatakan, “Ma, kamu nggak masak?”. Tiba-tiba sang istri tersinggung karena merasa dituduh oleh suaminya bahwa ia tidak mau masak. Di sini terjadi kesenjangan antara maksud suami yang hanya ingin memastikan istrinya masak atau tidak, dan andai tidak masak ia bermaksud mengajak sarapan di luar sekalian olahraga , dengan penerimaan istri bahwa sang suami telah menuduh ia tidak mau masak, tanpa bertanya dulu.
 Apanya yang salah?

Minggu, 14 Juni 2015

Yuk, Singgah ke Taman Baca "Pelangi Cita"



Awalnya taman baca ini berdiri hanya dengan modal nekat sekitar tiga setengah tahun lalu. Saat itu kami baru saja pindah dari kota ke sebuah desa, yaitu Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Buku-buku yang kami miliki juga kami bawa pulang ke desa. Ternyata jumlah buku-buku itu lumayan juga, ada beberapa kardus. Karena ada beberapa perabot termasuk lemari buku yang kami tinggalkan di rumah lama, termasuk lemari buku, maka buku-buku itu tidak mendapat tempat yang layak di rumah yang baru kami tempati. Akhirnya terpikir untuk memesan rak buku yang bentuknya seperti di toko buku (Agar bagian muka buku kelihatan). Tujuannya, siapa tahu nanti ada beberapa anak atau orang dewasa yang tertarik dengan kover buku-buku itu dan meminjam buku kami. Ya, sebenarnya memang dari dulu sudah ada keinginan untuk mendirikan sebuah taman bacaan, tapi belum pernah terlaksana. Nha, sepertinya kami harus segera memulainya. Apalagi di desa yang kami tempati belum ada perpustakaan atau taman bacaan. Jadilah kami memesan dua rak pajang. Maka cerita tentang warna-warni taman baca ini pun dimulai.
Rak pajang kami letakkan di ruang tamu, kami atur agar kelihatan dari jalan. Sambil harap-harap cemas dan mulai mereka-reka strategi agar ada yang mau pinjam (terus terang waktu itu tidak pede). Harapan kami, anak-anak SD yang banyak lewat di muka rumah akan tertarik dengan pajangan buku-buku tersebut. Sengaja bagian yang kelihatan kami pasang buku-buku anak dengan gambar yang lucu dan warna-warni. Tentu saja sambil berdoa semoga niat baik kami dipermudah. Dan ternyata satu dua anak mulai bertanya, “Apakah boleh lihat-lihat?” “Apakah boleh pinjam?” “Apakah ini dijual?” dan sebagainya. Dengan senang hati kami mengatakan bahwa ini taman baca dan buku-bukunya boleh dipinjam dengan gratis. Satu, dua tiga, hingga pernah dalam satu hari pernah ada sekitar tujuh puluh peminjam datang ke taman baca. Walau kewalahan tapi bahagia sekali, cita-cita untuk membuat taman baca mulai terealisir.
Taman baca ini mulai dikenal dari mulut ke mulut, hingga anak-anak dari desa lain juga berdatangan ke sini. Kami pun mulai memesan stempel dan membuat kartu anggota seadanya. Taman baca ini kami namai Taman Baca “Pelangi Cita”. Artinya di taman baca ini menawarkan bacaan-bacaan yang membuka wawasan pembaca terutama anak-anak dan remaja, yang akan memberi inspirasi untuk melihat bahwa di dunia ini begitu banyak cita-cita yang bisa mereka pilih.

Rabu, 10 Juni 2015

The Best I Ever Had [Cerpen]







             Sekarang ini memang sungguh tak penting untuk menebak Hazmi sedang apa dan ada dimana. Juga tak perlu menerka-nerka apakah ia masih suka memakai selimut biru kesayangannya saat menjelang tidur, ataukah telah berganti selera. Pun tak etis lagi meramalkan esok pagi ia akan memakai setelan baju kerja warna apa. Meski hatiku merajuk pilu saat ini. Entah keangkuhan dan pendirian kokohku mulai berpindah kemana, tiba-tiba bayangannya menyelip lagi diantara penatku sepulang kerja sore tadi. Apakah keletihan memperjuangkan kemandirian inilah yang sedikit demi sedikit melelehkan kebekuan hatiku?
            Kupandangi wajah-wajah mungil nan lucu dua buah hatiku. Merekalah obat dari penat-penatku di siang hari saat berjibaku dengan lembar-lembar rupiah atau dolar, komputer serta mesin hitung saat mengais rejeki di sebuah bank swasta. Bukannya tak pernah mendapatkan uang nafkah buat anak-anakku, tapi proses yang sering berbelitlah yang membuatku enggan untuk memintanya lagi. Namun bibirku bisa tersenyum saat menatap tidur pulas mereka. Meski ada rasa bersalah telah meninggalkan mereka hampir seharian bersama Mama yang sudah tua serta seorang pembantu. .
Hatiku berkecamuk meski mataku telah mengatup. Kepalaku seakan berputar-putar, mengajak anganku melayang dan terbang menyusuri waktu, singgah pada kejadian satu tahun lalu....


            Tas kerja hitam persegi panjang itu dibiarkan tergeletak di sofa. Sosoknya telah lenyap saat aku baru saja beranjak dari dapur untuk menyambutnya sore itu. Tapi jejak sepatunya memberiku petunjuk. Dan belum ada jejak sepatu menuju ke arah luar. Artinya ia masih di dalam kamar. Aku segera menyusulnya.
            “Mau pergi lagi, Mas?”
            Dasi itu telah terlempar ke atas kasur. Ia sedang membasuh wajahnya di wastafel kecil di sudut ruangan, di sisi kamar mandi dalam kamar kami. Dibukanya hem putih yang telah sedikit lusuh oleh debu, dan segera digantinya dengan kaos merah yang semula bergelantung di dinding. Ia tak menjawab pertanyaanku. Tapi kaos merah itu telah menjawabnya. Kaos yang sama dengan yang dipakai kemarin.
            “Ke tempat pelatihan lagi? Nggak mandi dulu?” tanyaku lagi mencoba merebut  sedikit perhatiannya. Walau sudah kuduga itu tak terlalu berguna.
            “Hemmh, sudah tahu kan?” jawabnya acuh tak acuh.
            “Nggak capek? Kubuatkan teh hangat dulu?” kucoba sekali lagi. Siapa tahu ia mau meluangkan waktu untuk tinggal sejenak.
            “Aduuh...! Aku nggak bisa, ini sudah mau telat. Besok sajalah hari Sabtu, oke? Kita jalan-jalan sama anak-anak.”
            Bersamaan dengan kalimat terakhirnya sore itu, ia menyambar tas ransel kecil berbahan plastik daur ulang yang selalu dibawanya saat menghadiri kegiatan yang sedang gencar dipromosikanya. Dan seperti sore-sore kemarin, ia berlalu tergesa dari hadapanku. Aku hanya bisa menatapnya dengan separuh keikhlasan. Lebih tepatnya kekecewaan. Sudah tiga minggu seperti itu. Tiga minggu, beda satu minggu dengan usia bayi kami yang baru memasuki minggu ke empat. Aku selalu hanya bisa menghirup nafas panjang mengimbangi rasa kecewaku.
            Sejak mengikuti kegiatan promosi sampah daur ulang itu, aku seperti kehilangan sosok suamiku yang dulu. Aku memang orang pertama yang mendukungnya untuk terjun menangani sampah-sampah di kecamatan kami. Ada seseorang yang menawarinya kerjasama dalam program pengendalian sampah kota yang memang memprihatinkan. Ia pun begitu antusias. Singkat cerita akhirnya ia menjadi ketua kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sampah kering dengan cara daur ulang hingga menghasilkan produk baru yang bermanfaat. Hazmi mulai sering mengikuti seminar, pelatihan, bahkan pameran ke luar kota. Waktu sisa kerja kantorannya habis untuk kegiatan baru itu. Ia seakan lupa dengan istri yang dulu selalu mendapatkan pujian termanisnya, yang baru saja melahirkan dewi, anaknya yang ke dua. Juga seolah tak pernah lagi merindukan keriangan Dara saat bercerita tentang teman-teman dan guru di sekolahnya. Sempat muncul rasa sesal telah begitu mendorongnya untuk menekuni hobi baru itu. Aku merasa terabaikan.
            Hal seperti itu kerap kali berulang...
Suatu sore ia pulang dengan cara yang tak berbeda dari biasanya, meletakkan begitu saja tas kerja di sofa, membuang dasi ke atas kasur, membuka hem lalu menggantinya dengan kaos, mengambil ransel kecil kesayangannya, lalu pergi lagi. 
            Aku sudah tak tahan lagi. Kami bertengkar hebat. Dan pertengkaran itu berakhir dengan sebuah kalimatnya yang membelah-belah hatiku, meremukkan rasa cinta dan kagumku selama ini.
“Kalau kamu tidak suka, tak usah lagi melayani aku, tak usah lagi mencuci pakaianku, tak usah lagi jadi istriku!!!”

