Senin, 02 Mei 2016

Strategi Pintar Perkenalkan Wisata Jepara Kepada Dunia

Air Terjun Songgo Langit

   
I.    Kota Jepara

Jepara dikenal sebagai tempat kelahiran pahlawan nasional, yaitu RA Kartini. Terletak di bagian utara pulau Jawa, di Propinsi Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Laut Jawa di bagian barat dan utara, serta di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus. Sedangkan di bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Demak.
Secara Administratif, wilayah daratan Kabupaten Jepara seluas 1.004,132 kilo meter persegi dengan panjang garis pantai 72 kilo meter. Kabupaten Jepara terbagi menjadi 14 kecamatan yang terdiri dari 183 desa dan 11 kelurahan.

Mata pencaharian penduduk Jepara bermacam-macam. Ada yang menjalani kehidupan sebagai nelayan, petani, peternak, pedagang, pengusaha dengan berbagai macam produk, pegawai negeri, pegawai swasta, dan lain-lain.

Untuk keadaan pendidikan di Jepara, sudah cukup membanggakan. Terlihat dari jumlah sekolah, sarana dan prasarana sekolah yang cukup memadai. Hampir tiap kecamatan terdapat sekolah, dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menangah Atas. Ada juga perguruan tinggi yang berdiri di Kota Jepara. Anak-anak Jepara yang berkuliah di kota-kota besar seperti di Semarang, Surabaya, Jakarta, dan kota lain juga saat ini tak sedikit.

Sebagian masyarakat Jepara menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian, meski ada juga yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Sedangkan bahasa pengantar sekolah dan bahasa formal institusi atau instansi adalah Bahasa Indonesia.

Daerah Jepara dikenal luas oleh penduduk Indonesia lainnya, bahkan mungkin oleh dunia, dengan hasil ukiran kayunya, meski sebenarnya ada produk mebel lain yaitu dari  rotan. Berbagai bentuk mebel ukir dari kayu dihasilkan di Jepara seperti dipan/tempat tidur, kursi dan meja tamu, kursi dan meja makan, almari, bufet, sketsel, bingkai cermin, bingkai foto, meja kerja, meja belajar, rak televisi, hingga pahatan-pahatan yang membentuk hiasan seperti patung atau mainan anak. Untuk tempat wisata, Jepara lebih banyak dikenal dengan pantainya seperti Pantai Kartini, dan Pantai Bandengan. Sedangkan oleh-oleh khas Jepara yang sangat terkenal adalah kacang open atau kacang jepara dan kerupuk bawang. Tenun khas Jepara dari Desa Troso saat ini juga sudah dikenal secara nasional.
Pantai Bandengan, Jepara


II.    Wisata di Jepara

Jepara sangat kaya akan tempat-tempat indah yang bisa dijadikan tujuan wisata. Selain berupa pantai atau laut, ada juga air terjun, kolam pemandian, serta museum. Beberapa tempat tujuan wisata di Jepara adalah seperti berikut ini: Pantai Kartini dan Pulau Panjang, Pantai Bandengan (Pantai Tirto Samudro), Pantai Bondo (Pantai Laut Mati), Pantai Teluk Awur, Air Terjun Songgo Langit, Museum RA Kartini, Kawasan Gong Perdamaian Dunia, Hutan Wisata Serni, Danau Blingoh, Tiara Park Water Boom, dan lain-lain.


Jadi, Jepara memang kabupaten yang kaya akan tempat wisata, yang seharusnya bisa menjadi aset terpenting daerah yang bisa mendatangkan pemasukan untuk daerah maupun meningkatkan kehidupan ekonomi warga Jepara. Karena dengan banyaknya wisatawan yang datang, maka produk-produk yang dihasilkan masyarakat dari kuliner hingga cinderamata bisa turut terangkat dan terjual dalam jumlah lebih besar.

Sayangnya, tidak semua tempat wisata di Jepara dikenal luas oleh penduduk luar Jepara atau wisatawan manca negara, sehingga di beberapa tempat wisata nampaknya masih sepi dari pengunjung. 

Dari data statistik yang bersumber dari website Tourism Information Centre Jepara (terlampir), bisa kita lihat bahwa obek wisata yang banyak mendapatkan kunjungann wisatawan dalam negeri serta wisman (wisatawan manca negara) adalah: Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan Karimun Jawa. Untuk  beberapa tempat wisata yang sudah mendapatkan kunjungan wistawan asing meskipun kurang begitu banyak, yaitu: Pulau Panjang, Benteng Portugis, Museum RA Kartini, dan Ari-Ari Kartini. Sedangkan untuk tempat wisata lain, masih sedikit mendapatkan kunjungan wisman, yaitu: Air Terjun Songgo Langit, Makam Mantingan, Jembul Tulakan, serta even-even budaya seperti : Perang Obor, Hari Jadi Jepara, Pesta Baratan, serta Sonder.

Sementara itu, jumlah kunjungan untuk tempat-tempat wisata lain seperti : Pantai Teluk Awur, Museum Gong Perdamaian Dunia, Pantai Bondo, dan lain-lain belum tercantum dalam data tersebut. Begitu juga untuk even budaya lain contohnya Memeden Gadhu dan lain-lain. Menurut asumsi penulis, ini bisa jadi karena proses pendataan yang belum lengkap atau belum sempat tercantun di website, bisa juga berarti bahwa tempat-tempat wisata tersebut dianggap belum memenuhi kelayakan untuk ditampilkan, baik dari segi kepantasan sebagai tempat tujuan wisata atau hanya dari segi jumlah kunjungan. Artinya, kemungkinan besar jumlah kunjungan dari tempat-tempat wisata tersebut masih sedikit, terutama oleh wisatawan mancanegara.

Secara keseluruhan, dari data tersebut, bisa kita lihat bahwa jumlah kunjungan wisman di Jepara pada tahun 2014 sebanyak 20.850. Sedangkan menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam jumpa pers Akhir Tahun Kementerian Pariwisata 2014, Selasa, 23 Desember 2014, Angka kunjungan sementara wisman ke Indonesia tahun 2014 sebesar 9,3 juta jiwa. Artinya, kunjungan wisman ke obyek-obyek wisata di Jepara masih sangat sedikit, dan belum bisa dikatakan sebagai destinasi utama wisatawan manca negara ke Indonesia. Padahal, sebenarnya Jepara kaya akan obyek wisata yang indah dan unik. Alangkah sayangnya jika keindahan dan keunikan itu terlewat begitu saja oleh wisatawan, terutama wisatawan manca negara.

III.    Faktor-faktor yang Bisa Menghambat Majunya Pariwisata Jepara

Kita semua, seluruh lapisan masyarakat Jepara serta jajaran Pemerintah Daerah pastinya menginginkan Jepara makin maju, termasuk dalam hal pariwisata. Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri, kita harus tahu faktor apa saja yang mendukung dan menghambat kemajuan periwisata. Dari pengamatan serta survei via internet, penulis menemukan bahwa beberapa hal yang menghambat kemajuan pariwisata di Jepara adalah:
1.    Letak geografis Jepara
Jepara terletak di wilayah yang tidak dilewati oleh lalu lintas transportasi darat jalur pantura Surabaya-Jakarta. Hal ini berpengaruh bagi calon wisatwan dalam memutuskan destinasi kunjungan wisatanya, terutama bagi mereka yang tak begitu tahu informasi tentang beberapa objyek wisata di Jepara.
2.    Pengelolaan belum maksimal
Untuk beberapa tempat wisata, memang telah mendapatkan perhatian dan pengelolaan yang baik dari pemerintah seperi Pantai Kartini, Pantai Bandengan, Museum Kartini, dan Karimun Jawa. Namun masih banyak tempat wisata yang belum mendapatkan sentuhan pemerintah secara maksimal, seperti Pantai Teluk Awur, Pantai Bondo, Museum Gong Perdamaian, dan lain-lain. Masih nampak belum adanya sarana prasarana atau fasilitas pelayanan pengunjung di beberapa tempat wisata tersebut. Tidak adanya biaya karcis masuk menjadikan tidak adanya masukan dana untuk pengelolaan tempat wisata tersebut. Hal ini juga termasuk sulitnya akses menuju tempat-tempat wisata tertentu, yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menjadikannya lebih mudah dijangkau.
3.    Promosi kurang maksimal
Baik untuk obyek wisata yang sudah dikelola dengan baik maupun yang belum, memerlukan tahap “memperkenalkan” kepada masyarakat luas, termasuk ke luar Indonesia. Strategi memperkenalkan potensi wisata itulah yang dinamakan promosi. Bila promosi kurang, maka informasi tentang potensi wisata di Jepara juga kurang dikenal masyarakat Indonesia lainnya apalagi di luar negeri. Hal ini termasuk promosi atau informasi tentang sarana menginap seperti hotel atau losmen yang memadahi, aman, dan memuaskan di Jepara.
4. Sikap masyarakat yang sebagian kurang mendukung
Maksud dari sikap misalnya sebagian  masyarakat Jepra yang kurang mendukung misalnya: kurang menjaga kebersihan, kurang ramah pada pengunjung, dan kurang menguasai tentang obyek wisata setempat sehingga kurang informatif. Hal hal yang sepertinya sepele itu justru menjadikan kesan tersendiri bagi wisatawan.

IV.    Beberapa Usaha yang Bisa dilakukan untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan ke Obyek -Obyek Wisata di Jepara.

Banyak yang bisa dilakukan dalam usaha meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jepara, baik oleh pemerintah maupun inisiatif masyarakat secara sukarela dan mandiri. Usaha-usaha itu antara lain:

1.    Meningkatkan kemudahan akses ke Jepara dan lokasi wisata
Saat ini sudah ada sarana transportasi bus antar Jepara dengan kota-kota besar lain sehingga akses ke Jepara lebih mudah, yaitu dengan kota-kota sebagai berikut: Semarang, Tayu, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Surabaya, Denpasar, dan Kudus. Pemerintah bisa mengusahakan adanya bus antar kota Jepara dengan kota besar lain seperti Kediri, Malang, Solo, atau Yogyakarta. Selain itu, mengusahakan perbaikan jalan menuju lokasi wisata agar akses ke tempat wisata lebih mudah juga sangat penting.

2.    Kerjasama dengan biro perjalanan wisata dan hotel
Pemerintah bisa melakukan kerjasama dengan biro perjalanan wisata dan hotel yang biasanya milik swasta, yaitu dengan membuat paket-paket perjalanan wisata dengan harga dan fasilitas yang memikat. 

3.    Meningkatkan pengelolaan fasilitas, sarana dan prsarana di semua obyek wisata
Sentuhan tangan pemerintah daerah Kabupaten Jepara sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas obyek-obyek wisata. Mulai dari penampilan obyek wisata, fasilitas, sarana prasarana, seperti musholla, kantin, petugas kebersihan, dan lain-lain. Tentu ini tak terlepas dari adanya kesempatan yang diberikan pemerintah pada pihak swasta atau masyarakat setempat untuk turut andil seperti pengadaan rumah-rumah makan atau restoran dan fasilitas lain di lokasi pariwista.

4.  Edukasi kepada masyarakat agar sadar akan pentingnya membiasakan bersikap baik sebagai salah satu cara memikat wisatawan. Sikap baik akan memberikan kesan mendalam dan lama. Hal ini penting agar wisatawan tidak kapok dan tidak menularkan informasi yang kurang pro dengan wisata Jepara, misalnya dengan mengadakan semacam penyuluhan pada masyarakat.

4.    Memperbanyak promosi
Banyak sekali alternatif usaha promosi yang bisa dilakukan dalam rangka memperkenalkan obyek-obyek wisata di Jepara kepada masyarakat luas termasuk manca negara, yaitu:

a.    Promosi yang dilakukan oleh pemerintah

1)    Membuat iklan di media televisi atau radio   
Pemerintah bisa menganggarkan dana khusus untuk membuat iklan promosi pariwisata Jepara di beberapa media televisi siaran nasional maupun luar negeri, sehingga pemirsa televisi di seluruh penjuru Indonesia dan manca negara bisa melihat cuplikan keindahan pariwisata Jepara dengan lebih baik karena berupa tampilan bergerak yang mirip keadaan aslinya. Bisa juga membuat iklan promosi di radio-radio siaran nasional, setidaknya pendengar diperkenalkan dengan nama-nama tempat wisata serta gambaran sekilas tentang tempat-tempat wisata tersebut.
2)    Membuat iklan di media cetak
Promosi juga bisa melalui iklan di media cetak seperti majalah atau koran nasional dan internasioanl dengan memilih media yang pangsa pasarnya bagus.
3)    Membuat website khusus pariwisata Jepara
Saat ini website semacam itu sudah ada. Media ini sangat bermanfaat untuk memberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat-tempat wisata di Jepara. Seperti gambaran tempat wisata, biaya masuk, jam buka dan tutup, peta menuju tempat wisata, penginapan di sekitar tempat wisata, dan lain-lain. Dengan adanya kemudahan mengetahui informasi tersebut, makin meningkatkan minat calon wisatawan untuk mengunjungi Jepara. Perlu juga membuat website semacam ini dalam bahasa Inggris agar lebih mudah dibaca dan difahami calon wisatawan asing, karena meski internet menyediakan fasilitas translate, biasanya terjemahannya rancu sehingga pesan kurang tersampaikan dengan optimal.
4)    Mengadakan lomba-lomba yang bersifat nasional dan internasional, yang bisa diikuti oleh masyarakat dari luar Jepara, bahkan dari luar negeri, yang mengambil tempat di salah satu lokasi wisata di Jepara. Misalnya: lomba menulis blog tentang Jepara, lomba membuat cerpen tentang Jepara, lomba fotografi dengan obyek foto lokasi-lokasi di Jepara, lomba mencipta lagu tentang tempat-tempat wisata Jepara, dan lain-lain.
5)    Mengirimkan duta budaya ke luar Jepara ataupun ke luar negeri dalam even-even tertentu.
6)    Memberikan bantuan dana untuk masyarakat yang ingin membawa nama Jepara dalam karyanya secara mandiri, seperti pembuatan film atau film dokumenter dan pembuatan buku tentang Jepara.

b.    Promosi yang dilakukan oleh masyarakat mandiri

1)    Menulis
    Kegiatan menulis sangat bermanfaat untuk memperkenalkan keindahan tempat-tempat wisata dengan lebih leluasa, sesuai dengan keinginan penulis dalam menggambarkan apa yang diketahuinya tentang tempat-tempat wisata itu lewat tulisan. Saat ini sangat mudah untuk membagi tulisan lewat media sosial (internet) seperti Facebook yang juga bisa menyertakan gambar, baik melalui status ataupun membuat catatan (note). Selain Facebook, tulisan bisa dibagikan melalui website, baik yang berbayar ataupun yang gratis seperti fasilitas dari blogspot atau wordpress. Kita juga bisa menunggah tulisan di media online secara langsung seperti di kompassiana. Bisa juga dengan membuat tulisan singkat yang menyebut tempat-tempat wisata di Jepara melalui twitter. Kelebihan menggunakan media sosial internet adalah: selain tulisan sangat mudah diunggah/dibagikan seketika, tulisan kita bisa dibaca oleh pembaca luar negeri. Tulisan bisa berupa nonfiksi seperti artikel, feature, atau curhat catatan perjalanan, atau berupa fiksi (puisi/cerpen) dengan setting tempat-tempat wisata di Jepara. Hal-hal yang bisa dibahas dalam tulisan sebaiknya mencakup: tempat wisata, kebiasaan unik, makanan khas, even-even budaya, cinderamata dan produk khas di Jepara.
    Bisa juga mengirimkan tulisan ke media cetak seperti majalah, koran, yang berupa tulisan fiksi maupun nonfiksi. Akan lebih baik jika membuat tulisan berbahasa inggris yang dikirimkan ke media yang tersebar ke luar negeri/internasional. Bisa juga membuat jurnal kebudayaan tentang Jepara yang dikirim di media internasional, tentu dengan memakai bahasa inggris.
    Menulis buku tentang Jepara, baik berupa buku panduan tentang wisata  Jepara atau berupa fiksi yaitu novel dengan setting Jepara, contohnya : Novel “Temui Aku di Surga”, karya Ella Sofa.
    Menulis skenario film, bisa film dokumenter tentang Jepara (sejarah, kekhasan daerah, tempat wisata), atau film drama yang memakai setting Jepara. Skenario tersebut bisa dikirim ke PH (Production House) untuk kemudian diproduksi dalam bentuk film. Beberapa alamat PH bisa didapat dengan browsing di internet.

2)    Memproduksi sendiri film atau film dokumenter dengan setting Jepara, yang ditampilkan di luar Jepara, bahkan di luar negeri. Bisa juga dalam rangka mengikuti lomba yang bersifat nasional maupun internasional, bisa juga diunggah di you tube.

3)    Memberi nama brand produk asli Jepara yang dipasarkan ke daerah lain atau ke manca negara dengan nama yang khas Jepara, atau menyebutkan nama Jepara dalam brand tersebut, bisa juga dengan memakai gambar salah satu obyek wisata Jepara  sebagai hiasan pembungkus produk.

V.    Harapan

Dari usaha yang dilakukan dalam rangka promosi wisata di atas, harapan penulis adalah:
1.    Obyek-obyek wisata di Jepara lebih dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia dan oleh masyarakat dunia, sehingga menarik minat masyarakat dalam dan luar negeri untuk menentukan tempat tujuan wisatanya ke Jepara. 
2.    Obyek wisata Jepara mendapatkan kesan baik oleh wisatawan dalam negeri maupun asing, sehingga secara tidak langsung akan menjadi ajang promosi bagi calon wisatawan lain yang belum berkunjung ke Jepara.
3.    Jepara menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia bagi wisatawan manca negara.
Indahnya Hutan Karet

Akar Seribu




   


       









Reaksi:

3 komentar:

  1. Kalo aku malah taunya tuh Jepara wisatanya kebanyakan wisata pantai ya mbak.

    BalasHapus