Sabtu, 07 Mei 2016

Ada Legenda di Air Terjun Songgo Langit

Berwisata di Jepara memang tak ada habisnya. Selain pantai pantainya yang beraneka, ada juga wisata air terjun yang tak hanya ada di satu tempat. Di antaranya air terjun sumenep di Batealit dan air terjun songgo langit di Bangsri. Kali ini kami memilih singgah di Songgo Langit. Sebenarnya saya sendiri sudah pernah ke sana saat masih duduk di kelas lima sekolah dasar dulu. Saya penasaran, seperti apa penampakan air terjun itu sekarang. Anak anak juga sepertinya sedang kurang tertarik dengan pantai, karena beberapa kali wisata seringnya ke pantai. Maka kami sepakat pergi ke air terjun Songgo Langit. 
Keindahan Songgo Langit

Dari rumah kami di Purwogondo, perjalanan memang agak memakan waktu, sekitar satu jam setengah. Tapi...karena sudah diniatin dan kami menikmati suasana di sepanjang jalan, kami merasa hepi saja. Meski di tengah jalan sempat khawatir karena hujan turun dengan lebatnya. Sudah terbayang jalanan sepanjang pegunungan akan licin, dan bisa jadi kami gagal singgah, atau yang lebih buruk lagi kemungkinan kendaraan terpeleset dan....ah! bayangan saya sudah yng uruk burk saja. Tapi kendaraan tetap melaju dengan hati hati, sambil berdoa semoga kami semua diberi keselamatan. 
Pemandangan spektakuler di sisi jalanan menuju Songgo langit

Saat mulai melewati pegunungan, pemandangan mulai menakjubkan. Sawah sawah, pohon pohon nan hijau, semak belukar, terasering, lebah, jurang, bukit menjulang, wow....! Jepara. Jepara sesungguhnya memang sangat cocok dijadikan kota tujuan wisata. Meski mungkin belum terkelola dengan baik di beberapa tempat wisatanya. Pemandangan ini sungguh... menyejukkan. Mengingatkanku pada suasana di sepanjang jalan menuju beberapa tempat wisata di sepanjang Kota Malang, Pasuruan,dan seterusnya yang terkenal indah.Meski ada rasa was was karena hujan, garis garis vertikal kucuran hujan justru menciptakan lukisan alam yang eksotik.  
Udara sejuk dan pemandangan asri di sepanjang jalan


Songgo langit terletak di Desa Bucu,Kembang, 30 km sebelah utara dari pusat Kota Jepara. Tentang kondisi Langit, jalanan menuju ke lokasi wisata sudah cukup halus dalam artian sudah beraspal. Dibanding dulu, ketika saya masih duduk di kelas lima sekolah dasar (Wah...sudah sangat lama), jalanan masih licin, berlumpur dan berbatu. Hanya saja, memang untuk menuju titik air terjunnya kita perlu berhati hati karena jalanan naik turun, lumayan curam. Tak terlalu sulit ditemukan, karena kita bisa bertanya ke para penduduk di sana. Hanya menurut saya, karena rute berbelok belok, alangkah baiknya ada penanda yang cukup sehingga lebih memudahkan wisatawan. Yang kami temukan hanya sebuah papan dari triplek yang dibubuhi tulisan “Air Terjun” dan anak panah sekedarnya dengan spidol. Papan hanya disangga dengan batu batu sekedarnya juga. Dan selanjutnya kami bertanya dari satu mulut ke mulut lain. Andai ada beberapa anak panah besar degan warna terang sebagai penunjuk ke lokasi, pasti lebih praktis. 

Pengunjung siap siap selfi

Sesampai di lokasi...
Subhanallah, Allahu Akbar...! Indah...niaaan. Anak anak yang baru pertama kali melihat langsung air terjun, bersorak takjub. “Hai...! Itu..! Itu...! Air terjun!”. Saya sangat maklum dengan reaksi mereka. Saya sendiri, disamping memang kondisi jalan menuju air terjun sudah rapi dan bagus, entah mengapa merasa ada yang berkurang dari kesan pertama saya pernah singgah di sini dulu. Sepertinya air terjunnya tak sebesar dulu. Atau...jangan jangan karena waktu itu ukuran tubuh saya masih kecil jadi kesan yang saya tangkap air terjun waktu itu lebih besar ya? Tapi...tetap saja saya senang sekali bisa singgah di sini lagi setelah berpuluh tahun. How ever, tetap memesona, tetap mampu membuat saya merasa “WOW...!”
Di samping kiri jalan digunakan sebagai tempat parkir, sedangkan sebelah kanan banyak berdiri warung warung kecil penyedia makanan dan minuman ringan. Dari tempat parkir, Songgo Langit nampak cantik, dengan genangan air di bawahnya yang mengalir menuju sungai yang berhiaskan batu batu besar.

Sebenarnya sih... asyik banget kalau bisa mandi di bawah air terjun. Tapi... ada peringatan tidak boleh madi karena dikhawatirkan terbawa arus. Entah itu hanya berlaku khusus untuk daerah bawah air tejun atau juga untuk aliran sungai berikutnya. Tapi anak anak dengan sendirinya tak mau mandi, padahal dari rumah sudah membawa baju ganti.Ternyata dari informasi di wikipedia ada palung sedalam delapan meter di sekitar genangan air terjun.

Kami mendekat... dan semakin dekat ke air terjun. Wow...ini nyata.
Air turun dengan derasnya dari atas tebing menuju sungai di bawahnya. Ternyata di sana ada dua kucuran air, yang satu ukurannya jauh lebih kecil berada di sebelah kanan air terjun utama.
Ada bekas pagar besi yang sepertinya dulu berfungsi sebagai pengaman agar tak ada yang bermain atau berenang di area itu. Entah mengapa sekarang tinggal potongan potongan besi kecil, sudah tak  berupa pagar lagi. Dirusak, rusak sendiri oleh waktu, atau dianggap merusak pemandangan sehingga dihilangkan? Untuk kejelasan info ini saya hanya baru meraba raba. Yang jelas potongan potongan besi seperti bekas pagar masih ada saat saya ke sana.

area sekitar aliran sungai juga indah
Iya, akan selalu ada kata “tapi” jika ingin melihat penampilan yang terbaik. Jujur saja, potensi wisata ini belum terkelola dengan maksimal. Padahal...ini merupakan sumber daya alam yang sangaaaat berkualitas. Mungkin jika ada cukup gazebo dari bambu atau pendopo pendopo kecil untuk tempat barnaung atau lesehan, anak anak akan lebih betah di sini. Saya membayangkan jika di area sini ada sebuah rumah makan (restauran) yang menyajikan masakan masakan lezat dengan arsitektur bangunan yang unik tanpa meninggalkan kesderhanaan (harga murah meriah), pastilah Songgo Langit akan menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Jepara. Akan lebih seru lagi kalau ada fasilitas mainan anak sederhana seperti ayunan, prosotan, tangga mainan, jungkat jungkit,dan sejenisnya. Bagaimanapun, kenyamanan anak anak seharusnya tetap menjadi pertimbangan utama agar wisatawan berkeinginan untuk kembali lagi.

Hari itu pengunjung cukup banyak. Kebanyakan gerombolan anak anak muda, ada juga keluarga seperti kami. Seperti kami, pengunjung lain pun siap dengan kamera atau ponsel untuk berfoto. Batu batuan besar sebenarnya sangat menggoda dijadikan tempat selfi, anak anak pun kelihatannya tertantang untuk naik turun bebatuan, hanya saja kami khawatir anak anak terpeleset.
Kebetulan salah satu anak kami ingin bermain di area lain, yaitu di aliran sungai sebelah kiri air terjun. Sepertinya relatif aman untuk main air atau berenang. Tapi mereka tidak mau mandi, hanya berlarian ke sana kemari. Selain dihiasi rimbun belukar dan jajaran bebatuan besar, ada banyak kupu kupu di sana. 
Ada air terjun mini

Dalam bayangan saya, suatu saat kelak Songgo Langit bisa menjadi semacam tempat wisata pendidikan. Selain tempat makan dan area bermain anak yang nyaman, juga ada lokasi untuk penelitian tentang tumbuhan dan lingkungan hidup seperti di PPLH Jawa Timur. Hmmm...jika itu terwujud, wisata Jepara akan makin okeee!

Mengenai legenda Songgo langit, entah kejadian nyata atau fiktif, dulunya area jurang Songgo Langit adalah tempat jatuhnya sepasang suami istri yang melarikan diri dari rumah. Mereka adalah pengantin baru. Sang istri dari Desa Tunahan, sedangkan sang suami dari Dukuh Sumanding, Desa Bucu, Kecamatan Kembang. Mereka pergi dari rumah (rumah orang tua istri) karena terjadi kesalahpahaman antara suami dengan ibunda istrinya. Pada zaman itu, pengantin pria lazim memberikan perlengkapan rumah tangga seperti piring, mangkuk, gelas, sendok, sebagai hadiah perkawinan. Pada suatu pagi yang masih gelap, si istri menyiapkan sarapan (memasak) untuk suaminya. Dari dapur terdengar suara nyaring alat alat masak yang saling beradu. Ibunda si istri mengingatkan “Ojo glonthanganm mengko bojomu tangi.” (Jangan berisik, nanti suamimu bangun), tapi si suami salah dengar “Kerjo kok glonthangan, rumangsamu iku barange bojomu” (jangan berisik, memangnya itu barang barang dari suamimu”. Maka malam harinya si suami mengajak istrinya pergi dari rumah naik pedati. Karena gelap, tiba tiba mereka tergelincir masuk jurang. Tempat mereka jatuh itulah yang sekarang menjadi air terjun Songgo Langit. Maka, menjadi semacam mitos pantangan terjadinya perkawinan antara pasangan dari Desa Tunahan dan Desa Bucu hingga sekarang.  
suami dan anak anak takjub

Dengan berbagai kelebihan maupun kekurangan (di mata saya), berwisata ke Songgo Langit tidak rugi. Beberapa kelebihan berwisata ke Songgo Langit adalah: tiket masuk dan biaya parkir murah, akses ke sana tidak terlalu sulit, jalanan halus meski naik turun (justru itu yang seru), memberikan pemandangan yang menakjubkan, ada fasilitas mck dan musholla, serta dekat dengan lokasi wisata di Jepara lainnya.
Oke...sepertinya cerita dan kesan kesan saya cukup di sini, agar lebih jelas dan puas, yuk amati gambar yang saya ambil. Sayang memang kualitas gambar kurang bagus karena menggunakan kamera ponsel saja. Tapi semoga cukup mewakili keadaan nyata di sana. 

Reaksi:

10 komentar:

  1. keren banget air terjunnya mbak, asik buat selfie ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak... salam kenal... :)

      Hapus
  2. Aire coklat ya mbak, butek

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kebetulan kan habis hujan deres ceritanya...hihi

      Hapus
  3. mitos yang beredar menarik mbak... di bali juga ada mitos di salah satu objek wisata yang terkenal. contohnya saja di tanah lot bali, nah disana pantangannya gak boleh bawa pacar, ntar katanya bisa putus. tapi ada sih banyak yang ke sana membawa pasangan tapi baik-baik saja.

    ngomong-ngomong air terjun di sana kok kotor banget ya mbak... kalau di bali jarang ada air terjun yang kotor kecuali pas musim hujan airnya meluap jadi kotor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mbak, hanya mitos. ada yang takut ataupun berani melanggar. oya, tentang air yang keruh...kebetulan kan memang pas baru saja habis turun hujan. Jadi endapan tanah nyampur dengan airnya. keruh deh... :)

      Hapus
  4. Cerita ini mempunyai unsur nasihat yaitu jadi pasutri muda jangan mudah tersinggung jika diingatkan orang tua.
    Orang tua harus pandai menahan lidah di depan menantu.

    hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya mbak susi.... hehe. dua duanya harus bisa memilih kata dan bersabar.

      Hapus
  5. keren air terjunya, indah dan eksotis. tetap terjaga. pengen mandi kesitu jadinya, hehehe
    menarik.. salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga..

      , monggo singgah ke Jepara

      Hapus