Hujan Penjemput Maut [Cerpen]




Oleh: Ella Sofa

            Pening. Kepalaku terasa berdenyut-denyut, bahkan sesekali berdentum bagaikan pukulan drum pada barisan marching band. Sedangkan gas lambung di perut terasa menyesak, tak bisa kentut maupun bersendawa. Masuk angin. Ya, mungkin aku sedang masuk angin akibat terlalu asyik menyaksikan pawai peringatan hari jadi sebuah instansi di dekat rumahku tadi sore. Kebetulan siangnya aku lupa makan karena sibuk dengan tugas sekolah yang lusa harus dikumpulkan. Rasanya aku harus merebahkan tubuh sakit ini di atas dipan berkasur empuk.
            Kulupakan tugas sekolah. Masih ada waktu sehari, pikirku. Setelah memencet-mencet menu di ponsel untuk setting alarm, aku pun menyerahkan segala lelah ini pada alam mimpi. Kuharap empuknya bantal dan guling serta hangatnya selimut tebal mampu mengembalikan kondisi tubuhku pada keadaan normal.
            Tiba-tiba angin di luar rumah bertiup kencang, teramat kencang hingga jendela kamar yang langsung berhubungan dengan taman di luar rumah terbuka lebar. Aku terbangun dari lelap yang baru sebentar. Hawa dingin seketika mengalir masuk ke dalam kamar, dan lampu bergoyang-goyang mengikuti tiupan angin. Percikan air hujan yang deras di luar mulai membasahi sebagian lantai dan meja belajarku yang berada di dekat jendela. Sementara dedaunan pohon flamboyan di taman terlihat pontang-panting mengikuti arah angin. Aku panik, ini tak seperti biasanya. Aku mengangsurkan tubuh merapat ke dinding sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuh. Takut. Sebagai cowok play boy dan sedikit urakan ternyata aku seorang penakut juga dalam situasi seperti ini.
Bodohnya aku hanya meringkuk merapat ke dinding saja. Aku harus melakukan sesuatu. Aku meloncat dari tempat tidur dan setengah berlari langsung menuju ke arah jendela dengan maksud untuk menutup dan menguncinya rapat-rapat. Mungkin tadi aku lupa menguncinya dengan baik.
DIERR!!
Guntur yang mulai datang bersamaan cahaya kilat itu makin menciutkan nyaliku. Bahkan jantungku berdetak kencang sekali. Kupikir aku harus segera menutup jendela ini secepatnya.
Tiba-tiba gelap, aku hanya melihat warna hitam. Tak bisa kulihat apa-apa baik di luar maupun di dalam kamar ini. Rupanya aliran listrik padam. Tanganku meraba-raba mencoba menemukan daun jendela. Hatiku semakin kalut. Tiba-tiba aku memegang sesuatu. Ini bukan daun jendela. Bentuknya hampir membulat namun tidak rata. Sedikit empuk dan bertulang. Tangan manusia? Aku hampir melepaskannya ketika pada saat itu juga ada tangan lain yang menyentuh tanganku dan mencengkeram dengan kuat. Ya, sudah pasti itu tangan. Aku berusaha menarik kembali tanganku namun tangan diluar terasa lebih kuat dan cepat. Tangan siapa?
Belum sempat menemukan jawab, tangan di luar menarik tangan kananku itu dengan begitu kuat hingga tubuhku terseret menuju jendela. Aku berteriak keras-keras.
“Toloooong!!!”

