Senin, 23 Mei 2016

Pesta Baratan: Seputar Mitos dan Tim Kreatif di Balik Perayaan Ini

Baratan adalah tradisi yang dilakukan oleh masyrakat Jepara di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, khususnya Margoyoso, Purwogondo, dan Kriyan, dalam memperingati malam Nisyfu Sya’ban setiap tanggal 15 Sya’ban atau 15 Ruwah. Tradisi itu berupa adanya arak-arakan anak-anak yang membawa impes (lampion kertas khas Jepara), serta arak-arakan Ratu Kalinyamat serta rombongannya, dilanjutkan dengan pertunjukan drama tari perjuangan Ratu Kalinyamat. Sedangkan di masjid atau musholla, sehabis maghrib masyarakat  membaca surat Yaasiin tiga kali secara serempak.

Ada beberapa makna dari perayaan ini, yaitu:
1.    Sebagai cara masyarakat menyambut datangnya bulan Ramadhan (bulan berikutnya setelah Sya’ban)
2.    Membersihkan diri karena malam Nisyfu Sya’ban dipercaya sebagai malam ditutupnya amalan manusia dalam setahun.
3.    Mengenang perjuangan Ratu pemimpin Jepara yang berada di wilayah kalinyamatan, yaitu Kanjeng Ratu Kalinyamat, yang berjuang bersama suaminya, Sultan Hadirin, menghadapi Portugis.
4.    Simbol peran Ratu Kalinyamat dalam mengusir berbagai macam bentuk syetan atau makhluk halus pengganggu menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Setahun lalu, saya sudah pernah menuliskan tentang pesta baratan. Kali ini saya juga ingin menceritakan hal yang sama, yaitu pesta baratan di Jepara. Kalau waktu itu saya  bercerita tentang betapa ramainya keadaan jalan raya dan saya terjebak di tengah tengahnya, maka kali ini pun sama. Bahkan saya terjebak bersama tiga anak, bukan satu anak seperti tahun lalu. Tapi, bagaimanapun saya tetap menikmati dan optimis bisa keluar dari situasi macet tersebut. Hanya saja pada postingan kali ini saya akan mengulas lebih jauh tentang hal- hal lain yang berkaitan dengan pesta baratan, di antaranya tentang mitos seputar baratan dan siapakah mereka yang berada di balik rancangan pesta baratan ini.
Tahun ini ada yang berbeda. Jika biasanya rute baratan dari Masjid Al-Makmur menuju Pendopo Kecamatan Kalinyamatan, maka tahun ini puncak pagelaran dipindah ke lapangan kenari, sebuah lapangan besar yang letaknya tak jauh dari balai kecamatan di Desa Purwogondo. Juga hari pelaksanaan tak lagi di hari yang sama dengan malam Nisyfu Sya’ban, tapi diajukan sehari sebelumnya. Alasan perubahan itu adalah untuk kebaikan semua. Dipindah ke lapangan kenari agar tidak terlalu mengganggu lalu lintas jalan raya utama di depan dan sekitar balai kecamatan. Sedangkan penggantian hari adalah agar pelaksanaan pesta adat ini tak bersamaan dengan ritual ibadah di malam Nisyfu Sya’ban. 

Ada hal menarik yang ingin saya sampaikan di sini. Ada beberapa mitos sehubungan dengan pelaksanaan pesta baratan. Salah satunya adalah bahwa pemeran Ratu nantinya bisa mengalami gangguan jiwa karena tak kuat diikuti oleh arwah Nyai Ratu Kalinyamat.

Saya penasaran dengan mitos itu, dan pada suatu kesempatan pernah menanyakan hal itu pada salah satu panitia yang sudah lama aktif dalam setiap perayaan pesta baratan, yaitu Bang Kayi. Dengan senang hati Bang Kayi yang memiliki nama Fb Kayi Jawaica ini menjelaskan bahwa mitos itu berkembang karena memang pernah ada suatu kejadian di masa lalu mengenai pemeran Ratu Kalinyamat. 
Bang Kayi berpose bersama Ratu Kalinyamat 2016

Dulu, ada seorang gadis pemeran Sang Ratu mengalami stres. Kebetulan hal itu terjadi beberapa waktu setelah pelaksanaan pesta baratan. Yang terjadi sebenarnya adalah gadis itu sebelumya memang mempunyai masalah atau mendapat tekanan dari keluarga, sehingga ia stres berat. Hanya memang kebetulan saja ia mendapatkan peran menjadi ratu, sehingga berkembang issue bahwa ia mengalami gangguan jiwa karena pengaruh ruh Ratu Kalinyamat.  
Pemeran Ratu Kalinyamat 2016

Beberapa tahun kemudian ada lagi seorang mantan pemeran ratu Kalinyamat, juga mengalami stres berat. Usut punya usut, ternyata ia sedang mengalami masalah dalam pernikahannya (kejadian setelah ia menikah). Tetapi kejadian ini juga membuat issue adanya gangguan dari arwah Nyai Ratu Kalinyamat makin berkembang. 

Banyak gadis yang pernah memerankan tokoh Ratu Kalinyamat, tetapi kenyataannya yang mengalami gangguan hanya dua, dan itu pun karena mereka memiliki masalah tersendiri. Bahkan setelah diusut, wanita-wanita yang konon stress itu ternyata dari even lain, bukan even pesta baratan. Entah mengapa jadi berkembang mitos sebagai korban perayaan Baratan.  Tapi namanya mitos, sedikit kejadian saja sudah digembar-gemborkan seolah itu benar, bahwa pemeran ratu beresiko mengalami gangguan jiwa. 

By the way, patut disyukuri bahwa meski mitos itu masih ada, namun animo kawula muda untuk berburu peran menjadi ratu masih ada. Setiap tahun pesta baratan tetap terlaksana, bahkan dari tahun ke tahun makin meriah. Dan selama beberapa tahun tak pernah terdengar kabar lagi bahwa pemeran Ratu Kalinyamat mengalami gangguan jiwa. Bahkan kebanyakan mereka adalah siswa atau mahasiswa yang berprestasi.

Mitos lainya, bahwa selama pelaksanaan perayaan baratan, arwah Ratu dan Pengikutnya ikut hadir dan bisa mengganggu para penonton atau penari/pemeran. Memang, dari yang saya lihat di baratan tahun lalu, ada beberapa penari yang pingsan. Saya tanyakan hal ini juga pada bang Kayi. Lagi lagi  Bang Kayi tersenyum. Lalu menjawab dengan tenang.

“Memang begini Mbak...anak anak itu, pada hari dimana malamnya mereka tampil, mereka latihan dari pagi. Saking semangatnya, beberapa dari mereka lupa makan siang. Sorenya sudah harus dirias, dan langsung siap siap tampil malamnya. Jadi, pas pelaksanaan baratan, mereka kehabisan energi, dan pingsan. Nha... itu memberikan kesan bahwa mereka kena gangguan...”

Saya manggut manggut mendengarkan penjelasan dari bang Kayi. Bisa dimengerti dan memang masuk akal. Saya jadi menertawakan diri sendiri karena tahun lalu sempat percaya bahwa mereka yang pingsan adalah sasaran arwah yang ikut meramaikan acara baratan. Memang tiba tiba saja aroma magis menguar tatkala arak arakan Ratu Kalinyamat dan rombongannya melintas atau tampil di panggung. Mungkin karena saya sudah keburu termakan oleh mitos ya?

Oke... itu tentang mitos. Kemudian saya ingin sedikit memberikan informasi tentang siapakah orang orang kreatif penyelengara pesta baratan ini. Panitia pelaksana perayaan baratan ini adalah Sanggar Lembayung, yaitu tempat berkumpulnya anak anak muda pecinta seni di Jepara, khususnya dalam rangka menyiapkan penyelenggaraan pesta baratan. Penggagas didirikannya sanggar lembayung adalah Mbak Winahyu Widayati. Sedangkan beberapa nama yang pernah aktif menjadi panitia lembayung production adalah: Asy’ari Muhammad (penyair biola dari Jepara), Nur C. H. Tauchid atau Mas Nung (aktif membuat film pendek, guru cinematografi), Prabu Sakti (aktivis media online), Muhammad Yazid, Safiq Setiawan, serta Bang Kayi. Tentu masih banyak nama lain yang belum sempat saya tulis di sini. Dua bulan sebelum pelaksanaan baratan, lembayung production mulai mengadakan proses audisi aktor an aktris pemeran Ratu Kalinyamatan dan rombongannya seperti dayang, prajurit, tentara Portugis, dan lain lain. Selain audisi pemeran, tim lembayung  production juga melatih, mencari dana, mencari kostum, mengadakan konsumsi, merencanakan panggung, audiensi, dan lain lain yang berkaitan dengan kelancaran perayaan baratan.  Bagaimanapun, mereka patut kita acungi jempol!  
Latihan di Balai Kecamatan Kalinymatan

Ratu, dayang, dan prajurit bersiap perang (di panggung)
Arak arakan Ratu Kalinyamat yang dinanti natikan warga
Bertempur melawan prajurit Portugis (di panggung)
Lautan manusia di lapangan kenari tempat drama tari Ratu Kalinyamat diselenggarakan tahun ini

Begitulah, sekilas tentang mitos magis di perayaan baratan, serta siapa tim kreatif dibalik pesta baratan selama ini. Meski sampai sekarang ada ide saya yang belum kesampaian, yaitu... Ratu Kalinyamat dan para Dayang yang beragama Islam itu memakai kostum khas Islam, berkerudung. Bagi saya pribadi, saya salut dengan adanya pesta baratan yang terselenggara setiap tahun yang merupakan salah satu cara menjaga dan melestarikan budaya atau kesenian tradisional,  serta mengenang sejarah perjuangan pahlawan di Jepara.


 
Ratu dan dayang dayang
Mbak Winahyu Widayati berpose bersama Ratu


NB: Foto foto dari grup Fb Pesta Baratan Lembayung Production

Sabtu, 14 Mei 2016

Ini Dia Benteng Portugis, Lokasi Wisata yang Kaya: Pantai, Bukit, dan Sejarah

Jalan jalan. Akhir  akhir ini saya makin senang jalan jalan berkunjung ke beberapa tempat wisata di Jepara. Seolah saya baru terbangun dari tidur panjang, menyadari bahwa potensi wisata di bumi Jepara amatlah besar. Selama ini, yang saya kunjungi kalau tidak panatai kartini, pantai bandengan, ya pantai Bondo. Ke tiga pantai itu pun indah dan memiliki keunikan sendiri sendiri.Tapi, sebenarnya potensi wisata pantai di Jepara masih banyak. Kali ini saya ingin singgah di dua pantai yang belum pernah saya datangi, yaitu Benteng Portugis dan Gua Manik. Tapi kali ini saya akan bercerita tentang Benteng Potugis terlebih dulu.

Nama pantai itu memang unik, seunik penampilannya. Mengapa namanya Benteng Portugis? Ya,para pembaca pasti bisa sedikit meraba bahwa nama itu ada hubungannya dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia saat belum merdeka. Jauh sebelum kemerdekaan memang Indonesia pernah dijajah oleh Negara Portugis. Oke, nanti saya akan bercerita tentang kisah masa lalu adanya benteng yang berdiri di pegunungan sebelah pantai ini.

Dari rumah, kami sudah membuat janji dengan keluarga adik saya untuk piknik. Kebetulan jalan ke arah pantai bisa melewati rumahnya yang ada di Desa Guyangan, Bangsri. Bagi pembaca yang pernah singgah atau melewati Guyangan pasti tau bahwa jalanan ke sana melewati pegunungan yang hijau dan asri. Dan itu belum mencapai tempat wisatanya. Makin mendekati titik lokasi, kita akan makin dimanjakan dengan panorama yang eksotik di sepanjang jalan. Jalanan naik turun, sawah sawah dengan sengkedan yang aduhai, gunung gunung hijau nan memukau,semak belukar dan pohon pohon yang beraneka jenisnya. “Tak rugi laah...”


Setelah perjalanan satu setengah jam dengan singgah sebentar di rumah adik, sampailah kami di Pantai Benteng Portugis, yaitu di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, 45 km sebelah timur laut pusat Kota Jepara. Hati saya bedebar debar, dag dig dug der seperti seorang calon mempelai yang dipertemukan dengan pasangan jiwanya. “Benteng Potugisss....” Coba bayangkan saya mendesiskan kata itu sambil memandang takjub pada suguhan pemandangan yang saya lihat setelah turun dari kendaraan.

Gapura Benteng Portugis

Sebuah area yang amat luas, yang mengingatkan saya pada area parkir Ciputra Water Park di Surabaya, gapura besar yang berdiri kokoh berwarna kuning bertuliskan “BENTENG PORTUGIS”, dan....coba balikkan badan. “Wow....!” di depan sana, adalah sebuah deretan bukit hijau yang “Allahu Akbar!”, saya tak bisa melukiskan keindahan itu dengan kata kata secara tepat. Hijau...,rimbun..., dekat..., nyata..., ingin rasanya berlari ke sana, memeluk bukit, menyatu bersama alam. Tapi... apa daya? Nama bukitnya saja saya tidak tahu, sepertinya bukit yang indah itu belum banyak disinggahi wisatawan. Padahal....andai...andai saja ya, di antara dua bukit itu dibuat wahana flying fox, atau...kereta gantung, atau aktivitas rekreasi lainnya... pasti makin membuat calon wisatawan terpikat untuk berkunjung. Bisa ke bukit di depan itu, bisa ke Benteng Portugis.

Oke, baiklah....tentang bukit dan khayalan saya cukup dulu. Bisa memandanginya dan melayangkan khayal saja sudah membuat syaraf syaraf mengendur, badan jadi fresh! Sekarang kita balikkan badan lagi, menuju Benteng Portugis.

Jadi sebenarnya Benteng Portugis itu apa sih?

Pertama yang saya temui adalah sebuah gapura raksasa berwarna kuning seperti yang saya sebutkan tadi. Di bawah gapura yang berupa ruangan terbuka  ada beberapa kursi untuk tempat duduk duduk, serta ruangan loket tempat penjualan tiket. Lalu, ketika kita turun keluar dari bawah gapura (ruangan dalam gapura lantainya agak tinggi), kita akan disuguhi hamparan pemandangan yang luas. Lajur lajur jalan paving dan tanah berumput hijau. Nun jauh di depan, terlihat lautan lepas dan sebuah pulau kecil yang sepertinya tak terlalu jauh dari pantai. Tak jauh dari gapura, ada sebuah bundaran taman dengan patung kapal layar di tenganya. Indah... tapi, saya belum kena greget. Kami berjalan terus menuju pantai, di ujung tepi pantai ada sebuah tulisan besar “BENTENG PORTGIS”. Lumayan asyik untuk dijadikan tempat berfoto.

Banyak yang jadi model dadakan di sini

Saat itu sudah agak siang, sehingga cuaca lumayan panas. Tapi karena saya penasaran banget, saya memilih meneruskan perjalanan karena sepertinya ini belum seberapa. Pantai yang tadi saya lihat sebagai “ujung jalan”, ternyata masih menyimpan rahasia pesonanya yang harus dikejar jika ingin menangkap keindahan sesungguhnya. Maka kami berjalan berbelok ke arah kanan mengikuti jalan beton yang membingkai pantai, yang ternyata masih sangat panjang ini.

Wow...hmm, saya mulai bisa menemukan daya tarik khas tempat ini. Batu batuan cadas. Dan riak ombak begitu lihai menari nari di sela selanya. Gelombang datang mendekat, memeluk bebatuan besar dan lebar, menyatu, memecah, pyar... kemudian datang kembali ombak berikutnya, dan lagi... dan lagi...

Ya, ini memang berbeda dengan pantai pantai yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Bukan hamparan pasir putih yang setia menunggu gelombang, bukan pula tanggul batu yang siap melindungi pantai dari abrasi, tapi barisan batu batu cadas putih tulang yang berjajar rapat, yang siap memanjakan mata hiingga ke ujung sana...(karena saya lihat deretan karang berjajar hingga jauh ke depan).
Bikin penasaran nggak sih?

beautiful...

Wow...

mancing boleh juga


deretan cadas yang menunggu sang putri mandalika kembali
Saya jadi haus, sangat haus untuk memotret dan memotret, meski hanya berbekal kamera ponsel yang kata teman teman gambarnya buram. It’s not a big problem 4 me. Yeaach...! Cekrek! Cekrak! Cekrek!
Sementara itu...pulau Mandalika nan mungil dan centil seolah sengaja mencari perhatian mata, namun memberi kesan angkuh pada pandangan wisatawan. Sepertinya sangat dekat, paling hanya sepuluh menit kita bisa sampai ke pulau itu dengan perahu motor biasa. Hanya saja...., entah mengapa tak ada fasilitas penyeberangan ke arah pulau. Adik ipar saya sempat bertanya pada salah seorang pemilik warung yang bertebaran di sepanjang pantai, mengapa tak ada jasa penyeberangan? Kata pemilik warung, sebenarnya ada, tapi dengan cara sewa satu perahu, sekali sewa 400 ribu rupiah. Wah..mahal! Pantas saja tidak kelihatan ada yang naik perahu untuk menyeberang. Kalau saja ada yang mau membuat jasa penyeberangan dengan hitungan perorangan, taruhlah satu orang 10 ribu rupiah, pasti banyak yang antre ikut menyeberang. Kenapa tak ada ide itu? Sayangnya saya belum sempat bertanya atau melontarkan ide pada penduduk setempat. Paling “nggremeng ngremeng” sama keluarga saya saja. Atau... tak adanya sarana menyeberang ke pulau karena cerita itu ya? Simak cerita saya sampai selesai ya...:)
Noleh bentar, cekrek!

indaaaaah bagiku

    Oke,mari kita tengok kanan dulu, supaya tidak tengeng karena keasyikan melihat laut di sebelah kiri jalan. Ada apa di sebelah kanan saya? Deretan warung warung makanan kecil dengan minuman es degan, serta....bukit.

sebelah jalan, ada bukit

pose dulu, yuk...
   Jadi... saya berjalan di antara hamparan lautan luas dan kokoh bukit menjulang. Awesome...kan?

    Tak hanya begitu, ternyata bukit di sebelah saya menyimpan rahasia pesona yang sepertinya belum saya pernah lihat langsung. Selama ini saya hanya meraba raba, atau mungkin saya pernah ke sana waktu kecil ya? Saya lupa lupa ingat. Atau saya hanya melihatnya di televisi? Yang jelas, saya sedang menuju ke sebuah situs sejarah yang amat bersejarah. Artinya, situs sejarah yang memang dulu ada, bukan sekedar dengan dongeng atau legenda.
      Tahun 1619, Kota Sunda Kelapa dimasuki oleh VOC.Sultan Agung Mataran sudah merasakan adanya bahaya yang mengancam dari jatuhnya Sunda Kelapa (yang diganti menjadi Batavia) ke tangan Belanda. Mataram menyiapkan diri untuk mengusir Belanda. Perlawanan berlangsung berturut turut tahun 1628 dan 1629, tapi Mataram mengalami kekalahan. Sultan Agung berpikir bahwa VOC hanya bisa dikalahkan dengan serangan dari darat dan laut secara bersamaan. Tetapi Mataram tak memiliki armada laut yang kuat, sehingga merasa perlu bekerjasama dengan negara lain. Kebetulan saat itu Portugis berseteru dengan Belanda, sehingga saat itu Mataram bekerjasama mendapatkan bantuan dari Portugis, dengan dibangunnya benteng ini. Portugis sendiri sudah lebih dulu datang di beberapa tempat di Nusantara, selain pulau Jawa. Portugis mengadakan kerjasama perdagangan dengan pribumi. Hanya pada perkembangannya, Portugis juga melakukan monopoli perdagangan. Setelah kedatangan Belanda, Portugis mengalami kekalahan dan angkat kaki dari Nusantara.
        Konon, karena adanya beberapa kejadian buruk atau gangguan di sekitar selat antara benteng dengan pulau Mandalika, maka benteng ini tak terlalu lama digunakan. Ternyata di selat antara benteng dan pulau mandalika terdapat sebuah pusaran air yang berbahaya. menurut mitos, pusaran itulah pintu gerbang menuju kerajaan luweng siluman tempat berdiamnya Siluman Bajul Putih. setelah dikalahkan oleh Ki Leseh, Bajul Putih bersumpah barang siapa orang berkulit putih melewati tempat tu, akan hilang tersedot oleh pusaran itu. Itu mitos memang, tapi konon menjadi salah satu alasan Portugis meninggalkan benteng tersebut karena banyak tentara Portugis yang menghilang.
        Alasan lainnya, saat itu pusat kerajaan Mataram berpindah dari demak ke Pajang, sehingga jalur perdaganganlebih banyak melewati jalur darat. Jalur laut Jawa jadi sepi, sehingga Portugis meninggalkan benteng itu begitu saja.
       Wah...sepertinya akan seru jika kita mau menelusur lebih jauh lagi tentang sejarah di Benteng Portugis ini ya.... tapi saya kira di sini cukup segitu ya, saya lanjutkan dengan cerita lokasi fisiknya saja.
    Saya tak ingin berhenti di tepian pantai saja meski daya pikat dan lekatnya “ruarrr biasa”. Saya memilih mengobati rasa penasaran saya dengan naik ke bukit saat bertemu dengan tangga bata bersemen di kaki bukit. Mari... naik naik ke puncak gunung dulu...
Naik, yuk!


Tangga menuju puncak bukit
 Tangga tak begitu lebar, sekitar setengah meter sampai 75 meter lah. Ada pagar besi di sebelah kanan, kebetulan bagian kiri tangga ini tak berpagar, bisa jadi sudah rusak dan belum sempat diperbaiki. Naik terus ...dan terus... tak terlalu tinggi kami sudah sampai di atas bukit dengan hamparan tanah berpagar dinding batu rendah. Area ini relatif tidak rimbun seperti keadaan bukit di sepanjang kanan kiri tangga tadi. Semacam pendopo berdiri megah di bagian tengah. Ada tiga buah meriam yang sudah tak berfungsi, dan pohon pohon yang berdiri dengan jarak agak berjauhan. Bagian tanahnya bersih dari belukar. Berapa orang duduk duduk di pendopo, ada yang di dahan dahan pohon, ada juga yang istirahat di bawah bersandar pada pohon. Nha...tempat inilah yang dinamakan benteng. Dinding pelindung dari batu, meriam, adalah bukti sejarah yang masih tertinggal.
hampir sampai puncak



salah satu tempat syuting film "Siti Nurbaya"

    Saya ingat, sepertinya tempat inilah yang dulu dipakai untuk beberapa adegan syuting di film “Siti Nurbaya” yang diperankan oleh Gusti Randa dan Novia Kolopaking. Saat Siti Nurbaya naik ayunan bersama Samsul Bachri... ya saya ingat itu, serta adegan lainnya yang saya tidak ingat persis.

    Naik bukit yang tak begitu tinggi sudah membuat ngos ngosan. Setelah anak anak puas di atas, kami turun melalui tangga beton lagi dengan lukisan alam nan eksotik di kanan kiri. Pohon pohon aneka rupa dalam tatanan tak beraturan, semak belukar, dan irama kicauan burung itu...benar benar suasana hutan. So cute....

    Lalu....
    Sampailah lagi kami di tepian laut. Pantai yang sangat sangat unik. Dan... ah iya, dari dasar tangga tempat saya naik dan turun tadi, kami masih meneruskan berjalan ke arah kanan (saya bingung tentang timur barat utara selatan) menyusuri pantai bercadas hingga belokan pantai. Dari sini kami bisa melihat perbukitan yang nampak lebih tinggi di ujung jauh sana. Laut, ombak, cadas, bukit, awan awan, angin...dan langit.... Beautiful...

    Kubaca hatiMu lewat langit biru
    Kutangkap kasihMu lewat tatapan awan
    Kurasakan cintaMu lewat teduh perbukitan
    Kudengar rinduMu lewat gemuruh lautan   
    Kuyakini penjagaanMu lewat kokoh cadas
    Kunikmati segalaMu, lewat hembusan angin yang mendekap galauku.

