Minggu, 30 Oktober 2016

Alhamdulillah, Nulis Lagi

           Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... Komputer yang kami tunggu-tunggu datang juga mengisi rumah ini. Sudah beberapa hari ini kami hidup tanpa komputer atau laptop. Laptop yang biasanya menemani sedang perlu diperbaiki, entah bagian mana yang perlu direparasi atau diganti. Paraktis, beberapa hari itu juga tidak ada tulisan yang kami hasilkan. Kami (saya dan anak sulung perempuan saya, Najwa) memang memiliki hobi menulis. Dan kami terbiasa menulis langsung di laptop. Maka ketika Ayah memutuskan untuk membeli seperangkat PC dengan pertimbangan akan lebih tahan banting, maka kami menyambut dengan sangat gembira. Serasa ada napas baru yang akan membantu memberi kami oksigen lebih agar semangat menulis makin menggebu. Lalu bagaimana dengan laptop itu? Belum ada kabar pasti memang, tapi kalau memikirklan harga dan betapa banyak simpanan tulisan di dalamnya (meski sudah ada back up tapi kurang lengkap), maka akan membuat kami sedih. Meski sudah ada komputer PC, kami tetap berharap laptop itu segera sembuh dan bisa bermain-main lagi dengan kami saat butuh menyalurkan aspirasi. Apalagi yang merasa butuh komputer banyak, tak Cuma saya dan Najwa, tapi dua adiknya juga. Mereka kadang ingin main game atau nonton film dari komputer. 

       Dan ternyata, menulis di PC rasanya lebih nyaman. Hanya memang tak bisa dibawa kemana-mana seperti laptop. Aih... jadi inget gimana nak-anak tetangga juga suka nimbrung main laptop, lalu saya ketar-ketir manahan kuatir, jangan-jangan nanti rusak, file pada hilang, dan lain-lain. Sementara anak saya akak bertahan pada keinginannya main laptop sama temen-temen, sehingga saya tak bisa melarang mereka. Biasanya saya hanya bisa memandang mereka sambil menahan keinginan menulis, juga menahan emosi. Waduh..., namanya anak-anak, anak saya seringkali tak teratur dan asal dalam menggunakan laptop. Laptop ditenteng kesana-kemari bak sedang bawa bantal mainan, tanpa rasa hati-hati sama sekali. Kadang pula “gedubragkkk!”, laptop jatuh meluncur dengan naasnya ke lantai. Oh... laptopku sayang, bagaimana nasibmu di sana? Kutunggu kau dengan sabar, meski aku tak bisa setia.

Selasa, 21 Juni 2016

Tips Naik Pesawat Untuk Pemula

Bepergian naik pesawat


Bepergian menggunakan pesawat sebenarnya prosedurnya sama dengan ketika kita menggunakan  alat transportasi lain, sepeti: bis, kereta, atau kapal. Awalnya menentukan tujuan, lalu beli tiket, dan berangkat. Bagi mereka yang sudah sering naik pesawat mungkin tips ini tidak terlalu penting. Namun bagi yang baru pertama kali hendak naik pesawat mungkin panduan seperti ini sangat dibutuhkan.
Nah berikut akan saya berikan tips, bagaimana cara naik pesawat:

Membeli Tiket 
Mungkin anda masih bingung dimana harus membeli tiket? Untuk tiket, anda bisa membelinya melalui agent travel atau secara online. Jika secara online, anda bisa menggunakan jasa situs penerbangan seperti Traveloka. Melalui traveloka.com anda bisa mendapat informasi mengenai promo dari suatu maskapai penerbangan. Misalnya: tentang Promo Pesawat Terbang Lion Air. Dari sana anda akan memperoleh informasi tentang promo maupun tiket murah saat program promo berlangsung. Promo ini akan berbeda disetiap periodenya, tergantung dari maskapainya. Melalui traveloka anda bisa langsung booking tiket sesuai jadwal penerbangan anda.
Setelah booking tiket, anda akan diberi kode booking yang nantinya akan dipakai saat check in di Bandara.

Check In
Check in di sini maksudnya adalah menukar kode pemesanan tiket (booking tiket) dengan tiket pesawat (Boarding Pass). Saat check in ini biasanya akan dikenakan biaya tax airport. Besarnya antara 20 ribu hingga 75 ribu rupiah. Tergantung Bandaranya, karena masing-masing Bandara akan berbeda tergantung maskapai penerbangannya juga.
Saat di ruang tunggu, misalnya anda ada keperluan ingin menemui keluarga yang berada di luar, maka anda sudah tidak diwajibkan membayar Tax Air Port lagi.
Sebaiknya jangan membawa barang terlalu banyak, karena jika over bagasi maka anda akan dikenakan biaya tambahan. Umumnya standart maksimal bawaan kita adalah 15 hingga 20kg. lebih dari itu akan dikenakan biaya tambahan. Selain itu ada pula barang-barang yang tidak diperbolehkan dibawa dalam pesawat seperti: benda tajam, benda mudah terbakar, benda-benda yang berbau tajam, dan sejenisnya. Jika ketahuan membawa barang tersebut, maka kita harus rela untuk disita oleh petugas. Namun untuk barang-barang yang dilarang secara hukum, tidak Cuma barang saja yang disita akan tetapi juga akan berurusan dengan petugas. Ini jika barang tersebut sejenis narkoba.

Boarding
Boarding yang dimaksud adalah persiapan keberangkatan atau naik pesawat. Termasuk kesiapan pesawat mengangkut penumpang, pengecekan jumlah penumpang, pengecekan terhadap barang, apakah ada barang yang seharusnya masuk bagasi namun masuk bersama penumpang, lalu petunjuk pemakaian sabuk pengaman, petunjuk penggunaan pintu darurat, dan lain-lain. Ini semua memakan waktu yang cukup lama. Oleh karenanya, sebaiknya anda sudah harus datang minimal 1 jam sebelum keberangkatan pesawat untuk menghindari tertinggalnya pesawat.

Take Off
Ini menjadi salah satu bagian penting dalam proses penerbangan. Biasanya pramugari akan menuntun anda untuk mengenakan sabuk pengaman dan mematikan semua peralatan elektronik. Mungkin secara tiba-tiba telinga akan terasa sakit dan berdengung oleh karena perbedaan tekanan udara. Ini wajar, anda tak perlu khawatir karena untuk menghilangkannya anda cukup menelan ludah atau dengan membuka mulut lebar-lebar.

Saat Penerbangan
Usahakan dalam kondisi tetap tenang. Hindari berbicara terlalu keras atau bersenda gurau yang dapat menimbulkan kegaduhan. Ingat, di pesawat kita bisa berhadapan dengan orang dari berbagai penjuru dunia yang memungkinkan ada perbedaan suku, Agama, Ras, dan Golongan.
Meski pesawat sudah dalam keadaan terbang kita tetap diperbolehkan jika ingin ke toilet. Pastikan kondisi lampu sabuk pengaman dalam kedaan off. Jika cuaca buruk atau lampu sabuk pengaman dalam kedaan on, sebaiknya tetap berada di kursi demi keamanan dan keselamatan anda.

Landing
Landing atau pendaratan biasanya sebagai tanda bahwa penerbangan kita sudah sampai tujuan. Melalui microfon akan ada pemberitahuan kepada penumpang untuk memakai kembali sabuk pengaman, rileks dan sandaran kursi dalam kedaan tegak. Dalam kasus tertentu, misalkan yang disebabkan oleh cuaca buruk atau sebab lain, dimana perjalanan tidak bisa dilanjutkan, maka akan dilakukan landing darurat atau landing di bandara terdekat dan akan dilanjutkan kembali perjalanan setelah kondisi membaik.
Anda masih belum diperbolehkan melepaskan sabuk pengaman dan mengaktifkan alat elektronik sampai pesawat benar-benar sudah berhenti.

Transit
Transit adalah berhenti sementara dibandara lain sebelum sampai tujuan penerbangan. Sebagai contoh saat melakukan perjalanan penerbangan dari Padang ke Surabaya, pesawat transit di Jakarta. Transit kadang ada yang ganti pesawat, namun ada pula yang tidak ganti pesawat. Transit yang tidak ganti pesawat biasanya tidak butuh waktu lama, dan penumpang bisa jadi diminta tetap dalam pesawat. Sementara transit ganti pesawat biasanya butuh waktu berjam-jam. Penumpang akan diminta untuk menunggu di ruang tunggu hingga ada pemberitahuan berikutnya.

Delay
Delay adalah penundaan jadwal keberangkatan. Biasanya disebabkan karena alas an teknis atau bisa juga karena kondisi cuaca buruk. Proses delay biasanya dilakukan dalam hitungan jam. Jika lebih dari 3 hingga 5 jam, maka pihak maskapai akan memberikan kebijakan tersendiri bagi penumpang. Dari delay bisa mejadi refund atau pembatalan penerbangan. Jika refund, maka uang tiket akan dikembalikan.

