Rabu, 20 April 2016

JBlog, Seminar Nasional Kartini, Fakta Kartini dan "Temui Aku di Surga"

                Mendapatkan undangan dalam acara nasional adalah suatu hal yang bagi saya seperti mimpi. Meski pernah sesekali membayangkan, tapi belum pernah terpikir oleh saya bahwa itu akan saya alami, lebih tepatnya barusan saya alami. Bermula dari tergabungnya saya di sebuah grup WA yang terdiri dari para blogger di Jepara, di mana dalam grup itu selain membahas tentang dunia blogging, juga lebih sering diskusi ini itu. Singkat cerita saya didaftarkan menjadi salah satu penerima undangan seminar nasional Festival Kartini ke empat yang bertempat di pendopo Kabupaten Jepara. 

                  Jadi, sebenarnya ada cerita tersendiri tentang grup Teras Blogger tersebut atau lebih seringnya disebut JBlog (Jepara Blogger Community). Anggota-anggota grup, adalah orang orang penting, kreatif, dan keren di kota Kartini ini. Ada Mas Odi Prabu Sakti dan Mas Rumail Abbas (entah nama asli atau bukan) yang merupakan orang orang dekatnya para pejabat di Jepara (semoga saya tidak salah meski lumayan ngasal nyebutnya), Mbak Susi Ernawati yang menjadi admin sebuah grup blogger kelas Nasional yaitu Warung Blogger, Mas Indra yang kebetulan suaminya Mbak Susi Ernawati yang ngakunya juga blogger tapi lebih terkenal dengan sandal ukirnya, Sinna Saidah Azzahra yang cerpennya sudah pernah dimuat di tabloid NOVA, Jiah AlJafara yang juga seorang blogger dengan pengalaman melancong ke Bali sebagai hadiah lomba ngeblog, Mbak Kartika Sari yang merupakan pengajar di GEC serta aktif dalam kegiatan Kelas Inspirasi Jepara dan yang terbaru sebagai pencetus GPS di Jepara, dan... banyak lagi yang memang keren (maaf kalau belum saya sebut), serta saya sendiri yang belum tahu sudah keren atau belum yang merasa sangat beruntung ada di antara mereka. 

                Lalu?
                Dalam grup itu kami ngobrol tentang rencana rencana brillian. Kegiatan kegiatan yang telah terlaksana dan melibatkan jasa grup tersebut (meski mungkin hanya sedikit, bisa jadi didiskusikan lebih dulu atau lebih lanjut di grup lainnya) di antaranya adalah: Piknik Forum Lintas Komunitas, undangan liputan blogger tentang sosialisasi pajak, dan ajakan ikutan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Nha...dari kegiatan yang terakhir saya sebut itulah, membuat nama saya masuk dalam daftar undangan untuk acara Seminar Nasional itu. Kok bisa?  Jadi, saat itu para muda Jepara akan merealisasikan rancangan Gerakan Pungut Sampah yang akan beraksi esok hari.  Mbak Kartika Sari dan kawan kawan yang menjadi motor gerakan pungut sampah ini menghadap Kabag Humas Setda Jepara, Bapak Hadi Priyanto untuk mengurus ijin pelaksanaan GPS. Ternyata beliau sangat mendukung, dan...ternyata lagi dari urusan ijin itulah tim GPS mendapatkan tawaran undangan seminar nasional dalam rangka festival Kartini empat. Wow..., dan ini dia. Ternyata meski saya tidak bisa ikut rapat atau mengurus ijin dan lain lain sebelum pelaksanaan GPS bersama mereka, teman teman masih ingat saya. Mereka mencantumkan nama saya, dan... akhirnya takdir bicara, saya mendapatkan undangan itu. Alhamdulillaaah.... Bahagia, bahagianyaaa saya kenal dengan orang orang keren itu.
                 Dan...
                 Pagi itu, Sabtu tanggal 16 April 2016, dengan busana padu padan yang saya pikir paling sreg dan nyaman untuk saya kenakan, saya benar-benar seolah dimasukkan dalam dunia mimpi. Bayangan saya sudah tinggi sekali. Ya, bertemu Dian Sastro dan Hanung, lalu saya akan memberikan mereka berdua novel saya “Temui Aku di Surga”, yang juga bercerita tentang lokalitas Jepara. Ahaha...mungkinkah? Apa yang tak mungkin? Jalan terbuka lebar, saya tinggal pasang muka tebel lari mengejar mereka. Kamu pasti bisa, pasti bisaaa! Ya, segitu saja bagi saya sudah sangat tinggi. Selebihnya, saya tinggal berdoa semoga Hanung ada waktu dan kemauan untuk membaca novel saya. Itu sudah sangat tinggi bagi saya...., Aamiiin.
Pendopo Kabupaten Jepara dipenuhi tamu undangan yang mayoritas wanita

                     Pendopo Kabupaten Jepara sangat riuh, ramai, penuh dengan manusia yang mayoritas berjenis kelamin wanita, dan sebagian besarnya memakai kebaya atau baju corak batik. Rasanya agak berat melangkahkan kaki, saat melihat penampilan mereka yang berdatangan sepertinya orang penting semua. Lirik sana lirik sini, cari sana cari sini sambil chatting di WA grup. Katanya Sita di luar. Dan, aah... benarlah ia tiba tiba saja sudah di hadapan mata. Wow...ck ck ck. Cantik, maju mundur cantik deh Sita ini. Kartini modern.Tiba tiba rasa gugup itu lenyap. Kami berdua dengan percaya diri mengisi buku tamu meski undangan tak di tangan (undangan dibawa Mbak Susi yang sudah masuk ke pendopo). Dengan pede juga kami menuliskan identitas tamu sebagai blogger. Kok rasanya jadi keren ya... haha. Entah penerima tamu itu paham atau tidak tentang sesuatu bernama blogger.
                   Wah...jam karet sih memang, biasa. Dalam undangan tertera bahwa acara dimulai pukul delapan pagi. Jam sembilan belum mulai, jam setengah sembilan belum juga dimulai. Ya sudahlah... santai saja. Saatnya selfi selfi sebelum hape sibuk buat mengabadikan sesi demi sesi rangkaian acaranya. Jepret undangan (wow... makin merasa amazing saat undangan benar benar di tangan), jepret pendopo, jepret panggung, jepret tamu tamu undangan. Hmmm Judul seminar kali ini ternyata “Spirit Kartini dalam Membangun Bangsa yang Mandiri, Kreatif, dan Berkarakter.”
Beberapa menit kemudian, acara pun dibuka oleh MC. Selajutnya serombongan tim paduan suara menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Jepara. Semua hadirin berdiri dan ikut serta beranyanyi. Ohya, ehm...ini sebenarnya rahasia. Saya... suatu hari nanti ingin bisa menjadi MC acara resmi seperti ini. Waktu kecil beberapa kali jadi protokol upacara, pernah juga menjadi MC acara perpisahan. Ah, mimpi saya kebanyakan sampai penuh kantong mimpinya. Belum yang ingin jadi penyiar radio, guru, radaktur majalah remaja, ahaha....entah bagaimana cara menggapai semua     mimpi itu.

                     Kembali ke acara seminar
                Sungguh luar biasa menyadari bahwa saya ada di sini. Di tempat yang sama dengan Menteri Peberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Menteri Perindustrian, Menteri Perumahan Umum dan Pekerjaan Rakyat, dan pajabat pejabat penting di Jepara serta utusan utusan dari daerah luar Jepara bahkan luar Jawa. Dan sebentar lagi... Dian Sastro serta Hanung Bramantyo pasti di sini juga. Keren keren kereeeen. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang akan kau dustakan?
                     Kemudian....
                     Sambutan pertama disampaikan oleh Bapak Bupati Jepara. Pidato Bapak Marzuki selalu lantang, tegas, dengan suara yang mantap. Saya selalu terkesan. Oya, sudah dua kali ini saya menyimak dan melihat langsung Bapak Bupati berpidato. Yang pertama dulu di Festival Larung, yang sayangnya belum  sempat saya abadikan dalam tulisan. Semoga setelah ini nanti saya tak lupa menuliskannya. Satu hal yang membekas di benak saya dari pidato Bapak Bupati, yaitu tentang kehidupan masa kecil Kartini. Bahwa ia telah terpisah dengan ibundanya sejak kecil karena ibunda bukan keturunan darah biru sehingga harus tinggal di bagian belakang rumah Bupati. Ketika mendengar Kartini kecil menangis, Ibu Ngasirah hanya bisa melihat dari balik jendela tanpa bisa mendekapnya atau menghibur Kartini. Meski Ibu Ngasirah adalah istri pertama yang melahirkan delapan putra Bupati Jepara, tapi beliau tidak bisa menjadi istri resmi Bupati. Kartini juga merasa tersiksa saat menghadap masa pingitan. Bahwa adat yang begitu mengekang wanita dan membeda bedakan strata  membuat Kartini merasa menderita dan ingin merubah keadaan. Jika pahlawan lain yang dihadapi adalah penjajah, maka musuh yang harus dihadapi Kartini adalah ayahnya sendiri, orang orang di sekitarnya, lingkungannya, adat yang membelenggunya.
Paduan suara yang merdu dan indah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Jepara

Bapak Marzuki memebrikan sambutan

              Sambutan berikutnya seharusnya disampaikan oleh Bapak Gubernur, tetapi beliau berhalangan hadir dan diwakili oleh istri. Sedangkan sambutan berikutnya, disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. DR. Yohana Susanna Yembise, Dip. Apling, MA. Satu hal yang paling terngiang giang di telinga hingga sekarang dari ucapan Ibu Yohana, yaitu “Untuk semua laki laki yang hadir di sini, sampaikanlah kepada semua laki laki di Jepara, jika setiap laki laki menyelamatkan satu wanita Jepara, maka akan selamatlah semua wanita di Jepara ini.” Dan riuh tepukan tangan hadirin  segera terdengar menyambut ucapan beliau. Suasana menjadi segar.
Menteri pemberdayaan wanita dan perlindungan anak memberikan sambutannya
                  Suasana makin segar ketika acara seminar beralih dalam bentuk talk show. MC digantikan oleh moderator Mbak Nadia Ardiwinata. Sedangkan pembicara adalah Ketua umum DPP IWAPI Ir. Dyah Anita Prihapsari MBA., Dian Sastrowardoyo, dan Hanung Bramatyo. Saya makin merasa amazing...
                Ibu Dyah mengatakan bahwa wanita sangat tepat untuk berwirausaha. Karena pada faktanya, ketika seorang pengusaha wanita pinjam uang bank, maka ia kan memegang uang dengan sangat hatihati, segala pengeluaran diperhitungkan, dan posting belanja benar benar untuk pengembangan usaha. Sedangkan bapak bapak jika sudah pegang uang banyak, meski pinjam bank, tak jarang yang dibelanjakan untuk kebutuhan tertier, beli barang barang mahal diluar kebutuhan pengembanga usaha, beli mobil baru, rumah baru, cari istri baru. “Grrr...” Tawa pengunjung langsung berderai memenuhi pendopo. 
               Kini giliran artis cantik, putih, nan smart, Dian Satrowardoyo menjadi pembicara. Menurut Dian, wanita yang seksi adalah yang memiliki penghasilan sendiri. Dian menceritakn masa kecilnya yang memiliki keluarga broken home dan ibunya yang membiayai kehidupan anak anak hingga dewasa.  Dian melihat betapa ibunya adalah seorang yang tangguh, tak pernah ongkangongkang kaki di rumah, menjadi tulang punggung keluarga. Maka menurut Dian, wanita yang seksi adalah wanita yang memiliki penghasilan sendiri, bisa membiayai kebutuhan sendiri dan membantu suami dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Dian sangat bersyukur mendapatkan suami yang mendukung ia bekerja, termasuk berman film. (Ah, main film? Kok rasanya saya juga kepingin ya...). Bahkan setelah ia vakum main film selam beberapa tahun, suaminyalah yang menyuruhnya main film lagi karena melihat potensi paa diri Dian. Dian menyarankan, “Untuk wanita, jangn cepat cepat menikah, sekolah yang tinggi, dapatkan pekerjaan atau berwirausaha sehingga menjadi wanita yang mandiri, nanti setelah mandiri barulah menikah.” Menurut Dian, wanita akan lebih dihormati ketika ia memiliki peghasian sendiri. Dian sendiri adalah seorang pemilik usaha katering sehat dan mukena.
                      Sedangkan Hanung, tak seratus persen setuju dengan pendapat Dian. Menurut Hanung yang lahir di Yogyakarta ada tanggal 1 Oktober 1975, seorang wanita tetap seksi meski tidak memiliki penghasilan sendiri. “Tanpa begitu pun wanita sudah seksi.” Wanita memang difitrahkan menjadi tempat pulang yang nyaman bagi suami, tetapi harus berwawasan. Maka Hanung mendukung jika wanita bersekolah di sekolah kejuruan, terutama yang nantinya bisa dijadikan bekal untuk membuka usaha di rumah, sehingga ia bisa bekerja sambil masih menjalankan perannya mengurus suami dan anak.
                   Hanung sendiri mengaku terlahir dari keluarga yang Jawa, Islam,dan patriarkal. Menurut Hanung, jaman dahulu, feodallah yang sebenarnya membatasi ruang gerak perempuan. Feodal mendukung adat yang membatasi gerak perempuan agar kehidupan masyarakat tak bisa maju. Feodal khawatir jika wanita diberi pendidikan tinggi dan diberi kesempatan berkembang, nantinya akan lahir bumiputera yang cerdas dab kritis sehingga mengancam keberadaannya di bumi pertiwi ini. Adat itu makin kuat dengan adanya peran nafsu laki laki yang ingin menguasai. Jadi, ketika perjuangan Kartini untuk merubah peradaban menjadi lebih baik, meningkatkan harkat dan martabat wanita Indonesia, alangkah mirisnya jika peringatan Hari Kartini hanya dimaknai sebatas: pakai baju kebaya lagi.
                Dalam mempersiapkan film yang akan digarapnya, Hanung menemukan beberapa fakta sejarah dari hasil surveynya di Jepara. Kartini ternyata tak hanya menjadi pioner pendidikan, tapi juga seorang pioner wirausaha. Dari surat surat Kartini yang bercerita tentang batik, ukir dan lukis, Ratu Wilhelmina penasaran dengan ukiran Jepara. Lalu Kartini mengirimkan contoh benda ukiran Jepara. Dari situlah pesanan ukiran Jepara dari beberapa negara lain berdatangan ke Jepara, dan dikoordinir oleh Kartini. Kegiatan UMKM ini dilakukan Kartini saat usia 19 hingga 22 tahun. Harapan Hanung, dengan adanya film garapannya tentang Kartini, kita akan terbuka mata bahwa Kartini tak hanya pioner pendidikan wanita, tapi juga pioner wirausaha, yang semua itu patut dicontoh oleh wanita Indonesia.
                 Dian Satro menanggapi komentar Hanung bahwa wanita fitrahnya adalah menjadi tempat pulang  yang nyaman bagi suami. Dian tidak begitu setuju juga dengan adat Jawa lama bahwa tugas wanita adalah masak, manak, macak. Apa jaman sekarang sesederhana itu peran wanita? Padahal istri bisa malakukan lebih. Bisa menjadi tempat diskusi yang cerdas tentang banyak hal, misalnya tentang pekerjaan suami. Jaman sekarang, untuk maju, suami perlu pelengkap seorang istri yang melek perkembangan. “Perempuan meski menjadi istri, Ibu, kalau bisa jangan tinggalkan dunia kerja.” “Seorang Ibu yang bekerja akan menurunkan anak yang lebih keras lagi dalam bekerja.” Dan menurut Dian, wanita bekerja tujuannya bukan untuk mengangkangi suami. 

Talk show Hanung dan Dian Sastro


                Begitulah kira kira isi talk show yang disampaikan Ibu Dyah, Dian dan Hanung. Moderator memberikan kesempatan kepada lima orang penanya. Satu demi satu pertanyaan dilontarkan, dan satu persatu dijawab pula. Saya, yang ingin sekali maju ke depan tak mendapatkan kesempatan itu. Padahal debaran di dada serasa menendang nendang sedari tadi. Ingin menangis rasanya, apa yang saya bayangkan ternyata tidak kesampaian. Saya ingin maju ke depan, memperkenalkan diri, menceritakan profesi saya, tentang novel saya, alasan saya menulis novel itu, dan keinginan saya untuk mengangkat novel itu menjadi sebuah film.!

                   Tapi...

                   “Ayo cepat, blogger siap siap maju kasih kenang kenangan!” Tiba tiba suara Mas Indra Susindra memberi saya harapan lagi. Hah? Maju?  Foto? Artinya mendekat pada Dian dan Hanung?  Blogger? Saya kan blogger? Ahh...iya, sandal ukir Mas Indra. Yess! Kali ini tak boleh dilewatkan. Saya langsung ambil dua buah novel saya dari dalam tas, dan ikut maju ke depan bersama para blogger. Wow...bak artis dari ibukota, saya dan para blogger kena bidikan kamera berkali kali. Mungkin bagi yang lain ini asyik, tapi bagi saya serasa alangkah lamanyaaa! Kapan selesainya sesi foto foto dengan pose yang stagnan ini? Saat  ini otak saya sudah selangkah maju ke lima menit kemudian. Lima, enam, atau sepuluh, yang penting saya kan langsung menuju Dian dan Hanung untuk memberikan novel yang ada di tangan. Detik detik penentuan!
Dan.... Jreng jreng jrenngg!!!

Jblog, sandal ukir, Hanung, Dian, Ibu Dyah (Ketua umum IWAPI) dan novelku.

                   Acara foto pemberian kenang kenangan sandal ukir itu selesai juga. Entah mengapa begitu banyak kamera (kamera beneran atau pun kemera ponsel) membidik kami: Dian, Hanung, Ibu Dyah, saya dan blogger lainnya juga pigura pigura berisi sandal ukir dengan gambar siluet wajah Dian, Hanung, dan Ibu Kartini. Pigura pigura berisi sandal ukir diserahkan, dan saya tak boleh ketinggalaaaan. Singkat cerita novel satu telah berpindah tangan pada Dian Sastro. Tinggal novel untuk Hanung. Pandangan saya langsung menangkap sosok Hanung, dan kali ini tak boleh lepas. Masih banyak fans yang minta foto. Saya sama sekali tak terpikir untuk itu. Saya sudah beberapa detik ada di deka Hanung, tapi masih ragu. 

Sampai kapan?
Harus sekarang! Dan...

“Mas Hanung, ini novel karya saya. Ceritanya tentang intrik dalam pemilihan kepala desa di Jepara.” kata saya akhirnya sambil menyodorkan novel warna hijau itu.
“Oya? Menarik...” sahut Hanung sangat ramah. OMG!
“Barangkali tertarik membuat film...” Aih...kata anak muda, saya pasti dibilang lebay...
“Saya minta tanda tangan ya?” kata Hanung.
Saya mencoba mencerna kalimat itu. Eh, Nggak salah ya minta tanda tangan saya?
“Nggak usah lah...” sahut saya bingung.
“Ibu.. penulisnya, kan? Yang nulis novel ini? Saya minta tanda tangan..”
Haduh... mana tadi saya kehilangan pulpen, sehingga menulis liputan memakai WPS di android.
“Nggak ada pulpen, ya?” tanyaku bloon sambil celingak celinguk berharap ada seseorang melempar pulpen ke saya. “Ya sudah, nanti saja ya..., saya ke sini lagi” kata saya sekenanya. Maksud saya, saya  mau cari pulpen dulu.
“Ohya, kita foto dulu.” Kata Hanung.Kah...ide bagus itu kenapa tak terpikirkan oleh saya? Saya pun memposisikan diri di sebelah Hanung. Hanung memamerkan novel saya. Saya berharap sseorang menolong saya untuk membidikkan kamera ponsel saya. “Mana saya fotokan, Buk!” Aih, betapa baiknya anak itu. Sayangnya saya tak mengajak dia kenalan, cuma ucapan terimakasih saja. Bukan apa apa, saya benar benar masih syok, antara percaya dan tidak percaya, novel itu sampai ke tangan Hanung. Tugas saya rasanya sudah selesai hari ini.
Serasa mimpi, novel saya ada di tangan Hanung

              Saya tak berani bermimpi ketinggian. Tapi saya memang sedang berusaha. Novel “Temui Aku di Surga” adalah sebuah pesan, saya ingin ada perubahan. Tentu saya jauh dari kriteria sebagai seorang Kartini masa kini, setidaknya saya memiliki semangat untuk maju dengan kemampuan saya yang terbatas. Semoga tidak sia sia, itu doa saya...Aamiin.
             Cerita saya kali ini memang tidak fokus. Semoga teman teman yang membaca tidak mengeluh atau bahkan berhenti sebelum selesai membaca. Saya sedang ingin menceritakan pengalaman saya ini. Tentang Teras Jblog, Seminar Nasional Kartini, dan Film “Temui Aku di Surga” (yang akhirnya berani saya mimpikan).

















Reaksi:

6 komentar:

  1. Mbak Ella keren... semoga dijadikan film ya mbak.
    kita masing2 dimabuk kunang2 dan percikan bahagia krn bertemu mereka....

    BalasHapus
    Balasan
    1. dimabuk kunang-kunang dan percikan bahagia? wow... awesome...aamiin... bermimpi baik tak pernah salah ya mbak...

      Hapus
  2. Amazing ... Keren ulasan tingkah polahmu Mbak...he.he.he... Mo nanya aja, kamera ponsel bukan kamera beneran ya? Wk.wk.wk.wk wk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ulasan tingkah polah? hehehe... kamera ponsel itu jadi jadian kali ya...




      Hapus
  3. waah..menginspirasi mba.

    salam kenal Mba dari Bandung. Terima kasih banyak sudah berbagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga... trimakasih udah berkunjung ya...

      Hapus