Rabu, 08 Juli 2015

Oleh Seorang Sahabat, Tetang Aku...

Bukannya saya yang sudah narsis ini ingin tambah narsis. Tapi ulasan tentang profil saya yang ditulis oleh seorang teman ini ingin saya abadikan di sini, sebagai bentuk ungkapan rasa terimakasih saya. Dia dan saya memang jauh, bahkan bertahun-tahun tak pernah bersua. Namun kecanggihan dunia elektronika telah menakdirkan dia dan saya bertemu lagi meski secara maya. Jika kami  bertemu di dunia maya, benarkah dia maya? Saya pun maya? Nyatanya saya sering berdiskusi dengan dia tentang banyak hal. Akhirnya saya tak peduli apakah persahabatan itu sekedar ruang pengisi waktu sela di antara rutinitas, sarana hiburan, dan sejenisnya. Yang pasti, dia sangat berarti.

Nha, inilah hasil karya teman saya yang baik hati dan ramah ini, tentang saya. Terus terang saya tak sehebat seperti yang disebut dalam ulasannya. Sebagian isinya benar, sebagian lagi... semoga suatu saat menjadi benar :D. Apapun itu, kuharap kebaikan-kebaikan yang tersebut dalam tulisan di bawah ini adalah doa, meski sekali lagi... aku masih jauh dari kata "hebat". Selamat membaca...


Rika Haryani, Tentang Ella Sofa

Ini penting bagi Anda.
Dan Anda perlu tahu yang ini.
Irkhamna Faelasofa atau lebih dikenal dengan nama beken Ella Sofa. Profil ibu rumah tangga yang lembut dan sabar ini telah menelurkan kembali buku keren dengan judul "Sembuh dari Minder n Pede Aja Kali!"
Bisa kebayang kan, serunya buku itu. Diangkat dari true story, lho. Dan tahu ga, Ella Sofa juga sebelumnya sudah menulis novel "Rena Masih ada Cahaya," "Temui Aku di Surga". Ini pasti ibu rumah tangga kereeen euuyy.... Sempat-sempatnya nulis, padahal sudah memiliki 1 putri, Najwa, dan 2 putra, Sadiid dan Azka.
Ella Sofa yang lahir tahun 1979 dan kini tinggal di Jepara, sudah menorehkan prestasi dalam karier menulisnya. Mau tahu? Ini nih, ....
- 5 besar lomba novel di penerbit leutika prio, dengan judul "Rena Masih Ada Cahaya"
- juara harapan satu lomba karya tulis ttg Wisata di Jepara.
Ukiran prestasi tersebut bukan tanpa sebab, karena Ella Sofa sudah sangat produktif menulis dalam buku-buku antologi sekitar 20 karya. Memuat kisah sejati, cerpen, artikel, dan puisi. Ella juga banyak kontribusi di ummi online dan annida online berupa artikel-artikel islami.
Suaminya, Arif Zubaidi, tentu sangat mendukung aktifitas menulis Ella. Dan Ella sangat ingin kemampuan menulisnya semakin terasah dan bermanfaat juga buat orang lain. Karena itulah, menjadi guru ekskul jurnalistik menjadi pilihannya pula. Ilmu akan semakin melekat bila kita mengajarkannya. Ini alasan mengapa Ella memilih mengajarkan jurnalistik di salah satu sekolah dasar di kota Jepara.
Mungkin kita tidak akan menyangka kalau Ella adalah alumni FKM UNAIR. So, ibu yang ayu ini adalah seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat. Wewwww... Tidak ada "bau" sastra sama sekali, ya dalam karier studinya. Ella juga sempat mengikuti diklat pendidikan DGSD S1+ KPI Surabaya selama setahun penuh. Nah, buat apa ikut diklat selama itu? Yaa.. Supaya jadi ibu rumah tangga yang melek pendidikan juga dong... ( ini yg jawab teman diklatnya) kiki emotikon
Motivasi menulis Ella sangat tinggi. Katanya, "Nulis itu untuk berbagi. Terus, dari hasil tulisan itu sendiri, ketika dibaca orang lain dan membawa manfaat, maka akan melahirkan rasa bahagia yang berlipat-lipat, yang tidak bisa ternilai dengan uang. Saat menikmati proses nulis itu sendiri, apa yang ada dalam otak dan hati, bisa kita salurkan, sehingga membantu menyalurkan energi negatif agar tidak menumpuk dalam jiwa, ceile...."
Nah, itu yang Ella sampaikan. Nulis itu untuk berbagi, menebar manfaat untuk orang lain.
Ella juga kasih saran buat kamu yang pingin sukses nulis. Katanya begini, "Kalau pingin berhasil, ya harus istiqomah. Sepertinya simpel tapi praktiknya butuh perjuangan dalam melawan rasa ragu dan malas. Jangan lupa banyak membaca, latihan (menulis itu sendiri), membaca, menulis, membaca, menulis, begitu terus. Berteman dengan banyak penulis atau ikut grup nulis agar bisa melihat peluang. Dan...sebisa mungkin mendapat restu suami, dan berdoa agar segalanya dimudahkan. Boleh menulis dijadikan sarana mencari penghasilan, tapi usahakan inti dari niat kita adalah untuk menebar kebaikan."
Nah mantap kan, nasihat buat kamu yang ingin jadi penulis...
Ayuuukk nulis eeuyy..