Sesampainya di bandara anda bisa melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan dengan bis damri atau taksi. Taksi bandara umumnya berplat hitam. Mereka biasanya memiliki tariff tersendiri untuk jangkauan jarak dekat atau jauh. Ada baiknya anda menanyakan terlebih dahulu berapa tarifnya untuk menghindari besarnya tarif yang tak terduga.

Senin, 23 Mei 2016

Pesta Baratan: Seputar Mitos dan Tim Kreatif di Balik Perayaan Ini

Baratan adalah tradisi yang dilakukan oleh masyrakat Jepara di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, khususnya Margoyoso, Purwogondo, dan Kriyan, dalam memperingati malam Nisyfu Sya’ban setiap tanggal 15 Sya’ban atau 15 Ruwah. Tradisi itu berupa adanya arak-arakan anak-anak yang membawa impes (lampion kertas khas Jepara), serta arak-arakan Ratu Kalinyamat serta rombongannya, dilanjutkan dengan pertunjukan drama tari perjuangan Ratu Kalinyamat. Sedangkan di masjid atau musholla, sehabis maghrib masyarakat  membaca surat Yaasiin tiga kali secara serempak.

Ada beberapa makna dari perayaan ini, yaitu:
1.    Sebagai cara masyarakat menyambut datangnya bulan Ramadhan (bulan berikutnya setelah Sya’ban)
2.    Membersihkan diri karena malam Nisyfu Sya’ban dipercaya sebagai malam ditutupnya amalan manusia dalam setahun.
3.    Mengenang perjuangan Ratu pemimpin Jepara yang berada di wilayah kalinyamatan, yaitu Kanjeng Ratu Kalinyamat, yang berjuang bersama suaminya, Sultan Hadirin, menghadapi Portugis.
4.    Simbol peran Ratu Kalinyamat dalam mengusir berbagai macam bentuk syetan atau makhluk halus pengganggu menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Setahun lalu, saya sudah pernah menuliskan tentang pesta baratan. Kali ini saya juga ingin menceritakan hal yang sama, yaitu pesta baratan di Jepara. Kalau waktu itu saya  bercerita tentang betapa ramainya keadaan jalan raya dan saya terjebak di tengah tengahnya, maka kali ini pun sama. Bahkan saya terjebak bersama tiga anak, bukan satu anak seperti tahun lalu. Tapi, bagaimanapun saya tetap menikmati dan optimis bisa keluar dari situasi macet tersebut. Hanya saja pada postingan kali ini saya akan mengulas lebih jauh tentang hal- hal lain yang berkaitan dengan pesta baratan, di antaranya tentang mitos seputar baratan dan siapakah mereka yang berada di balik rancangan pesta baratan ini.
Tahun ini ada yang berbeda. Jika biasanya rute baratan dari Masjid Al-Makmur menuju Pendopo Kecamatan Kalinyamatan, maka tahun ini puncak pagelaran dipindah ke lapangan kenari, sebuah lapangan besar yang letaknya tak jauh dari balai kecamatan di Desa Purwogondo. Juga hari pelaksanaan tak lagi di hari yang sama dengan malam Nisyfu Sya’ban, tapi diajukan sehari sebelumnya. Alasan perubahan itu adalah untuk kebaikan semua. Dipindah ke lapangan kenari agar tidak terlalu mengganggu lalu lintas jalan raya utama di depan dan sekitar balai kecamatan. Sedangkan penggantian hari adalah agar pelaksanaan pesta adat ini tak bersamaan dengan ritual ibadah di malam Nisyfu Sya’ban. 

Ada hal menarik yang ingin saya sampaikan di sini. Ada beberapa mitos sehubungan dengan pelaksanaan pesta baratan. Salah satunya adalah bahwa pemeran Ratu nantinya bisa mengalami gangguan jiwa karena tak kuat diikuti oleh arwah Nyai Ratu Kalinyamat.

Saya penasaran dengan mitos itu, dan pada suatu kesempatan pernah menanyakan hal itu pada salah satu panitia yang sudah lama aktif dalam setiap perayaan pesta baratan, yaitu Bang Kayi. Dengan senang hati Bang Kayi yang memiliki nama Fb Kayi Jawaica ini menjelaskan bahwa mitos itu berkembang karena memang pernah ada suatu kejadian di masa lalu mengenai pemeran Ratu Kalinyamat. 
Bang Kayi berpose bersama Ratu Kalinyamat 2016

Dulu, ada seorang gadis pemeran Sang Ratu mengalami stres. Kebetulan hal itu terjadi beberapa waktu setelah pelaksanaan pesta baratan. Yang terjadi sebenarnya adalah gadis itu sebelumya memang mempunyai masalah atau mendapat tekanan dari keluarga, sehingga ia stres berat. Hanya memang kebetulan saja ia mendapatkan peran menjadi ratu, sehingga berkembang issue bahwa ia mengalami gangguan jiwa karena pengaruh ruh Ratu Kalinyamat.  
Pemeran Ratu Kalinyamat 2016

Beberapa tahun kemudian ada lagi seorang mantan pemeran ratu Kalinyamat, juga mengalami stres berat. Usut punya usut, ternyata ia sedang mengalami masalah dalam pernikahannya (kejadian setelah ia menikah). Tetapi kejadian ini juga membuat issue adanya gangguan dari arwah Nyai Ratu Kalinyamat makin berkembang. 

Banyak gadis yang pernah memerankan tokoh Ratu Kalinyamat, tetapi kenyataannya yang mengalami gangguan hanya dua, dan itu pun karena mereka memiliki masalah tersendiri. Bahkan setelah diusut, wanita-wanita yang konon stress itu ternyata dari even lain, bukan even pesta baratan. Entah mengapa jadi berkembang mitos sebagai korban perayaan Baratan.  Tapi namanya mitos, sedikit kejadian saja sudah digembar-gemborkan seolah itu benar, bahwa pemeran ratu beresiko mengalami gangguan jiwa. 

By the way, patut disyukuri bahwa meski mitos itu masih ada, namun animo kawula muda untuk berburu peran menjadi ratu masih ada. Setiap tahun pesta baratan tetap terlaksana, bahkan dari tahun ke tahun makin meriah. Dan selama beberapa tahun tak pernah terdengar kabar lagi bahwa pemeran Ratu Kalinyamat mengalami gangguan jiwa. Bahkan kebanyakan mereka adalah siswa atau mahasiswa yang berprestasi.

Mitos lainya, bahwa selama pelaksanaan perayaan baratan, arwah Ratu dan Pengikutnya ikut hadir dan bisa mengganggu para penonton atau penari/pemeran. Memang, dari yang saya lihat di baratan tahun lalu, ada beberapa penari yang pingsan. Saya tanyakan hal ini juga pada bang Kayi. Lagi lagi  Bang Kayi tersenyum. Lalu menjawab dengan tenang.

“Memang begini Mbak...anak anak itu, pada hari dimana malamnya mereka tampil, mereka latihan dari pagi. Saking semangatnya, beberapa dari mereka lupa makan siang. Sorenya sudah harus dirias, dan langsung siap siap tampil malamnya. Jadi, pas pelaksanaan baratan, mereka kehabisan energi, dan pingsan. Nha... itu memberikan kesan bahwa mereka kena gangguan...”

Saya manggut manggut mendengarkan penjelasan dari bang Kayi. Bisa dimengerti dan memang masuk akal. Saya jadi menertawakan diri sendiri karena tahun lalu sempat percaya bahwa mereka yang pingsan adalah sasaran arwah yang ikut meramaikan acara baratan. Memang tiba tiba saja aroma magis menguar tatkala arak arakan Ratu Kalinyamat dan rombongannya melintas atau tampil di panggung. Mungkin karena saya sudah keburu termakan oleh mitos ya?

