Senin, 28 Maret 2016

Mari Menggapai Kemenangan



Hidup, sesungguhnya tidaklah sulit-sulit banget. Tetapi juga tidak bisa dianggap mudah sekali.  Manusia hidup tak mungkin tanpa masalah. Dari yang masalah sepele hingga yang gedhe. Dari masalah tentang diri sendiri hingga yang berhubungan dengan banyak orang. Semua itu jika dihadapi dengan nafsu, hasilnya pastilah tidak baik. Sebaik- baik menghadapi masalah adalah dengan ilmu. Maka, walau masih muda, wajib hukumnya selalu mencari ilmu terutama ilmu agama. Karena dalam ilmu agama terkandung tuntunan kehidupan yang amat berharga, dan tentu saja berguna. Apalagi untuk kaum remaja yang seringkali labil alias galau dalam bersikap.

Ada sedikit pedoman yang perlu kamu-kamu ketahui dalam bergaul. Bergaul, sudah pasti berhubungan dengan manusia lain. Bisa teman, saudara, guru, juga ortu. Karena tiap orang memiliki pikiran dan perasaan yang tidak selalu sama satu dengan lainnya, setingkali terjadi gesekan-gesekan karena ketidaksamaan ide tadi. Biasanya hal ini bisa diatasi jika ada usaha dari masing-masing pihak yang bersangkutan untuk saling memahami, mengerti, dan mau berkomunikasi dari hati ke hati.
Sepertinya gampang juga, ya? Tapi...pada  prakteknya, bicara dari hati ke hati, saling mengerti dan memahami itu tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi jika menyangkut sikap.orang lain yang menyakiti kita, entah sengaja atau tidak. Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika teman kita mendholimi kita?

Sahabat semua, ada tiga langkah praktis agar kita tetap berdiri sebagai pemenang di saat menghadapi situasi seperti itu, yaitu:
1. Menahan amarah
2. Memberi maaf
3. Berbuat ihsan setelah memberi maaf

Menahan amarah, kerapkali dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Menahan amarah memang suatu sikap yang perlu dilatih dan dibiasakan. Pada awalnya mungkin akan terasa sangat tidak nyaman, menahan sesuatu yang ingin tumpah dari dalam diri yaitu amarah tersebut. Rasa marah merupakan reaksi yang wajar dan manusiawi, yang bisa saja keluar menjadi kata-kata kasar atau mengumpat dari mulut kita sebagai respon yang kita berikan. Namun, apabila kita ingin menjadi pribadi yang menggapai kemenangan, maka sebaiknya berikan respon yang lebih bijak, yaitu dengan menahan amarah. Menahan amarah artinya mengalahkan nafsu. Ketika kita berhasil menguasai diri untuk tidak marah, maka kita akan merasa lebih nyaman dan lega, serta tidak menambah masalah baru. Tentu saja sikap menahan amarah akan lebih mendapatkan ridho Allah, terlebih akan lebih terpuji di mata manusia.

Tahap selanjutnya adalah memberi maaf. Memberi maaf sesungguhnya tingkatannya lebih sulit lagi setelah berhasil menahan amarah. Sesungguhnya orang yang dizalimi berhak memberi balasan setimpal atau memberi palajaran. Dan seorang yang memaafkan artinya memilih untuk tidak mengambil haknya itu. Maka Allah akan memberikan keutamaan dan kemuliaan bagi para pemaaf. Hal ini sesuai dengan Q.S. Al Baqarah 237, serta hadits nabi yang artinya:
"Tidak akan berkurang harta karena disedekahi, dan tidak ada seorang pun yang dizalimi memudian memberi maaf, melainkan Allah Swt. akan menambah kemuliaan dirinya." (HR Ahmad)
Sedangkan berbuat ihsan artinya tetap berbuat baik terhadap seseorang setelah kita memaafkannya. Seperti yang dilakukan Rasulullah kepada musuh-musuh yang telah beliau maafkan dan bertobat. Misalnya Abu Sufyan, sepupu beliau yang sangat keterlaluan dalam menentangnya. Ketika Abu Sufyan meminta maaf, maka atas petunjuk Allah beliau memaafkan. Abu Sufyan masuk islam, dan Rasulullah memperlakukannya dengan baik hingga menjadi salah satu sahabat yang selalu mendukung perjuangan islam.

Bagaimana Sobat muda? Ingin menjadi pribadi yang biasa-biasa saja atau setara dengan ash-shiddiquun ( tingkatan orang-orang yang benar keimanannya)? Memang tiga hal sederhana tersebut pelakasanaannya tidak mudah. Tapi..., dengan kemauan untuk melatih diri, Inshaallah kamu-kamu bisa menapaki tangga-kemenangan itu. Selamat mencoba...!
Tulisan pernah dimuat di annida online


Profil penulis: Ella Sofa, nama lengkap Irkhamna Faelasofa, penulis buku "Sembuh dari Minder n Pede Aja Kali!" terbitan Quanta Elex Media.

Minggu, 27 Maret 2016

Liputan Acara Launching UMKM Center Jepara di Gedung JTTC

         Hari itu, Kamis, 24 Maret 2016, saya menghadiri undangan Launching UMKM Center di gedung JTTC (Jepara Trade and Tourism Center) di Rengging, Pecangaan , Jepara. Begitu datang, saya bertemu dengan beberapa teman blogger serta beberapa orang yang belum saya kenal sedang asyik berfoto. Tak urung, saya yang agak telat datang dibanding yang lain langsung tak mau ketinggalan, lari ikut pasang aksi di depan kamera. Senangnya bertemu tema-teman yang semangatnya muda terus. 
Acara Launching UMKM Center Jepara di Gedung JTTC

            Tak lama, kami antre mengisi daftar hadir dan masuk ke ruangan, Acara pun segera dimulai. Acara dibuka oleh pembawa acara yang ternyata teman kami yang aktif di kelas English PERPUSDA, yaitu Mbak Kartika Sari. Setelah membacakan susunan acara dan membuka acara, Mbak Sari mempersilakan Ketua KADIN, Bapak Abdul Kohar untuk menyampaikan sambutan pertamanya.
Antre mengisi dftar hadir

            Setelah sambutan pertama, dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Andang Wahyu Triyanto.  Sambutan ke tiga yang cukup menyegarkan suasana karena diselingi dengan gurauan, disampaikan oleh Bapak Edi Jatmiko yang mewakili Pemerintah Kabupaten Jepara. Hadir juga Ketua KADIN Jawa Tengah, ketua KPP Pratama Jepara Bapak Endaryanto, serta Bapak Taryoko dari Kandatel PT Telkom.
         Berikut ini hal yang mendasari diluncurkannya UMKM Center yang bertempat di Gedung JTTC itu juga, yaitu di Jl. Raya-Jepara Kudus KM. 11,5, Rengging, Pecangaan, Jepara, sesuai dengan Press Release oleh Dewan Pengurus KADIN Jepara:
          Di Jepara terdapat banyak pelaku usaha yang merupakan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dengan aneka bentuk usahanya. Dan cukup disayangkan dari data statistik (BPS, 2012) diketahui bahwa 98% UMKM didominasi oleh pelaku usaha yang tingkat orientasinya masih pada bertahan hidup (survival), dan belum pada orientasi untuk tumbuh dan berkembang (enterpreneurial). Oleh karena itu, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jepara, sekaligus meningkatkan perkembangan UMKM yang berdaya saing tinggi, maka KADIN Jepara meresmikan program “UMKM Center (UMKMC) KADIN Kabupaten Jepara.” Program tersebut juga merupakan upaya KADIN Kabupaten Jepara dalam memenuhi amanat Undang Undang Nomor 1 tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri yang mewajibkan KADIN sebagai wadah pelaku usaha dalam membantu pemerintah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. 
            Menurut Bapak Abdul Kohar, bahwa prinsip kerja UMKM Center KADIN Kabupaten Jepara ada tiga , yaitu:pendirian klinik usaha, forum edukatif UMKM, dan pembiayaan mikro. Sedangkan kegiatan pokoknya berup: informasi bisnis, pelatihan dan kosultasi, fasilitas permodalan, pusat promosi, galeri pameran, dan kontes kreatif. 
          Kepala KPP Pratama Jepara, Bapak Endaryono menyelipkan penjelasan tentang pentingnya membayar pajak bagi para pelaku usaha, khususya UMKM. Tidak perlu khawatir akan sulit baik dalam penghitungan ataupun pembayaran, karena sekarang ini sistem pelayanan pajak makin canggih. Mau coba menghitung sendiri pajak yang harus dibayarkan? Siapa bilang tidak bisa? Sekarang ini ada aplikasi internet untuk menghitung jumlah pajak. Juga untuk pembayarannya, bisa menggunakan cara online tanpa harus repot. Menurut Bapak Endaryono, pajak yang beliau bayarkan setiap bulan mencapai  lima juta rupiah. Sedangkan jika melihat para pengusaha Jepara yang penghasilannya besar dengan rumah- rumah yang amat mewah, pajak yang mereka bayarkan hanya sekitar 100 hingga 200 ribu rupiah. Tentu itu sangat ironi atau istilah jawanya njomplang jika dibanding dengan  penghasilan setiap bulannya. 
              Bapak Taryoko dari PT Telkom memberikan penjelasan tentang dukungan Telkom terhadap UMKM di bagian sambutan yang terakhir. Beliau menyebutkan beberapa permasalahan UMKM yaitu: akses pada pasar, akses ada teknologi, akses pada skill, dan akses pada kapital atau financing. PT Telkom ingin berperan dalam upaya pengembangan UMKM, dengan visi: We need to take part  in this digital world. Salah satu produk andalan Telkom adalah toko online dengan alamat URL service-store.com yang bisa dipakai untuk mengupload dan mempromosikan produk UMKM. 

