Minggu, 21 Juni 2015

Mungkin Butuh Kursus Merangkai Kata



gambar dari google


Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara...., dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu.... Jam dinding pun tertawa namun ku hanya diam, dan membisu. Ingin kumaki diriku sendiri yang tak berkutik di depanmu.....”
Mendengar lagu yang dibawakan olek Zamrud dengan manis itu, saya terkesan dengan rangkaian kata ini, “kursus merangkai kata”. Kursus merangkai kata seperti apakah  yang dimaksud oleh grup band ini? Apakah semacam les conversation, atau ekstrakurikuler jurnalistik? Bisa jadi pelatihan merangkai kata seperti itu yang dimaksud, bisa juga kursus dalam tanda petik. Maksudnya? Kursus merangkai kata yang dimaksud Zamrud adalah berlatih menyusun kata demi kata dan mengucapkannya agar bisa lancar berbicara di depan seseorang yang dikagumi. Jadi, agak berbeda dengan kursus Bahasa Inggris atau latihan menulis. Kursus merangkai kata di sini lebih cenderung pada tujuan agar menjadi percaya diri saat harus menyatakan perasaan pada seseorang.
Sedangkan bagi penulis, jika diresapi, kursus merangkai kata memiliki makna yang sangat dalam di setiap aspek kehidupan. Ya, kehidupan kita sehari-hari tak pernah lepas dari kata. Entah itu kata yang berdiri sendiri, ataupun yang telah berderetan dengan kata-kata lain membentuk kalimat. Maksud di dalam hati seseorang tak akan  ditangkap oleh orang lain jika kita tidak menyampaikannya lewat kata-kata atau kalimat. Kata-kata adalah ciri utama adanya  kehidupan sosial manusia. Dengan kata-kata, kita bisa meminta, memohon, memerintah, melarang, mengajak, memuji, bertanya, dan lain-lain, sehingga terpenuhilah apa yang kita inginkan.
Tetapi, kata-kata yang keluar dari mulut kita, sadar atau tak sadar, kadang (atau bahkan sering?) membuat lawan bicara menjadi terluka atau kecewa. Padahal sebenarnya maksud kita tak sejauh itu - membuat lawan bicara tersinggung. Apa yang ingin kita sampaikan diterima dengan hasil yang berbeda oleh lawan bicara sehingga memicu lahirnya konflik baru yang mungkin lebih rumit untuk diurai. Ketika kita mencoba memperbaiki dengan meminta maaf dan memberikan klarifikasi, bisa jadi lawan bicara langsung maklum dan menganggap tak ada masalah lagi, tetapi bisa juga lawan bicara tersebut sudah telanjur tersinggung dan tak percaya dengan klarifikasi kita, lalu hubungan menjadi kacau.
Hal seperti itu bisa dialami oleh siapa saja. Seperti antar teman, antar tetangga, antara orang tua dan anak atau sebaliknya, antara suami dan istri, antar relasi kerja, antara atasan dan bawahan, dan lain-lain. Contoh, seorang suami ingin memastikan apakah istrinya  memasak pagi itu. Ia mengatakan, “Ma, kamu nggak masak?”. Tiba-tiba sang istri tersinggung karena merasa dituduh oleh suaminya bahwa ia tidak mau masak. Di sini terjadi kesenjangan antara maksud suami yang hanya ingin memastikan istrinya masak atau tidak, dan andai tidak masak ia bermaksud mengajak sarapan di luar sekalian olahraga , dengan penerimaan istri bahwa sang suami telah menuduh ia tidak mau masak, tanpa bertanya dulu.
 Apanya yang salah?

 Jika kita cermati, memang kalimat suami yang kurang tepat. Seandainya ia mengatakan, “Ma, masak apa hari ini?”, atau “Mama udah masak belum?”, maka hasilnya pasti akan lain karena tidak ada kesan menuduh di dalamnya.
Itu baru contoh kesalahan dalam susunan kalimat. Intonasi suara atau lagu kalimat yang berbeda untuk kalimat yang sama, bisa menimbulkan penerimaan yang berbeda dari lawan bicara. Suara keras dan nada terlalu tinggi bisa mengesankan bahwa kita sedang bicara dalam keadaan marah. Jika perlu suara keras, mungkin bisa diusahakan agar nadanya berirama santai, tidak menghentak.
Demikian juga pemilihan waktu dan suasana yang kurang tepat dalam menyampaikan sebuah kalimat, juga bisa menimbulkan hasil yang kurang baik. Akhirnya maksud bukannya tersampaikan malah menimbulkan masalah baru. Misalnya, seorang istri yang ingin meminta tambahan uang belanja pada suami karena kebutuhan hidup melonjak, usahakan jangan menyampaikanya pada saat suami masih dalam keadaan lelah sepulang kerja.
Banyak faktor yang menyebabkan kesenjangan antara maksud dan penerimaan dua belah pihak yang sedang terlibat dalam suatu pembicaraan. Mungkin kita bisa mengandalkan alasan bahwa kita memang terlahir dengan karakter suara dan bahasa yang seperti itu, dan merasa tak ada yang perlu dirubah. Akan tetapi alangkah baiknya jika kita mau sedikit berusaha demi kepentingan bersama, yaitu berusaha berlatih menyusun kalimat yang tepat, dalam suasana yang tepat, dan dengan lagu kalimat yang tepat pula. Kita tak bisa selalu mengharapkan bahwa lawan bicaralah yang seharusnya berusaha mengerti maksud dan isi hati kita, tanpa kita berusaha menyampaikannya dengan tepat. Di sinilah perlunya latihan mengasah kemampuan menyusun kalimat yang baik, melatih intonasi suara, dan melihat sikon saat bicara. Melatih sambil dipraktekkan, dengan membuatnya makin baik dan lebih baik lagi hari demi hari.
Nha, itulah yang penulis maksud sebagai kursus merangkai kata. Seorang istri lebih senang mendengar kalimat dengan nada lembut, dengan bahasa yang tidak mengandung tuduhan, dan dengan mimik wajah yang memancarkan keteduhan, bukan dengan tatap mata bak penyelidik atau mandor terhadap anak buah. Begitu juga, apa yang diharapkan seorang suami dari istrinya.
Satu lagi, kita juga semestinya paham, dengan siapa kita sedang berbicara, apakah dengan atasan, atau kawan, atau orang yang baru dikenal. Apakah karakter lawan bicara termasuk orang yang mudah, atau sensitif, itu juga perlu menjadi perhatian kita. Seseorang yang biasa berkata kasar, jika berkumpul dengan orang-orang yang terbiasa berkata kasar pula, mungkin tak akan terlalu menuai masalah. Tetapi jika ia berkumpul dengan kelompok lain, bisa jadi perkataan kasarnya menjadi sumber masalah utama. Bukankah kita tak selamanya berada di satu tempat saja?
Di bawah ini beberapa dalil tentang perintah menggunakan kata atau kalimat yang baik.
“...Dan kalimat yang baik adalah sedekah. Dan setiap langkah yang ia langkahkan untuk shalat (berjamaah di masjid) adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari).
Seorang mukmin itu bukanlah seorang yang tha’an, pelaknat, (juga bukan) yang berkata keji dan kotor.” (HR. Bukhari)
            Al-Quran Surat Al Hujurat Ayat 3:
            Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Ternyata pemilihan kata serta cara penyampaian yang tepat sangat berperan dalam menciptakan keharmonisan dalam sebuah hubungan. Baik hubungan suami istri atau bentuk hubungan antar manusia lainnya. Marilah mulai berusaha untuk selalu kursus merangkai kata, untuk kehidupan yang lebih indah antara diri kita dengan orang-orang di sekitar kita. Tak hanya Zamud yang wajib kursus merangkai kata, tapi kita semua sebagai makhluk sosial yang masih membutuhkan  hubungan baik dengan manusia lainnya, serta membutuhkan ridho dari Allah Swt.

Artikel ini telah ditayangkan di Ummi Online
Reaksi:

3 komentar:

  1. memang, diksi saat sedang bercakap-cakap kurang diperhatikan oleh kita ya Mbak.. akibatnya kerap ada perselisihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mbak...maaf lama gak dibalas. dulu habis posting nggak dibuka lagi...

      Hapus