Rabu, 10 Juni 2015

Hujan Penjemput Maut [Cerpen]




Oleh: Ella Sofa

            Pening. Kepalaku terasa berdenyut-denyut, bahkan sesekali berdentum bagaikan pukulan drum pada barisan marching band. Sedangkan gas lambung di perut terasa menyesak, tak bisa kentut maupun bersendawa. Masuk angin. Ya, mungkin aku sedang masuk angin akibat terlalu asyik menyaksikan pawai peringatan hari jadi sebuah instansi di dekat rumahku tadi sore. Kebetulan siangnya aku lupa makan karena sibuk dengan tugas sekolah yang lusa harus dikumpulkan. Rasanya aku harus merebahkan tubuh sakit ini di atas dipan berkasur empuk.
            Kulupakan tugas sekolah. Masih ada waktu sehari, pikirku. Setelah memencet-mencet menu di ponsel untuk setting alarm, aku pun menyerahkan segala lelah ini pada alam mimpi. Kuharap empuknya bantal dan guling serta hangatnya selimut tebal mampu mengembalikan kondisi tubuhku pada keadaan normal.
            Tiba-tiba angin di luar rumah bertiup kencang, teramat kencang hingga jendela kamar yang langsung berhubungan dengan taman di luar rumah terbuka lebar. Aku terbangun dari lelap yang baru sebentar. Hawa dingin seketika mengalir masuk ke dalam kamar, dan lampu bergoyang-goyang mengikuti tiupan angin. Percikan air hujan yang deras di luar mulai membasahi sebagian lantai dan meja belajarku yang berada di dekat jendela. Sementara dedaunan pohon flamboyan di taman terlihat pontang-panting mengikuti arah angin. Aku panik, ini tak seperti biasanya. Aku mengangsurkan tubuh merapat ke dinding sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuh. Takut. Sebagai cowok play boy dan sedikit urakan ternyata aku seorang penakut juga dalam situasi seperti ini.
Bodohnya aku hanya meringkuk merapat ke dinding saja. Aku harus melakukan sesuatu. Aku meloncat dari tempat tidur dan setengah berlari langsung menuju ke arah jendela dengan maksud untuk menutup dan menguncinya rapat-rapat. Mungkin tadi aku lupa menguncinya dengan baik.
DIERR!!
Guntur yang mulai datang bersamaan cahaya kilat itu makin menciutkan nyaliku. Bahkan jantungku berdetak kencang sekali. Kupikir aku harus segera menutup jendela ini secepatnya.
Tiba-tiba gelap, aku hanya melihat warna hitam. Tak bisa kulihat apa-apa baik di luar maupun di dalam kamar ini. Rupanya aliran listrik padam. Tanganku meraba-raba mencoba menemukan daun jendela. Hatiku semakin kalut. Tiba-tiba aku memegang sesuatu. Ini bukan daun jendela. Bentuknya hampir membulat namun tidak rata. Sedikit empuk dan bertulang. Tangan manusia? Aku hampir melepaskannya ketika pada saat itu juga ada tangan lain yang menyentuh tanganku dan mencengkeram dengan kuat. Ya, sudah pasti itu tangan. Aku berusaha menarik kembali tanganku namun tangan diluar terasa lebih kuat dan cepat. Tangan siapa?
Belum sempat menemukan jawab, tangan di luar menarik tangan kananku itu dengan begitu kuat hingga tubuhku terseret menuju jendela. Aku berteriak keras-keras.
“Toloooong!!!”

