Minggu, 30 Oktober 2016

Alhamdulillah, Nulis Lagi

           Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... Komputer yang kami tunggu-tunggu datang juga mengisi rumah ini. Sudah beberapa hari ini kami hidup tanpa komputer atau laptop. Laptop yang biasanya menemani sedang perlu diperbaiki, entah bagian mana yang perlu direparasi atau diganti. Paraktis, beberapa hari itu juga tidak ada tulisan yang kami hasilkan. Kami (saya dan anak sulung perempuan saya, Najwa) memang memiliki hobi menulis. Dan kami terbiasa menulis langsung di laptop. Maka ketika Ayah memutuskan untuk membeli seperangkat PC dengan pertimbangan akan lebih tahan banting, maka kami menyambut dengan sangat gembira. Serasa ada napas baru yang akan membantu memberi kami oksigen lebih agar semangat menulis makin menggebu. Lalu bagaimana dengan laptop itu? Belum ada kabar pasti memang, tapi kalau memikirklan harga dan betapa banyak simpanan tulisan di dalamnya (meski sudah ada back up tapi kurang lengkap), maka akan membuat kami sedih. Meski sudah ada komputer PC, kami tetap berharap laptop itu segera sembuh dan bisa bermain-main lagi dengan kami saat butuh menyalurkan aspirasi. Apalagi yang merasa butuh komputer banyak, tak Cuma saya dan Najwa, tapi dua adiknya juga. Mereka kadang ingin main game atau nonton film dari komputer. 

       Dan ternyata, menulis di PC rasanya lebih nyaman. Hanya memang tak bisa dibawa kemana-mana seperti laptop. Aih... jadi inget gimana nak-anak tetangga juga suka nimbrung main laptop, lalu saya ketar-ketir manahan kuatir, jangan-jangan nanti rusak, file pada hilang, dan lain-lain. Sementara anak saya akak bertahan pada keinginannya main laptop sama temen-temen, sehingga saya tak bisa melarang mereka. Biasanya saya hanya bisa memandang mereka sambil menahan keinginan menulis, juga menahan emosi. Waduh..., namanya anak-anak, anak saya seringkali tak teratur dan asal dalam menggunakan laptop. Laptop ditenteng kesana-kemari bak sedang bawa bantal mainan, tanpa rasa hati-hati sama sekali. Kadang pula “gedubragkkk!”, laptop jatuh meluncur dengan naasnya ke lantai. Oh... laptopku sayang, bagaimana nasibmu di sana? Kutunggu kau dengan sabar, meski aku tak bisa setia.

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...