Oke... itu tentang mitos. Kemudian saya ingin sedikit memberikan informasi tentang siapakah orang orang kreatif penyelengara pesta baratan ini. Panitia pelaksana perayaan baratan ini adalah Sanggar Lembayung, yaitu tempat berkumpulnya anak anak muda pecinta seni di Jepara, khususnya dalam rangka menyiapkan penyelenggaraan pesta baratan. Penggagas didirikannya sanggar lembayung adalah Mbak Winahyu Widayati. Sedangkan beberapa nama yang pernah aktif menjadi panitia lembayung production adalah: Asy’ari Muhammad (penyair biola dari Jepara), Nur C. H. Tauchid atau Mas Nung (aktif membuat film pendek, guru cinematografi), Prabu Sakti (aktivis media online), Muhammad Yazid, Safiq Setiawan, serta Bang Kayi. Tentu masih banyak nama lain yang belum sempat saya tulis di sini. Dua bulan sebelum pelaksanaan baratan, lembayung production mulai mengadakan proses audisi aktor an aktris pemeran Ratu Kalinyamatan dan rombongannya seperti dayang, prajurit, tentara Portugis, dan lain lain. Selain audisi pemeran, tim lembayung  production juga melatih, mencari dana, mencari kostum, mengadakan konsumsi, merencanakan panggung, audiensi, dan lain lain yang berkaitan dengan kelancaran perayaan baratan.  Bagaimanapun, mereka patut kita acungi jempol!  
Latihan di Balai Kecamatan Kalinymatan

Ratu, dayang, dan prajurit bersiap perang (di panggung)
Arak arakan Ratu Kalinyamat yang dinanti natikan warga
Bertempur melawan prajurit Portugis (di panggung)
Lautan manusia di lapangan kenari tempat drama tari Ratu Kalinyamat diselenggarakan tahun ini

Begitulah, sekilas tentang mitos magis di perayaan baratan, serta siapa tim kreatif dibalik pesta baratan selama ini. Meski sampai sekarang ada ide saya yang belum kesampaian, yaitu... Ratu Kalinyamat dan para Dayang yang beragama Islam itu memakai kostum khas Islam, berkerudung. Bagi saya pribadi, saya salut dengan adanya pesta baratan yang terselenggara setiap tahun yang merupakan salah satu cara menjaga dan melestarikan budaya atau kesenian tradisional,  serta mengenang sejarah perjuangan pahlawan di Jepara.


 
Ratu dan dayang dayang
Mbak Winahyu Widayati berpose bersama Ratu


NB: Foto foto dari grup Fb Pesta Baratan Lembayung Production

Sabtu, 14 Mei 2016

Ini Dia Benteng Portugis, Lokasi Wisata yang Kaya: Pantai, Bukit, dan Sejarah

Jalan jalan. Akhir  akhir ini saya makin senang jalan jalan berkunjung ke beberapa tempat wisata di Jepara. Seolah saya baru terbangun dari tidur panjang, menyadari bahwa potensi wisata di bumi Jepara amatlah besar. Selama ini, yang saya kunjungi kalau tidak panatai kartini, pantai bandengan, ya pantai Bondo. Ke tiga pantai itu pun indah dan memiliki keunikan sendiri sendiri.Tapi, sebenarnya potensi wisata pantai di Jepara masih banyak. Kali ini saya ingin singgah di dua pantai yang belum pernah saya datangi, yaitu Benteng Portugis dan Gua Manik. Tapi kali ini saya akan bercerita tentang Benteng Potugis terlebih dulu.

Nama pantai itu memang unik, seunik penampilannya. Mengapa namanya Benteng Portugis? Ya,para pembaca pasti bisa sedikit meraba bahwa nama itu ada hubungannya dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia saat belum merdeka. Jauh sebelum kemerdekaan memang Indonesia pernah dijajah oleh Negara Portugis. Oke, nanti saya akan bercerita tentang kisah masa lalu adanya benteng yang berdiri di pegunungan sebelah pantai ini.

Dari rumah, kami sudah membuat janji dengan keluarga adik saya untuk piknik. Kebetulan jalan ke arah pantai bisa melewati rumahnya yang ada di Desa Guyangan, Bangsri. Bagi pembaca yang pernah singgah atau melewati Guyangan pasti tau bahwa jalanan ke sana melewati pegunungan yang hijau dan asri. Dan itu belum mencapai tempat wisatanya. Makin mendekati titik lokasi, kita akan makin dimanjakan dengan panorama yang eksotik di sepanjang jalan. Jalanan naik turun, sawah sawah dengan sengkedan yang aduhai, gunung gunung hijau nan memukau,semak belukar dan pohon pohon yang beraneka jenisnya. “Tak rugi laah...”


Setelah perjalanan satu setengah jam dengan singgah sebentar di rumah adik, sampailah kami di Pantai Benteng Portugis, yaitu di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, 45 km sebelah timur laut pusat Kota Jepara. Hati saya bedebar debar, dag dig dug der seperti seorang calon mempelai yang dipertemukan dengan pasangan jiwanya. “Benteng Potugisss....” Coba bayangkan saya mendesiskan kata itu sambil memandang takjub pada suguhan pemandangan yang saya lihat setelah turun dari kendaraan.

Gapura Benteng Portugis

Sebuah area yang amat luas, yang mengingatkan saya pada area parkir Ciputra Water Park di Surabaya, gapura besar yang berdiri kokoh berwarna kuning bertuliskan “BENTENG PORTUGIS”, dan....coba balikkan badan. “Wow....!” di depan sana, adalah sebuah deretan bukit hijau yang “Allahu Akbar!”, saya tak bisa melukiskan keindahan itu dengan kata kata secara tepat. Hijau...,rimbun..., dekat..., nyata..., ingin rasanya berlari ke sana, memeluk bukit, menyatu bersama alam. Tapi... apa daya? Nama bukitnya saja saya tidak tahu, sepertinya bukit yang indah itu belum banyak disinggahi wisatawan. Padahal....andai...andai saja ya, di antara dua bukit itu dibuat wahana flying fox, atau...kereta gantung, atau aktivitas rekreasi lainnya... pasti makin membuat calon wisatawan terpikat untuk berkunjung. Bisa ke bukit di depan itu, bisa ke Benteng Portugis.

Oke, baiklah....tentang bukit dan khayalan saya cukup dulu. Bisa memandanginya dan melayangkan khayal saja sudah membuat syaraf syaraf mengendur, badan jadi fresh! Sekarang kita balikkan badan lagi, menuju Benteng Portugis.

Jadi sebenarnya Benteng Portugis itu apa sih?

Pertama yang saya temui adalah sebuah gapura raksasa berwarna kuning seperti yang saya sebutkan tadi. Di bawah gapura yang berupa ruangan terbuka  ada beberapa kursi untuk tempat duduk duduk, serta ruangan loket tempat penjualan tiket. Lalu, ketika kita turun keluar dari bawah gapura (ruangan dalam gapura lantainya agak tinggi), kita akan disuguhi hamparan pemandangan yang luas. Lajur lajur jalan paving dan tanah berumput hijau. Nun jauh di depan, terlihat lautan lepas dan sebuah pulau kecil yang sepertinya tak terlalu jauh dari pantai. Tak jauh dari gapura, ada sebuah bundaran taman dengan patung kapal layar di tenganya. Indah... tapi, saya belum kena greget. Kami berjalan terus menuju pantai, di ujung tepi pantai ada sebuah tulisan besar “BENTENG PORTGIS”. Lumayan asyik untuk dijadikan tempat berfoto.

Banyak yang jadi model dadakan di sini

Saat itu sudah agak siang, sehingga cuaca lumayan panas. Tapi karena saya penasaran banget, saya memilih meneruskan perjalanan karena sepertinya ini belum seberapa. Pantai yang tadi saya lihat sebagai “ujung jalan”, ternyata masih menyimpan rahasia pesonanya yang harus dikejar jika ingin menangkap keindahan sesungguhnya. Maka kami berjalan berbelok ke arah kanan mengikuti jalan beton yang membingkai pantai, yang ternyata masih sangat panjang ini.

Wow...hmm, saya mulai bisa menemukan daya tarik khas tempat ini. Batu batuan cadas. Dan riak ombak begitu lihai menari nari di sela selanya. Gelombang datang mendekat, memeluk bebatuan besar dan lebar, menyatu, memecah, pyar... kemudian datang kembali ombak berikutnya, dan lagi... dan lagi...

Ya, ini memang berbeda dengan pantai pantai yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Bukan hamparan pasir putih yang setia menunggu gelombang, bukan pula tanggul batu yang siap melindungi pantai dari abrasi, tapi barisan batu batu cadas putih tulang yang berjajar rapat, yang siap memanjakan mata hiingga ke ujung sana...(karena saya lihat deretan karang berjajar hingga jauh ke depan).
Bikin penasaran nggak sih?

beautiful...