   
   
    Semua indah, sudah sangat indah. Tapi saran saya, agar lebih nyaman, datanglah ke sini di pagi hari atau sore hari sekalian. Karena jika agak siang udara agak panas. Atau, datang pagi, pulangnya sore sekalian. Konon juga, kita  bisa melihat sun rise, sekaligus bisa juga melihat sun set lho di pantai ini, karena pantainya yang panjang dan berbelok.
    Kalau ditanya masukan atau pendapat saya agar tempat wisata ini lebih “Uhuiii!” adalah: Bagian benteng akan lebih baik jika diperbarui. Diperbarui bukan dalam artian dicat atau diperbagus dengan bangunan baru, tapi setidaknya dibersihkan dari lumut, diberi sentuhan perawatan, dan beberapa bagian tangga  yang rusak diperbaiki.

Tak akan rugi mengunjungi tempat ini. Karena Benteng Portugis adalah satu tempat wisata dengan selera aneka rasa: laut, bukit, dan sejarahnya....
   




Sabtu, 07 Mei 2016

Ada Legenda di Air Terjun Songgo Langit

Berwisata di Jepara memang tak ada habisnya. Selain pantai pantainya yang beraneka, ada juga wisata air terjun yang tak hanya ada di satu tempat. Di antaranya air terjun sumenep di Batealit dan air terjun songgo langit di Bangsri. Kali ini kami memilih singgah di Songgo Langit. Sebenarnya saya sendiri sudah pernah ke sana saat masih duduk di kelas lima sekolah dasar dulu. Saya penasaran, seperti apa penampakan air terjun itu sekarang. Anak anak juga sepertinya sedang kurang tertarik dengan pantai, karena beberapa kali wisata seringnya ke pantai. Maka kami sepakat pergi ke air terjun Songgo Langit. 
Keindahan Songgo Langit

Dari rumah kami di Purwogondo, perjalanan memang agak memakan waktu, sekitar satu jam setengah. Tapi...karena sudah diniatin dan kami menikmati suasana di sepanjang jalan, kami merasa hepi saja. Meski di tengah jalan sempat khawatir karena hujan turun dengan lebatnya. Sudah terbayang jalanan sepanjang pegunungan akan licin, dan bisa jadi kami gagal singgah, atau yang lebih buruk lagi kemungkinan kendaraan terpeleset dan....ah! bayangan saya sudah yng uruk burk saja. Tapi kendaraan tetap melaju dengan hati hati, sambil berdoa semoga kami semua diberi keselamatan. 
Pemandangan spektakuler di sisi jalanan menuju Songgo langit

Saat mulai melewati pegunungan, pemandangan mulai menakjubkan. Sawah sawah, pohon pohon nan hijau, semak belukar, terasering, lebah, jurang, bukit menjulang, wow....! Jepara. Jepara sesungguhnya memang sangat cocok dijadikan kota tujuan wisata. Meski mungkin belum terkelola dengan baik di beberapa tempat wisatanya. Pemandangan ini sungguh... menyejukkan. Mengingatkanku pada suasana di sepanjang jalan menuju beberapa tempat wisata di sepanjang Kota Malang, Pasuruan,dan seterusnya yang terkenal indah.Meski ada rasa was was karena hujan, garis garis vertikal kucuran hujan justru menciptakan lukisan alam yang eksotik.  
Udara sejuk dan pemandangan asri di sepanjang jalan


Songgo langit terletak di Desa Bucu,Kembang, 30 km sebelah utara dari pusat Kota Jepara. Tentang kondisi Langit, jalanan menuju ke lokasi wisata sudah cukup halus dalam artian sudah beraspal. Dibanding dulu, ketika saya masih duduk di kelas lima sekolah dasar (Wah...sudah sangat lama), jalanan masih licin, berlumpur dan berbatu. Hanya saja, memang untuk menuju titik air terjunnya kita perlu berhati hati karena jalanan naik turun, lumayan curam. Tak terlalu sulit ditemukan, karena kita bisa bertanya ke para penduduk di sana. Hanya menurut saya, karena rute berbelok belok, alangkah baiknya ada penanda yang cukup sehingga lebih memudahkan wisatawan. Yang kami temukan hanya sebuah papan dari triplek yang dibubuhi tulisan “Air Terjun” dan anak panah sekedarnya dengan spidol. Papan hanya disangga dengan batu batu sekedarnya juga. Dan selanjutnya kami bertanya dari satu mulut ke mulut lain. Andai ada beberapa anak panah besar degan warna terang sebagai penunjuk ke lokasi, pasti lebih praktis. 

