Minggu, 14 Februari 2016

Jepara Bebas Asap Rokok. Mungkinkah?

            Rokok. Benda mungil putih terbuat dari lintingan kertas berisi tembakau itu selalu menjadi tema pembicaraan yang dilematis. Menarik, menggelitik, menggemaskan, dan pada titik tertentu bisa mencapai taraf yang memuakkan. Benda putih mungil itu bagi masyarakat mempunyai makna tersendiri. Ada yang membenci, mengkaji dan mensosialisasikannya sebagai benda laknat dan meracuni tubuh, ada juga yang hingga sekarang masih mendewakannya sebagai benda terhormat, bernilai, bahkan digunakan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh-tokoh terhormat pula. Sementara sebagian besar ada yang tak terlalu serius dan asyik-asyik saja menanggapi perihal rokok, menikmatinya sebagai hidangan penutup setelah makan, menikmatinya sebagai pengisi waktu di sela-sela ngobrol, atau justru menikmatinya sebagai teman baik dalam mencari inspirasi. 
            Lalu bagaimana dengan Jepara kota tercinta ini? Saya yakin sebagian besar masyarakat Jepara pada saat ini, baik yang terdidik ataupun kurang terdidik, yang bertitel S1, S2, S3, ataupun yang hanya lulusan SD, sedikit banyak telah tahu bahkan paham bahwa rokok mempunyai dampak yang teramat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi tanpa kuatir pangsa pasar akan menurun, pabrik rokok saat ini dengan rela menampilkan gambar penyakit-penyakit akibat rokok pada kardus bungkus rokok tersebut- yang memberi kesan menjijikkan dan menakutkan- , serta tulisan gamblang “Merokok Membunuhmu”. Di banyak tempat juga sering kita jumpai spanduk dan poster himbauan untuk tidak merokok. Sebuah edukasi kesehatan dari pemerintah yang bisa dikatakan gencar dalam rangka menyadarkan masyarakat. Hanya saja, memang ada beberapa intrik atau faktor ironis di mana hal itu menjadikan promosi kesehatan tersebut seakan tanpa arti.
            Hal ironis pertama, tentang faktor ekonomi negara Indonesia. Segancar-gencarnya pemerintah melakukan edukasi ke masyarakat, rasanya hasilnya bagaikan menggarami lautan jika pemasukan pemerintah tertinggi adalah dari industri rokok tersebut. Bagaimana mungkin masyarakat berhenti merokok jika rokok terus diproduksi besar-besaran dan (sepertinya) tak akan ada usaha penghentian produksi rokok dari pemerintah oleh karena andil besar dalam pasokan cukai tersebut. Tentu saja hal ini juga berpengaruh pada masyarakat Jepara sebagai salah satu bagian dari wilayah Indonesia yang menerima persebaran produk rokok juga. Dilarang, tapi disodori. Aneh, bukan?

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...