Kamis, 21 Mei 2015

Anak Suka Membantah? La Tahzan...




Apakah yang lebih menyedihkan dari anak-anak yang suka menentang atau membantah jika diberi tahu orang tua?
Sebagai tua, tentunya kita ingin memiliki ank-anak yang manis, penurut, dan mudah menerima masukan dari kita. Sudah pasti tujuan kita adalah agar mereka menjadi anak yang baik, akhlaknya maupun ibadahnya. Kita juga tidak ingin anak mendapatkan kesulitan dengan perilakunya yang kita anggap kurang tepat, sehingga kita merasa perlu memberi tahu mana yang salah dan mana yang benar.
Sayangnya, seringkali apa yang ingin kita sampaikan, tak bisa diserap anak dengan baik, atau bahkan anak sama sekali tak mau mendegarkan dan justru membalas dengan kata-kata yang menyakitkan atau dengan nada yang lebih keras. Atau dia akan menangis, membuang barang-barang yang ada di dekatnya, hingga menyerang kita.
Saat-saat seperti itulah akan benar terasa bahwa menjadi orang tua memang tidak mudah. Hal ini membuat kita sedih, bahkan tak jarang menangis karena tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi kita wajib mengingatkannya, di sisi lain ego anak tak mau merasa diatur atau disalahkan.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Sebaiknya kita tidak larut dalam rasa sedih. Ada beberapa hal perlu kita ketahui terlebih dulu tentang hal-hal  yang berkaitan dengan perilaku anak yang suka membantah:

1.      John Gray, PhD. mengatakan dalam bukunya, “Children Are From Heaven”, mengatakan bahwa seorang anak  (sekitar dua tahun lebih) yang protes terhadap oran tuanya adalah bentuk perlawanan yang disebabkan anak sudah mula kemauan, keinginan, dan kebutuhan sendiri. Protes anak menunjukkan perkembangan kemandirian dalam diri anak. Anak merasa sebagai anak besar yang bisa melakukan segalanya sediri. Dengan demikian, pada usia ini jika anak suka membantah, bukan berarti ia berkembang menjadi tidak baik, tapi justru telah berkembang kemampuan kontrol terhadap dirinya sendiri.
2.      Pada anak usia delapan hingga sepuluh tahun, anak mengalami fase-fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Anak sangat ingin menunjukkan identitas dirinya dan unjuk diri. Tiba-tiba saja ia mempunyai hobi membantah walaupun apa yang disampaikan orang tua logis dan baik. Pada usia ini anak tidak sangat tidak suka sikap otoriter orang tua. Mereka meninginkan orang tua lebih demokratis dan memposisikan mereka sebagai sahabat yang perlu diskusi atau membuat kesepakatan-kesepakatan, dan bukan menuruti perintah atau larangan. Contoh: buat kesepakatan tentang jam bermain anak di luar rumah. Jika dilanggar, maka anak sudah tahu konsekuensi dari yang sudah disepakatinya dengan orang tua. Tentu saat membuat kesepakatan harus dalam keadaan tenang dan suasana santai walaupun topik pembicaraan serius. Jadi, anak lebih suka “kesepakatan” dari pada perintah dan larangan.
3.      Anak-anak melihat contoh membantah dari lingkungan sekitarnya, seperti ibunya yang selalu membantah perkataan bapaknya, atau kakak yang selalu membantah orang tua. Hal ini jika terus dilihat anak, maka akan menginspirasinya untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari.
4.      Bisa jadi, anak membantah melakukan tugas dari orang tua bukan karena ia tidak menghendaki, tetapi ia memang tidak mempunyai kemampuan atau belum kapasitasnya untuk melakukan itu.
5.      Anak yang merasa kecewa dan tidak puas terhadap orang tua, juga dapat memicu anak menjadi suka membantah. Contohnya: kita pernah berjanji mengajak berlibur ke luar kota jika anak sholat lima waktu selama sebulan. Tetapi setelah sebulan ia laksanakan, kita tak jadi mengajaknya berlibur. Lalu, kita berjanji akan memberi hadiah bila ia dapat sepuluh besar di sekolah. Tetapi hal itu juga tidak kita tepati. Jika hal serupa sering kita lakukan, maka anak anak menilai kita tak layak untuk ditiru karena suka berbohong, sehingga apa yang kita katakan selalu ia bantah.
6.      Penerapan disiplin yang terlal longgar juga membuat anak menilai kita tidak tegas, sehingga ia berani membantah apa yang kita katakan. Jadi, sebaiknya ketika kita melarang anak melakukan sesuatu, maka kita peru tegas berkata “tidak”.
7.      Orang tua yang terlalu memaksakan keinginannya pada anak, padahal anak tidak menginginkan hal itu, juga membuat anak memberontak. Jika bukan tentang kewajiban beribadah, larangan tentang berbuat dosa, dan tidak berat di ongkos,  maka ada baiknya orang tua mendahulukan keinginan agar anak merasa dihargai eksistensinya.
8.      Anak paling tidak suka merasa disuruh, akan lebih baik jika kita menggunakan kata “tolong” dan “terimakasih” saat benar-benar butuh bantuan anak untuk melakukan sesuatu.
9.      Berdoa adalah salah satu cara yang manjur untuk menjadikan situasi yang runyam menjadi lebih baik. Tetaplah doakan anak-anak kita sehabis sholat, sebelum tidur, saat bangun tidur, bahkan setiap saat, agar luluh hatinya dan mudah menerima nasihat. Tetap berdoa agar kita selalu diberi petunjuk dan kemudahan oleh Allah dalam mengiringi buah hati kita tumbuh dan berkembang, walau sepertinya keadaan tidak bisa kita kendalikan. Yakinlah, pada saatnya semua akan membaik. Amiiin.
Nha..., bagaimana Ibu-Ibu? Saya harap dengan membaca poin-poin di atas, kita akan menemukan pencerahan tentang faktor-faktor yang memicu anak jadi suka membantah pada kita. Sehingga kita tak selalu bersedih dan segera mencari solusinya. Dengan mengetahui penyebabnya, maka akan lebih mudah bagi kita untuk mulai mengadakan perbaikan-perbaikan agar anak tak selalu membantah apa yang kita katakan.
Mari sama-sama kita sadari bahwa menjadi orang tua yang sempurna memang tidak mungkin. Tetapi melakukan yang terbaik yang kita bisa, Inshaallah akan menuai hasil yang lebih baik pula. Semoga bermanfaat..., Amiiin

Referensi:
1.      Buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”, karya: Miftahul Jinan dan Choirus Syafruddin
2.      Buku “Bahagia Ketika Ikhlas”, karya: Rena Puspa

Biografi Penulis:
Ella Sofa adalah ibu rumah tangga yang suka menulis. Penulis novel “Temui Aku di Surga” dan buku “Sembuh dari Minder N Pede Aja Kali!” (akan terbit) ini bisa ditemui di Fb Ella Sofa, twitter @EllaSofa. Juga bisa dibaca coretannya di blog ellasofa.blogspot.com.


Reaksi:

1 komentar:

  1. Iya mbak. Jgn ambil hati krn ada saat2 anak sedemikian manis dan menghapus kesal ketika dibantah anak.

    BalasHapus