Selasa, 09 Juni 2015

Istri Bukan Tukang Cuci






Seorang teman saya, laki-laki, pernah mengatakan satu hal yang saat itu membuat saya tercenung, karena tak pernah terpikir oleh saya bahwa ia akan mengatakan hal itu. Saat itu, kami beramai-ramai sedang ngobrol  santai sambil menunggu dosen masuk kelas. Obrolan merambah ke barbagai hal hingga tentang pernikahan. Di tengah obrolan itu saya sempat melontarkan kalimat gurauan, “Udah... habis lulus kamu nikah aja. Biar ada yang nyuciin tuh baju...”. Gurauan saya disambut senyum geli teman-teman lain. Tetapi tdak dengan teman yang menjadi sasaran gurauan saya tersebut.
“Enggak, aku nggak seperti itu. Kalau cuma buat nyuci aja aku bisa beli mesin cuci.”
Saat itu saya belum menangkap ke mana arah jawabannya itu. Saya pikir, ada benarnya kalau dia mempu beli mesin cuci, ya bar beli saja. Saya tak menyangka jawaban itu masih ada kelanjutannya.
“Seorang istri itu bukan pembantu yang bisa kita manfaatkan buat nyuci, ngepel, dan lain-lain. Seorang istri itu pendamping, bukan tukang cuci.”
Astaghfirullah..., saya baru menyadari bahwa kalimat gurauan saya tentang istri yang bisa mencucikan  bajunya ternyata mendapatkan tanggapan serius, dan justru memberi saya wawasan baru tentang paradigma pernikahan. Dan hal itu diucapkan oleh seorang laki-laki.
Namun setelah kami sama-sama lulus, perjalanan nasib yang berbeda dan waktu yang seakan berputar cepat telah membuat saya hampir lupa dengan kalimat teman saya tersebut. Takdir menempatkan saya sebagai seorang ibu dan istri, seperti yang terjadi pada rumah tangga lainnya, di mana tugas saya memang berkisar pada pekerjaan domestik yang tak ada habisnya. Apalagi setelah kelahiran anak ke dua, saaya memilih untuk fokus di rumah mengurus rumah dan anak-anak.
Ternyata apa yang menjadi bayangan saya, bahwa pekerjaan rumah tangga adalah surga wanita, tak selamanya terasa seperti itu. Tiba-tiba saja saya merasakan satu kejenuhan  dan merasa bahwa saya harus merubah semua yang sudah berjalan. Saya merasa tak memiliki kekuatan apa pun, atau sesuatu yang bisa dibanggakan. Sementara pekerjaan tak ada habis-habisnya, takut tak mampu mengerjakan dengan baik, takut salah, takut dicela suami jika satu hal belum beres saya kerjaan, meski suami tak sering menegur.
Timbul pertanyaan di hati saya:
1.      Benarkah ini jalan hidup yang harus aya jalani seumur hidup saya?
2.      Benarkah saya sudah harus berpuas diri dengan pekerjaan domestik saja tanpa ada kegiatan lain?
3.      Benarkah takdir saya cukup sampai di dalam rumah dan anak-anak saja?
4.      Tidak bolehkah saya menjadi sesuatu, atau memiliki prestasi yang bisa membuat saya terhibur di samping menjadi ibu rumah tangga?
5.      Benarkah saya tak memiliki kemapuan apa-apa selain mencuci, menjaga anak, dan beres-beres rumah?

Cinta dan Akal, dua Sejoli Tak Terpisahkan





Sobat Nida, tahu nggak, bahwa pada saat penciptaan anak-anak Adam, Allah telah memberikan manusia dua bakat. Dengan memperlihatkan keindahan-Nya, cinta telah ditanamkan pada mereka (cinta kepada Allah Swt.), lalu dengan mengajukan pertanyaan, “Bukankah Aku Tuhanmu?” (QS. 7:172), manusia telah diberi kemampuan untuk mengetahui. Untuk menanamkan cinta-Nya, Allah memberikan manusia hati yang bergerak-gerak, sedangkan untuk memperoleh pengetahuan, manusia diberi akal yang tajam.
            Sobat Muda, antara akal dan cinta memiliki beberapa perbedaan, namun demikian kedua hal tersebut tak bisa dipisahkan dan berdiri sendiri-sendiri dalam kehidupan anak Adam. Mempelajarai cara kerja akal dan cinta memang menarik, serta butuh perenungan yang dalam, serta kejujuran. Meski semesta pembicaraan tentang ini mengarah pada cara manusia berfilosofi, yang biasanya menjadi makanan sehari-hari para filsuf, namun tak ada salahnya kita juga mempelajarinya karena bagaimanapun hal ini menyangkut cara kerja otak dan hati kita sepanjang hayat.
            Nha, mari kita telisik satu persatu bagaimana indahnya harmoni antara akal dan cinta yang telah diberikan Allah pada kita:
1.      Untuk menanamkan cinta, Allah memberi manusia hati yang bergerak-gerak, dan untuk memperolah pengetahuan, Allah memberikan manusia akal yang tajam. Dengan demikian Makanan hati adalah cinta, dan makanan akal adalah pengetahuan.

