Selasa, 07 Juli 2015

Tradisi "Premanan" Sambut Ramadhan di Kampungku


            Setelah postingan saya tentang pesta tradisi Baratan beberapa waktu lalu, kali ini saya ingin bercerita tentang tradisi Premanan di tempat kami, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Tradisi premanan adalah sebuah bentuk penyambutan masyarakat akan datangnya bulan Ramadhan dan lebaran yang telah ada sejak dahulu, yang dilaksanakan sepanjang bulan Ramadhan, yaitu adanya pasar malam di sepanjang jalan raya di sekitar Desa Purwogondo, Margoyoso, dan Kriyan, atau sebut saja sekitar daerah Kecamatan Kalinyamatan. 

            Pasar malam dadakan selama sebulan itu setiap hari dimulai setelah waktu sholat maghrib hingga sekitar pukul sepuluh malam, bahkan kadang lebih larut lagi. Di sepanjang jalan berjajar pedagang aneka macam produk, seperti mainan anak-anak, perlatan dapur, guci dan bunga plastik, pakaian anak-anak hingga dewasa, kerudung, peci, dan lain-lain. Beraneka macam makanan juga tiba-tiba bisa kita temukan  sepanjang bulan Ramadhan di pasar malam seperti kerak telor, es sari jeruk batu, manisan kapas, martabak, bakso, empek-empek, gorengan, fried chicken, sosis bakar, kentang spiral, dan masih banyak lagi. Makanan kerak telor selama ini memang hanya bisa ditemui saat ada premanan di bulan Ramadhan.
              Selain deretan pedagang berbagai barang dan makanan, di lapangan Kenari, Purwogondo, juga tiba-tiba penuh dengan berbagai wahana maina anak. Seperti komedi putar, ombak banyu, mandi bola, perahu Nabi Nuh, Bianglala (Jinontrol), kereta-keretaan, dan lain-lain. Ada juga istana hantu dan motor cross yang suaranya memekakkan telinga. Di antara wahana –wahana yang berjajar itu, berderet juga pedagang jamur crispy, sosis, es, juga pedagang pakaian.
Ramadhan di kampungku memang ramaiiii! 

             Di rumah, terdengar antara suara ayat-ayat suci yang berkumandang bersaing dengan suara motor cross, serta alunan lagu dangdut dari luar sana. Sepertinya memang agak ironis ya...? Tapi begitulah tradisi di kampungku setiap tahunnya. Kita tak bisa semata menjustifikasi bahwa premanan adalah kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama yang menganjurkan kita memperbanyak ibadah di bulan puasa dan bukannya keluyuran di jalan, tetapi memang sebaiknya menilai hal ini secara proporsional.  Bagaimanapun, tradisi ini adalah dalam rangka menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, dengan adanya kemeriahan dan keramaian di sepanjang bulan ini. Bagaimanapun, ada perputaran rejeki di dalam tradisi premana ini. Mereka (para pedagang dan pemilik wahana bermain) mendapatkan rejekinya di sini. Ada yang butuh, ada yang jual, dua-duanya sama-sama untung. Anak-anak pun tertawa bahagia saat menikmati wahana mainan tersebut, walau sebaiknya kita mengarahkan agar memilih wahana mainan yang aman dan tidak setiap hari menikmatinya.
Yang perlu kita lakukan sebagai umat islam yang baik adalah tetap menjalankan ibadah dengan baik, sesekali tak apa lah sekedar menengok situasi di luar, menikmati kemeriahan tradisi premanan, melihat mereka menjemput rejekinya di kampung ini. Sesekali melihat tawa riang anak-anak saat kita membelikan mereka makanan, mainan, atau menikmati mandi bola dan komedi putar juga membahagiakan lho.  Ya..., asal tidak setiap hari, karena bagaimanapun apa-apa yang berlebihan juga menjadi pemborosan dan kesia-siaan. 


               Ramadhan di kampungku adalah harapan untuk THR para pedagang, kita lah yang seharusnya pandai-pandai memanage agar tak larut dalam hura-hura. Meski....bagi saya yang tinggal di rumah yang sangat dekat dengan lokasi premanan, teori itu agak susah diterapkan. Hampir tiap malam anak-anak minta ke “premanan”. Hmmh... tak mudah jadi orang tua yang baik. Hehehe,,,
Yuk, yang di luar Jepara, sesekali mampir menikmati premanan di Kalinyamatan. Pasti berkesan....
Reaksi:

5 komentar:

  1. memang tradisi seperti ini bikin banyak orang bisa ikut bergembira ya

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Btw, aku sudah follow blognya, Mak. Yuk saling follow :)

      Hapus
    2. Oke nanti klo nggak loba ya mbak....

      Hapus
  3. Ada pasar malam ya, anakku pasti suka naik bianglala....

    BalasHapus