Wow...

mancing boleh juga


deretan cadas yang menunggu sang putri mandalika kembali
Saya jadi haus, sangat haus untuk memotret dan memotret, meski hanya berbekal kamera ponsel yang kata teman teman gambarnya buram. It’s not a big problem 4 me. Yeaach...! Cekrek! Cekrak! Cekrek!
Sementara itu...pulau Mandalika nan mungil dan centil seolah sengaja mencari perhatian mata, namun memberi kesan angkuh pada pandangan wisatawan. Sepertinya sangat dekat, paling hanya sepuluh menit kita bisa sampai ke pulau itu dengan perahu motor biasa. Hanya saja...., entah mengapa tak ada fasilitas penyeberangan ke arah pulau. Adik ipar saya sempat bertanya pada salah seorang pemilik warung yang bertebaran di sepanjang pantai, mengapa tak ada jasa penyeberangan? Kata pemilik warung, sebenarnya ada, tapi dengan cara sewa satu perahu, sekali sewa 400 ribu rupiah. Wah..mahal! Pantas saja tidak kelihatan ada yang naik perahu untuk menyeberang. Kalau saja ada yang mau membuat jasa penyeberangan dengan hitungan perorangan, taruhlah satu orang 10 ribu rupiah, pasti banyak yang antre ikut menyeberang. Kenapa tak ada ide itu? Sayangnya saya belum sempat bertanya atau melontarkan ide pada penduduk setempat. Paling “nggremeng ngremeng” sama keluarga saya saja. Atau... tak adanya sarana menyeberang ke pulau karena cerita itu ya? Simak cerita saya sampai selesai ya...:)
Noleh bentar, cekrek!

indaaaaah bagiku

    Oke,mari kita tengok kanan dulu, supaya tidak tengeng karena keasyikan melihat laut di sebelah kiri jalan. Ada apa di sebelah kanan saya? Deretan warung warung makanan kecil dengan minuman es degan, serta....bukit.

sebelah jalan, ada bukit

pose dulu, yuk...
   Jadi... saya berjalan di antara hamparan lautan luas dan kokoh bukit menjulang. Awesome...kan?

    Tak hanya begitu, ternyata bukit di sebelah saya menyimpan rahasia pesona yang sepertinya belum saya pernah lihat langsung. Selama ini saya hanya meraba raba, atau mungkin saya pernah ke sana waktu kecil ya? Saya lupa lupa ingat. Atau saya hanya melihatnya di televisi? Yang jelas, saya sedang menuju ke sebuah situs sejarah yang amat bersejarah. Artinya, situs sejarah yang memang dulu ada, bukan sekedar dengan dongeng atau legenda.
      Tahun 1619, Kota Sunda Kelapa dimasuki oleh VOC.Sultan Agung Mataran sudah merasakan adanya bahaya yang mengancam dari jatuhnya Sunda Kelapa (yang diganti menjadi Batavia) ke tangan Belanda. Mataram menyiapkan diri untuk mengusir Belanda. Perlawanan berlangsung berturut turut tahun 1628 dan 1629, tapi Mataram mengalami kekalahan. Sultan Agung berpikir bahwa VOC hanya bisa dikalahkan dengan serangan dari darat dan laut secara bersamaan. Tetapi Mataram tak memiliki armada laut yang kuat, sehingga merasa perlu bekerjasama dengan negara lain. Kebetulan saat itu Portugis berseteru dengan Belanda, sehingga saat itu Mataram bekerjasama mendapatkan bantuan dari Portugis, dengan dibangunnya benteng ini. Portugis sendiri sudah lebih dulu datang di beberapa tempat di Nusantara, selain pulau Jawa. Portugis mengadakan kerjasama perdagangan dengan pribumi. Hanya pada perkembangannya, Portugis juga melakukan monopoli perdagangan. Setelah kedatangan Belanda, Portugis mengalami kekalahan dan angkat kaki dari Nusantara.
        Konon, karena adanya beberapa kejadian buruk atau gangguan di sekitar selat antara benteng dengan pulau Mandalika, maka benteng ini tak terlalu lama digunakan. Ternyata di selat antara benteng dan pulau mandalika terdapat sebuah pusaran air yang berbahaya. menurut mitos, pusaran itulah pintu gerbang menuju kerajaan luweng siluman tempat berdiamnya Siluman Bajul Putih. setelah dikalahkan oleh Ki Leseh, Bajul Putih bersumpah barang siapa orang berkulit putih melewati tempat tu, akan hilang tersedot oleh pusaran itu. Itu mitos memang, tapi konon menjadi salah satu alasan Portugis meninggalkan benteng tersebut karena banyak tentara Portugis yang menghilang.
        Alasan lainnya, saat itu pusat kerajaan Mataram berpindah dari demak ke Pajang, sehingga jalur perdaganganlebih banyak melewati jalur darat. Jalur laut Jawa jadi sepi, sehingga Portugis meninggalkan benteng itu begitu saja.
       Wah...sepertinya akan seru jika kita mau menelusur lebih jauh lagi tentang sejarah di Benteng Portugis ini ya.... tapi saya kira di sini cukup segitu ya, saya lanjutkan dengan cerita lokasi fisiknya saja.
    Saya tak ingin berhenti di tepian pantai saja meski daya pikat dan lekatnya “ruarrr biasa”. Saya memilih mengobati rasa penasaran saya dengan naik ke bukit saat bertemu dengan tangga bata bersemen di kaki bukit. Mari... naik naik ke puncak gunung dulu...
Naik, yuk!


Tangga menuju puncak bukit
 Tangga tak begitu lebar, sekitar setengah meter sampai 75 meter lah. Ada pagar besi di sebelah kanan, kebetulan bagian kiri tangga ini tak berpagar, bisa jadi sudah rusak dan belum sempat diperbaiki. Naik terus ...dan terus... tak terlalu tinggi kami sudah sampai di atas bukit dengan hamparan tanah berpagar dinding batu rendah. Area ini relatif tidak rimbun seperti keadaan bukit di sepanjang kanan kiri tangga tadi. Semacam pendopo berdiri megah di bagian tengah. Ada tiga buah meriam yang sudah tak berfungsi, dan pohon pohon yang berdiri dengan jarak agak berjauhan. Bagian tanahnya bersih dari belukar. Berapa orang duduk duduk di pendopo, ada yang di dahan dahan pohon, ada juga yang istirahat di bawah bersandar pada pohon. Nha...tempat inilah yang dinamakan benteng. Dinding pelindung dari batu, meriam, adalah bukti sejarah yang masih tertinggal.
hampir sampai puncak



salah satu tempat syuting film "Siti Nurbaya"

    Saya ingat, sepertinya tempat inilah yang dulu dipakai untuk beberapa adegan syuting di film “Siti Nurbaya” yang diperankan oleh Gusti Randa dan Novia Kolopaking. Saat Siti Nurbaya naik ayunan bersama Samsul Bachri... ya saya ingat itu, serta adegan lainnya yang saya tidak ingat persis.

    Naik bukit yang tak begitu tinggi sudah membuat ngos ngosan. Setelah anak anak puas di atas, kami turun melalui tangga beton lagi dengan lukisan alam nan eksotik di kanan kiri. Pohon pohon aneka rupa dalam tatanan tak beraturan, semak belukar, dan irama kicauan burung itu...benar benar suasana hutan. So cute....

    Lalu....
    Sampailah lagi kami di tepian laut. Pantai yang sangat sangat unik. Dan... ah iya, dari dasar tangga tempat saya naik dan turun tadi, kami masih meneruskan berjalan ke arah kanan (saya bingung tentang timur barat utara selatan) menyusuri pantai bercadas hingga belokan pantai. Dari sini kami bisa melihat perbukitan yang nampak lebih tinggi di ujung jauh sana. Laut, ombak, cadas, bukit, awan awan, angin...dan langit.... Beautiful...

    Kubaca hatiMu lewat langit biru
    Kutangkap kasihMu lewat tatapan awan
    Kurasakan cintaMu lewat teduh perbukitan
    Kudengar rinduMu lewat gemuruh lautan   
    Kuyakini penjagaanMu lewat kokoh cadas
    Kunikmati segalaMu, lewat hembusan angin yang mendekap galauku.

   
   
    Semua indah, sudah sangat indah. Tapi saran saya, agar lebih nyaman, datanglah ke sini di pagi hari atau sore hari sekalian. Karena jika agak siang udara agak panas. Atau, datang pagi, pulangnya sore sekalian. Konon juga, kita  bisa melihat sun rise, sekaligus bisa juga melihat sun set lho di pantai ini, karena pantainya yang panjang dan berbelok.
    Kalau ditanya masukan atau pendapat saya agar tempat wisata ini lebih “Uhuiii!” adalah: Bagian benteng akan lebih baik jika diperbarui. Diperbarui bukan dalam artian dicat atau diperbagus dengan bangunan baru, tapi setidaknya dibersihkan dari lumut, diberi sentuhan perawatan, dan beberapa bagian tangga  yang rusak diperbaiki.

Tak akan rugi mengunjungi tempat ini. Karena Benteng Portugis adalah satu tempat wisata dengan selera aneka rasa: laut, bukit, dan sejarahnya....
   




Sabtu, 07 Mei 2016

Ada Legenda di Air Terjun Songgo Langit

Berwisata di Jepara memang tak ada habisnya. Selain pantai pantainya yang beraneka, ada juga wisata air terjun yang tak hanya ada di satu tempat. Di antaranya air terjun sumenep di Batealit dan air terjun songgo langit di Bangsri. Kali ini kami memilih singgah di Songgo Langit. Sebenarnya saya sendiri sudah pernah ke sana saat masih duduk di kelas lima sekolah dasar dulu. Saya penasaran, seperti apa penampakan air terjun itu sekarang. Anak anak juga sepertinya sedang kurang tertarik dengan pantai, karena beberapa kali wisata seringnya ke pantai. Maka kami sepakat pergi ke air terjun Songgo Langit. 
Keindahan Songgo Langit

Dari rumah kami di Purwogondo, perjalanan memang agak memakan waktu, sekitar satu jam setengah. Tapi...karena sudah diniatin dan kami menikmati suasana di sepanjang jalan, kami merasa hepi saja. Meski di tengah jalan sempat khawatir karena hujan turun dengan lebatnya. Sudah terbayang jalanan sepanjang pegunungan akan licin, dan bisa jadi kami gagal singgah, atau yang lebih buruk lagi kemungkinan kendaraan terpeleset dan....ah! bayangan saya sudah yng uruk burk saja. Tapi kendaraan tetap melaju dengan hati hati, sambil berdoa semoga kami semua diberi keselamatan. 
Pemandangan spektakuler di sisi jalanan menuju Songgo langit

Saat mulai melewati pegunungan, pemandangan mulai menakjubkan. Sawah sawah, pohon pohon nan hijau, semak belukar, terasering, lebah, jurang, bukit menjulang, wow....! Jepara. Jepara sesungguhnya memang sangat cocok dijadikan kota tujuan wisata. Meski mungkin belum terkelola dengan baik di beberapa tempat wisatanya. Pemandangan ini sungguh... menyejukkan. Mengingatkanku pada suasana di sepanjang jalan menuju beberapa tempat wisata di sepanjang Kota Malang, Pasuruan,dan seterusnya yang terkenal indah.Meski ada rasa was was karena hujan, garis garis vertikal kucuran hujan justru menciptakan lukisan alam yang eksotik.  
Udara sejuk dan pemandangan asri di sepanjang jalan


Songgo langit terletak di Desa Bucu,Kembang, 30 km sebelah utara dari pusat Kota Jepara. Tentang kondisi Langit, jalanan menuju ke lokasi wisata sudah cukup halus dalam artian sudah beraspal. Dibanding dulu, ketika saya masih duduk di kelas lima sekolah dasar (Wah...sudah sangat lama), jalanan masih licin, berlumpur dan berbatu. Hanya saja, memang untuk menuju titik air terjunnya kita perlu berhati hati karena jalanan naik turun, lumayan curam. Tak terlalu sulit ditemukan, karena kita bisa bertanya ke para penduduk di sana. Hanya menurut saya, karena rute berbelok belok, alangkah baiknya ada penanda yang cukup sehingga lebih memudahkan wisatawan. Yang kami temukan hanya sebuah papan dari triplek yang dibubuhi tulisan “Air Terjun” dan anak panah sekedarnya dengan spidol. Papan hanya disangga dengan batu batu sekedarnya juga. Dan selanjutnya kami bertanya dari satu mulut ke mulut lain. Andai ada beberapa anak panah besar degan warna terang sebagai penunjuk ke lokasi, pasti lebih praktis. 

Pengunjung siap siap selfi

Sesampai di lokasi...
Subhanallah, Allahu Akbar...! Indah...niaaan. Anak anak yang baru pertama kali melihat langsung air terjun, bersorak takjub. “Hai...! Itu..! Itu...! Air terjun!”. Saya sangat maklum dengan reaksi mereka. Saya sendiri, disamping memang kondisi jalan menuju air terjun sudah rapi dan bagus, entah mengapa merasa ada yang berkurang dari kesan pertama saya pernah singgah di sini dulu. Sepertinya air terjunnya tak sebesar dulu. Atau...jangan jangan karena waktu itu ukuran tubuh saya masih kecil jadi kesan yang saya tangkap air terjun waktu itu lebih besar ya? Tapi...tetap saja saya senang sekali bisa singgah di sini lagi setelah berpuluh tahun. How ever, tetap memesona, tetap mampu membuat saya merasa “WOW...!”
Di samping kiri jalan digunakan sebagai tempat parkir, sedangkan sebelah kanan banyak berdiri warung warung kecil penyedia makanan dan minuman ringan. Dari tempat parkir, Songgo Langit nampak cantik, dengan genangan air di bawahnya yang mengalir menuju sungai yang berhiaskan batu batu besar.

Sebenarnya sih... asyik banget kalau bisa mandi di bawah air terjun. Tapi... ada peringatan tidak boleh madi karena dikhawatirkan terbawa arus. Entah itu hanya berlaku khusus untuk daerah bawah air tejun atau juga untuk aliran sungai berikutnya. Tapi anak anak dengan sendirinya tak mau mandi, padahal dari rumah sudah membawa baju ganti.Ternyata dari informasi di wikipedia ada palung sedalam delapan meter di sekitar genangan air terjun.

Kami mendekat... dan semakin dekat ke air terjun. Wow...ini nyata.
Air turun dengan derasnya dari atas tebing menuju sungai di bawahnya. Ternyata di sana ada dua kucuran air, yang satu ukurannya jauh lebih kecil berada di sebelah kanan air terjun utama.
Ada bekas pagar besi yang sepertinya dulu berfungsi sebagai pengaman agar tak ada yang bermain atau berenang di area itu. Entah mengapa sekarang tinggal potongan potongan besi kecil, sudah tak  berupa pagar lagi. Dirusak, rusak sendiri oleh waktu, atau dianggap merusak pemandangan sehingga dihilangkan? Untuk kejelasan info ini saya hanya baru meraba raba. Yang jelas potongan potongan besi seperti bekas pagar masih ada saat saya ke sana.

area sekitar aliran sungai juga indah
Iya, akan selalu ada kata “tapi” jika ingin melihat penampilan yang terbaik. Jujur saja, potensi wisata ini belum terkelola dengan maksimal. Padahal...ini merupakan sumber daya alam yang sangaaaat berkualitas. Mungkin jika ada cukup gazebo dari bambu atau pendopo pendopo kecil untuk tempat barnaung atau lesehan, anak anak akan lebih betah di sini. Saya membayangkan jika di area sini ada sebuah rumah makan (restauran) yang menyajikan masakan masakan lezat dengan arsitektur bangunan yang unik tanpa meninggalkan kesderhanaan (harga murah meriah), pastilah Songgo Langit akan menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Jepara. Akan lebih seru lagi kalau ada fasilitas mainan anak sederhana seperti ayunan, prosotan, tangga mainan, jungkat jungkit,dan sejenisnya. Bagaimanapun, kenyamanan anak anak seharusnya tetap menjadi pertimbangan utama agar wisatawan berkeinginan untuk kembali lagi.

Hari itu pengunjung cukup banyak. Kebanyakan gerombolan anak anak muda, ada juga keluarga seperti kami. Seperti kami, pengunjung lain pun siap dengan kamera atau ponsel untuk berfoto. Batu batuan besar sebenarnya sangat menggoda dijadikan tempat selfi, anak anak pun kelihatannya tertantang untuk naik turun bebatuan, hanya saja kami khawatir anak anak terpeleset.
Kebetulan salah satu anak kami ingin bermain di area lain, yaitu di aliran sungai sebelah kiri air terjun. Sepertinya relatif aman untuk main air atau berenang. Tapi mereka tidak mau mandi, hanya berlarian ke sana kemari. Selain dihiasi rimbun belukar dan jajaran bebatuan besar, ada banyak kupu kupu di sana. 
Ada air terjun mini

Dalam bayangan saya, suatu saat kelak Songgo Langit bisa menjadi semacam tempat wisata pendidikan. Selain tempat makan dan area bermain anak yang nyaman, juga ada lokasi untuk penelitian tentang tumbuhan dan lingkungan hidup seperti di PPLH Jawa Timur. Hmmm...jika itu terwujud, wisata Jepara akan makin okeee!

Mengenai legenda Songgo langit, entah kejadian nyata atau fiktif, dulunya area jurang Songgo Langit adalah tempat jatuhnya sepasang suami istri yang melarikan diri dari rumah. Mereka adalah pengantin baru. Sang istri dari Desa Tunahan, sedangkan sang suami dari Dukuh Sumanding, Desa Bucu, Kecamatan Kembang. Mereka pergi dari rumah (rumah orang tua istri) karena terjadi kesalahpahaman antara suami dengan ibunda istrinya. Pada zaman itu, pengantin pria lazim memberikan perlengkapan rumah tangga seperti piring, mangkuk, gelas, sendok, sebagai hadiah perkawinan. Pada suatu pagi yang masih gelap, si istri menyiapkan sarapan (memasak) untuk suaminya. Dari dapur terdengar suara nyaring alat alat masak yang saling beradu. Ibunda si istri mengingatkan “Ojo glonthanganm mengko bojomu tangi.” (Jangan berisik, nanti suamimu bangun), tapi si suami salah dengar “Kerjo kok glonthangan, rumangsamu iku barange bojomu” (jangan berisik, memangnya itu barang barang dari suamimu”. Maka malam harinya si suami mengajak istrinya pergi dari rumah naik pedati. Karena gelap, tiba tiba mereka tergelincir masuk jurang. Tempat mereka jatuh itulah yang sekarang menjadi air terjun Songgo Langit. Maka, menjadi semacam mitos pantangan terjadinya perkawinan antara pasangan dari Desa Tunahan dan Desa Bucu hingga sekarang.  
suami dan anak anak takjub

Dengan berbagai kelebihan maupun kekurangan (di mata saya), berwisata ke Songgo Langit tidak rugi. Beberapa kelebihan berwisata ke Songgo Langit adalah: tiket masuk dan biaya parkir murah, akses ke sana tidak terlalu sulit, jalanan halus meski naik turun (justru itu yang seru), memberikan pemandangan yang menakjubkan, ada fasilitas mck dan musholla, serta dekat dengan lokasi wisata di Jepara lainnya.
Oke...sepertinya cerita dan kesan kesan saya cukup di sini, agar lebih jelas dan puas, yuk amati gambar yang saya ambil. Sayang memang kualitas gambar kurang bagus karena menggunakan kamera ponsel saja. Tapi semoga cukup mewakili keadaan nyata di sana. 

Senin, 02 Mei 2016

Strategi Pintar Perkenalkan Wisata Jepara Kepada Dunia

Air Terjun Songgo Langit

   
I.    Kota Jepara

Jepara dikenal sebagai tempat kelahiran pahlawan nasional, yaitu RA Kartini. Terletak di bagian utara pulau Jawa, di Propinsi Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Laut Jawa di bagian barat dan utara, serta di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus. Sedangkan di bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Demak.
Secara Administratif, wilayah daratan Kabupaten Jepara seluas 1.004,132 kilo meter persegi dengan panjang garis pantai 72 kilo meter. Kabupaten Jepara terbagi menjadi 14 kecamatan yang terdiri dari 183 desa dan 11 kelurahan.

Mata pencaharian penduduk Jepara bermacam-macam. Ada yang menjalani kehidupan sebagai nelayan, petani, peternak, pedagang, pengusaha dengan berbagai macam produk, pegawai negeri, pegawai swasta, dan lain-lain.

Untuk keadaan pendidikan di Jepara, sudah cukup membanggakan. Terlihat dari jumlah sekolah, sarana dan prasarana sekolah yang cukup memadai. Hampir tiap kecamatan terdapat sekolah, dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menangah Atas. Ada juga perguruan tinggi yang berdiri di Kota Jepara. Anak-anak Jepara yang berkuliah di kota-kota besar seperti di Semarang, Surabaya, Jakarta, dan kota lain juga saat ini tak sedikit.

Sebagian masyarakat Jepara menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian, meski ada juga yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Sedangkan bahasa pengantar sekolah dan bahasa formal institusi atau instansi adalah Bahasa Indonesia.

Daerah Jepara dikenal luas oleh penduduk Indonesia lainnya, bahkan mungkin oleh dunia, dengan hasil ukiran kayunya, meski sebenarnya ada produk mebel lain yaitu dari  rotan. Berbagai bentuk mebel ukir dari kayu dihasilkan di Jepara seperti dipan/tempat tidur, kursi dan meja tamu, kursi dan meja makan, almari, bufet, sketsel, bingkai cermin, bingkai foto, meja kerja, meja belajar, rak televisi, hingga pahatan-pahatan yang membentuk hiasan seperti patung atau mainan anak. Untuk tempat wisata, Jepara lebih banyak dikenal dengan pantainya seperti Pantai Kartini, dan Pantai Bandengan. Sedangkan oleh-oleh khas Jepara yang sangat terkenal adalah kacang open atau kacang jepara dan kerupuk bawang. Tenun khas Jepara dari Desa Troso saat ini juga sudah dikenal secara nasional.
Pantai Bandengan, Jepara


II.    Wisata di Jepara

Jepara sangat kaya akan tempat-tempat indah yang bisa dijadikan tujuan wisata. Selain berupa pantai atau laut, ada juga air terjun, kolam pemandian, serta museum. Beberapa tempat tujuan wisata di Jepara adalah seperti berikut ini: Pantai Kartini dan Pulau Panjang, Pantai Bandengan (Pantai Tirto Samudro), Pantai Bondo (Pantai Laut Mati), Pantai Teluk Awur, Air Terjun Songgo Langit, Museum RA Kartini, Kawasan Gong Perdamaian Dunia, Hutan Wisata Serni, Danau Blingoh, Tiara Park Water Boom, dan lain-lain.

Rabu, 20 April 2016

JBlog, Seminar Nasional Kartini, Fakta Kartini dan "Temui Aku di Surga"

                Mendapatkan undangan dalam acara nasional adalah suatu hal yang bagi saya seperti mimpi. Meski pernah sesekali membayangkan, tapi belum pernah terpikir oleh saya bahwa itu akan saya alami, lebih tepatnya barusan saya alami. Bermula dari tergabungnya saya di sebuah grup WA yang terdiri dari para blogger di Jepara, di mana dalam grup itu selain membahas tentang dunia blogging, juga lebih sering diskusi ini itu. Singkat cerita saya didaftarkan menjadi salah satu penerima undangan seminar nasional Festival Kartini ke empat yang bertempat di pendopo Kabupaten Jepara. 

                  Jadi, sebenarnya ada cerita tersendiri tentang grup Teras Blogger tersebut atau lebih seringnya disebut JBlog (Jepara Blogger Community). Anggota-anggota grup, adalah orang orang penting, kreatif, dan keren di kota Kartini ini. Ada Mas Odi Prabu Sakti dan Mas Rumail Abbas (entah nama asli atau bukan) yang merupakan orang orang dekatnya para pejabat di Jepara (semoga saya tidak salah meski lumayan ngasal nyebutnya), Mbak Susi Ernawati yang menjadi admin sebuah grup blogger kelas Nasional yaitu Warung Blogger, Mas Indra yang kebetulan suaminya Mbak Susi Ernawati yang ngakunya juga blogger tapi lebih terkenal dengan sandal ukirnya, Sinna Saidah Azzahra yang cerpennya sudah pernah dimuat di tabloid NOVA, Jiah AlJafara yang juga seorang blogger dengan pengalaman melancong ke Bali sebagai hadiah lomba ngeblog, Mbak Kartika Sari yang merupakan pengajar di GEC serta aktif dalam kegiatan Kelas Inspirasi Jepara dan yang terbaru sebagai pencetus GPS di Jepara, dan... banyak lagi yang memang keren (maaf kalau belum saya sebut), serta saya sendiri yang belum tahu sudah keren atau belum yang merasa sangat beruntung ada di antara mereka. 

                Lalu?
                Dalam grup itu kami ngobrol tentang rencana rencana brillian. Kegiatan kegiatan yang telah terlaksana dan melibatkan jasa grup tersebut (meski mungkin hanya sedikit, bisa jadi didiskusikan lebih dulu atau lebih lanjut di grup lainnya) di antaranya adalah: Piknik Forum Lintas Komunitas, undangan liputan blogger tentang sosialisasi pajak, dan ajakan ikutan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Nha...dari kegiatan yang terakhir saya sebut itulah, membuat nama saya masuk dalam daftar undangan untuk acara Seminar Nasional itu. Kok bisa?  Jadi, saat itu para muda Jepara akan merealisasikan rancangan Gerakan Pungut Sampah yang akan beraksi esok hari.  Mbak Kartika Sari dan kawan kawan yang menjadi motor gerakan pungut sampah ini menghadap Kabag Humas Setda Jepara, Bapak Hadi Priyanto untuk mengurus ijin pelaksanaan GPS. Ternyata beliau sangat mendukung, dan...ternyata lagi dari urusan ijin itulah tim GPS mendapatkan tawaran undangan seminar nasional dalam rangka festival Kartini empat. Wow..., dan ini dia. Ternyata meski saya tidak bisa ikut rapat atau mengurus ijin dan lain lain sebelum pelaksanaan GPS bersama mereka, teman teman masih ingat saya. Mereka mencantumkan nama saya, dan... akhirnya takdir bicara, saya mendapatkan undangan itu. Alhamdulillaaah.... Bahagia, bahagianyaaa saya kenal dengan orang orang keren itu.
                 Dan...
                 Pagi itu, Sabtu tanggal 16 April 2016, dengan busana padu padan yang saya pikir paling sreg dan nyaman untuk saya kenakan, saya benar-benar seolah dimasukkan dalam dunia mimpi. Bayangan saya sudah tinggi sekali. Ya, bertemu Dian Sastro dan Hanung, lalu saya akan memberikan mereka berdua novel saya “Temui Aku di Surga”, yang juga bercerita tentang lokalitas Jepara. Ahaha...mungkinkah? Apa yang tak mungkin? Jalan terbuka lebar, saya tinggal pasang muka tebel lari mengejar mereka. Kamu pasti bisa, pasti bisaaa! Ya, segitu saja bagi saya sudah sangat tinggi. Selebihnya, saya tinggal berdoa semoga Hanung ada waktu dan kemauan untuk membaca novel saya. Itu sudah sangat tinggi bagi saya...., Aamiiin.
Pendopo Kabupaten Jepara dipenuhi tamu undangan yang mayoritas wanita

                     Pendopo Kabupaten Jepara sangat riuh, ramai, penuh dengan manusia yang mayoritas berjenis kelamin wanita, dan sebagian besarnya memakai kebaya atau baju corak batik. Rasanya agak berat melangkahkan kaki, saat melihat penampilan mereka yang berdatangan sepertinya orang penting semua. Lirik sana lirik sini, cari sana cari sini sambil chatting di WA grup. Katanya Sita di luar. Dan, aah... benarlah ia tiba tiba saja sudah di hadapan mata. Wow...ck ck ck. Cantik, maju mundur cantik deh Sita ini. Kartini modern.Tiba tiba rasa gugup itu lenyap. Kami berdua dengan percaya diri mengisi buku tamu meski undangan tak di tangan (undangan dibawa Mbak Susi yang sudah masuk ke pendopo). Dengan pede juga kami menuliskan identitas tamu sebagai blogger. Kok rasanya jadi keren ya... haha. Entah penerima tamu itu paham atau tidak tentang sesuatu bernama blogger.
                   Wah...jam karet sih memang, biasa. Dalam undangan tertera bahwa acara dimulai pukul delapan pagi. Jam sembilan belum mulai, jam setengah sembilan belum juga dimulai. Ya sudahlah... santai saja. Saatnya selfi selfi sebelum hape sibuk buat mengabadikan sesi demi sesi rangkaian acaranya. Jepret undangan (wow... makin merasa amazing saat undangan benar benar di tangan), jepret pendopo, jepret panggung, jepret tamu tamu undangan. Hmmm Judul seminar kali ini ternyata “Spirit Kartini dalam Membangun Bangsa yang Mandiri, Kreatif, dan Berkarakter.”
Beberapa menit kemudian, acara pun dibuka oleh MC. Selajutnya serombongan tim paduan suara menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Jepara. Semua hadirin berdiri dan ikut serta beranyanyi. Ohya, ehm...ini sebenarnya rahasia. Saya... suatu hari nanti ingin bisa menjadi MC acara resmi seperti ini. Waktu kecil beberapa kali jadi protokol upacara, pernah juga menjadi MC acara perpisahan. Ah, mimpi saya kebanyakan sampai penuh kantong mimpinya. Belum yang ingin jadi penyiar radio, guru, radaktur majalah remaja, ahaha....entah bagaimana cara menggapai semua     mimpi itu.

                     Kembali ke acara seminar
                Sungguh luar biasa menyadari bahwa saya ada di sini. Di tempat yang sama dengan Menteri Peberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Menteri Perindustrian, Menteri Perumahan Umum dan Pekerjaan Rakyat, dan pajabat pejabat penting di Jepara serta utusan utusan dari daerah luar Jepara bahkan luar Jawa. Dan sebentar lagi... Dian Sastro serta Hanung Bramantyo pasti di sini juga. Keren keren kereeeen. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang akan kau dustakan?
                     Kemudian....
                     Sambutan pertama disampaikan oleh Bapak Bupati Jepara. Pidato Bapak Marzuki selalu lantang, tegas, dengan suara yang mantap. Saya selalu terkesan. Oya, sudah dua kali ini saya menyimak dan melihat langsung Bapak Bupati berpidato. Yang pertama dulu di Festival Larung, yang sayangnya belum  sempat saya abadikan dalam tulisan. Semoga setelah ini nanti saya tak lupa menuliskannya. Satu hal yang membekas di benak saya dari pidato Bapak Bupati, yaitu tentang kehidupan masa kecil Kartini. Bahwa ia telah terpisah dengan ibundanya sejak kecil karena ibunda bukan keturunan darah biru sehingga harus tinggal di bagian belakang rumah Bupati. Ketika mendengar Kartini kecil menangis, Ibu Ngasirah hanya bisa melihat dari balik jendela tanpa bisa mendekapnya atau menghibur Kartini. Meski Ibu Ngasirah adalah istri pertama yang melahirkan delapan putra Bupati Jepara, tapi beliau tidak bisa menjadi istri resmi Bupati. Kartini juga merasa tersiksa saat menghadap masa pingitan. Bahwa adat yang begitu mengekang wanita dan membeda bedakan strata  membuat Kartini merasa menderita dan ingin merubah keadaan. Jika pahlawan lain yang dihadapi adalah penjajah, maka musuh yang harus dihadapi Kartini adalah ayahnya sendiri, orang orang di sekitarnya, lingkungannya, adat yang membelenggunya.
Paduan suara yang merdu dan indah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Jepara