Kupikir teriakanku sudah begitu keras. Namun tak jua muncul sesosok manusiapun memasuki kamarku. Sementara tubuhku semakin tertarik hingga separuh badanku kini mulai berada ditengah  bingkai jendela, hampir keluar. Kugunakan satu lagi tanganku untuk menarik tangan kananku. Namun justru tangan kiriku kini ikut ditarik oleh sebuah tangan kuat yang lain. Oh...Tuhan, tolong aku...., aku hampir menangis, meski aku seorang lelaki.
“Mama...!!! Papa...!!! Tolong....!!!””
Percuma. Tubuhku tak kuat lagi bertahan. Bersamaan dengan tiupan angin yang makin kencang, tubuhku terseret keluar melalui jendela kamar, aku tak berdaya.
“Mas!  Mas Anto! Banguun! Cepaaat!”
Tiba-tiba di saat aku pasrah dengan apa yang sedang kualami, kudengar suara Tiar, adikku, berteriak-teriak sambil menarik tubuhku.
Tiba-tiba semua berubah. Kamarku tidak gelap, lampunya masih manyala. Di luar juga tidak ada badai atau hujan. Aku masih di atas dipan. Kucoba bangkit dan duduk dengan nafas yang terengah-engah. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh. Kurasakan bajuku menjadi setengah basah. Tiar mengelap keringat yang menetes deras pada keningku dengan kaos yang tadinya kubiarkan menggantung di pinggiran tempat tidur.
“Mas mimpi buruk ya?” Ada rasa khawatir di wajah Tiar.
Astaghfirullah...” bisikku masih sambil terengah-engah. Kejadian tadi tak seperti mimpi, aku merasakan kekalutan yang sungguh-sungguh. Badai itu seperti nyata. Dan tarikan tangan itu...
“Mas, badan Mas Anto panas. Mas sakit ya?” tanya Tiar.
Tiba-tiba pening itu terasa kembali, bersamaan dengan perutku yang kembung. Aku merasa mual sekali.
“Mas, aku bilangin Mama Papa ya?” katanya masih khawatir.
Aku tak menjawab. Aku masih merasakan ketegangan yang amat sangat. Kejadian barusan, atau mimpi barusan benar-benar kurasakan nyata. Begitu mencekam dan menakutkan. Aku tak bisa membayangkan jika harus terpisah dari Mama, Papa, dan adik-adikku. Aku belum siap dengan kematian. Amalku masih terlalu sedikit dan dosa-dosaku makin hari makin menumpuk saja. Apakah itu tangan malaikat pencabut nyawa? Aku makin menggigil.
”Kamu sakit To? Bagaimana keadaanmu?”
Suara penuh kekhawatiran Mama terdengar bersamaan dengan munculnya sosok beliau yang diikuti oleh Papa dan Tiar ke dalam kamarku. Tergesa ia menghampiriku yang sedang menggigil.
“Kita harus ke dokter sekarang. Badannya panas sekali...!” kata Mama sedikit panik setelah menyentuh dahiku dengan tangan lembutnya.
“Ah... enggak Ma, Anto nggak pa-pa, besok juga sembuh. Paling-paling masuk angin.” jawabku. Aku mulai mengatur nafas dan posisi tubuhku supaya tidak membuat mereka khawatir.
“Kamu menggigil...!”
 “Sudah enggak kan, Ma. Tadi mimpi buruk...”
“Tidak, jangan menunggu lagi. Kita harus ke dokter sekarang. Lebih baik sedini mungkin...” Mama masih tetap bersikeras.
“Iya, Mas. Aku setuju kata Mama.” Sahut Tiar.
“Jam berapa sekarang?” kilahku lagi.
“Mama ada kenalan dokter. Ini masih setengah sepuluh, nggak pa-pa. Pa, tolong telfon dokter Mayang ya Pa!”
Papa sigap. Walau agak gugup, kulihat beliau langsung keluar kamarku. Pasti mengambil ponsel. Beberapa saat kemudian kudengar Papa bercakap dengan seseorang.
“Dokter, ini anak saya si Anto panas sekali, menggigil. Oh... begitu. Iya... kami segera ke sana. Maaf mengganggu dokter.” Papa menutup ponselnya.
“Ayo... kita berangkat!”
***
            Pukul sepuluh. Kami masih berada di ruang pemeriksaan. Setelah memeriksa keadaanku dan mengambil beberapa mililiter darahku, dokter langsung memberikan obat yang harus segera kuminum. Tak perlu membeli ke apotek mengingat malam hampir larut. Kebetulan beliau mempunyai persediaan.
            “Untuk hasil tes darahnya bisa diambil besok, ya... siang lah... Tak perlu terlalu khawatir, hanya untuk memastikan bahwa kamu nggak terkena penyakit yang berbahaya. Sepertinya karena telat makan dan kelelahan Walau tidak terlalu parah, memang lebih baik secepatnya ditangani. Terutama untuk demamnya. Minum obat, isitrahat, semoga cepat sembuh...” Kata Dokter Mayang ramah.
            “Oya, kalau perlu dikompres di kepala, untuk membantu meredakan panas. Selanjutnya menunggu hasil lab ya?” Dokter cantik itu menambahkan.
            Setelah berbasa-basi sebentar, kami pun berpamitan. Lalu kami menuju ke mobil untuk pulang.
            Sebelum masuk ke mobil, tiba-tiba perasaan tak enak menjangkitiku. Suasananya... apakah ini hanya perasaanku? Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Bunga-bunga dan pepohonan yang menghiasi taman di halaman rumah Dokter Mayang pun bergoyang-goyang begitu kentara searah dengan hembusan angin. Aku mendongak ke atas. Jajaran awan putih di antara langit yang hitam terlihat samar-samar. Apakah itu awan mendung? Bukankah mendung terlihat putih di malam hari? Tak ada bintang. Bulan pun sembunyi entah dimana. Dingin....
            “Mendung Pa...” kataku pada Papa karena kulihat sepertinya beliau juga memperhatikan langit. Aku mulai menggigil lagi. Mama kelihatan cemas.
Kami bertiga masuk di bagian depan mobil. Aku duduk di tengah di antara Papa yang mengemudi dan Mama di sisi kiriku. Aku menutup resleting jaket. Sementara titik-titik air mulai menghiasi kaca depan mobil. Hujan... jangan-jangan.... Aku teringat mimpiku tadi. Apakah mimpi itu sebuah pertanda? Akankah malaikat maut akan datang menjemput bersamaan dengan turunnya hujan? Gusti... aku belum siap. Amalku masih terlalu sedikit dan dosaku –dosaku menumpuk setiap hari.
Rintik-rintik air yang turun berubah menjadi hujan deras. Tetesan air yang jatuh di kaca mobil pun membentuk bulatan besar-besar. Mobil mulai berjalan. Papa melakukan haluan dari halaman rumah dokter menuju jalan raya. Guntur menggelegar diiringi kilatan cahaya dari langit, mirip di dalam mimpiku. Mulut kami mulai komat-kamit melafazkan doa-doa memohon keselamatan.
“Tenang... jarak rumah tak terlalu jauh. Kita serahkan pada-Nya saja.” Kata Mama.
Entah mengapa Mama kelihatan menjadi begitu tenang. Rasa khawatir yang sempat kulihat di wajahnya tak lagi nampak. Aku menoleh pada Papa yang sedang mengemudikan mobil. Beliau juga begitu tenang. Hai... apa hanya aku seorangkah yang masih tercekam rasa tak menentu? Sepertinya doa-doa yang kulafazkan tak mampu mengusir rasa takutku. Ya, mereka tak tahu tentang mimpiku. Hanya aku seorang yang tahu. Aku merasakan akan adanya suatu kejadian luar biasa malam ini. Malaikat maut telah berada di belakang, mengikuti mobil kami. Dan pada saatnya tangannya yang begitu kuat akan memecahkan kaca mobil lalu mencengkeram leherku, membawanya serta mengikuti pusaran badai dan memisahkanku dari Mama Papa.
“Tidaaak...” ucapku dalam gigil, membuat Mama Papa sedikit panik.
“Hai... ada apa?” tanya Papa sambil menoleh ke arahku yang sedang kalut. Mama mendekapku untuk menenangkan.
Hujan semakin deras. Gelegar guntur dan kilat yang menyambar tak henti mengawal perjalanan kami.
Musim hujan kali ini kerap membawa berita mencemaskan. Setiap kali hujan turun, biasanya sangat deras dengan kabar adanya pohon yang tumbang atau bangunan yang roboh di beberapa tempat. Kejadian banjir juga ada di beberapa tempat. Seandainya tahu malam ini akan ada hujan, mungkin kami akan mengurungkan niat untuk ke dokter. Sebelum berangkat tadi tak ada tanda-tanda kentara akan adanya hujan deras. Mungkin karena terlalu khawatir dengan kondisiku, kami tak memperhatikan mendung yang mulai menggantung. Mendung yang tiba-tiba datang tadi begitu cepat berubah menjadi sebuah badai kecil.
Ranting-ranting pohon mulai berjatuhan di kanan-kiri jalan raya. Aku membayangkan tiga adikku di rumah. Mereka pasti mengkhawatirkan kami. Untung ada Tiar, adik tertuaku yang mulai dewasa. Semoga dia bisa mengatasi kekhawatiran adik-adik yang lain. Atau barangkali mereka sudah tidur?
Hujan sedikit mereda walaupun masih tidak tepat untuk disebut rintik-rintik. Oya, aku baru ingat tadi sempat memasukkan ponsel ke saku jaket sebelum berangkat ke dokter. Aku melepaskan dekapan Mama, tak lagi menggigil. Lalu kupencet beberapa nomor untuk menghubungi Tiar. Tak terdengar nada sambung. Rupanya sinyal GSM  yang kupakai ikut terganggu juga. Kuulangi sekali lagi. Lagi-lagi gagal tersambung. Sementara bunyi guntur masih terdengar dari atas sana.
Yah... apa pun yang terjadi, semua pasti telah ada garisnya. Semoga mereka baik-baik saja. Begitu juga seandainya malam ini adalah malam terakhirku, apa mau dikata? Aku tak boleh lengah. Waktu yang teramat singkat ini harus kumanfaatkan sebaik mungkin untuk bertobat, meminta ampunan atas dosa-dosa yang seakan tak ada putusnya, walaupun sekecil biji semangka atau plankton di lautan yang tak terlihat. Mungkin mimpiku tadi adalah kemurahan dari Tuhan sebagai isyarat supaya aku segera menyebut namanya di saat-saat akhir. Aku mencoba pasrah..., dan Mama Papa tetap terlihat begitu tenangnya. Mereka sepertinya tak tahu apa yang tengah berkecamuk dalam alam pikirku. Aku yang detik ini mulai mencoba berpasrah dengan sesuatu yang akan terjadi.
Hujan mulai deras lagi. Mobil melaju dengan kecepatan rendah. Papa nampak hati-hati membawa kami. Angin begitu kencang menerbangkan sampah-sampah di pinggiran jalan serta daun dan ranting-ranting kecil yang terlepas dari dahannya. Badai. Mimpiku menjadi nyata.
Seperti layar film, gambaran keseharianku seakan diputar kembali di hadapan mataku. Aku yang play boy, suka mempermainkan perasaan cewek, suka berfoya-foya di diskotik bersama teman-teman, sering lupa mengerjakan sholat, bahkan sering membantah Mama Papa. Adakah maaf untukku, Tuhan?
Lalu rekaman hari-hari menyenangkan tergambar kembali. Kehangatan suasana rumah yang membuat rindu untuk selalu pulang di saat aku telah lama asyik dengan kegiatan luar rumah. Mama yang penuh kasih sayang, Papa yang tegas tapi penuh kelembutan, Tiar dan dua adik perempuanku yang lain...  aku harus merelakan mereka semua. Teman- temanku, sepeda motor matic kesayanganku, semuanya. Merelakan dunia...
Hujan makin deras dan lampu-lampu jalan padam. Suasana sepanjang kanan kiri jalan raya menjadi gelap. Untung lampu mobil masih bisa menerangi ke arah depan sehingga jalan yang harus dilalui masih kelihatan jelas.
Kucoba menghubungi adikku lagi. Aku ingin mendengar suara Tiar atau jika mungkin adik-adikku yang lain untuk yang terakhir kali, sebelum semuanya...
BRAKK!!
Sebuah suara keras, sangat keras. Bertepatan dengan terhentinya mobil dan...  
“Arrrrrghhhhh!!!” Kejadiannya begitu cepat. Tak ada yang mampu kulakukan kecuali memekik dengan suara keras.
Sebelum tak mendengar apapun, masih sempat sayup kudengar suara sahutan dari ponsel yang telah tersambung.
“Hallo...! Hallo...! Hallo!...Mas Anto...! Mas ada apa?”
***
Aku mulai membuka mata.
“Mas sudah sadar? Mas....”
Kutoleh suara itu. Tiar duduk disamping tempat tidurku. Tepatnya ini tempat tidur di sebuah klinik atau rumah sakit karena kulihat ada beberapa manusia berseragam putih serta perlengkapan medis dengan bau khas obat-obatan. Tiar sesenggukan. Ingatanku kembali pada kejadian terakhir yang kualami. Sebuah pohon besar telah menimpa mobil kami. Suara itu begitu keras. Antara nyata atau tidak, ingatan itu sangat jelas saat dua cabang besar pohon menyesak masuk menerobos atap mobil, tepat mengenai... Mama dan Papa. Aku berada di tengah-tengah, di antara dua cabang pohon itu, serta Mama Papa yang kulihat tak lagi bergerak. Hujan itu bukan menjemputku, tapi mengantar malaikat maut menjemput Mama dan Papa, di depan kedua mataku. Dan kini tiba-tiba semua terasa gelap lagi....
“Mas..! Mas..! Mas Anto...!”

T a m a t


           


Cerpen ini telah dimuat di Annida Online




















Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar