Minggu, 01 Januari 2017

Desa Tempur Jepara, Suejukkkk!




Sudah lama saya tidak menulis tentang wisata, atau lebih tepatnya memang sudah lama tidak mengisi blog. Iya, banyak hal yang saya pikirkan.Lebih tepatnya otak saya yang sibuk, meski kelihatan tidak terlalu banyak kegiatan. Intinya mungkin saya memang belum bisa membagi waktu dengan baik.
Namun berkunjung ke tempat wisata telah membangkitkan gairah menulis saya. Saya senang menikmati keindahan cipataan Allah, juga mengabadikannya dengan foto, atau video, juga seharusnya memang saya tuliskan kesan dan rasa yang begitu “mengobati”.

Blog saya memang mendekati saat-saat yang menentukan. Artinya, tiga bulan ke depan saya harus  menentukan apakah akan tetap memakai domain berbayar atau tidak. Jikalau aktivitas menulis beberapa bulan kosong, alias hiatus, alangkah sayangnya  blog berdomain tidak gratis ini. Tapi, sekali lagi, pembangkit menulis saya sebenarnya bukanlah perkara domain berbayar atau tidak, tapi sungguh karena saya sangat menikmati “menikmati” alam ciptaan-Nya. Menikmati dalam arti: merasakan sensasi memandangi alam , mengabadikannya dalam foto, video, menguatk-atik gambar yang didapat, mengupload, memandangi lagi gambar-gambar dan video, menuliskannya, dan sebenarnya ingin sekali membuat semacam film dokumenternya, pendek saja sih... Tentu saja itu membutuhkan waktu, juga butuh belajar. Saya anggap semua itu sebagai hobi, belum passion sih…penyeimbang penatnya otak yang sedikit dipaksa bekerja serius akhir-akhir ini.

Oke… Saya mulai dengan perjalanan menuju Desa Tempur. Sebenarnya saya agak bingung harus menuliskan apa untuk menggambarkan perasaan “wow” saat menikmati keindahan Desa Tempur. Mungkin gambar dan video akan lebih sempurna mewakili apa yang harus saya sampaikan.  Baiklah,  mungkin lebih enak kalau saya sampaikan letak geografis Dasa tempur ini dulu ya…

Desa tempur adalah salah satu desa di Jepara yang letaknya berada di dalam lingkupan lembah, dikelilingi oleh gunung-gunung di bagian timur, barat, selatan, maupun utaranya. Berbatasan dengan Desa Kunir dan Damarwulan di sebelah utara, dan Kabupaten Kudus di sebelah selatan.  Bagian barat berbatasan dengan Desa Sumanding dan Duduk Awu, dan d sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.




Perjalanan menuju lokasi sangat mengesankan. Rimbunnya pepohonan, hamparan sawah membentang, jalanan yang naik turun, serta canda tawa anak-anak di sepanjang perjalanan. Kemudian ketika kita telah dekat dengan lokasi, pemandangan makin eksotik, dengan kondisi jalan yang lebih sempit dan berkelok-kelok, memerlukan kehati-hatian sang pengemudi kendaraan. Suara-suara alam, burung, tenggaret, jengkerik, begitu khas dengan suasana hutan. Hawa dingin merasuk, seperti hawa udara di tempat wisata pegunungan lainnya. Bagi suami yang di depan kemudi, ini merupakan tantangan dan keasyikan tersendiri menaklukkan jalanan yang selain sempit, berkelok, juga licin karena kebetulan kami ke sana waktu musim penghujan. Bagi saya, semuanya adalah hal yang luar biasa, rasanya tak ingin sedetikpun melewatkan pandangan mata dari alam nan menawan ini. Alhasil, saya begitu sibuk jeprat-jepret, rekam-rekam, seolah dunia milik saya sendiri, tanpa sungkan lagi sama Bumer yang ada di samping saya. Maaf, Mom..saya memang lain dari yang lain, beginilah saya…terlalu menikmati hidup. Saya mah yakin Sang Mom lama-lama menerima kegilaan saya apa adanya.


Dan apa yang lebih mengesankan ketika telah berada di Desa tempur? Sungainya…., gemericik suara air, landscape yang luar biasa, pegunungan menjulang, pepohonan tinggi seolah menantang awan, menyisakan semburat sinar mentarai yang tersembunyi dibalik ranting dan dedaunannya.
Kami sempat singgah di sebuah musholla kecil, numpang MCK di rumah penduduk, dan anak-anak mandi di sungainya. Jujur, sesebenarnya selain lelah otak, badan saya juga sedang drop, dengan kondisi perut yang harus “ditata” lagi oleh ahli pijat khusus wanita. Saya tahu itu harus dibenahi. Tapi… karena Desa tempur begitu indah, akhirnya saya memilih ikut menikmati alam ini sebelum melakukan terapi. Tak apa, saya hanya perlu berjalan dengan hati-hati dan menahan sedikit rasa tak enak pada perut dan punggung. Keindahan desa ini membuat saya seolah lupa dengan semua itu.

Sebenarnya banyak situs  wisata yang ada di Desa Tempur ini jika mau menyisir satu persatu. Candi Bubrah Dukuh Petoeng, , kali Ombo di Dukuh Miren, Kali Gelis di Dukuh Karang Rejo, dan untuk di Dukuh Duplak sendiri terdapat banyak pesona wiasata yang bisa dinikmati yaitu Candi Angin, Sumur Batu, Kaldera Gunung Muria, Kolam Nawang Wulan, Kolam Pemancingan Tempoera, Taman Hias, Bumi Perkemahan, Wisata Kebon Kopi, dan warung kopi Tempur.


Desa tempur adalah wisata alam gratis. Sebenarnya sangat potensial untuk didirikan villa –villa yang disewakan, wahana Flying Fox, atau tempat penelitian lingkungan hidup. Namun, menikmati keindahan yang alami tanpa terlalu banyak modivikasi ini juga sudah sangat memuaskan saya. Suatu saat, inginnya sih…punya rumah di sini, iya… menikmati hari tua di negeri atas angin…. Yang pasti Baik pihak Pemdes maupun PemKab Jepara memiliki komitmen ingin mengembangkan Desa Tempur ini menjadi tempat wisata yang lebih maju dengan pengembangan di berbagai sisinya. Di antaranya membuat ladang bunga seperti yang sudah ada di Jepang atau Belanda. Wow Desa Tempur pasti akan lebih kereeen!.

Oke… kita nikmati gambar-gambar yang telah saya ambil ya… siapa tahu para pembaca tertarik dan ingin segera menuju Jepara untuk menikmati Indahnya Desa Tempur. Selamat menikmati…..
























video

Reaksi:

11 komentar:

  1. Indahnya alam jepara....sungai yg jernih dg bebatuan besar dan alam pegunungan yg hijau membuat jiwa tenang... terus berkarya bu ella

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih udah berkunjung mbak sri....iya Jepara mmg indah....

      Hapus
    2. trimakasih udah berkunjung mbak sri....iya Jepara mmg indah....

      Hapus
  2. makasih sdh berkunjung... iya Jepara mmg indah. Pgnnya memlerkenalkan pd dunia. hehe

    BalasHapus
  3. Tempur, biasa wae ah mbak... Hehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. lhooo, bagiku luar biasa say....
      yg tdk biasa mana lagi?

      Hapus
    2. lhooo, bagiku luar biasa say....
      yg tdk biasa mana lagi?

      Hapus
  4. Tempur masih bergeliat untuk mendapatkan sentuhan tangan-tangan trampil, baik tangan dalam arti sebenarnya maupun "tangan-tangan milik para pemimpin", hutan lindung perlu dijaga kelestariannya karena sudah banyak yg ditebang dan dijual oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Ayo bersama wujudkan desa Tempur menjadi destinasi wisata yang mashur dengan indahnya alam yang alami dan penganekaragaman ikutannya, juga budaya masyarakat tempur yang sudah tertanam sejak dulu juga masih terselamatkan. Dahulu waktu kami kecil bila ke desa Tempur dan bertamu kerumah penduduk selalu dikasih makan dan tidak boleh ditolak, apabila ditolak si tamu selama di tempur tidak akan mendapat suguhan. Masih ada nggak ya kearifan lokal tersebut di desa Tempur?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pak hafid kereeen. kpn2 kita ke sana yuk pak...PLM.

      Hapus
    2. pak hafid kereeen. kpn2 kita ke sana yuk pak...PLM.

      Hapus
  5. Desaku tempur keling jepara, jadi kangen nih pengin pulang kampung

    BalasHapus