Sabtu, 26 Desember 2015

Wisata Goa Kreo, Gunung Pati, Semarang, Kereeeen Bangetz!

          Sebagai orang Jawa Tengah, saya termasuk orang yang jarang jalan-jalan ke tempat wisata, pun tempat-tempat wisata di jawa tengah. Siang  itu saya dan adik-adik serta anak-anak saya tentu saja, sedang mengantar ayah-ibu ke bandara. Mereka akan terbang ke Lampung sore harinya. Karena perjalanan dari Jepara ke Semarang lumayan tidak sebentar, rasanya sayang jika kami tidak sekalian mampir ke tempat lain. Ada mendapat informasi jika ada sebuah tempat wisata yang lokasinya tak jauh dari Bandara Udara Ahmad Yani, yang namanya Goa Kreo. Meski saat itu orang satu mobil termasuk sopir belum pernah singgah ke tempat itu, tapi ternyata tak begitu sulit untuk sampai ke tempat wisata Goa Kreo tersebut. Dan tak ada setengah jam kami sudah tiba di sana.
          Rasa hati saya berdebar-debar saat kaki-kaki kami baru saja berjalan di bawah gapura selamat datang, karena penasaran oleh informasi yang kami dapat bahwa tempat ini sangat indah dan unik, karena di sana kita akan disambut oleh kawanan monyet yang bebas berkeliaran yang tak segan mendekat dan mengikuti pengunjung.
          Dan memang, begitu masuk ke temapt parkir di mana di sana juga berderet warung-warung kecil penjual makanan dan minuman ringan, sekelompok monyet langsung menyerbu. Antara senang dan takut, anak-anak serta ponakan saya menjerit-jerit sambil berlari atau melompat-lompat. Tapi bagi saya, ini sungguh sesuatu yang luar biasa. Tiba-tiba saya sangat bahagia menikmati sambutan alam saat pertama masuk ke tempat wisata ini. Monyet-monyet yang mendekat-dekat minta diberi cemilan, pemandangan indah menghijau yang siap telah menanti untuk saya jelajah lebih lanjut, serta udara yang sejuuuk. Wow.... rasanya saya akan betah.
          Untuk beberapa saat kami asyik dengan monyet-monyet itu. Ada yang taua, dewasa, remaja, bahakan yang masih imut dan masih nempel serta menyusu ibunya juga ada. Lucuuuu... ada yang tenang makan setelah kami beri krupuk. Ada yang rebutan makanan sama temannya. Bahkan, ketika plastik kresek yang kami ditenteng adikku terbuka, seekor monyet mengambil sepotong kue bolu. Kami tertawa geli melihat tingkah mereka.
          Dari tempat parkir kami menyusuri jalan menuju danau, tepatnya bendungan karena ternyata ini danau buatan. Jalan yang kami tak hanya lurus atau datar, akan tetapi naik turun. Jadi ada semacam tangga-tangga beton yang harus kami lalui, yang di bagian kanan kirinya berhiaskan patung monyet.  Tak berapa jauh, kami sampai di jembatan yang membentang di atas danau.  Danau ini.... airnya tenang...., dikelilingi oleh hijaunya pepohonan yang rimbun, dan sore itu dipayungi oleh langit biru jernih bersulamkan awan-awan putih tipis serta kepak-kepak kecil sayap hitam yang terbang berkelompok dengan manisnya. Subhanallah....indahnya....!
          Jembatan yang kami susuri di atas danau ini cukup panjang, dengan bagian kanan-kiri dilindungi oleh pagar besi, dan di beberapa bagian terdapat juga patung monyet. Benar-benar jadi maskot di sini nih teman kita yang satu ini. Dari jembatan ini, kita bisa menikmati ketenangan dan keindahan danau yang bagi saya sungguh bisa menjadi terapi soule detox. Di sini, saya sekali lagi mengakui, bahwa refreshing hati dengan berwisata itu sangat perlu. Semilir angin yang mempermainkan baju dan kerudung saya, benar-benar membahagiakan. Terimakasih, Ya Allah...saya diberi kesempatan menikmati suasana indah ini. Jika memungkinkan, dan tak ada amanah lain yang harus saya kerjakan, saya ingin seharian duduk di tepian jembatan hanya untuk menatapi tenangnya danau ini.
Ohya, ternyata danau ini memiliki nama sendiri seperti yang tertera di atas salah satu bagian tanggul danau, yaitu Bendungan Jatibarang. Ohya, sebagian danau nampak alami dengan garis pinggir airnya yang langsung bersentuhan dengan tanah, di separuh bagian lainnya nampak sebagai bendungan atau waduk buatan dengan tanggul di bagian pinggirnya. 
Anak-anak berlarian gembira menyusuri jembatan nan indah ini. lalu, sampailah kami di ujung jembatan. Jalanan yang kami lalui mulai menanjak, dan lumayan sempit. di bagian kiri dinding tebing, di bagian kanan.... danau yang setia menemani perjalanan kami. Jika kami terus berjalan, maka seharusnya kami akan sampai di goa yang disebut Goa Kreo tersebut. Tapi..., tapi kami urung sampai masuk ke dalam goa, karena sekawanan monyet menghadang kami. Seperti monyet-monyet sebelumnya, mereka juga mendekat untuk minta cemilan makanan yang kami bawa. Tapi kali ini monyet-monyetnya lebih agresif. Apalagi, dari atas tebing sebelah kanan kami, beberapa ekor monyet bergelantungan dan berloncatan ke bawah, ke arah kami tentunya. Anak-anak takut, dan berlarian dengan berbalik arah menuju jembatan lagi. Kata orang sih, kalau monyet-monyet itu tahu bahwa kita membawa tas kresek atau kantong yang berisi makanan, maka mereka akan mengikuti dan minta makan terus.  Nha... kebetulan adikku memang saat itu menenteng plastik kresek berisi makanan. Hmmmm... makanya.
          Oke, akhirnya kami berbalik arah, kembali menyusuri jembatan panjang di atas danau tenang nan menghanyutkan.  Perjalanan kembali di atas jembatan pun tetap menyenangkan. Kami sempat mengambil beberapa gambar untuk mengabadikan momen tak terlupakan ini. Untuk lebih jelasnya, melihat foto-foto hasil jepretan amatiran ini inshaallah akan lebih memuaskan. “Suatu hari saya pasti akan kembali ke tempat ini, pasti....,” bisik hati saya yang bahagia ini.