Selasa, 02 Juni 2015

Pesta Baratan Rakyat Jepara


Malam itu saya terjebak di antara ratusan manusia yang ingin menyaksikan Ratu Kalinyamat beserta rombongannya yang diarak dalam pesta tradisi baratan. Saya, anak saya, sepeda motor sya, tidak bisa bergerak maju ataupun mundur. Yah, saya telat. Harusnya jika ingin menyaksikan pertunjukan tari Ratu Kalinyamat, saya datang lebih awal. Satu hati satu tujuan di antara ratusan manusia ini menghasilkan kemacetan total di depan dan sekitar pendopo Kecamatan Kalinyamatan. Bagaimanapun saya harus bisa menikmati setiap keadaan. Saya matikan mesin motor, saya kunci leher, dan saya tinggal menuju tempat yang lebih memungkinkan kami untuk melihat ke panggung lebih dekat. Meski harus melewati desakan manusia lain serta sepeda motor –sepeda motor lain yang letaknya tak beraturan, akhirnya saya berhasil membantu anak saya memanjat pagar yang mengelilingi pendopo. Hanya memanjat, bukan melompat. Setidaknya bisa memuaskan keinginan anak saya untuk melihat lebih jelas. Sedangkan saya, memilih tetap di bawah sambil mengawasi sepeda motor yang saya tinggalkan di dekat sebuah truk yang juga parkir, di tepi sawah dekat kantor kecamatan. Sesekali saya berusaha melihat dibalik pagar, di sela-sela teralis, di antara penonton lain. Seru! Bukan hanya pertunjukannya yang seru, tapi situasi crowded itu pun terasa mengasyikkan bagi saya. Oya, pasti pada penasaran ya, apa sih pesta baratan itu?
Sebagian besar pemeluk agama Islam di Indonesia dan dunia meyakini adanya malam nisyfu sya’ban yang jatuh pada taggal 15 Sya’ban. Begitu juga dengan sebagian besar masyarakat Islam di Jepara, Jawa Tengah. Di Jepara, ada tradisi tersendiri dalam memperingat malam tersebut. Selain memperingati malam nisyfu sya’ban, pada malam itu pula rakyat Jepara mengadakan perayaan tradisional yang bernama Baratan. Pesta baratan adalah pesta rakyat yang dimaksudkan untuk memperingati perjuangan Ratu Kalinyamat di Jepara dalam melawan penjajah.  Bentuk pestanya adalah berupa  arak-arakan Ratu Kalinyamat, prajurit, dayang-dayang, dan barisan pembawa impes (lampion) di sepanjang jalan yang akan disaksikan oleh ratusan masyarakat setempat.

Senin, 25 Mei 2015

Cinta VS Pernikahan





            Seorang teman laki-laki mengaku bahwa ia pertama kali jatuh cinta di bangku SMP. Karena masih SMP, saat itu yang bisa dilakukannya hanya menahan diri dan memendam perasaan. Tetapi, rasa kagum dan tertarik itu akhirnya ia lupakan, ketika ia merasa jatuh cinta lagi pada seorang teman di SMA. Saat itu, ia sempat menyatakan perasaannya, walau ternyata ia bertepuk sebelah tangan. Si cewek menolak. Baru kali itu ia merasakan yang namanya patah hati.
 Memang perlu waktu agak lama untuk menghilangkan rasa sakit dan kecewa itu. Tetapi ia segera melupakan sakitnya tatkala ia tertarik lagi pada teman kuliahnya yang cantik dan dewasa. Ia merasa beruntung karena cintanya mendapat sambutan. Katanya mereka “jadian” dan sempat berpikir untuk merancang masa depan berdua. Ia merasa sudah mantap dan yakin bahwa tidak akan berpindah ke lain hati. Ternyata, ketika megikuti program KKN, ia satu kelompok dengan seorang cewek yang begitu energik dan jenius. Cewek itu memang tidak secantik kekasihnya, tapi entah mengapa ia tak bisa menyangkal bahwa ia sangat kagum pada teman KKN-nya itu. Dan ketika saat perpisahan tiba, ia tak kuasa menahan gejolak hatinya untuk tak mengatakan perasaannya, dan itu membuatnya merasa sangat lega. Walaupun mereka tidak berkomitmen apa-apa karena ternyata si cewek telah dihitbah laki-laki lain. Laki-laki juga telah memiliki rencana menikah dengan teman kuliahnya setelah lulus nanti.
            Bagaimana kesan anda setelah membaca cerita di atas? Geli? Terenyuh? Atau... sedih? Atau justru heran dan merasa bahwa kisah itu sangat konyol? Padahal kejadian seperti itu sangat banyak dan umum di sekitar kita.
            Inti yang ingin saya sampaikan dari kisah di atas adalah, betapa seseorang bisa untuk jatuh cinta lebih dari satu kali pada orang-orang yang berbeda. Padahal saat sedang jatuh cinta pada satu orang, rasanya tak ada orang lain yang bisa mengisi hatinya lagi. Siang, malam, pagi, sore, ke warung, ke pasar, ke tempat kuliah, ke salon, ke dapur, ke rumah teman, yang ada di kepala hanya si dia. Seperti lagu Dewa 19 “Kamulah satu-satunya...dst.”
            Tapi, benarkah ia hanya bisa mencintai satu orang? Terbukti ia mampu untuk berkali jatuh cinta, dan jatuh cinta lagi. Jadi, cinta itu apa sih? Mengapa bisa jatuh cinta berulang kali? Lalu adakah cinta sejati?

Apakah Alergi Bisa Sembuh?