Bapak Marzuki memebrikan sambutan

              Sambutan berikutnya seharusnya disampaikan oleh Bapak Gubernur, tetapi beliau berhalangan hadir dan diwakili oleh istri. Sedangkan sambutan berikutnya, disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. DR. Yohana Susanna Yembise, Dip. Apling, MA. Satu hal yang paling terngiang giang di telinga hingga sekarang dari ucapan Ibu Yohana, yaitu “Untuk semua laki laki yang hadir di sini, sampaikanlah kepada semua laki laki di Jepara, jika setiap laki laki menyelamatkan satu wanita Jepara, maka akan selamatlah semua wanita di Jepara ini.” Dan riuh tepukan tangan hadirin  segera terdengar menyambut ucapan beliau. Suasana menjadi segar.
Menteri pemberdayaan wanita dan perlindungan anak memberikan sambutannya
                  Suasana makin segar ketika acara seminar beralih dalam bentuk talk show. MC digantikan oleh moderator Mbak Nadia Ardiwinata. Sedangkan pembicara adalah Ketua umum DPP IWAPI Ir. Dyah Anita Prihapsari MBA., Dian Sastrowardoyo, dan Hanung Bramatyo. Saya makin merasa amazing...
                Ibu Dyah mengatakan bahwa wanita sangat tepat untuk berwirausaha. Karena pada faktanya, ketika seorang pengusaha wanita pinjam uang bank, maka ia kan memegang uang dengan sangat hatihati, segala pengeluaran diperhitungkan, dan posting belanja benar benar untuk pengembangan usaha. Sedangkan bapak bapak jika sudah pegang uang banyak, meski pinjam bank, tak jarang yang dibelanjakan untuk kebutuhan tertier, beli barang barang mahal diluar kebutuhan pengembanga usaha, beli mobil baru, rumah baru, cari istri baru. “Grrr...” Tawa pengunjung langsung berderai memenuhi pendopo. 
               Kini giliran artis cantik, putih, nan smart, Dian Satrowardoyo menjadi pembicara. Menurut Dian, wanita yang seksi adalah yang memiliki penghasilan sendiri. Dian menceritakn masa kecilnya yang memiliki keluarga broken home dan ibunya yang membiayai kehidupan anak anak hingga dewasa.  Dian melihat betapa ibunya adalah seorang yang tangguh, tak pernah ongkangongkang kaki di rumah, menjadi tulang punggung keluarga. Maka menurut Dian, wanita yang seksi adalah wanita yang memiliki penghasilan sendiri, bisa membiayai kebutuhan sendiri dan membantu suami dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Dian sangat bersyukur mendapatkan suami yang mendukung ia bekerja, termasuk berman film. (Ah, main film? Kok rasanya saya juga kepingin ya...). Bahkan setelah ia vakum main film selam beberapa tahun, suaminyalah yang menyuruhnya main film lagi karena melihat potensi paa diri Dian. Dian menyarankan, “Untuk wanita, jangn cepat cepat menikah, sekolah yang tinggi, dapatkan pekerjaan atau berwirausaha sehingga menjadi wanita yang mandiri, nanti setelah mandiri barulah menikah.” Menurut Dian, wanita akan lebih dihormati ketika ia memiliki peghasian sendiri. Dian sendiri adalah seorang pemilik usaha katering sehat dan mukena.
                      Sedangkan Hanung, tak seratus persen setuju dengan pendapat Dian. Menurut Hanung yang lahir di Yogyakarta ada tanggal 1 Oktober 1975, seorang wanita tetap seksi meski tidak memiliki penghasilan sendiri. “Tanpa begitu pun wanita sudah seksi.” Wanita memang difitrahkan menjadi tempat pulang yang nyaman bagi suami, tetapi harus berwawasan. Maka Hanung mendukung jika wanita bersekolah di sekolah kejuruan, terutama yang nantinya bisa dijadikan bekal untuk membuka usaha di rumah, sehingga ia bisa bekerja sambil masih menjalankan perannya mengurus suami dan anak.
                   Hanung sendiri mengaku terlahir dari keluarga yang Jawa, Islam,dan patriarkal. Menurut Hanung, jaman dahulu, feodallah yang sebenarnya membatasi ruang gerak perempuan. Feodal mendukung adat yang membatasi gerak perempuan agar kehidupan masyarakat tak bisa maju. Feodal khawatir jika wanita diberi pendidikan tinggi dan diberi kesempatan berkembang, nantinya akan lahir bumiputera yang cerdas dab kritis sehingga mengancam keberadaannya di bumi pertiwi ini. Adat itu makin kuat dengan adanya peran nafsu laki laki yang ingin menguasai. Jadi, ketika perjuangan Kartini untuk merubah peradaban menjadi lebih baik, meningkatkan harkat dan martabat wanita Indonesia, alangkah mirisnya jika peringatan Hari Kartini hanya dimaknai sebatas: pakai baju kebaya lagi.
                Dalam mempersiapkan film yang akan digarapnya, Hanung menemukan beberapa fakta sejarah dari hasil surveynya di Jepara. Kartini ternyata tak hanya menjadi pioner pendidikan, tapi juga seorang pioner wirausaha. Dari surat surat Kartini yang bercerita tentang batik, ukir dan lukis, Ratu Wilhelmina penasaran dengan ukiran Jepara. Lalu Kartini mengirimkan contoh benda ukiran Jepara. Dari situlah pesanan ukiran Jepara dari beberapa negara lain berdatangan ke Jepara, dan dikoordinir oleh Kartini. Kegiatan UMKM ini dilakukan Kartini saat usia 19 hingga 22 tahun. Harapan Hanung, dengan adanya film garapannya tentang Kartini, kita akan terbuka mata bahwa Kartini tak hanya pioner pendidikan wanita, tapi juga pioner wirausaha, yang semua itu patut dicontoh oleh wanita Indonesia.
                 Dian Satro menanggapi komentar Hanung bahwa wanita fitrahnya adalah menjadi tempat pulang  yang nyaman bagi suami. Dian tidak begitu setuju juga dengan adat Jawa lama bahwa tugas wanita adalah masak, manak, macak. Apa jaman sekarang sesederhana itu peran wanita? Padahal istri bisa malakukan lebih. Bisa menjadi tempat diskusi yang cerdas tentang banyak hal, misalnya tentang pekerjaan suami. Jaman sekarang, untuk maju, suami perlu pelengkap seorang istri yang melek perkembangan. “Perempuan meski menjadi istri, Ibu, kalau bisa jangan tinggalkan dunia kerja.” “Seorang Ibu yang bekerja akan menurunkan anak yang lebih keras lagi dalam bekerja.” Dan menurut Dian, wanita bekerja tujuannya bukan untuk mengangkangi suami. 

Talk show Hanung dan Dian Sastro


                Begitulah kira kira isi talk show yang disampaikan Ibu Dyah, Dian dan Hanung. Moderator memberikan kesempatan kepada lima orang penanya. Satu demi satu pertanyaan dilontarkan, dan satu persatu dijawab pula. Saya, yang ingin sekali maju ke depan tak mendapatkan kesempatan itu. Padahal debaran di dada serasa menendang nendang sedari tadi. Ingin menangis rasanya, apa yang saya bayangkan ternyata tidak kesampaian. Saya ingin maju ke depan, memperkenalkan diri, menceritakan profesi saya, tentang novel saya, alasan saya menulis novel itu, dan keinginan saya untuk mengangkat novel itu menjadi sebuah film.!

                   Tapi...

                   “Ayo cepat, blogger siap siap maju kasih kenang kenangan!” Tiba tiba suara Mas Indra Susindra memberi saya harapan lagi. Hah? Maju?  Foto? Artinya mendekat pada Dian dan Hanung?  Blogger? Saya kan blogger? Ahh...iya, sandal ukir Mas Indra. Yess! Kali ini tak boleh dilewatkan. Saya langsung ambil dua buah novel saya dari dalam tas, dan ikut maju ke depan bersama para blogger. Wow...bak artis dari ibukota, saya dan para blogger kena bidikan kamera berkali kali. Mungkin bagi yang lain ini asyik, tapi bagi saya serasa alangkah lamanyaaa! Kapan selesainya sesi foto foto dengan pose yang stagnan ini? Saat  ini otak saya sudah selangkah maju ke lima menit kemudian. Lima, enam, atau sepuluh, yang penting saya kan langsung menuju Dian dan Hanung untuk memberikan novel yang ada di tangan. Detik detik penentuan!
Dan.... Jreng jreng jrenngg!!!

Jblog, sandal ukir, Hanung, Dian, Ibu Dyah (Ketua umum IWAPI) dan novelku.

                   Acara foto pemberian kenang kenangan sandal ukir itu selesai juga. Entah mengapa begitu banyak kamera (kamera beneran atau pun kemera ponsel) membidik kami: Dian, Hanung, Ibu Dyah, saya dan blogger lainnya juga pigura pigura berisi sandal ukir dengan gambar siluet wajah Dian, Hanung, dan Ibu Kartini. Pigura pigura berisi sandal ukir diserahkan, dan saya tak boleh ketinggalaaaan. Singkat cerita novel satu telah berpindah tangan pada Dian Sastro. Tinggal novel untuk Hanung. Pandangan saya langsung menangkap sosok Hanung, dan kali ini tak boleh lepas. Masih banyak fans yang minta foto. Saya sama sekali tak terpikir untuk itu. Saya sudah beberapa detik ada di deka Hanung, tapi masih ragu. 

Sampai kapan?
Harus sekarang! Dan...

“Mas Hanung, ini novel karya saya. Ceritanya tentang intrik dalam pemilihan kepala desa di Jepara.” kata saya akhirnya sambil menyodorkan novel warna hijau itu.
“Oya? Menarik...” sahut Hanung sangat ramah. OMG!
“Barangkali tertarik membuat film...” Aih...kata anak muda, saya pasti dibilang lebay...
“Saya minta tanda tangan ya?” kata Hanung.
Saya mencoba mencerna kalimat itu. Eh, Nggak salah ya minta tanda tangan saya?
“Nggak usah lah...” sahut saya bingung.
“Ibu.. penulisnya, kan? Yang nulis novel ini? Saya minta tanda tangan..”
Haduh... mana tadi saya kehilangan pulpen, sehingga menulis liputan memakai WPS di android.
“Nggak ada pulpen, ya?” tanyaku bloon sambil celingak celinguk berharap ada seseorang melempar pulpen ke saya. “Ya sudah, nanti saja ya..., saya ke sini lagi” kata saya sekenanya. Maksud saya, saya  mau cari pulpen dulu.
“Ohya, kita foto dulu.” Kata Hanung.Kah...ide bagus itu kenapa tak terpikirkan oleh saya? Saya pun memposisikan diri di sebelah Hanung. Hanung memamerkan novel saya. Saya berharap sseorang menolong saya untuk membidikkan kamera ponsel saya. “Mana saya fotokan, Buk!” Aih, betapa baiknya anak itu. Sayangnya saya tak mengajak dia kenalan, cuma ucapan terimakasih saja. Bukan apa apa, saya benar benar masih syok, antara percaya dan tidak percaya, novel itu sampai ke tangan Hanung. Tugas saya rasanya sudah selesai hari ini.
Serasa mimpi, novel saya ada di tangan Hanung

              Saya tak berani bermimpi ketinggian. Tapi saya memang sedang berusaha. Novel “Temui Aku di Surga” adalah sebuah pesan, saya ingin ada perubahan. Tentu saya jauh dari kriteria sebagai seorang Kartini masa kini, setidaknya saya memiliki semangat untuk maju dengan kemampuan saya yang terbatas. Semoga tidak sia sia, itu doa saya...Aamiin.
             Cerita saya kali ini memang tidak fokus. Semoga teman teman yang membaca tidak mengeluh atau bahkan berhenti sebelum selesai membaca. Saya sedang ingin menceritakan pengalaman saya ini. Tentang Teras Jblog, Seminar Nasional Kartini, dan Film “Temui Aku di Surga” (yang akhirnya berani saya mimpikan).

















Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...