( Rika, sahabat Ella Sofa)

Selasa, 07 Juli 2015

Tradisi "Premanan" Sambut Ramadhan di Kampungku


            Setelah postingan saya tentang pesta tradisi Baratan beberapa waktu lalu, kali ini saya ingin bercerita tentang tradisi Premanan di tempat kami, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Tradisi premanan adalah sebuah bentuk penyambutan masyarakat akan datangnya bulan Ramadhan dan lebaran yang telah ada sejak dahulu, yang dilaksanakan sepanjang bulan Ramadhan, yaitu adanya pasar malam di sepanjang jalan raya di sekitar Desa Purwogondo, Margoyoso, dan Kriyan, atau sebut saja sekitar daerah Kecamatan Kalinyamatan. 

            Pasar malam dadakan selama sebulan itu setiap hari dimulai setelah waktu sholat maghrib hingga sekitar pukul sepuluh malam, bahkan kadang lebih larut lagi. Di sepanjang jalan berjajar pedagang aneka macam produk, seperti mainan anak-anak, perlatan dapur, guci dan bunga plastik, pakaian anak-anak hingga dewasa, kerudung, peci, dan lain-lain. Beraneka macam makanan juga tiba-tiba bisa kita temukan  sepanjang bulan Ramadhan di pasar malam seperti kerak telor, es sari jeruk batu, manisan kapas, martabak, bakso, empek-empek, gorengan, fried chicken, sosis bakar, kentang spiral, dan masih banyak lagi. Makanan kerak telor selama ini memang hanya bisa ditemui saat ada premanan di bulan Ramadhan.
              Selain deretan pedagang berbagai barang dan makanan, di lapangan Kenari, Purwogondo, juga tiba-tiba penuh dengan berbagai wahana maina anak. Seperti komedi putar, ombak banyu, mandi bola, perahu Nabi Nuh, Bianglala (Jinontrol), kereta-keretaan, dan lain-lain. Ada juga istana hantu dan motor cross yang suaranya memekakkan telinga. Di antara wahana –wahana yang berjajar itu, berderet juga pedagang jamur crispy, sosis, es, juga pedagang pakaian.
Ramadhan di kampungku memang ramaiiii! 

             Di rumah, terdengar antara suara ayat-ayat suci yang berkumandang bersaing dengan suara motor cross, serta alunan lagu dangdut dari luar sana. Sepertinya memang agak ironis ya...? Tapi begitulah tradisi di kampungku setiap tahunnya. Kita tak bisa semata menjustifikasi bahwa premanan adalah kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama yang menganjurkan kita memperbanyak ibadah di bulan puasa dan bukannya keluyuran di jalan, tetapi memang sebaiknya menilai hal ini secara proporsional.  Bagaimanapun, tradisi ini adalah dalam rangka menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, dengan adanya kemeriahan dan keramaian di sepanjang bulan ini. Bagaimanapun, ada perputaran rejeki di dalam tradisi premana ini. Mereka (para pedagang dan pemilik wahana bermain) mendapatkan rejekinya di sini. Ada yang butuh, ada yang jual, dua-duanya sama-sama untung. Anak-anak pun tertawa bahagia saat menikmati wahana mainan tersebut, walau sebaiknya kita mengarahkan agar memilih wahana mainan yang aman dan tidak setiap hari menikmatinya.
Yang perlu kita lakukan sebagai umat islam yang baik adalah tetap menjalankan ibadah dengan baik, sesekali tak apa lah sekedar menengok situasi di luar, menikmati kemeriahan tradisi premanan, melihat mereka menjemput rejekinya di kampung ini. Sesekali melihat tawa riang anak-anak saat kita membelikan mereka makanan, mainan, atau menikmati mandi bola dan komedi putar juga membahagiakan lho.  Ya..., asal tidak setiap hari, karena bagaimanapun apa-apa yang berlebihan juga menjadi pemborosan dan kesia-siaan. 


               Ramadhan di kampungku adalah harapan untuk THR para pedagang, kita lah yang seharusnya pandai-pandai memanage agar tak larut dalam hura-hura. Meski....bagi saya yang tinggal di rumah yang sangat dekat dengan lokasi premanan, teori itu agak susah diterapkan. Hampir tiap malam anak-anak minta ke “premanan”. Hmmh... tak mudah jadi orang tua yang baik. Hehehe,,,
Yuk, yang di luar Jepara, sesekali mampir menikmati premanan di Kalinyamatan. Pasti berkesan....

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...