Usia anak-anak adalah usia pertumbuhan. Mereka membutuhkan beragam jenis gizi dari asupan makanan. Akan lebih baik jika orang tua memberikan makanan yang beraneka rupa agar kelengkapan gizinya terpenuhi dengan baik. Namun, pada keyataannya ada anak- anak yang mengalami reaksi alergi jika mengkonsumsi makanan-makanan jenis tertentu, seperti kacang-kacangan, telur, susu, kedelai, ikan laut, cumi, kepiting, udang, buah-buahan (tomat, jeruk, stroberi), mentimun, biji-bijian seperti gandum, dan lain-lain. Juga ada anak yang mengalami intoleransi tehadap produk susu, cokelat, putih telur, MSG, dan food additives. Reaksinya bisa berupa kemerahan di sekitar mulut, ruam kulit, sesak napas, diare, kolik, dan lain-lain. Padahal beberapa dari jenis makan-makanan pencetus alergi atau intoleransi tersebut kandungan gizinya sebenarnya bagus dan dibutuhkan anak (terkecuali MSG dan food additives).
Orang tua memang bisa mengganti jenis makanan yang menimbulkan alergi atau intoleransi tersebut dengan jenis makanan lain yang memiliki kandungan yang sama. Bahkan tak jarang anak dilarang mengkonsumsi banyak jenis makanan (tak hanya satu jenis) karena khawatir anak menjadi sakit.  Tetapi akankah selamanya anak harus menghindari jenis-jenis  makanan itu? Mungkinkah terjadi perubahan daya tahan anak dalam menerima jenis makanan pencetus tersebut, sehingga suatu saat ia boleh mengkonsumsinya dengan bebas? 

Kamis, 21 Mei 2015

Anak Suka Membantah? La Tahzan...




Apakah yang lebih menyedihkan dari anak-anak yang suka menentang atau membantah jika diberi tahu orang tua?
Sebagai tua, tentunya kita ingin memiliki ank-anak yang manis, penurut, dan mudah menerima masukan dari kita. Sudah pasti tujuan kita adalah agar mereka menjadi anak yang baik, akhlaknya maupun ibadahnya. Kita juga tidak ingin anak mendapatkan kesulitan dengan perilakunya yang kita anggap kurang tepat, sehingga kita merasa perlu memberi tahu mana yang salah dan mana yang benar.
Sayangnya, seringkali apa yang ingin kita sampaikan, tak bisa diserap anak dengan baik, atau bahkan anak sama sekali tak mau mendegarkan dan justru membalas dengan kata-kata yang menyakitkan atau dengan nada yang lebih keras. Atau dia akan menangis, membuang barang-barang yang ada di dekatnya, hingga menyerang kita.
Saat-saat seperti itulah akan benar terasa bahwa menjadi orang tua memang tidak mudah. Hal ini membuat kita sedih, bahkan tak jarang menangis karena tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi kita wajib mengingatkannya, di sisi lain ego anak tak mau merasa diatur atau disalahkan.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Sebaiknya kita tidak larut dalam rasa sedih. Ada beberapa hal perlu kita ketahui terlebih dulu tentang hal-hal  yang berkaitan dengan perilaku anak yang suka membantah:

Rabu, 20 Mei 2015

Filosofi Cinta



Cinta adalah: Kecenderungan hati pada seseorang atau sesuatu yang sangat kuat, sehingga setiap saat ingin selalu memikirkan dan ingin berdekatan dengan seseorang atau sesuatu tersebut. Cinta melibatkan emosi, bukan intelektual. Dalam hal ini perasaan lebih berperan. Banyak definisi tentang cinta karena saat mendefinisikan sesuai dengan keadaan emosi masing-masing orang.
a.      Makna Cinta
Seorang Wakhid Nur Effendi, menulis tentang makna kata cinta, yaitu: “Cinta merupakan kata yang dipertaruhkan di medan semantik, karena pihak-pihak yang berkepentingan akan mengartikan sesuai dengan keinginannya.”
Cinta itu sulit untuk didefinisikan. Namun begitu, para ahli dari berbagai bidang atau tokoh intelektual tetap berusaha mencoba mendefinisikan makna kata cinta, walaupun masing-masing tidak bisa dijadikan patokan mutlak akan makna cinta.
Cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya akan mengenalinya. Namun siapa yang mencoba untuk menyifatinya, pasti akan gagal.” Begitu menurut Rabi’ah Al-Adawiyah.
Sedangkan menurut Mahmud bin Asy-Syarif, “Cinta adalah sebuah kerinduan yang tidak berujung, sebuah rasa kangen yang meletup-letup, dan sebuah kegilaan yang tak berkesudahan.
Sementara itu, Ibnul Qayyum Al-Jauziah berkata, “Cinta adalah luapan hati dan gejolakny, saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.”
Dari tiga pendapat ahli tersebut, kita bisa menarik garis merah, bahwa di dalam gejala emosi yang bernama cinta itu ada unsur rindu untuk bertemu dengan  seseorang atau sesuatu. Definisi cinta hanya akan bisa dipahami secara utuh oleh mereka yang telah merasakannya, dan tidak bisa pahami benar hanya dengan membaca definisinya saja.
Membaca definisi-definisi tersebut, kita mungkin akan cenderung mengartikan bahwa cinta adalah perasaan yang dimiliki sepasang kekasih, atau seseorang ketika sedang jatuh kepada lawan jenis yang menarik hatinya. Apakah kamu pernah merasakan hal itu? Siang tak tenang, malam tak lelap, makan tak lahap, memikirkan seseorang yang begitu memukau hatimu? Hidup seakan tak bergairah jika sehari saja tak bertemu? Nha, bisa jadi itu adalah cinta. Ternyata kamu pernah atau justru sedang jatuh cinta ya? 

Bangun Tidur Tumit Sakit?





Seorang ibu tiba-tiba saja merasa kesakitan di bagian kaki saat bangun tidur. Rasanya tajam menusuk dan kaku, tetapi hanya terasa di sebelah kakinya saja. Tetapi ketika sudah digunakan untuk beraktivitas, rasa sakit itu perlahan menghilang dan ia bisa melakukan pekerjaan harian tanpa gangguan rasa sakit itu lagi. Keesokan harinya, rasa sakit itu hadir lagi  ketika bangun tidur. Sejak saat itu, ia mengalami hal serupa setiap kali bangun tidur, bahkan ia mulai menyadari bahwa sakit itu muncul lagi sehabis ia duduk dalam waktu agak lama, atau berdiam diri dalam waktu agak lama. Dan ketika bergerak kembali, sakit itu pun seakan teredam.
Semula ia mengira terkena gejala asam urat tinggi atau kolesterol. Tetapi ketika melakukan cek darah, ia tak menemukan hasil yang signifikan. Sakit itu, makin lama makin terasa lebih hebat, bahkan ketika digunakan untuk bergerak yang semula tidak sakit, kini juga masih terasa sakit. Dan ketika bangun tidur pagi, kaki rasanya seakan membengkok.
Apakah Sahabat Ummi mengalami hal itu? Atau mungkin saudara dekat atau tetangga mengalami hal gejala serupa? Mungkin inilah yang sedang dialami, yaitu gejala Plantar Fasciitis.
Gejalanya persis seperti yang sudah diuraikan di atas, yaitu kaki terasa sakit ketika bangun tidur atau sehabis berdiam diri agak lama. Nha, apa saja yang perlu kita ketahui tentang penyakit ini?
a.      Penyebab
Di bagian kaki kita, ada bagian yang bernama plantar fascia, yaitu serabut-serabut otot yang mengubungkan antara tumit dengan jari-jari kaki, yang berfungsi untuk menyangga lengkung kaki dan menyerap kejutan (shock-absorbing bowstring). Atau istilahnya sebagai tali busur yang menahan goncangan dan melindungi lengkungan kaki. Tetapi jika terjadi tegangan yang terlalu besar, maka dapat terjadi robekan kecil pada bagian plantar fascia tersebut. Jika tegangan itu berulang-ulang maka bagian ini akan mengalami iritasi dan meradang sehingga timbullah rasa sakit itu. 

Beberapa faktor pemicu terjadinya peradangan itu antara lain:

Kamis, 26 Februari 2015

Tentang Adi Zamzam, Kartika Catur Pelita, dan dia yang Misterius....

            Beberapa hal akhir-akhir ini membuat saya makin ingin mendalami ilmu padi. Tapi, kadang juga rancu, benarkah jika saya hanya diam artinya saya telah mengamalkan ilmu padi, atau justru pelit ilmu, atau ja'im? Ah, mengapa tiba-tiba saya merasa telah berilmu? Hahaha... lebay ah. Jadi apa yang sesungguhnya ingin saya tulis di sini?
            Sungguh, menjadi penulis meski dengan karya yang sangat minim, telah membuat saya merasa lebih berarti.  Meski bukan penulis berbakat, tapi setidaknya ada yang bisa saya perbuat dalam mengisi hidup di dunia ini, yang semoga bermanfaat bagi orang lain. Dengan menulis saya bisa menyampaikan kejanggalan-kejanggalan yang saya rasakan terhadap fenomena kehidupan, menyampaikan ide yang berputar-putar di kepala, dan tentu saja menjadi media saya dalam melepaskan aura negatif atau refreshing, katarsis, apalah istilahnya. Dengan menulis, saya juga ingin berdakwah sebisa saya.
            Ketika tulisan-tulisan saya hanya bisa dimuat dalam beberapa buku antologi, serta dua novel yang terbit, serta artikel yang dimuat di website pendidikan atau blog saya sendiri, bagi saya itu sudah "sesuatu", anugerah dari Allah. Saya tahu saya belum apa-apa dibandingkan penulis seangkatan saya yang sudah malang melintang jejak karyanya, apalagi dengan penulis senior yang namanya berkibar di mana-mana. Kadang juga saya iri, mengapa saya masih begini-begini saja? Menyebut diri sebagai penulis, tapi tak bisa membuktikan dengan karya sebagus, sebanyak, dan selaris mereka? Terus terang saya kadang malu mengaku sebagai penulis.
             Namun saya harus kembali menata hati saya, kembali melihat niat awal saya dalam menulis. Ingin menjadi orang yang berguna, ingin memiliki kegiatan yang bermanfaat, ingin menjadikan tulisan sebagai tabungan ke surga,. Nah..., sebagai penulis saya hanya bisa berusaha, berkarya, berdoa. Saya tak pernah bisa menentukan apakah kelak saya akan terkenal, karya saya best seller, tulisan saya jadi rebutan penerbit. Saya pikir, jika saya selalu melihat ke atas, saya akan terus didera rasa iri. Tapi saya ogah berlama-lama mengotori hati dengan hal yang membuat saya lupa tujuan semula saya menulis.
             Jadi, menjadi penulis yang tulus mungkin memang lebih menyehatkan hati. Menulis dan menulis aja, tanpa menoleh apa dan bagaimana prestasi orang lain. Bukannya menjadi cuek dan tak mau mengakui kehebatan penulis lain, tapi tidak menjadikan hal itu justru mengganggu niat awal kita menulis, itu saja.
           Menulis dengan ikhlas, Allah yang akan memberikan berkah-Nya sesuai kehendak-Nya. Menulis dengan ikhlas, tak peduli karya masih sedikit, tak peduli dunia mencibir atau tertawa, tak peduli nama kita tak pernah ada gaungnya. Karena bukan nama yang dinilai di alam sana, tapi isi dari tulisan kita.
           Saya sangat bersyukur bertemu kembali meski hanya lewat WA dengan seorang teman, dosen, yang ternyata seorang penulis cerpen yang karyanya telah dimuat di beberapa media, tapi hingga sekarang tidak pernah memberitahukan nama penanya baik kepada saya maupun yang lain. Seorang wanita dengan nama pena pria. Hingga sekarang saya belum tahu siapa nama pena teman saya itu. Saya mendapatkan pelajaran berharga ketika mendapati teman saya itu ikhlas nama aslinya atau sosoknya tak dikenal orang, dan hingga sekarang masih membuat saya penasaran.
           Saya juga sangat bersyukur bertemu dengan Mas Adi Zamzam alias Nurhadi, seorang tukang sulam bordir, yang tinggal di desa yang lebih terpencil dari desa saya, yang sangat bersahaja, namun karyanya.... ruarrrr biasa! Hampir dua ratus cerpennya diterbitkan di media cetak, dan bulan Februari ini ada lima belas karyanya yang terbit di media. Masya Allah...., ck ck ck. Saya sangat bersyukur bertemu beliau, yang ah.... deh pokoknya. Niat berbagi ilmunya sangat kentara saat membedah karya anak-anak AMJ (Akademi Menulis Jepara), benar-benar mengerahkan ilmunya tanpa tanggung-tanggung. Dan... gratis.
           Saya juga sangat senang menjadi teman dari Kartika Catur Pelita, yang semangatnya patut saya acungi jempolll. Cerpenis yang juga karyanya telah dimuat di banyak media cetak ini juga dengan sukarela menyisihkan waktu dan tenaga untuk membagikan ilmunya pada anak-anak AMJ tersebut, lagi-lagi gratisan. Menjadi ketua, bahkan membiayai tumpeng lengkap dengan ayam ingkungnya saat pembukaan AMJ. Semoga cita-cita Mas Catur untuk memajukan dunia literasi di Bumi Kartini ini terbayar dengan dilahirkannya penulis-penulis andal oleh AMJ. Setiap langkah dan kalimat yang terucap dalam menyampaikan ilmu, inshaallah mendapat pahala berlimpah dari Allah.
             Tulisan saya malam ini tanpa rencana, tapi lahir dari lubuk hati terdalam. Semoga penulis-penulis yang telah membuat saya ingin bertahan di sini mendapatkan kelimpahan nikmat dan pahala dari Allah, Amiiiin.
             Ah... hidup terlalu singkat jika kita hanya memikirkan dunia. Menulis untuk dunia dan akhirat, menulis untuk mendapat cinta dari Allah.... Menulis dengan niat membagi hikmah kehidupan. Menulis karena ingin ridho-Nya. Semoga saya bisa....



Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...