Jumat, 11 Desember 2015

Curhatku..... (Beberapa hari yg lalu)


Malam ini, saya ingin mulai lagi menulis setelah hampir sebulan atau bahkan lebih saya tak menghasilkn tulisan apa- apa. Paling hanya nulis status-status di fb atau komen di grup wa. Tak seperti biasanya, rasa lelah yang menghinggapi tubuh ini tak jua mampu membuat saya terlelap. Ada sesuatu yang berbeda, yang seakan mengganjal mata ini hingga susah menutup. Saya tidak bisa tidur. Rasanya saya harus melakukan suatu hal yang bisa membersihkan ganjalan-ganjalan tersebut agar mata ini mudah lelap dengan tenang dan damai.  Akhirnya...saya teringat laptop hijau tosca (kata suami saya biru muda) yang selama ini menjadi teman saya “bekerja” dan menghibur diri. Rasanya saya belum bisa mulai “bekerja” lagi dengan lepi kesayangan ini. Jadi anggap saja saya sedang melakukan hal ke dua, yaitu menghibur diri, meski sesungguhnya istilah itu juga kurang tepat. Kata-kata menghibur diri hanya akan memancing persepsi bahwa saya sedang sedih. Saya tidak ingin disebut sedang sedih, tapi saya memang butuh “rasa bahagia”.  Nha, pasti akan timbul pertanyaan bagi yang membaca, artinya saya sedang tidak bahagia? Mengapa saya tidak bahagia? Kemalangan apakah yang menimpa saya hingga saya tidak bahagia? Saya memiliki segalanya, benar, tak ada alasan wajar yang membuat orang lain maklum jika saya bilang saya tidak bahagia. Justru saya akan mendapat cap sebagai manusia yang tidak bersyukur, tidak bisa menikmati pemberian-pemberian Allah.... 
Ah... bagi manusia bijak nan penuh dengan pikiran positif pasti tidak akan semata menilai saya dengan pandangan prihatin karena saya tidak bisa mensyukuri hidup, karena saya tidak dewasa dan egois. Yang saya harapkan adalah mereka atau kalian yang membaca tulisan ini akan memiliki pikiran yang sama dengan saya, yaitu...bahwa saya sedang belajar memaknai hidup, mensyukurinya, dan menikmatinya dengan rasa bahagia. Pasti kalian penasaran, sesungguhnya apa yang ingin saya tuliskan atau apa sih yang sedang saya alami sehingga mengawali tulisan dengan gaya orang lagi “galau”?

Kata siapa saya tak ingin cerita panjang lebar tentang kegalauan hati ini? Kata siapa saya tak ingin menangis dan merengek pada Mama minta pulang saja?  Kata siapa saya tak ingin menolak takdir?
Tapi... bercerita panjang lebar, mendetail, dan gamblang, tak akan menjamin kalian akan memahami apa yang sedang saya rasakan. Justru sudah pasti saya akan melakukan hal yang menambah dosa saya, yaitu membicarakan orang lain yang sebelumnya kalian tak tahu apa-apa. Jadi, kalau kalian berharap saya menceritakannya di sini tentang kekhawatiran-kekhawatiran itu, saya hanya berharap kalian mendoakan saya saja, agar bisa melalui semua ini dengan lapang dada, sabar, dan ikhlas....
Manusia dikaruniai akal untuk berpikir, menyusun strategi dan rencana-rencana dalam hidup. Namun Allah Sang pemilik hidup adalah penguasa segala sesuatu. Kehendak-Nya tak akan bisa kita cegah. Pada satu titik ketidakberdayaan, kita perlu menyadari dan berikhlas hati bahwa...kita ini hanya lakon, pemain drama, pelaku yang menjalankan peran sesuai dengan skenario buatan-Nya. Jalani saja, jalani saja. Jangan terlalu dipikir berat, karena tugas kita bukan hanya tentang mengapa dan kenapa, tapi bagaimana membuat diri kita agar tetap bisa menjadi manusia yang bermakna, meski sebagian jiwa ingin berteriak dan lepas...!
Kau tidak boleh sedih berkepanjangan,  jangan terlalu serius, tapi juga jangan sampai kehilangan diri sendiri. Jadikan dirimu bermanfaat meski kata kasar, cibiran, atau makian mendera. Nilai dirimu tak tergantung apa yang dibilang orang, Allah maha tahu dan selalu menilai dengan sebenar-benar nilai. Jadikan Allah sebagai sahabatmu, karena dia itu kaya akan segalanya, materi maupun kasih sayang..... Katakan pada-Nya jika lakon yang kau perankan benar-benar terlalu berat, kau boleh minta perubahan. Tapi...jika kita bisa mencoba menjalaninya dulu, why not? Jadi, kau akan menjadi pribadi yang kuat jika mampu melalui yang ini dulu. Iya...protesnya nanti saja jika kau benar-benar sudah tak sanggup...
Lhah...kok saya jadi menuliskan nasehat-nasehat ya? Jangan salah...saya ini sedang menasehati diri saya sendiri. Percaya deh..., saya tidak menganggap kalian sedang galau kok...
Yuk, berdoa. Setidaknya aminkanlah doa saya ini, agar Allah mengabulkannya. “Ya... Allah, ringankanlah hati hamba dalam menjalani apa yang sebelumnya menjadi kekhawatiran saya, permudahlah proses yang harus saya lalui, kuatkanlah hati ini, kuatkanlah raga ini, berilah hamba kebahagiaan yang banyak. Tunjukilah hamba jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin...”
Sudah... begitu saja. Rasanya jadi lebih ringan setelah menuliskan ini. Saya ngin tertidur lelap demi pagi yang telah menunggu dengan sederet amanah. Jika saya berhasil menulis yang sekelumit ini, semoga esok saya berhasil menulis untuk “bekerja”, untuk dunia dan akhirat nanti, Aamiin..... Ya... Allah...Irkhamna....
Reaksi:

3 komentar:

  1. Semoga diberikan kelapangan hati dan kemudahan dalam menghadapi setiap kesulitan ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mbak ela....., kita sam-sama ela ya, hehe
      aamiin atas doanya, mbak. Tulisan saya benar-benar kayak org lagi galau ya..., btw menulis mmg bisa jadi terapi ya....

      Hapus
  2. Aamiin... semoga semuaya senantiasa diberikan kebaikan dan keberkahan...

    BalasHapus