Jumat, 11 Desember 2015

Curhatku..... (Beberapa hari yg lalu)


Malam ini, saya ingin mulai lagi menulis setelah hampir sebulan atau bahkan lebih saya tak menghasilkn tulisan apa- apa. Paling hanya nulis status-status di fb atau komen di grup wa. Tak seperti biasanya, rasa lelah yang menghinggapi tubuh ini tak jua mampu membuat saya terlelap. Ada sesuatu yang berbeda, yang seakan mengganjal mata ini hingga susah menutup. Saya tidak bisa tidur. Rasanya saya harus melakukan suatu hal yang bisa membersihkan ganjalan-ganjalan tersebut agar mata ini mudah lelap dengan tenang dan damai.  Akhirnya...saya teringat laptop hijau tosca (kata suami saya biru muda) yang selama ini menjadi teman saya “bekerja” dan menghibur diri. Rasanya saya belum bisa mulai “bekerja” lagi dengan lepi kesayangan ini. Jadi anggap saja saya sedang melakukan hal ke dua, yaitu menghibur diri, meski sesungguhnya istilah itu juga kurang tepat. Kata-kata menghibur diri hanya akan memancing persepsi bahwa saya sedang sedih. Saya tidak ingin disebut sedang sedih, tapi saya memang butuh “rasa bahagia”.  Nha, pasti akan timbul pertanyaan bagi yang membaca, artinya saya sedang tidak bahagia? Mengapa saya tidak bahagia? Kemalangan apakah yang menimpa saya hingga saya tidak bahagia? Saya memiliki segalanya, benar, tak ada alasan wajar yang membuat orang lain maklum jika saya bilang saya tidak bahagia. Justru saya akan mendapat cap sebagai manusia yang tidak bersyukur, tidak bisa menikmati pemberian-pemberian Allah.... 
Ah... bagi manusia bijak nan penuh dengan pikiran positif pasti tidak akan semata menilai saya dengan pandangan prihatin karena saya tidak bisa mensyukuri hidup, karena saya tidak dewasa dan egois. Yang saya harapkan adalah mereka atau kalian yang membaca tulisan ini akan memiliki pikiran yang sama dengan saya, yaitu...bahwa saya sedang belajar memaknai hidup, mensyukurinya, dan menikmatinya dengan rasa bahagia. Pasti kalian penasaran, sesungguhnya apa yang ingin saya tuliskan atau apa sih yang sedang saya alami sehingga mengawali tulisan dengan gaya orang lagi “galau”?

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...