Pengunjung siap siap selfi

Sesampai di lokasi...
Subhanallah, Allahu Akbar...! Indah...niaaan. Anak anak yang baru pertama kali melihat langsung air terjun, bersorak takjub. “Hai...! Itu..! Itu...! Air terjun!”. Saya sangat maklum dengan reaksi mereka. Saya sendiri, disamping memang kondisi jalan menuju air terjun sudah rapi dan bagus, entah mengapa merasa ada yang berkurang dari kesan pertama saya pernah singgah di sini dulu. Sepertinya air terjunnya tak sebesar dulu. Atau...jangan jangan karena waktu itu ukuran tubuh saya masih kecil jadi kesan yang saya tangkap air terjun waktu itu lebih besar ya? Tapi...tetap saja saya senang sekali bisa singgah di sini lagi setelah berpuluh tahun. How ever, tetap memesona, tetap mampu membuat saya merasa “WOW...!”
Di samping kiri jalan digunakan sebagai tempat parkir, sedangkan sebelah kanan banyak berdiri warung warung kecil penyedia makanan dan minuman ringan. Dari tempat parkir, Songgo Langit nampak cantik, dengan genangan air di bawahnya yang mengalir menuju sungai yang berhiaskan batu batu besar.

Sebenarnya sih... asyik banget kalau bisa mandi di bawah air terjun. Tapi... ada peringatan tidak boleh madi karena dikhawatirkan terbawa arus. Entah itu hanya berlaku khusus untuk daerah bawah air tejun atau juga untuk aliran sungai berikutnya. Tapi anak anak dengan sendirinya tak mau mandi, padahal dari rumah sudah membawa baju ganti.Ternyata dari informasi di wikipedia ada palung sedalam delapan meter di sekitar genangan air terjun.

Kami mendekat... dan semakin dekat ke air terjun. Wow...ini nyata.
Air turun dengan derasnya dari atas tebing menuju sungai di bawahnya. Ternyata di sana ada dua kucuran air, yang satu ukurannya jauh lebih kecil berada di sebelah kanan air terjun utama.
Ada bekas pagar besi yang sepertinya dulu berfungsi sebagai pengaman agar tak ada yang bermain atau berenang di area itu. Entah mengapa sekarang tinggal potongan potongan besi kecil, sudah tak  berupa pagar lagi. Dirusak, rusak sendiri oleh waktu, atau dianggap merusak pemandangan sehingga dihilangkan? Untuk kejelasan info ini saya hanya baru meraba raba. Yang jelas potongan potongan besi seperti bekas pagar masih ada saat saya ke sana.

area sekitar aliran sungai juga indah
Iya, akan selalu ada kata “tapi” jika ingin melihat penampilan yang terbaik. Jujur saja, potensi wisata ini belum terkelola dengan maksimal. Padahal...ini merupakan sumber daya alam yang sangaaaat berkualitas. Mungkin jika ada cukup gazebo dari bambu atau pendopo pendopo kecil untuk tempat barnaung atau lesehan, anak anak akan lebih betah di sini. Saya membayangkan jika di area sini ada sebuah rumah makan (restauran) yang menyajikan masakan masakan lezat dengan arsitektur bangunan yang unik tanpa meninggalkan kesderhanaan (harga murah meriah), pastilah Songgo Langit akan menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Jepara. Akan lebih seru lagi kalau ada fasilitas mainan anak sederhana seperti ayunan, prosotan, tangga mainan, jungkat jungkit,dan sejenisnya. Bagaimanapun, kenyamanan anak anak seharusnya tetap menjadi pertimbangan utama agar wisatawan berkeinginan untuk kembali lagi.

Hari itu pengunjung cukup banyak. Kebanyakan gerombolan anak anak muda, ada juga keluarga seperti kami. Seperti kami, pengunjung lain pun siap dengan kamera atau ponsel untuk berfoto. Batu batuan besar sebenarnya sangat menggoda dijadikan tempat selfi, anak anak pun kelihatannya tertantang untuk naik turun bebatuan, hanya saja kami khawatir anak anak terpeleset.
Kebetulan salah satu anak kami ingin bermain di area lain, yaitu di aliran sungai sebelah kiri air terjun. Sepertinya relatif aman untuk main air atau berenang. Tapi mereka tidak mau mandi, hanya berlarian ke sana kemari. Selain dihiasi rimbun belukar dan jajaran bebatuan besar, ada banyak kupu kupu di sana. 
Ada air terjun mini

Dalam bayangan saya, suatu saat kelak Songgo Langit bisa menjadi semacam tempat wisata pendidikan. Selain tempat makan dan area bermain anak yang nyaman, juga ada lokasi untuk penelitian tentang tumbuhan dan lingkungan hidup seperti di PPLH Jawa Timur. Hmmm...jika itu terwujud, wisata Jepara akan makin okeee!

Mengenai legenda Songgo langit, entah kejadian nyata atau fiktif, dulunya area jurang Songgo Langit adalah tempat jatuhnya sepasang suami istri yang melarikan diri dari rumah. Mereka adalah pengantin baru. Sang istri dari Desa Tunahan, sedangkan sang suami dari Dukuh Sumanding, Desa Bucu, Kecamatan Kembang. Mereka pergi dari rumah (rumah orang tua istri) karena terjadi kesalahpahaman antara suami dengan ibunda istrinya. Pada zaman itu, pengantin pria lazim memberikan perlengkapan rumah tangga seperti piring, mangkuk, gelas, sendok, sebagai hadiah perkawinan. Pada suatu pagi yang masih gelap, si istri menyiapkan sarapan (memasak) untuk suaminya. Dari dapur terdengar suara nyaring alat alat masak yang saling beradu. Ibunda si istri mengingatkan “Ojo glonthanganm mengko bojomu tangi.” (Jangan berisik, nanti suamimu bangun), tapi si suami salah dengar “Kerjo kok glonthangan, rumangsamu iku barange bojomu” (jangan berisik, memangnya itu barang barang dari suamimu”. Maka malam harinya si suami mengajak istrinya pergi dari rumah naik pedati. Karena gelap, tiba tiba mereka tergelincir masuk jurang. Tempat mereka jatuh itulah yang sekarang menjadi air terjun Songgo Langit. Maka, menjadi semacam mitos pantangan terjadinya perkawinan antara pasangan dari Desa Tunahan dan Desa Bucu hingga sekarang.  
suami dan anak anak takjub

Dengan berbagai kelebihan maupun kekurangan (di mata saya), berwisata ke Songgo Langit tidak rugi. Beberapa kelebihan berwisata ke Songgo Langit adalah: tiket masuk dan biaya parkir murah, akses ke sana tidak terlalu sulit, jalanan halus meski naik turun (justru itu yang seru), memberikan pemandangan yang menakjubkan, ada fasilitas mck dan musholla, serta dekat dengan lokasi wisata di Jepara lainnya.
Oke...sepertinya cerita dan kesan kesan saya cukup di sini, agar lebih jelas dan puas, yuk amati gambar yang saya ambil. Sayang memang kualitas gambar kurang bagus karena menggunakan kamera ponsel saja. Tapi semoga cukup mewakili keadaan nyata di sana. 

Senin, 02 Mei 2016

Strategi Pintar Perkenalkan Wisata Jepara Kepada Dunia

Air Terjun Songgo Langit

   
I.    Kota Jepara

Jepara dikenal sebagai tempat kelahiran pahlawan nasional, yaitu RA Kartini. Terletak di bagian utara pulau Jawa, di Propinsi Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Laut Jawa di bagian barat dan utara, serta di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus. Sedangkan di bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Demak.
Secara Administratif, wilayah daratan Kabupaten Jepara seluas 1.004,132 kilo meter persegi dengan panjang garis pantai 72 kilo meter. Kabupaten Jepara terbagi menjadi 14 kecamatan yang terdiri dari 183 desa dan 11 kelurahan.

Mata pencaharian penduduk Jepara bermacam-macam. Ada yang menjalani kehidupan sebagai nelayan, petani, peternak, pedagang, pengusaha dengan berbagai macam produk, pegawai negeri, pegawai swasta, dan lain-lain.

Untuk keadaan pendidikan di Jepara, sudah cukup membanggakan. Terlihat dari jumlah sekolah, sarana dan prasarana sekolah yang cukup memadai. Hampir tiap kecamatan terdapat sekolah, dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menangah Atas. Ada juga perguruan tinggi yang berdiri di Kota Jepara. Anak-anak Jepara yang berkuliah di kota-kota besar seperti di Semarang, Surabaya, Jakarta, dan kota lain juga saat ini tak sedikit.

Sebagian masyarakat Jepara menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian, meski ada juga yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Sedangkan bahasa pengantar sekolah dan bahasa formal institusi atau instansi adalah Bahasa Indonesia.

Daerah Jepara dikenal luas oleh penduduk Indonesia lainnya, bahkan mungkin oleh dunia, dengan hasil ukiran kayunya, meski sebenarnya ada produk mebel lain yaitu dari  rotan. Berbagai bentuk mebel ukir dari kayu dihasilkan di Jepara seperti dipan/tempat tidur, kursi dan meja tamu, kursi dan meja makan, almari, bufet, sketsel, bingkai cermin, bingkai foto, meja kerja, meja belajar, rak televisi, hingga pahatan-pahatan yang membentuk hiasan seperti patung atau mainan anak. Untuk tempat wisata, Jepara lebih banyak dikenal dengan pantainya seperti Pantai Kartini, dan Pantai Bandengan. Sedangkan oleh-oleh khas Jepara yang sangat terkenal adalah kacang open atau kacang jepara dan kerupuk bawang. Tenun khas Jepara dari Desa Troso saat ini juga sudah dikenal secara nasional.
Pantai Bandengan, Jepara


II.    Wisata di Jepara

Jepara sangat kaya akan tempat-tempat indah yang bisa dijadikan tujuan wisata. Selain berupa pantai atau laut, ada juga air terjun, kolam pemandian, serta museum. Beberapa tempat tujuan wisata di Jepara adalah seperti berikut ini: Pantai Kartini dan Pulau Panjang, Pantai Bandengan (Pantai Tirto Samudro), Pantai Bondo (Pantai Laut Mati), Pantai Teluk Awur, Air Terjun Songgo Langit, Museum RA Kartini, Kawasan Gong Perdamaian Dunia, Hutan Wisata Serni, Danau Blingoh, Tiara Park Water Boom, dan lain-lain.

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...