Program Kegiatan UMKM Center

        Akhirnya tibalah kami pada acara paling penting, yaitu pemotongan pita sebagai tanda diresmikannya program UMKM Center dari KADIN Jepara di gedung JTTC Rengging, kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Hampir semua tamu yang hadir langsung mendekat ambil posisi utuk mendapatkan gambar terbaik dalam mengabadikan momen penting ini. Dan sejak hari Kamis tangga 24 Maret 2016, UMKM Center di gedung JTTC Rengging resmi dibuka dan selanjutnya akan berjalan sebagai pendamping dan pembina pelaku usaha mikro kecil dan menengah di Jepara. 
Saatnya pemotongan pita sebagai tanda peresmian UMKM Center 


            Setelah pemotongan pita, acara  pun ditutup, dan dilanjutkan dengan istirahat dan makan siang. Senang bisa hadir dalam acara peresmian UMKM Center ini. Senang juga bisa berkumpul dengan teman-teman dari Jepara Blogger Comunity serta dari Forum Lintas Komunitas Jepara. Kami pun kembali selfi di depan kamera dengan berbagai pose. Kebetulan, saya bertemu dengan seorang kenalan dari dunia maya, yaitu Mbak Femy Noviyanti, seorang wartawan yang pernah mewawancarai saya sebelumnya saat buku ke tiga saya terbit. Kami pun langsung mengabadikan pertemuan itu dengan selfi juga. Lau saya kenalkan ia dengan teman-teman blogger Jepara, dan sempat wawancara sebentar dengan seorang blogger Mbak Susi Ernawati, setelah makan siang. 
            Alhamdulillah, semoga program UMKM Center ini berjalan dengan baik, dan membawa manfaat yang signifikan bagi perkembangan UMKM di Jepara. Semoga UMKM tak hanya menjadi usaha yang sekedar bertahan hidup, tapi benar -benar sebagai aktifitas interpreuneurship yang maju. Aamiin.

Beginilah para blogger dan anggota Folkom Jepara kalau ketemu kamera

Kamis, 24 Maret 2016

Mas Hasan, Sang Pendongeng Ulung

Den Hasan, begitu nama beken seorang laki laki kreatif yang tinggal di Kecapi, Jepara tersebut. Ia termasuk manusia kreatif di Jepara. Dengan Taman Baca Ilalang yang telah ia dirikan secara mandiri itu ia mencoba menularkan ide ide kreatifnya pada anak anak kampung di sekitar rumahnya.


Mas Hasan yang  low profile
Alumni  UNISNU Jepara ini mengatakan bahwa ia ingin agar masyarakat Jepara sadar akan pentingnya membaca. Selama ini ia meminjakan buku buku koleksi pribadinya, serta ada beberapa buku sumbangan dari teman temannya. Ia belum sempat mengajukan permohonan bantuan dana maupun buku buku kepada pemerintah atau instansi swasta.
Kegiatan di Taman Baca Ilalang tak hanya membaca, tapi juga kegiatan kreatif lain, seperti: mendongeng, latihan teater, pembuatan film pendek, dan lain lain. Taman Baca Ilalang juga telah memiliki fanspage di media sosial Facebook sebagai media dalam sosialisasi maupun informasi kegiatankegiatan Taman Baca Ilalang.
Selain sebagai pendiri Taman Baca Ilalang, Mas Hasan juga seorang pendongeng hebat. Dengan gaya mendongengnya yang atraktif, ia mampu menarik perhatian anakanak sehingga seolah olah terbawa dalam alur cerita yang dibawakan Mas Hasan. Seperti malam itu, Sabtu tanggal 19 maret 2016, saya sempatkan menyaksikan aksi Mas Hasan mendongeng. Ia tampil di sebuah warung bernama “Warung Menthog Ma’ijah” yang lokasinya di dekat pertigaan Purwogondo menuju lapangan kenari.  Di warung dengan dominasi back ground warna hijau itu, anak anak kelihatan sangat antusias mengikuti kisah yang disampaikan Mas Hasan. Sesekali mereka tertawa terbahak bahak, sesekali terlihat ngeri mendengar bagian cerita yang seram. Sedangkan Mas Hasan sendiri seolah telah menjelma menjadi tokoh dalam ceritanya itu, tanpa ragu tanpa malu.Setelah mengakhiri cerita, tepuk tangan bergema dengan meriahnya dari anak anak. Rupanya mereka puas dengan dongeng Mas Hasan. “Besok lagiiii!” kata beberapa orang anak.

Mas Hasan mendongeng, anak anak ceria
Anak anak antsias

Makin malam makin asyik

Mendongengnya di Warung Menhog Maijah, Purwogondo Jepara
Pemilik Warung Maijah

Demikianlah Mas Hasan. Ia ingin sekali memberikan pesan pesan baik pada anak anak melalui dongeng. Ia akan sangat senang jika ada teman teman terutama pembina taman baca untuk kerjasama mengadakan acara mendongeng untuk anak. Saya, yang kebetulan beberapa waktu lalu memegang Taman Baca Pelangi Cita (empat tahun), ingin sekali suatu saat mengumpulkan anak anak untuk melihat aksi Mas Hasan mendongeng di taman baca. Tunggu tanggal mainnya ya Mas, doakan saya bisa buka taman baca itu lagi. Bukan mimpi yang salah kan? Doakan dalam waktu dekat, saya pun sesungguhnya hampir tidak sabar.
Saya sendiri, selain pengen mengundang Mas Hasan buat mendongeng, juga pengen kerjasama untuk kegiatan lain, seperti membuat film. Ahaha..., saya memang terlalu banyak mimpi. Gak pa pa ya Mas, kalau bisa bantu saya, InshaAllah masuk surga, hehe. Aamiin...
          Oya, Mas Hasan ini masih tergolong pengantin baru. Usia pernikahan baru beberapa bulan. Istrinya cantik dan imut, tapi...gak mau difoto. Haduuh, kebalikan saya, kalau liat kamera langsung lari mendekat. Ternyata, setelah ngobrol sana sini, ternyata kami memiliki beberapa teman yang sama, yang juga kebetulan tak jauh dari dunia menulis dan seni. Dan, yang unik, ternyata kami ditemukan lagi di warung sepupu saya, Warung Menthog Ma’ijah ini. ternyata lagi, sepupu saya yang bernama David Kurniawan atau biasa dipanggil Mas Wawan ini juga belum lama kenal, persis kayak saya yang baru kenal Mas Hasan di acara pernikahan seorang penulis media online Soeara Moeria Online bernama Syaiful Mustaqim. Oh...dunia emang sempit ya Mas...

          Oke...itulah sekilah kisah antara saya dan Mas Hasan, eh! Bukan, maksudnya kisah tentang Mas Hasan, seorang pendongeng dan pemilim Taman Baca Ilalang, salah satu orang kreatif Jepara. Sukses ya Mas.... J
Yummy...Menthognya iktan selfie dong




Selasa, 22 Maret 2016

Pengorbanan dan keikhlasan


Pengorbanan... Entah lebih tepat disebut apa selain pengorbanan. Jika di suatu keadaan memaksa kita untuk merelakan hilangnya sesuatu yang selama ini kita nikmati. Bukankah itu sebuah pengorbanan? Lalu jika menyebut tentang kata pengorbanan kau dianggap tak ikhlas, jadi apakah ikhlas itu bukan suatu pencapaian yang perlu diperjuangkan? Apakah ikhlas itu sesuatu yang gampang tanpa perlu kesabaran? Lalu adakah predikat ikhlas didapat bila tak ada pengorbanan?
Betapa surga terlalu mudah diraih jika kata ikhlas tak perlu perjuangan atau pengorbanan. Ikhlas, nikmatnya terasa saat kita bisa meraihnya. Ikhlas itu saat kita merasa lega, rela, ringan, dan tak mempermasalahkan suatu hal yang menimpa kita,  atau saat kita kehilangan sesuatu,  atau mengalami kejadian yang dalam pandangan umum terlihat amat berat.
Dalam lain konteks, ikhlas berarti melakukan sesuatu hanya karena Allah. Jika niat karena Allah telah kita pegang, maka hati menjadi yakin dan ringan tanpa kuatir apapun penilaian orang. Dipuji ataupun dicela tak akan berpengaruh pada niat baik kita. Ikhlas itu tulus tanpa pamrih. Tapi...semudah mengucapkan definisi sajakah realisasi ikhlas itu? Tentu tetap perlu perjuangan,  melawan rasa keraguan hati karena godaan-godaan hati akan selalu ada di sekeliling kita.
Apa yang dilakukan pahlawan pejuang kemerdekaan juga sebuah pengorbanan. Apa sih arti pengorbanan? Apakah ketika seseorang berkata bahwa ia rela berkorban, artinya ia tidak ikhlas? Lalu bagaimana ada istilah ikhlas jika tidak ada pengorbanan?  Justru karena ada pengorbanan, seseorang belajar tentang apa itu sabar dan ikhlas.
Menurut saya, ikhlas adalah tingkatan tertinggi dalam sebuah pembelajaran kehidupan. Sekilas gampang saja diucapkan, dinasehatkan, "Asalkan ikhlas, semua masalah tidak akan jadi masalah." Halooo,  itu memang betul banget. Tapi,  begini. Untuk naik kelas, seseorang perlu diuji. Ujian kehidupan, ujian keikhlasan,  semacam itulah. Ketika seseorang telah menjadi orang yang ikhlas dengan keadaannya,  apakah penilaian Allah akan berhenti di situ, dan gelar ikhlas akan selamanya menjadi predikat orang itu? Untuk naik kelas, pasti ada pengorbanan. Anak sekolah harus belajar, mengorbankan waktu bermain agar lulus ujian. Apalagi untuk naik kelas di mata Allah. Untuk lulus dalam ujian kehidupan, pasti ada pengorbanan. Jika ujian itu hanya hal yang enak enak dan disukai, memang bukan pengorbanan namanya. Nah, masa untuk naik kelas seseorang diberi hal hal yang menyenangkan saja? Meski ada istilah ujian hidup berupa ujian kesenangan, misalnya berupa harta kekayaan yang melimpah, tetapi tetap  saja dalam melewati ujian agar lulus tetap perlu pengorbanan. Memberikan hartanya pada orang lain, yang pasti dalam pelaksanaannya ada saja godaan syetan agar seseorang merasa berat. Disitu perjuangannya, berkelahi dengan rasa pelit. Apakah itu bukan suatu pengorbanan?
Ketika seseorang dengan kesadaran mulai belajar memahami keadaan, bahwa untuk suatu kebaikan harus ada yang ia korbankan, apakah ia sudah bisa dianggap tidak ikhlas? Saya pikir, ketika ia berkata bahwa ia harus rela berkorban, ia dalam proses menuju ikhlas. Karena ikhlas itu sesuatu yang tinggi, tak mudah diraih.
Anda boleh berbangga hati karena telah menjadi pribadi yang ikhlas hingga bisa menilai orang lain tidak ikhlas dan tidak lebih baik dari anda. Tapi sekali lagi, apakah anda benar benar telah paham apa yang sedang dihadapi seseorang tersebut?
Jadi?
Seharusnya ketika kita telah melalui berbagai ujian hidup, dan telah ikhlas (jika bisa disebut ikhlas sih), kita tak akan mudah lagi merasa tahu apa masalah orang lain, dan menilai ikhlas tidak ikhlasnya seseorang. Lebih baik kita tengok lagi diri kita sendiri,  sudah benar benar ikhlaslaj kita dengan semua yang telah kita kerjakan? Begitu banyak tugas kehidupan yang harus kita selesaikan dengan ikhlas. Yuk, kita sibuk memperbaiki diri, dan tinggalkan membandingkan bandingkan orang lain dengan diri kita, karena belum tentu juga kita lebih baik. Belajar memaknai dan mengamalkan ilmu ikhlas, bagi saya, itu bukan hal mudah.
Bagaimana menurut anda?

Sabtu, 19 Maret 2016

Kutangkap Senja Bersama Indah Bendungan Mbung Pes yang Sederhana

sampai tempat tujuan langsung action

Sore itu, aku dan anak anak melaju menuju rumah Ibu Yanti, Ibu Guru Najwa (anak pertama, kelas  SD), untuk bimbingan LCC. Rumah Ibu Yanti ada di Desa Gerdu. Perjalanan jadi menyenangkan karena kami melewati persawahan nan hijau. Sejuk sekali udara sore yang cerah ini. Meski jalan yang harus dilalui sepeda motor tidak bisa dikatakan mulus, banyak joglangan di sana sini (meski barusan ada perbaikan jalan dengan dicor), tetapi tak membuat kami enggan. Justru makin mengesankan. Memang agak aneh sih, entah mengapa yang dicor hanya sebagian jalan, dan sebagian yang lain dibiarkan masih rusak. Padahal ...padahal.... (bingung bagaimana meneruskannya)
Oke, singkat cerita, kami tiba di rumah Ibu Yanti. Setelah disambut dengan ramah dan membuat kesepakatan jam jemput, aku dan anakanak tak langsung pulang. Kebetlan, rumah Bu Yanti dekat sekali dengan sebuah bendungan bernama Bendungan Karet Welahan Bum, atau lebih populer disebut Mbung Pes. Unik  ya namanya...! Iya, nama itu memang sesuai dengan keadaan bendungan tersebut. Jadi, sistem pembuka dan penutup pintu air di bendungan ini memakai karet. Lembaran karet berwarna hitam lebar dan tebal yang sekilas mirip ban dalam mobil raksasa itu. Nha, ketika sedang butuh air, ban karet akan diisi udara dan menggembung sehingga pintu air tertutup. Ketika ban tersebut mengmpis, maka air jalan pintu air akan terbuka lagi dan air bisa mengalir keluar melalui pintu air tersebut. Itu sekilas yang saya aku tahu sih...lebih lengkapnya bisa browsing ya...hehe.
Senja sederhana yang indah


Senangnyaaa anakanak (adik adik najwa, namanya Sadid dan Azka) ketika turun dari motor. Apalagi segerombol kerbau menyambut kami. Eh...maksudnya mereka akan dimandikan oleh penggembalanya di air bendungan itu. Anak anak memang jarang sekali melihat kerbau, apalagi yang begitu banyak, satu erte kali. Maunya sih ambil gambar kawanan kerbau dengan jarak dekat. Tapi.... mesti turun ke bawah sana, ogah ah! akhirnya kami jalan menuju bagian atas bendungan yang berpagar (entah apalah istilahnya tempat ini), disamping pintu air. Wow...amazing! Hampir sunset, belum sunset sih...Tapi lumayan menarik buat diambil gambar. Maka, jeprat jepret pun lanjut. Hasilnya mungkin kurang bagus karena pakai kamera hape yang sederhana. Anakanak pun tak lupa
beraksi di depan kamera.
Kutangkap senja bersama rindu selalu


Eh...ada abang tukang mancing! Deketin, ah... Tanpa ba bi bu atau rasa sungkan sedikit pun, Sadid dan Azka langsung ngajak ngobrol dan ikut sibuk disamping abang mancing itu.
Aku suruh agak menjauh, nggak mau mereka! Hmmm....
Ada rasa khawatir, kalau kalau tubuh mungil mereka melesat ke bawah melalui pagar yang kelihatannya savetynya kurang itu.
Terpaksa sambil tetap waspada, aku melihat saja aksi mereka.
Eh, si abang dapat banyak ikan lho. Pinter sekali tuh abang. Iseng iseng aku nanya,
 “Itu bahan buat mancing dari apa sih?”. “oh...dari tempe Bu”
“???”
“Tempe diuleg, campur tepung,”
“Ohh...gitu.”
Hahaha, aku juga baru tahu kalau tempe bisa jadi bahan baku buat mancing ikan. Kupikir cuma cacing yang memonopoli bahan baku permancingan. Ilmu baru... Eh, tapi aku jadi inget dulu waktu KKN (jaman aku masih gadis, teman KKN mau mancing nguleg mie instant dulu. Dikasih air dikit...dibulet bulet kecil, jadi deh. Kreatif juga ya...



Lalu..?
Oke, kembali ke Bendungan Mbung Pes.
Indahnya, indah. Tapi...ada yang mesti dibenahi kalau mau menjadikan bendungan ini jadi objek wisata beneran. Kebersihannya terutama. Memang aku tidak terlalu menyebutkan yang muluk tentang bendungan ini, tapi kalau untuk cuci mata, refreshing, dan nyenengin anak anak gratisan, boleh juga lah ya...
Wah, sudah gelap. Kayaknya harus balik, jemput Kakak Najwa di rumah Ibu Guru, terus pulang. Perjalanan dengan jalan aspal yang begini begono membuatku kuatir kalau harus pulang sudah gelap.
Oke....kapan kapan inshaallah kami akan kembali ke sini, bye...Mbung Pes... J





Maka, selamat tinggal.....senja

Senin, 07 Maret 2016

Sareng Pajak, Bayar Pajak Mudah, Bisnis Makin Lancar

Jepara,  Hari Minggu tanggal 6 Maret 2015, bertempat di Gedung JTTC (Jepara Trade and Tourism Center) telah dilaunching sebuah program baru bernama Sareng Pajak. Sareng pajak singkatan dari Sharing Bareng Pajak, merupakan program kerjasama dari KPP Jepara, KADIN Jepara, serta UNISNU Jepara. 


Acara Launching Sareng Pajak di gedung JTTC Jepara

Sareng Pajak? Iya, sareng dalam bahasa Jawa artinya bersama, atau bareng. Sedangkan menurut kepanjangannya artinya tak jauh beda, yaitu sharing bareng pajak, berbagi bersama tentang apa dan bagaimana pajak yang sesungguhnya. Kenapa harus sharing tentang pajak? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa andil pajak dalam pembangunan negara ini sangatlah besar. Kurang lebih 75% anggaran dana APBN di Indonesia terkover dari setoran pajak. Sehingga jelaslah bahwa pajak merupakan sumber pendapatan negara yang terbesar dimana larinya adalah untuk membiayai APBN (Anggaran Pendapatan  dan Belanja Negara) dengan sasaran kesejahteraan rakyat Indonesia. Namun, ternyata masih banyak warga negara yang belum paham arti penting pajak serta bagaimana cara memulai menjadi seorang taat pajak. Dengan alasan itulah, sharing tentang pajak menjadi hal yang amat penting dalam rangka sosialisasi pajak kepada masyarakat.
Andil pajak dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah kita temukan. Sebut saja jalan raya, puskesmas, rumah sakit,  bangunan pasar, gedung sekolah, dan lainlain yang semua itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Kesemua fasilitas umum itu perlu pemeliharaan, perbaikan, pembaruan, maupun penambahan, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan  atau masyarakat setempat. Sehingga pasokan dana dari pajak tetap dan selalu dibutuhkan untuk melaksanakan pemeliharaan, perbaikan, pembaruan, maupun pembaruan tersebut.
Acara launching Sareng Pajak ini dimulai pukul  13.00 setelah sebelumnya diawali dengan makan siang bersama. Setelah pembukaan acara dengan bacaan basmalah yang dipandu oleh MC,  acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.
Sambutan pertama diberikan oleh Kepala KADIN (Kamar Dagang dan Industri) Kabupaten Jepara, Bapak Abdul Kohar. Menurut Bapak Abdul Kohar, pajak adalah kebutuhan kita bersama.
Sementara itu, Bapak Mohammad Imron selaku Dekan UNISNU Jepara yang memberikan sambutan ke dua, menjelaskan bahwa program Sareng Pajak adalah sebuah solusi, mengingat pajak adalah sumber terbesar pendapatan negara yang akan digunakan untuk pembiayaan APBN kita. Menurut beliau 3 pilar utama dalam mengusahakan lancarnya pelaksanaan pembayaran pajak adalah: Akademisi, Businessman, dan Government (ABG). 


Sambutan dari Bapak Ketua Kadin Jepara

Akademisi adalah kalangan mahasiswa yang sebaiknya ikut andil dalam sosialisasi pajak di masyarakat, karena akademisi dianggap kalangan yang terdidik, kritis, dan idealis, sehingga masyarakat akan lebih percaya. Dalam program Sareng Pajak ini, UNISNU mengerahkan mahasiswanya menjadi kader pajak yang siap standby untuk sharing tentang pajak di gedung JTTC ini, setiap hari Senin sampai Jum’at pada pukul 09.00 hingga 14.00.
Pilar yang kedua, Businessman, maksudnya adalah pelaku bisnis. Sasaran taat pajak memang banyak ditujukan kepada pemilik usaha/bisnis yang dalam aktivitas bisnisnya banyak menggunakan fasilitas umum, yang nantinya menghasilkan income bagi mereka. Mereka yang banyak memakai, menikmati hasilnya, sehingga merekalah yang wajib membayar pajak atas penggunaan jasa fasilitas umum tersebut.
Government, atau pemerintah sebagai pilar berikutnya. Sudah jelas bahwa pemerintahlah yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan mengenai aturan aturan pembayaran pajak serta pengalokasian dana dari setoran pajak untuk hal-hal yang tepat guna. 
 
Sambutan dari Bapak Dekan UNISNU Jepara

Sedangkan Kakanwil  Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah 1, Bapak Dasto Ledyanto mengatakan bahwa sebenarnya pajak itu hal yang sederhana dan menyenangkan, tetapi masyarakat masih banyak yang menganggap pajak adalah hal yang menakutkan dan rumit. Apalagi sekarang telah ada cara online untuk membayar pajak, cara canggih dan praktis yang memperingan para wajib pajak dalam menyetorrkan pembayaran pajaknya. Untuk itulah program Sareng Pajak ini sangat tepat untuk diluncurkan.

Pada kesempatan berikutnya, sesi penjelasan tentang kegiatan-kegiatan terbaru pengembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah)  disampaikan oleh Bapak Rumail Abbas. Beberapa kegiatan pengembangan UMKM Jepara yang akan dilaksanakan adalah: 1. Direktory Online, 2. UMKM Center, 3. Seminar, 4. Kontes atau Lomba, 5. Pembuatan kalender. 

Penjelasan tentang pengembangan UMKM di Jepara

Directory online atau pembuatan website telah dilakukan, di mana masyarakat bisa mendapatkan informasi tentang UMKM  di Jepara secara detail dengan membuka website tersebut yang beralamat di www.muria.id yang sudah bisa dibuka mulai Bulan Maret ini.Kegiatan berikutnya adalah adanya UMKM Center yang bertempat di Gedung JTTC ini, di mana tiap bulan akan dilaksanakan  pelatihan di hari Sabtu-Minggu. Sedangkan untuk hari Kamis adalah hari Consulting, dan kegiatan pameran dengan waktu tentative.
UMKM juga akan andil dalam kegiatan Sareng pajak, dimana Sareng Pajak UMKM akan diadakan setiap bulan dengan mengundang 30 UMKM. Selanjutnya, jika masih belum tuntas permasalhan yang dibicarakan dalam Sareng Pajak, maka akan dilanjutkan pada kegiatan FDC yang juga mengundang 30 UMKM perbulan, di mana materi konsultasi adalah tentang: perpajakan, advokasi, pembayaran, dan bisnis kreatif. 
Setelah beberapa sambutan tersebut maka tibalah saatnya detik-detik peresmian diluncurkannya Sareng Pajak. Maka resmilah program Sareng Pajak dimulai di hari ini juga. Selanjutnya masyarakat bisa memanfaatkan Sareng Pajak di Gedung JTTC ini untuk berkonsultasi atau berbagi tentang hal seputar pajak dengan mudah.
Launching Sareng Pajak yang dihadiri ditutup dengan doa bersama, dan dilanjutkan dengan acara makan-makan buah khas Jepara, yaitu durian. Suasana menjadi lebih santai dan akrab. Tamutamu undangan dari berbagai kalangan tumplek bleg jadi satu mengerumuni deretan buah durian yang telah ditata di meja hidangan.
Begitulah acara launching ini berlangsung lancar dan menyenangkan. Diharapkan dari mulai diluncurkannya Sareng Pajak ini, kegiatan membayar pajak di Jepara menjadi lebih lancar serta image bahwa pajak adalah hal yang menakutkan akan meluntur seirng pemahaman dan kesadaran masyarakat.





Buah khas Jepara, durian sebagai hidangan penutup acara

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...