Selasa, 02 Juni 2015

Pesta Baratan Rakyat Jepara


Malam itu saya terjebak di antara ratusan manusia yang ingin menyaksikan Ratu Kalinyamat beserta rombongannya yang diarak dalam pesta tradisi baratan. Saya, anak saya, sepeda motor sya, tidak bisa bergerak maju ataupun mundur. Yah, saya telat. Harusnya jika ingin menyaksikan pertunjukan tari Ratu Kalinyamat, saya datang lebih awal. Satu hati satu tujuan di antara ratusan manusia ini menghasilkan kemacetan total di depan dan sekitar pendopo Kecamatan Kalinyamatan. Bagaimanapun saya harus bisa menikmati setiap keadaan. Saya matikan mesin motor, saya kunci leher, dan saya tinggal menuju tempat yang lebih memungkinkan kami untuk melihat ke panggung lebih dekat. Meski harus melewati desakan manusia lain serta sepeda motor –sepeda motor lain yang letaknya tak beraturan, akhirnya saya berhasil membantu anak saya memanjat pagar yang mengelilingi pendopo. Hanya memanjat, bukan melompat. Setidaknya bisa memuaskan keinginan anak saya untuk melihat lebih jelas. Sedangkan saya, memilih tetap di bawah sambil mengawasi sepeda motor yang saya tinggalkan di dekat sebuah truk yang juga parkir, di tepi sawah dekat kantor kecamatan. Sesekali saya berusaha melihat dibalik pagar, di sela-sela teralis, di antara penonton lain. Seru! Bukan hanya pertunjukannya yang seru, tapi situasi crowded itu pun terasa mengasyikkan bagi saya. Oya, pasti pada penasaran ya, apa sih pesta baratan itu?
Sebagian besar pemeluk agama Islam di Indonesia dan dunia meyakini adanya malam nisyfu sya’ban yang jatuh pada taggal 15 Sya’ban. Begitu juga dengan sebagian besar masyarakat Islam di Jepara, Jawa Tengah. Di Jepara, ada tradisi tersendiri dalam memperingat malam tersebut. Selain memperingati malam nisyfu sya’ban, pada malam itu pula rakyat Jepara mengadakan perayaan tradisional yang bernama Baratan. Pesta baratan adalah pesta rakyat yang dimaksudkan untuk memperingati perjuangan Ratu Kalinyamat di Jepara dalam melawan penjajah.  Bentuk pestanya adalah berupa  arak-arakan Ratu Kalinyamat, prajurit, dayang-dayang, dan barisan pembawa impes (lampion) di sepanjang jalan yang akan disaksikan oleh ratusan masyarakat setempat.
Pelaksanaan nisyfu sya’ban dan pesta baratan dilakukan secara berurutan. Setelah shalat maghrib di masjid atau musholla, masyarakat membaca surat yaasiin tiga kali. Khusus untuk para pelaku seni yang akan melakukan arak-arakan Ratu Kalinyamat di wilayah Kalinyamatan, mereka berkumpul di Masjid Al-Makmur, Krian, untuk ikut berdoa dan menunggu hingga pembacaan surat yaasiin selesai. Ketika sholat isya selesai dilaksanakan, rombongan arak-arakan tersebut baru berjalan dari depan halaman Masjid Al- Makmur hingga pendopo Kecamatan Kalinyamatan. Maka sepanjang jaan raya antara Desa Krian hingga Purwogondo akan penuh sesak oleh manusia-manusia yang ingin menyaksikan arak-arakan tersebut. Kemudian di halaman pendopo kecamatan, pelaku seni ini akan mementaskan sendra tari yang mengisahkan perjuangan Ratu Kalinyamat.
Mereka yang memerankan sebagai Ratu Kalinyamat, dayang-dayang, prajurit, dan para penari, dipilih melalui audisi tersendiri. Terutama untuk pemeran Ratu Kalinyamat, tidak boleh asal pilih, dan konon ada ritual tersendiri dalam penentuan pemeran Sang Ratu tersebut.
Adapun Ratu Kalinyamat, pada jaman dahulu adalah ratu yang telah memeluk agama Islam, istri dari Sultan Hadirin. Saat itu budaya hindu masih sedikit mewarnai pelaksanaan dalam beragama Islam. Dalam pesta ini, kostum yang dikenakan disesuaikan dengan situasi saat itu ( saat pemerintahan Ratu Kalinyamat). Namun, menurut hemat penulis, agar lebih kental dengan nilai islami, serta tujuan dakwahnya lebih mengena,  untuk kostum sebaiknya dimodifikasi lagi agar sesuai dengan syariat islam, yaitu berjilbab bagi wanita, baik untuk Ratu Kalinyamat,dayang-dayangnya, atau penari lain. Mengenakan jilbab dengan tidak meninggalkan ciri khas kedaerahan atau keraton, rasanya tidak akan mengurangi nilai sejarah dan budaya yang ingin dikedepankan. Semoga ke depan hal ini bisa terwujud. 
Malam itu, ternyata rute arakan Ratu Kalinyamat diperpendek untuk mengurangi panjangnya rute kemacetan jalan. Tidak dari halaman Masjid Al-Makmur seperti biasanya, tetapi dimulai dari Pasar Kerajinan, Margoyoso.  
Kami menyaksikan (lebih tepatnya terjebak) hingga acara  selesai pentas tari selesai. Kami berhasil keluar dari keterjebakan itu setelah dua kali putar balik sepeda motor. Dan ternyata kami tak bisa langsung belok menuju menuju rumah, karena arus ke sana terhenti, macet. jadilah kami plesiran lewat desa lain, Krasak, untuk bisa sampai rumah. 
Bagaimanapun , ini tradisi yang memperkaya budaya Jepara sekaligus menjadi ajang penyaluran bakat, serta upaya mengenalkan tokoh pahlawan lokal bagi anak-anak Jepara. Jepara Hebat!


Reaksi:

8 komentar:

  1. ratu Kalinyamat!!! Thanks info menariknya. Budaay kiat memang patut diacungi jempol

    BalasHapus
  2. Islam yang dibudayakan. Ah bukan budaya yang sesuai dengan ajaran Islam. Kalau saya kurang setuju mbak. Menurut saya, biarkan budaya tetap seperti itu. Tidak perlu berubah. Kecuali orang-orangnya sendiri yang berniat untuk mengubahnya. Maksudnya para pelaku budaya itu yang berubah, karena akan sangat sulit untuk mencampurkan dua ranah yang berbeda. Yah sampai saat ini belom pernah liat ada penari tradisional yang memakai jilbab mbak...
    Menoleransi saja mbak :)

    BalasHapus
  3. setuju ide melestarikan budaya yang disesuaikan dengan syariat Islam.

    BalasHapus
  4. Aku gak nonton.... Di tptku gak ada, bkn kecamatan kalinyamatan sih hihih

    BalasHapus
  5. Aku bela-belain nonton nih, terjebak didepan Giyoso wakakak

    BalasHapus
  6. Aku bela-belain nonton nih, terjebak didepan Giyoso wakakak

    BalasHapus
  7. Terimakasih untuk artikel anda, saya kentanasya pemeran ratu thn 2015 suwun

    BalasHapus
  8. wah ternyata di Jepara juga ada acara kayak gitu ya. Sangat mendukung dalam wisata Jepara ini. Makasih Infonya

    BalasHapus