Sabtu, 14 Mei 2016

Ini Dia Benteng Portugis, Lokasi Wisata yang Kaya: Pantai, Bukit, dan Sejarah

Jalan jalan. Akhir  akhir ini saya makin senang jalan jalan berkunjung ke beberapa tempat wisata di Jepara. Seolah saya baru terbangun dari tidur panjang, menyadari bahwa potensi wisata di bumi Jepara amatlah besar. Selama ini, yang saya kunjungi kalau tidak panatai kartini, pantai bandengan, ya pantai Bondo. Ke tiga pantai itu pun indah dan memiliki keunikan sendiri sendiri.Tapi, sebenarnya potensi wisata pantai di Jepara masih banyak. Kali ini saya ingin singgah di dua pantai yang belum pernah saya datangi, yaitu Benteng Portugis dan Gua Manik. Tapi kali ini saya akan bercerita tentang Benteng Potugis terlebih dulu.

Nama pantai itu memang unik, seunik penampilannya. Mengapa namanya Benteng Portugis? Ya,para pembaca pasti bisa sedikit meraba bahwa nama itu ada hubungannya dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia saat belum merdeka. Jauh sebelum kemerdekaan memang Indonesia pernah dijajah oleh Negara Portugis. Oke, nanti saya akan bercerita tentang kisah masa lalu adanya benteng yang berdiri di pegunungan sebelah pantai ini.

Dari rumah, kami sudah membuat janji dengan keluarga adik saya untuk piknik. Kebetulan jalan ke arah pantai bisa melewati rumahnya yang ada di Desa Guyangan, Bangsri. Bagi pembaca yang pernah singgah atau melewati Guyangan pasti tau bahwa jalanan ke sana melewati pegunungan yang hijau dan asri. Dan itu belum mencapai tempat wisatanya. Makin mendekati titik lokasi, kita akan makin dimanjakan dengan panorama yang eksotik di sepanjang jalan. Jalanan naik turun, sawah sawah dengan sengkedan yang aduhai, gunung gunung hijau nan memukau,semak belukar dan pohon pohon yang beraneka jenisnya. “Tak rugi laah...”


Setelah perjalanan satu setengah jam dengan singgah sebentar di rumah adik, sampailah kami di Pantai Benteng Portugis, yaitu di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, 45 km sebelah timur laut pusat Kota Jepara. Hati saya bedebar debar, dag dig dug der seperti seorang calon mempelai yang dipertemukan dengan pasangan jiwanya. “Benteng Potugisss....” Coba bayangkan saya mendesiskan kata itu sambil memandang takjub pada suguhan pemandangan yang saya lihat setelah turun dari kendaraan.

Gapura Benteng Portugis

Sebuah area yang amat luas, yang mengingatkan saya pada area parkir Ciputra Water Park di Surabaya, gapura besar yang berdiri kokoh berwarna kuning bertuliskan “BENTENG PORTUGIS”, dan....coba balikkan badan. “Wow....!” di depan sana, adalah sebuah deretan bukit hijau yang “Allahu Akbar!”, saya tak bisa melukiskan keindahan itu dengan kata kata secara tepat. Hijau...,rimbun..., dekat..., nyata..., ingin rasanya berlari ke sana, memeluk bukit, menyatu bersama alam. Tapi... apa daya? Nama bukitnya saja saya tidak tahu, sepertinya bukit yang indah itu belum banyak disinggahi wisatawan. Padahal....andai...andai saja ya, di antara dua bukit itu dibuat wahana flying fox, atau...kereta gantung, atau aktivitas rekreasi lainnya... pasti makin membuat calon wisatawan terpikat untuk berkunjung. Bisa ke bukit di depan itu, bisa ke Benteng Portugis.

Oke, baiklah....tentang bukit dan khayalan saya cukup dulu. Bisa memandanginya dan melayangkan khayal saja sudah membuat syaraf syaraf mengendur, badan jadi fresh! Sekarang kita balikkan badan lagi, menuju Benteng Portugis.

Jadi sebenarnya Benteng Portugis itu apa sih?

Pertama yang saya temui adalah sebuah gapura raksasa berwarna kuning seperti yang saya sebutkan tadi. Di bawah gapura yang berupa ruangan terbuka  ada beberapa kursi untuk tempat duduk duduk, serta ruangan loket tempat penjualan tiket. Lalu, ketika kita turun keluar dari bawah gapura (ruangan dalam gapura lantainya agak tinggi), kita akan disuguhi hamparan pemandangan yang luas. Lajur lajur jalan paving dan tanah berumput hijau. Nun jauh di depan, terlihat lautan lepas dan sebuah pulau kecil yang sepertinya tak terlalu jauh dari pantai. Tak jauh dari gapura, ada sebuah bundaran taman dengan patung kapal layar di tenganya. Indah... tapi, saya belum kena greget. Kami berjalan terus menuju pantai, di ujung tepi pantai ada sebuah tulisan besar “BENTENG PORTGIS”. Lumayan asyik untuk dijadikan tempat berfoto.

Banyak yang jadi model dadakan di sini

Saat itu sudah agak siang, sehingga cuaca lumayan panas. Tapi karena saya penasaran banget, saya memilih meneruskan perjalanan karena sepertinya ini belum seberapa. Pantai yang tadi saya lihat sebagai “ujung jalan”, ternyata masih menyimpan rahasia pesonanya yang harus dikejar jika ingin menangkap keindahan sesungguhnya. Maka kami berjalan berbelok ke arah kanan mengikuti jalan beton yang membingkai pantai, yang ternyata masih sangat panjang ini.

Wow...hmm, saya mulai bisa menemukan daya tarik khas tempat ini. Batu batuan cadas. Dan riak ombak begitu lihai menari nari di sela selanya. Gelombang datang mendekat, memeluk bebatuan besar dan lebar, menyatu, memecah, pyar... kemudian datang kembali ombak berikutnya, dan lagi... dan lagi...

Ya, ini memang berbeda dengan pantai pantai yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Bukan hamparan pasir putih yang setia menunggu gelombang, bukan pula tanggul batu yang siap melindungi pantai dari abrasi, tapi barisan batu batu cadas putih tulang yang berjajar rapat, yang siap memanjakan mata hiingga ke ujung sana...(karena saya lihat deretan karang berjajar hingga jauh ke depan).
Bikin penasaran nggak sih?

beautiful...

Wow...

mancing boleh juga


deretan cadas yang menunggu sang putri mandalika kembali
Saya jadi haus, sangat haus untuk memotret dan memotret, meski hanya berbekal kamera ponsel yang kata teman teman gambarnya buram. It’s not a big problem 4 me. Yeaach...! Cekrek! Cekrak! Cekrek!
Sementara itu...pulau Mandalika nan mungil dan centil seolah sengaja mencari perhatian mata, namun memberi kesan angkuh pada pandangan wisatawan. Sepertinya sangat dekat, paling hanya sepuluh menit kita bisa sampai ke pulau itu dengan perahu motor biasa. Hanya saja...., entah mengapa tak ada fasilitas penyeberangan ke arah pulau. Adik ipar saya sempat bertanya pada salah seorang pemilik warung yang bertebaran di sepanjang pantai, mengapa tak ada jasa penyeberangan? Kata pemilik warung, sebenarnya ada, tapi dengan cara sewa satu perahu, sekali sewa 400 ribu rupiah. Wah..mahal! Pantas saja tidak kelihatan ada yang naik perahu untuk menyeberang. Kalau saja ada yang mau membuat jasa penyeberangan dengan hitungan perorangan, taruhlah satu orang 10 ribu rupiah, pasti banyak yang antre ikut menyeberang. Kenapa tak ada ide itu? Sayangnya saya belum sempat bertanya atau melontarkan ide pada penduduk setempat. Paling “nggremeng ngremeng” sama keluarga saya saja. Atau... tak adanya sarana menyeberang ke pulau karena cerita itu ya? Simak cerita saya sampai selesai ya...:)
Noleh bentar, cekrek!

indaaaaah bagiku

    Oke,mari kita tengok kanan dulu, supaya tidak tengeng karena keasyikan melihat laut di sebelah kiri jalan. Ada apa di sebelah kanan saya? Deretan warung warung makanan kecil dengan minuman es degan, serta....bukit.

sebelah jalan, ada bukit

pose dulu, yuk...
   Jadi... saya berjalan di antara hamparan lautan luas dan kokoh bukit menjulang. Awesome...kan?

    Tak hanya begitu, ternyata bukit di sebelah saya menyimpan rahasia pesona yang sepertinya belum saya pernah lihat langsung. Selama ini saya hanya meraba raba, atau mungkin saya pernah ke sana waktu kecil ya? Saya lupa lupa ingat. Atau saya hanya melihatnya di televisi? Yang jelas, saya sedang menuju ke sebuah situs sejarah yang amat bersejarah. Artinya, situs sejarah yang memang dulu ada, bukan sekedar dengan dongeng atau legenda.
      Tahun 1619, Kota Sunda Kelapa dimasuki oleh VOC.Sultan Agung Mataran sudah merasakan adanya bahaya yang mengancam dari jatuhnya Sunda Kelapa (yang diganti menjadi Batavia) ke tangan Belanda. Mataram menyiapkan diri untuk mengusir Belanda. Perlawanan berlangsung berturut turut tahun 1628 dan 1629, tapi Mataram mengalami kekalahan. Sultan Agung berpikir bahwa VOC hanya bisa dikalahkan dengan serangan dari darat dan laut secara bersamaan. Tetapi Mataram tak memiliki armada laut yang kuat, sehingga merasa perlu bekerjasama dengan negara lain. Kebetulan saat itu Portugis berseteru dengan Belanda, sehingga saat itu Mataram bekerjasama mendapatkan bantuan dari Portugis, dengan dibangunnya benteng ini. Portugis sendiri sudah lebih dulu datang di beberapa tempat di Nusantara, selain pulau Jawa. Portugis mengadakan kerjasama perdagangan dengan pribumi. Hanya pada perkembangannya, Portugis juga melakukan monopoli perdagangan. Setelah kedatangan Belanda, Portugis mengalami kekalahan dan angkat kaki dari Nusantara.
        Konon, karena adanya beberapa kejadian buruk atau gangguan di sekitar selat antara benteng dengan pulau Mandalika, maka benteng ini tak terlalu lama digunakan. Ternyata di selat antara benteng dan pulau mandalika terdapat sebuah pusaran air yang berbahaya. menurut mitos, pusaran itulah pintu gerbang menuju kerajaan luweng siluman tempat berdiamnya Siluman Bajul Putih. setelah dikalahkan oleh Ki Leseh, Bajul Putih bersumpah barang siapa orang berkulit putih melewati tempat tu, akan hilang tersedot oleh pusaran itu. Itu mitos memang, tapi konon menjadi salah satu alasan Portugis meninggalkan benteng tersebut karena banyak tentara Portugis yang menghilang.
        Alasan lainnya, saat itu pusat kerajaan Mataram berpindah dari demak ke Pajang, sehingga jalur perdaganganlebih banyak melewati jalur darat. Jalur laut Jawa jadi sepi, sehingga Portugis meninggalkan benteng itu begitu saja.
       Wah...sepertinya akan seru jika kita mau menelusur lebih jauh lagi tentang sejarah di Benteng Portugis ini ya.... tapi saya kira di sini cukup segitu ya, saya lanjutkan dengan cerita lokasi fisiknya saja.
    Saya tak ingin berhenti di tepian pantai saja meski daya pikat dan lekatnya “ruarrr biasa”. Saya memilih mengobati rasa penasaran saya dengan naik ke bukit saat bertemu dengan tangga bata bersemen di kaki bukit. Mari... naik naik ke puncak gunung dulu...
Naik, yuk!


Tangga menuju puncak bukit
 Tangga tak begitu lebar, sekitar setengah meter sampai 75 meter lah. Ada pagar besi di sebelah kanan, kebetulan bagian kiri tangga ini tak berpagar, bisa jadi sudah rusak dan belum sempat diperbaiki. Naik terus ...dan terus... tak terlalu tinggi kami sudah sampai di atas bukit dengan hamparan tanah berpagar dinding batu rendah. Area ini relatif tidak rimbun seperti keadaan bukit di sepanjang kanan kiri tangga tadi. Semacam pendopo berdiri megah di bagian tengah. Ada tiga buah meriam yang sudah tak berfungsi, dan pohon pohon yang berdiri dengan jarak agak berjauhan. Bagian tanahnya bersih dari belukar. Berapa orang duduk duduk di pendopo, ada yang di dahan dahan pohon, ada juga yang istirahat di bawah bersandar pada pohon. Nha...tempat inilah yang dinamakan benteng. Dinding pelindung dari batu, meriam, adalah bukti sejarah yang masih tertinggal.
hampir sampai puncak



salah satu tempat syuting film "Siti Nurbaya"

    Saya ingat, sepertinya tempat inilah yang dulu dipakai untuk beberapa adegan syuting di film “Siti Nurbaya” yang diperankan oleh Gusti Randa dan Novia Kolopaking. Saat Siti Nurbaya naik ayunan bersama Samsul Bachri... ya saya ingat itu, serta adegan lainnya yang saya tidak ingat persis.

    Naik bukit yang tak begitu tinggi sudah membuat ngos ngosan. Setelah anak anak puas di atas, kami turun melalui tangga beton lagi dengan lukisan alam nan eksotik di kanan kiri. Pohon pohon aneka rupa dalam tatanan tak beraturan, semak belukar, dan irama kicauan burung itu...benar benar suasana hutan. So cute....

    Lalu....
    Sampailah lagi kami di tepian laut. Pantai yang sangat sangat unik. Dan... ah iya, dari dasar tangga tempat saya naik dan turun tadi, kami masih meneruskan berjalan ke arah kanan (saya bingung tentang timur barat utara selatan) menyusuri pantai bercadas hingga belokan pantai. Dari sini kami bisa melihat perbukitan yang nampak lebih tinggi di ujung jauh sana. Laut, ombak, cadas, bukit, awan awan, angin...dan langit.... Beautiful...

    Kubaca hatiMu lewat langit biru
    Kutangkap kasihMu lewat tatapan awan
    Kurasakan cintaMu lewat teduh perbukitan
    Kudengar rinduMu lewat gemuruh lautan   
    Kuyakini penjagaanMu lewat kokoh cadas
    Kunikmati segalaMu, lewat hembusan angin yang mendekap galauku.

   
   
    Semua indah, sudah sangat indah. Tapi saran saya, agar lebih nyaman, datanglah ke sini di pagi hari atau sore hari sekalian. Karena jika agak siang udara agak panas. Atau, datang pagi, pulangnya sore sekalian. Konon juga, kita  bisa melihat sun rise, sekaligus bisa juga melihat sun set lho di pantai ini, karena pantainya yang panjang dan berbelok.
    Kalau ditanya masukan atau pendapat saya agar tempat wisata ini lebih “Uhuiii!” adalah: Bagian benteng akan lebih baik jika diperbarui. Diperbarui bukan dalam artian dicat atau diperbagus dengan bangunan baru, tapi setidaknya dibersihkan dari lumut, diberi sentuhan perawatan, dan beberapa bagian tangga  yang rusak diperbaiki.

Tak akan rugi mengunjungi tempat ini. Karena Benteng Portugis adalah satu tempat wisata dengan selera aneka rasa: laut, bukit, dan sejarahnya....
   




Reaksi:

8 komentar:

  1. Bener banget Mbak, nggak rugi menapaki keindahan dan sejarah di Benteng Portugis. Kelelahan perjalannnya diobati keindahan alam yang membentang ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.....rasanya lesehan seharian di pinggiran pantainya aku betaah. kpn2 mau ke sana lagi hihi

      Hapus
  2. Saya suka bgt bangunan2 atau tempat2 yang berbau masa lampau *kesannya ga bisa move on* hehe. Smoga suatu saat bisa ke sini...aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, semoga suatu saat bisa ke sini ya..... salam kenal...

      Hapus
  3. strategis bnget ya mba tempatnya... portugis memang ga salah nih milih lokasi. bisa buat benteng sekalian santai,. awesome!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak....sambil jaga markas, bisa cuci mata liat pantai yg indah....

      Hapus
  4. asyiknay bisa berwisata ke tempat yang indah yg bikin wawawsan luas dan bisa menggembirakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga suatu saat mbak Tira bisa ke sisni ya...mampir rumah saya...monggo

      Hapus