Rabu, 20 Mei 2015

Filosofi Cinta



Cinta adalah: Kecenderungan hati pada seseorang atau sesuatu yang sangat kuat, sehingga setiap saat ingin selalu memikirkan dan ingin berdekatan dengan seseorang atau sesuatu tersebut. Cinta melibatkan emosi, bukan intelektual. Dalam hal ini perasaan lebih berperan. Banyak definisi tentang cinta karena saat mendefinisikan sesuai dengan keadaan emosi masing-masing orang.
a.      Makna Cinta
Seorang Wakhid Nur Effendi, menulis tentang makna kata cinta, yaitu: “Cinta merupakan kata yang dipertaruhkan di medan semantik, karena pihak-pihak yang berkepentingan akan mengartikan sesuai dengan keinginannya.”
Cinta itu sulit untuk didefinisikan. Namun begitu, para ahli dari berbagai bidang atau tokoh intelektual tetap berusaha mencoba mendefinisikan makna kata cinta, walaupun masing-masing tidak bisa dijadikan patokan mutlak akan makna cinta.
Cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya akan mengenalinya. Namun siapa yang mencoba untuk menyifatinya, pasti akan gagal.” Begitu menurut Rabi’ah Al-Adawiyah.
Sedangkan menurut Mahmud bin Asy-Syarif, “Cinta adalah sebuah kerinduan yang tidak berujung, sebuah rasa kangen yang meletup-letup, dan sebuah kegilaan yang tak berkesudahan.
Sementara itu, Ibnul Qayyum Al-Jauziah berkata, “Cinta adalah luapan hati dan gejolakny, saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.”
Dari tiga pendapat ahli tersebut, kita bisa menarik garis merah, bahwa di dalam gejala emosi yang bernama cinta itu ada unsur rindu untuk bertemu dengan  seseorang atau sesuatu. Definisi cinta hanya akan bisa dipahami secara utuh oleh mereka yang telah merasakannya, dan tidak bisa pahami benar hanya dengan membaca definisinya saja.
Membaca definisi-definisi tersebut, kita mungkin akan cenderung mengartikan bahwa cinta adalah perasaan yang dimiliki sepasang kekasih, atau seseorang ketika sedang jatuh kepada lawan jenis yang menarik hatinya. Apakah kamu pernah merasakan hal itu? Siang tak tenang, malam tak lelap, makan tak lahap, memikirkan seseorang yang begitu memukau hatimu? Hidup seakan tak bergairah jika sehari saja tak bertemu? Nha, bisa jadi itu adalah cinta. Ternyata kamu pernah atau justru sedang jatuh cinta ya? 

Ini adalah cinta khusus, yang melanda dua muda mudi yang saling tertarik, terpaut hati, dan saling merindukan. Terkadang, cinta asmara ini bisa terjadi hanya pada satu pihak, sementara pihak yang dicintai tak merasakan hal yang sama. Ini biasa disebut cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta asmara memang relatif lebih misterius dari jenis cinta lain. Jika dituruti, dan ternyata Allah tak menghendaki dua insan yang jatuh cinta bersatu, maka akan meninggalkan rasa sakit bagi salah satu atau ke dua belah pihak yang tak mudah hilang. Maka, sebaiknya remaja yang masih jauh umurnya dari kesiapan untuk menikah, jagalah hati kalian. Jangan terjebak jauh dalam kubangan rasa cinta ini, apalagi berikrar pacaran, karena kita tidak tahu apakah dia jodoh kita. Allah menganugerahkan perasaan cinta jenis ini sebagai landasan keberlangsungan reproduksi manusia, yang selayaknya memang ada dalam sebuah pernikahan. Cinta antara suami dan istri. Jadi, jika kalian belum siap menikah, lebih baik bersikap lebih bijak saat merasa jatuh cinta. Berdoalah pada Allah untuk membuat hati menjadi tenang dan tidak senantiasa tergoda untuk hanyut dalam perasaan itu terus menerus. Yakinlah Allah pasti membantu.

b.      Ada Cinta Lain
Nha, jika kita menilik dari definisi cinta yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini, maka kita akan mendapatkan pemaknaan yang lebih luas tentang cinta.
Menurut Musfir bin Said Az-Zarani, “Cinta adalah satu emosi terpenting dalam kehidupan manusia. Faktor terpenting dalam menyatukan hati-hati manusia dan pembentukan kasih sayang di antara sesama.
Sedangkan Jalaluddin Rumi mengatakan, “Cinta adalah sumber segala sesuatu. Dunia dan kehidupan muncul  karena kekuatan yang bernama cinta. Cinta adalah inti segala bentuk kehidupan.”
Lain lagi kata Bapak Quraish Shihab. “Cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu karena kenikmatan atau manfaat yang dapat diperolah dari yang dicintai.”
Nha, beda lagi kan pemaknaan cinta menurut mereka? Cinta yang ini lebih luas, bahkan terkesan memiliki arti sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan di dunia. Tak hanya membahas tentang dua hati yang saling tertarik dan merindu, tetapi bernilai lebih universal. Dunia dan kehidupan muncul karena kekuatan cinta. Bahkan, cinta lahir karena ada keinginan mengambil manfaat dari sesuatu yang dicintai tersebut.
Bingung?
Tenang...., adanya perbedaan definisi cinta oleh para pemikir tersebut karena memang cinta itu ada bermacam jenisnya. Jadi, wajarlah kalau kita akan menemukan jawaban beraneka rupa begitu mengetikkan kata “Makna Cinta” pada aplikasi pencari Google di internet.
Namun, intinya seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa kita bisa memaknai cinta dengan seragam, yaitu kecenderungan hati terhadap seseorang atau sesuatu yang sangat kuat, sehingga setiap saat ingin selalu berdekatan dengan seseorang atau sesuatu tersebut. Bisa jadi yang kita cintai adalah ayah ibu, saudara-saudara kita, sahabat, guru, artis idola, bahkan agama atau negara. Bisa jadi juga, yang kita cintai adalah mata pelajaran tertentu di sekolah, boneka barbie, tas sekolah, sepeda yang selalu menemani kemana-mana, atau kamar unyu kita.
Bukankah kita ingin selalu berdekatan dengan ibu dan keluarga? Bukankah kita sangat nyaman berada di dekat sahabat kita? Bukankah kita sangat menikmati saat belajar di sekolah bersama guru yang kita sukai? Bukankah kita sangat suka berlama-lama menonton acara yang ada di dalamnya ada artis idola kita? Bukankah kita tidak rela begitu saja disuruh melepas agama kita atau berkhianat pada negara? Sebandel-bandelnya kita, apakah bisa tenang kalau meninggalkan sholat lima waktu? Kecuali bagi yang tidak cinta pada agamanya ya? Secuek-cueknya kita, apakah rela kalau Indonesia dijajah negara lain atau tiba-tiba disuruh ganti kewarganegaraan tanpa alasan jelas?
Itu semua juga namanya cinta.
Begitu juga dengan benda-benda kesayangan kita, rasa suka dan ingin selalu bersama benda-benda tersebut dinamakan cinta. Kita sangat menikmati mata pelajaran tertentu dan selalu menunggu-nunggu jadwal adanya mapel tersebut lagi, yang suka barbie juga tak bosan memainkan dan memandangi boneka barbienya sampai terbwa mimpi, yang cinta tas sekolahnya selaluuu saja memakai tas itu meski sudah butut dan saatnya beli yang baru. ada juga yang karena merasa sepedanya amat berjasa, ia begitu cinta dengan sepeda itu, dibersihkan, dirawat, bahkan tak jarang dielus-elus dan diajak ngomong. Sedangkan yang suka kamarnya, ia selalu tidak betah tidur di rumah orang lain baik rumah nenek atau temannya karena selalu teringat yang sudah membuatnya nyaman.
Nha... itu juga cinta lho...!
Jadi... cinta itu luas maknanya. Jangan anggap bahwa cinta itu hanya saat kita naksir atau ditaksir seseorang, atau bahkan pacaran dengan seseorang. Itu pemaknaan yang sempit.

c.       Cinta kepada Tuhan
Cinta kepada Tuhan seharusnya menjadi cinta yang menempati urutan tertinggi. Setiap insan di muka bumi secara naluriah memiliki rasa ketergantungan dan kebutuhan bersandar kepada sesuatu yang bersifat “Maha”. Maha Berkuasa, Maha Tahu, Maha Benar, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Kasih, Maha Cinta...”, yang paling mengerti keadaan dan kebutuhan hamba-Nya, yang selalu ada, kapan dan dimana pun kita berada. Di saat diri merasa terpuruk, seakan tak ada satu pun manusia yang peduli atau memahami kita, maka akan benar-benar terasa bahwa kita hanya bisa meminta dan bergantung kepada-Nya.
Maka, alangkah naifnya jika cinta kepada Sang Maha Cinta tak menempati takhta tertinggi di hati kita. Maka para pemeluk agama, rela memberikan waktunya untuk melakukan ritual agama dalam rangka mendekatkan diri dan mengakui kebradaan Tuhannya. Seperti para pemeluk agama Islam yang berusaha tepat waktu dalam menjalankan sholat lima waktu, dengan meninggalkan kegiatan yang sedang dilakukan, atau merasa menyesal dan bersalah ketika ketinggalan atau lalai menjalankan dalam sholat lima waktu. Juga mau menjalankan perintah Allah lainnya seperti berzakat, berpuasa, memotong hewan Qurban, bahkan berhaji dimana semua itu adalah suatu memerlukan pengorbanan harta, waktu, ataupun hawa nafsu. Itu semua menunjukkan adanya rasa cinta kepada Allah, sebagai Tuhan. Ingin mendapatkan berkah dan cinta-Nya yang lebih besar lagi.
Cinta kepada Sang Maha Cinta akan melahirkan rasa cinta kepada hal-hal lain yang baik. Suka menolong orang yang kesusahan, tidak suka menyakiti hati sesama, suka memberi, suka cinta damai, suka bekerja, suka tersenyum, cinta kepada alam semesta,  juga mencintai orang lain sebagai sesama ciptaan Allah. Cinta kepada Tuhan melahirkan kebaikan-kebaikan di muka bumi.
       
Nha..., tuh kan, cinta itu luas maknanya. Dan semua jenis rasa cinta itu sangat dibutuhkan dan selalu ada di muka bumi. Jadi, sebenarnya hidup kita dikelilingi banyak cinta ya... Maka, ketika kamu merasa hidup segan mati tak mau hanya karena cinta asmara, maka mulailah mengingat satu persatu cinta-cinta lain yang menemani hidup kita selama ini, terutama cinta Ilahi. Cinta-cinta lain itu sangat berharga dan sangat tinggi nilainya bagi kelangsungan hidup kita. Maha besar Allah dengan menghadirkan banyak cinta di muka bumi.

Telah dimuat di  Annida Online

Reaksi:

2 komentar:

  1. Ada banyak cinta di mana-mana ya, mba. Cinta pada Tuhan paling tinggi agar Dia tidak cemburu karena kita lebih cinta pada manusia.

    BalasHapus
  2. iya mbak. makasih udah hadir di sini ya... :)

    BalasHapus