Minggu, 12 Maret 2017

Seperti Inilah Dunia Penerbitan Indonesia Saat Ini

       

gambar diambil dari: AlFahmu.com


 Ketika kita berbicara tentang penerbitan, sampai detik ini yang terlintas di benak kita masih tidak jauh dari proses pembuatan buku-buku dan majalah konvensional. Meski sebenarnya untuk saat ini, yang dinamakan terbit tak harus dalam bentuk cetakan di atas kertas. Terbit secara digital, dengan berbagai macam jenisnya juga sudah bisa dikatakan terbit (published). Menerbitkan tulisan di website, atau yang sedang mulai trend saat ini, buku digital atau e book, juga membuat catatan di facebook, sudah bisa dikatakan terbit. Jaman sudah canggih, untuk membagikan tulisan kepada khalayak sekarang ini begitu mudah. Meski nanti ada trik-trik khusus agar tulisan yang terbit secara digital itu bisa viral .
            Oke, kembali pada topik pertama yang ingin saya paparkan, yaitu tentang dunia penerbitan  buku-buku cetak, bukan digital.  Mengapa saya khususkan untuk penerbitan buku? Karena dibandingkan dengan penerbitan secara digital, saya rasa untuk saat ini saya lebih menguasai bidang ini, meski belum banyak juga karya saya yang terbit. Membagi sedikit wawasan saya rasa tak ada salahnya.
             Pada jaman dahulu, penulis belum banyak. Begitu pula dengan informasi tentang bagaimana cara bekerja sama dengan penerbit, belum banyak diketahui. Dengan jumlah penerbit yang belum banyak, serta penulis yang terbatas, karya-karya penulis saat itu seolah benar-benar menjadi karya yang dinanti masyarakat dan melegenda. Bukan hanya karena tidak banyaknya pesaing, tetapi juga kualitas karya yang unik dan patut diacungi jempol. Dunia penerbitan dari waktu ke waktu mengalami perkembangan, seiring dengan berkembangnya dunia sastra, meski buku yang terbit tak melulu karya sastra. Perkembangan dunia sastra diabadikan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, yang terbagi dalam beberapa angkatan, yaitu:
  • Angkatan Pujangga Lama.
  • Angkatan Sastra Melayu Lama.
  • Angkatan Balai Pustaka.
  • Angkatan Pujangga Baru.
  • Angkatan 1945.
  • Angkatan 1950 - 1960-an.
  • Angkatan 1966 - 1970-an.
  • Angkatan 1980 - 1990-an.
          Saya tidak akan memaparkan nama maupun buku apa saja yang terbit di masing-masing angkatan, karena sudah pasti akan banyak sekali informasi tentang itu ketika kita mau mencari informasi di Google atau browser lain. Saya akan membicarakan tentang dunia penerbitan saat ini.
            Buku-buku yang diterbitkan di jaman kita ini, lebih beragam. Dilihat dari segi usia, maka jenis buku bisa kita kategorikan sebagai berikut: buku anak-anak dan buku dewasa. Buku anak-anak pun ada pembagiannya sesuai dengan  peruntukannya, apakah untuk usia TK, TK sampai SD, atau SD. Ada buku cerita, cerita bergambar (pictbook), buku cerita dengan lembar kerja, dan buku pengetahuan (bukan cerita).
            Untuk buku Dewasa, baik-fiksi maupun non fiksi, dua-duanya juga meiliki percabangan yang beragam. Sementara dilihat dari peruntukan usianya, memang perlu dibedakan antara buku untuk dewasa, dengan buku yang ditujukan untuk remaja. Ada buku dewasa yang aman saja dikonsumsi remaja, pada umumnya buku-buku pengetahuan umum (Kecuali tentang pasutri), atau novel yang "aman". Tetapi ada buku yang benar-benar harus dibatasi pembacanya, yang benar-benar hanya untuk dewasa. Umumnya novel dewasa yang mengandung adegan-adegan yang belum waktunya dibaca oleh remaja. 
