Kamis, 26 Februari 2015

Tentang Adi Zamzam, Kartika Catur Pelita, dan dia yang Misterius....

            Beberapa hal akhir-akhir ini membuat saya makin ingin mendalami ilmu padi. Tapi, kadang juga rancu, benarkah jika saya hanya diam artinya saya telah mengamalkan ilmu padi, atau justru pelit ilmu, atau ja'im? Ah, mengapa tiba-tiba saya merasa telah berilmu? Hahaha... lebay ah. Jadi apa yang sesungguhnya ingin saya tulis di sini?
            Sungguh, menjadi penulis meski dengan karya yang sangat minim, telah membuat saya merasa lebih berarti.  Meski bukan penulis berbakat, tapi setidaknya ada yang bisa saya perbuat dalam mengisi hidup di dunia ini, yang semoga bermanfaat bagi orang lain. Dengan menulis saya bisa menyampaikan kejanggalan-kejanggalan yang saya rasakan terhadap fenomena kehidupan, menyampaikan ide yang berputar-putar di kepala, dan tentu saja menjadi media saya dalam melepaskan aura negatif atau refreshing, katarsis, apalah istilahnya. Dengan menulis, saya juga ingin berdakwah sebisa saya.
            Ketika tulisan-tulisan saya hanya bisa dimuat dalam beberapa buku antologi, serta dua novel yang terbit, serta artikel yang dimuat di website pendidikan atau blog saya sendiri, bagi saya itu sudah "sesuatu", anugerah dari Allah. Saya tahu saya belum apa-apa dibandingkan penulis seangkatan saya yang sudah malang melintang jejak karyanya, apalagi dengan penulis senior yang namanya berkibar di mana-mana. Kadang juga saya iri, mengapa saya masih begini-begini saja? Menyebut diri sebagai penulis, tapi tak bisa membuktikan dengan karya sebagus, sebanyak, dan selaris mereka? Terus terang saya kadang malu mengaku sebagai penulis.
             Namun saya harus kembali menata hati saya, kembali melihat niat awal saya dalam menulis. Ingin menjadi orang yang berguna, ingin memiliki kegiatan yang bermanfaat, ingin menjadikan tulisan sebagai tabungan ke surga,. Nah..., sebagai penulis saya hanya bisa berusaha, berkarya, berdoa. Saya tak pernah bisa menentukan apakah kelak saya akan terkenal, karya saya best seller, tulisan saya jadi rebutan penerbit. Saya pikir, jika saya selalu melihat ke atas, saya akan terus didera rasa iri. Tapi saya ogah berlama-lama mengotori hati dengan hal yang membuat saya lupa tujuan semula saya menulis.
             Jadi, menjadi penulis yang tulus mungkin memang lebih menyehatkan hati. Menulis dan menulis aja, tanpa menoleh apa dan bagaimana prestasi orang lain. Bukannya menjadi cuek dan tak mau mengakui kehebatan penulis lain, tapi tidak menjadikan hal itu justru mengganggu niat awal kita menulis, itu saja.
           Menulis dengan ikhlas, Allah yang akan memberikan berkah-Nya sesuai kehendak-Nya. Menulis dengan ikhlas, tak peduli karya masih sedikit, tak peduli dunia mencibir atau tertawa, tak peduli nama kita tak pernah ada gaungnya. Karena bukan nama yang dinilai di alam sana, tapi isi dari tulisan kita.
           Saya sangat bersyukur bertemu kembali meski hanya lewat WA dengan seorang teman, dosen, yang ternyata seorang penulis cerpen yang karyanya telah dimuat di beberapa media, tapi hingga sekarang tidak pernah memberitahukan nama penanya baik kepada saya maupun yang lain. Seorang wanita dengan nama pena pria. Hingga sekarang saya belum tahu siapa nama pena teman saya itu. Saya mendapatkan pelajaran berharga ketika mendapati teman saya itu ikhlas nama aslinya atau sosoknya tak dikenal orang, dan hingga sekarang masih membuat saya penasaran.
           Saya juga sangat bersyukur bertemu dengan Mas Adi Zamzam alias Nurhadi, seorang tukang sulam bordir, yang tinggal di desa yang lebih terpencil dari desa saya, yang sangat bersahaja, namun karyanya.... ruarrrr biasa! Hampir dua ratus cerpennya diterbitkan di media cetak, dan bulan Februari ini ada lima belas karyanya yang terbit di media. Masya Allah...., ck ck ck. Saya sangat bersyukur bertemu beliau, yang ah.... deh pokoknya. Niat berbagi ilmunya sangat kentara saat membedah karya anak-anak AMJ (Akademi Menulis Jepara), benar-benar mengerahkan ilmunya tanpa tanggung-tanggung. Dan... gratis.
           Saya juga sangat senang menjadi teman dari Kartika Catur Pelita, yang semangatnya patut saya acungi jempolll. Cerpenis yang juga karyanya telah dimuat di banyak media cetak ini juga dengan sukarela menyisihkan waktu dan tenaga untuk membagikan ilmunya pada anak-anak AMJ tersebut, lagi-lagi gratisan. Menjadi ketua, bahkan membiayai tumpeng lengkap dengan ayam ingkungnya saat pembukaan AMJ. Semoga cita-cita Mas Catur untuk memajukan dunia literasi di Bumi Kartini ini terbayar dengan dilahirkannya penulis-penulis andal oleh AMJ. Setiap langkah dan kalimat yang terucap dalam menyampaikan ilmu, inshaallah mendapat pahala berlimpah dari Allah.
             Tulisan saya malam ini tanpa rencana, tapi lahir dari lubuk hati terdalam. Semoga penulis-penulis yang telah membuat saya ingin bertahan di sini mendapatkan kelimpahan nikmat dan pahala dari Allah, Amiiiin.
             Ah... hidup terlalu singkat jika kita hanya memikirkan dunia. Menulis untuk dunia dan akhirat, menulis untuk mendapat cinta dari Allah.... Menulis dengan niat membagi hikmah kehidupan. Menulis karena ingin ridho-Nya. Semoga saya bisa....



Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...