            Buku non fiksi atau pengetahuan umum, sangat banyak jenisnya. Dan… manisnya buku-buku non fiksi untuk saat ini lebih bisa bertahan di pasaran dari pada sastra, kecuali novel dari penulis yang sudah punya nama, atau karya tersebut memang unik, atau juga karena gencarnya promosi yang dilakukan. Tak pelak, kata senior saya yang sudah makan asam garam di dunia novel, Leyla Hana atau Leyla Imtichanah, faktor lucky, hoki, keberuntungan, juga berpengaruh bagi bertahan tidaknya karya seorang penulis di pasaran. Karena tak jarang, buku-buku yang booming sebenarnya isinya tidak begitu bagus, atau masih banyak novel lain yang lebih bagus. Banyak pula novel bagus tetapi penjualan memprihatinkan. Sudah bagus bisa menutup DP (uang muka dari penerbit), karena tak jarang juga yang untuk menutup DP saja tidak kesampaian juga. Meski Leyla Hana saat ini lebih memilih dunia penerbitan digital pribadi, atau ngeblog, masih banyak juga penulis yang memilih bertahan di dunia penerbitan buku, atau mengirim karyanya ke media cetak, atau berjalan di dua dunia tersebut, seperti Riawani Elyta, Triani Retno A (plus sebagai penjual buku online), dan masih banyak nama penulis lain.
          Banyaknya penulis yang beralih menjadi blogger, memang dipengaruhi dari faktor honorarium  juga. Blogger yang telah memiliki banyak pengikut (follower), aktif mengisi blognya, serta memiliki trik-trik yang bagus untuk membuat blognya mudah di"sapa" oleh Google, memiliki kesempatan lebih besar untuk menulis tentang produk/tempat tertentu di blognya dengan fee tertentu dari perusahaan sponsor (katakanlah begitu) atau biasa disebut Job Review. Artinya, blog bisa mendatangkan rejeki. bisa juga dengan cara mendaftarkan blignya di google adsense. Tentu saja itu tidak bisa dicapai secara instan, ada perjuangan-perjuangan tersendiri yang harus dilalui oleh seorang blogger hingga blognya siap untuk dijadikan sarana promosi oleh perusahaan yang membutuhkan..
           Meski sekarang ini beberapa toko buku telah ditutup, seperti yang barusan tutup, Toko Buku Tiga Serangkai serta beberapa toko buku lain, bukan berarti dunia penerbitan konvensional di Indonesia benar-benar terpuruk. Masih banyak penerbit yang berproduksi, mencari penulis untuk diterbitkan karyanya, masih banyak pula penulis atau calon penulis yang setia pada mimpi. Karena penerbitan memang belum benar-benar terpuruk. Hanya mungkin jika kita ingin bertahan, harus pintar melihat peluang pasar. Meski idealisme tetap dibutuhkan, tak ada salahnya penulis mau belajar jenis tulisan yang dinilai lebih laku di pasaran.
gambar diambil dari: industri.konta.co.id

         Atau jika memang ingin bertahan pada “apa yang ingin kutulis” saja, ada alternatif menerbitkan buku indie, baik diproses sendiri dalam produksinya, atau meminta jasa penerbit dengan membayar sejumlah uang seperti transaksi jual beli. Itu syah-syah saja, asalkan pihak penulis juga pintar mempromosikan bukunya. Tetapi untuk sekarang ini, beberapa jasa penerbitan indie juga menawarkan paket penerbitan plus fasilitas: buku bisa mejeng di toko buku, termasuk Gramedia. Ini lebih membantu penulis indie daripada ia harus berusaha sendiri memasarkan bukunya, kecuali ia telah punya channel atau penggemar setia yang sembilan puluh persen akan membeli bukunya. Alternatif lain penerbitan indie agar penulis tidak rugi adalah dengan memakai system POD (print on demand). Penulis membayar tidak terlalu banyak untuk proses desain cover, lay out, bisa juga editing, serta pencetakan satu eksemplar buku. Satu eksemplar?  Iya, Leutika Prio pernah menawarkan jasa penerbitan seperti itu. Lalu? Lalu ketika penulis membutuhkan banyak buku setelah adanya pesanan-pesanan, ia bisa meminta penerbit mencetakkan bukunya sejumlah yang ia pesan. Jadi penulis ataupun penerbit tidak rugi. Penerbitan secara indie sering dilakukan oleh penulis puisi baik dengan mencetak sendiri ataupun membayar jasa penerbit seperti Leutika Prio atau penerbit lainnya, karena karena hampir semua penerbit mayor tidak mau menerbitkan karya puisi penulis baru dengan cuma-cuma. Penerbit mayor melihat pangsa pasar puisi kurang memiliki prospek. 
         Untuk penerbit mayor sendiri, sampai saat ini masih banyak yang aktif. Tentu dengan startegi-strategi khusus agar buku yang mereka produksi laku di pasaran. Selain dengan promosi, proses produksi juga harus diperhatikan. Beberapa strategi yang dilakukan penerbit mayor selain memilih jenis tulisan yang punya kans laku di pasaran saat ini adalah membatasi jumlah produksi buku dalam sekali cetak. Dulu, pada umumnya penerbit besar mencetak satu judul buku yang lolos seleksi sejumlah 5000 eksemplar. Hmm jika buku ini laku dan benar-benar habis, sudah bisa dibayangkan aliran royalti yang diterima penulis ataupun keuntungan yang diperoleh penerbit.  Memang pada kenyatannya ada buku-buku yang sejumlah itu habis di pasaran, dan mendapat anugerah cetak ulang. Cetak ulang, dan ulang lagi. Wow… sangat keren. Tapi, pada kenyataanya pula, tak sedikit buku yang akhirnya berakhir di rak obralan. Itu Kenapa? Karena sudah dianggap tidak akan laku lagi dengan harga aslinya. Dengan banyaknya buku yang tidak laku, beberapa penerbit mengambil kebijakan tertentu agar tidak merugi, atau katakanlah agar buku-buku yang telah diproduksi itu tidak mubadzir.
          Kebijakannya pun beragam, lain penerbit lain aturan. Beberapa penerbit langsung menurunkan harga jual buku begitu enam bulan pertama buku belum habis, misalnya penerbit.  Bagi penerbit, asalkan sudah balik modal, tidak terlalu jadi masalah ketika harga buku turun bahkan diobral. Tetapi lain lagi bagi penulis. Tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap penghasilannya. Harga asli saja, dia hanya dapat 10% perbuku (royalti pada umumnya, mungkin bisa kurang atau lebih), itupun harus dipotong PPh dan PPn. Kalau diobral apalagi sampai seharga lima ribuan, entah dapat berapa penulisnya, mungkin juga sudah tidak ada bagian untuk penulis.  Ada juga penerbit yang sangat baik, ketika berjalan beberapa tahun buku masih banyak, tapi penerbit sudah balik modal dan sudah untung, maka buku akan dikirim ke penulis dengan harga murah, atau bahkan cuma-cuma. Penerbit Mizan dulu memberlakukan itu pada buku teman saya, entah kalau untuk sekarang, saya kurang paham.
          Beberapa penerbit mengurangi oplah cetakan untuk sekali cetak buku. Penerbit Elex Media pernah membuat oplah sekali cetak sebanyak 2500 eksemplar, dan sekarang menjadi 1500 eksemplar. Untuk GPU pernah membuat oplah cetak menjadi 3000 eksemplar sekali cetak, entah sekarang masih sejumlah itu atau juga diturunkan. Penurunan oplah cetak tentu berimbas pada harga buku yang jatuhnya lebih mahal. Tapi hal itu dianggap lebih aman bagi penerbit, tidak terlalu ngos-ngosan harus menghabiskan 5000 eksemplar buku. Penerbit lain untuk sekarang ini sekali cetak rata-rata 1500 sampai 3000 eksemplar. Itu pun sampai sekarang penerbit masih pada gencar membuat even dalam rangka menghabiskan stok buku di gudang. Seperti Gramedia yang melakukan cuci gudang dengan harga 5000an, dan benar-benar dibeli langsung dari gudang. Para pembelanja buku diberi waktu sekian menit untuk belanja buku sebanyak-banyaknya dari gudang. Maka berbondong-bondonglah masyarakat Jakarta, Surabaya, Bandung, menyerbu gudang Gramedia. Dan cara itu lebih baik dari pada wacana sebelumnya, yaitu buku-buku yang masih tersisa akan dimusnahkan. Iya, buku masuk mesin penghancur, digiling, dijadikan bubur kertas, didaur ulang, untuk kemudian hasil kertasnya digunakan untuk mencetak buku lagi. Sekilas memang sepertinya mengerikan, apalagi bagi penulis, bagaimana rasanya buku-buku yang berisi hasil curahan otak, hati dan energinya itu harus dihancurkan. Pastilah hancur pula hatinya. Namun, dari sisi penerbit, itu merupakan salah satu kebijakan untuk menyelamatkan dati kerugian/kemubadziran, serta membersihkan gudang penyimpanan dari tumpukan buku.
            Ada juga penerbit yang membuat program bantuan buku untuk perpustakaan atau taman baca. Taman baca di rumah saya sempat kebagian buku dari sebuah penerbit kenamaan sebanyak seratus buku. Dan barusan saya temui serta saya alami, salah satu penerbit besar lain mulai menerbitkan novel dalam bentuk e book terlebih dahulu, untuk dilihat perkembangannya selama setahun ke depan. Jika buku dianggap laris di dunia maya, maka ada kemungkinan penerbit akan menerbitkan novel dalam bentuk cetak. Lagi-lagi penulis diberi pilihan sulit, menerima atau menolak. Menerima artinya naskahnya terbit tapi dalam bentuk e book, tidak bisa dipeluk apalagi disampuli, tapi sudah dianggap terbit, dan lolos seleksi penerbit (Itu juga suatu prestasi). Menolak artinya harus berjuang lagi mencari penerbit lain. Ada dua kemungkinan jika memilih menolah tawaran itu, yaitu… suatu hari nanti penulis akan menemukan penerbit yang mau menerbitkan bukunya secara cetak dan masuk toko buku, atau…tidak ketemu juga dengan penerbit yang cocok, padahal sudah terlanjur manarik naskah dari penerbit tadi. Iya, di situlah salah satu dilema penulis.
           Seorang teman yang pernah memproduksi bukunya sendiri, melihat buku saya yang seharga 48.000, berkata bahwa dengan mencetak sendiri, jatuhnya harga buku tak semahal itu, tapi tentu harus mengeluarkan uang sendiri dan mengurus pemasaran sendiri juga. Nha, yang memberi prosentase besar bagi mahalnya harga buku dari penerbit mayor adalah biaya distribusi. Katakanlah dari 100%  harga buku, 10% untuk penulis, 30% untuk penerbit, dan selebihnya adalah biaya distribusi. Perhitungan kasarnya seperti itu, dengan sedikit kurang lebih pada prosentasenya. Ada juga penerbit baik hati yang memberikan 15% dari harga buku untuk royalti penulis. Tapi ada juga yang hanya 5%  atau 7% untuk buku bergambar karena royalti dibagi dengan ilustrator. Meski royalti penulis lebih kecil, kans sukses di pasaran untuk buku cerita anak lebih besar, alias lebih gampang laku. Sehingga penghasilan penulis buku anak juga lumayan besar. Sangat beruntunglah seorang penulis ketika naskah buku anaknya, terutama pictorial book (cerita bergambar) di acc oleh penerbit. Beberapa penulis bahkan sudah menjadi langganan penerbit, tinggal menulis saja seperti tema yang diminta penerbit, dengan jaminan pasti terbit. Hal itu sangat patut untuk disyukuri, meski tak terlepas dari usaha sang penulis juga pada awalnya. Bagaimanapun tidak ada pencapaian yang instan. Pasti penulis telah mengalami proses jatuh bangun sebelumnya.
           Ada hal yang disukai penerbit selain melihat segi isi buku, yaitu keberanian dan kreativitas penulis untuk mempromosikan bukunya, serta ketepatan waktu penulis dalam mengerjakan naskah. Untuk nomor dua, menyangkut cara pengiriman naskah ke penerbit. Dua cara mengirimkan naskah ke penerbit, yaitu dengan mengirimkan naskah langsung, atau dengan mengirim outline saja. Apakah outline itu? Outline adalah gambaran singkat tentang isi buku, disertai sasaran dari isi buku, kelebihan serta keunikan buku dari buku lain yang sejenis. Lalu disertakan sinopsis serta daftar isi buku yang akan ditulis. Jika penerbit acc, maka penulis diberi waktu tertentu sebagai DL penulisan buku tersebut. Nha… jika ingin menjadi langganan penerbit, seringlah melakukan hal ini, mengirimkan outline, jika di acc kerjakan tepat waktu dan dengan sebaik mungkin. Ketika buku sudah terbit, kreatiflah dalam berpromosi. Jaman sudah canggih, sepak terjang penulis dalam berpromosi bisa dipantau lewat FB, Twitter, dan jenis medsos lain di dunia maya oleh penerbit.
             Saya termasuk yang lebih merasa aman dengan mengirim naskah yang sudah jadi. Karena saya pernah suatu kali mengirim outline naskah dan kebetulan di acc, untuk minimal 100 hal, penerbit memberikan waktu tiga minggu, buku nonfiksi. Saya pernah menulis novel 100 halaman dalam waktu sebulan, tapi kalau untuk menulis karya non fiksi, saya belum berani apalagi tema serius, apalagi keadaannya waktu itu saya sedang pindahan rumah dari Surabaya ke Jepara. Akhirnya saya mengundurkan diri tidak jadi menuliskan naskah saya, dan ouline saya ditulis naskahnya oleh penulis lain. Sebenarnya saya rugi waktu itu. Tapi, pengalaman memang mahal harganya. Makanya sekarang saya belum berani mengirimkan outline saja, kuatir tidak sanggup kejar tayangnya.
         Oke, kembali pada cara pengiriman naskah. Dilihat dari langsung atau tidaknya dalam mengirmkan naskah, kita bisa mengirimkan naskah langsung pada penerbit, atau kita menggunakan jasa agensi penerbitan. Mungkin belum terlalu banyak yang tahu, bahwa ada orang-orang yang memang menempatkan diri mereka sebagai agensi, yaitu menjadi jembatan antara penulis dengan penerbit. Karena memang bagi penulis terutama yang pemula, mencarikan jodoh penerbit untuk naskahnya adalah sebuah perjuangan tersendiri, memerlukan kesabaran, bahkan jika perlu setelah kirim naskah lebih baik dilupakan saja dan mulai menulis naskah lagi. Maka banyak penulis yang justru merasa tertolong dengan adanya agensi. Tugas mencari penerbit diserahkan kepada agensi, dan ia tinggal menulis lagi. Agensi sendiri biasanya terdiri dari penulis-penulis senior yang telah berpengalaman dan mengenal seluk beluk banyak penerbit
           Apakah jasa tersebut gratis? Tentu tidak. Ada yang memberlakukan bayaran putus untuk penulis, jadi penulis mendapatkan bayaran langsung untuk satu naskah buku dengan perhitungan perhalaman yang ditulis, ada juga yang mengikuti bagaimana sistem dari penerbit. Misalnya penerbit memberikan royalti, maka agensi memberlakukan itu juga, tapi dengan memberi potongan dari prosentase royalti untuk penulis. Misal royalti dari penerbit 10%, maka akan diberikan 7% untuk penulis, 3% nya untuk agensi. Hmm… begitulah, bagi sebagian penulis, itu dianggap wajar dan saling menguntungkan. Bagi sebagian lagi, dianggap merugikan, karena sebenarnya penulis bisa mencari penerbit sendiri asal mau bersabar. Alamat penerbit bisa kita cari dengan mudah lewat google.  Di Facebook pun, sering ada lowongan naskah dari penerbit, asalkan kita mau add akun penerbit-penerbit tersebut. Memang buah kesabaran hasilnya lebih besar, seperti kata pepatah.
          Memilih setia di dunia menulis buku memang butuh kesabaran dan keikhlasan. Menata kembali niat, bahwa kegitan menulis bukan semata mencari uang. Ada yang makna lebih dalam dan berarti dari sekedar mencari materi. Kepuasan batin, kebahagiaan karena berhasil menyalin ide, pemikiran, pengalaman spiritual, ataupun imajinasi dalam sebuah naskah, sudah merupakan sesuatu yang luar biasa bagi penulis, meski mungkin bagi orang lain bisa jadi dinilai begitu nelangsanya menjadi penulis ketika naskah tak kujung terbit. Menulis mampu menguatkan hati, melatih berpikir logika, sekaligus menyehatkan otak kanan. Bagaimanapun, menulis tak ada ruginya, asalkan yang ditulis adalah hal yang baik. Jika bukan saat ini, mungkin bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, atau kelak ketika kita telah mati, tulisan kita akan "berbalas budi" pada jiwa kita yang telah rela berbagi. Maka, menulislah, berusahalah, dan ikhlaskan kemana takdir membawa tulisan kita. Karena rejeki pun tak harus selalu berupa materi.

gambar diambil dari: dinidinidini.wordpress.com

         Itu sedikit wawasan tentang dunia penerbitan bagi penulis sungguhan atau calon penulis sungguhan. Maksudnya? Apakah ada penulis ynag tidaj sungguhan? Tentu saja ada maksud dari kalimat saya tersebut. Ada buku-buku yang diterbitkan dengan nama penulis artis atau tokoh masyarakat. Beberapa teman saya sering menerima job sebagai penulis biografi artis atau tokoh tertentu, dengan bayaran yang tidak sedikit. Kadang namanya ditulis sebagai co-writer, kadang juga tidak. Dalam hal ini, teman saya berprofesi sebagai ghost writer. Dan sang artis? Dia adalah penulis tidak sungguhan,  abal-abal, kalau tidak mau disebut nebeng nama saja. Mungkin saja sang artis memberikan data-data diri, lembar-lembar diari, atau diwawancari sebelum buku ditulis, tapi yang mengerjakan naskah adalah orang lain, ghost writer. Banyak juga pejabat atau tokoh masyarakat yang melakukan ini, membuat buku dengan bantuan ghostwriter atau co writer. Tentu ini perkecualian bagi Dewi Lestari (Dee) atau Happy Salma atau artis lain yang memang hobi menulis. Ada yang menganggap pekerjaan sebagai ghost writer adalah halal, karena memang itu sebuah pekerjaan dan bukan kejahatan, ada pula yang idealis menganggap pekerjaan itu kurang afdhol.

          Sampai di sini informasi dari saya, sekedar berbagi saja siapa tahu berguna. Inshaallah lain waktu akan saya sambung dengan cara membuat outline, atau lebih tepatnya contoh outline. Jika ada kurangnya dari tulisan ini, saya minta maaf, tidak menutup kemungknan ada info-info baru yang tidak saya ketahui, maka saya persilakan berkomentar dan memberikan pertanyaan ataupun masukan.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar