Sabtu, 20 Mei 2017

Yang Kecil yang Menguatkan Hati (Tentang Taman Baca)





        Saat itu, di siang yang cukup menyengat, kami sempatkan mampir ke gerai pameran buku yang digelar sebuah penerbit besar. Kami masih tinggal di Sidoarjo waktu itu, sedangkan pameran ada di Surabaya. Sembilan tahun yang lalu itulah saat pertama di mana saya membayangkan sebuah taman bacaan. Saya jatuh hati pada buku-buku anak bergambar serta buku motivasi remaja yang dijual dengan harga obral waktu itu. Saya yang sebelumnya sangat jarang membeli buku, tiba-tiba ingin memborong banyak buku. Maka menjadi penuhlah tas kresek yang saya bawa dengan sejumlah buku pilihan saya. Hati saya berbunga-bunga membawa pulang oleh-oleh buku.

         Di sepanjang jalan saya membayangkan betapa sukanya anak-anak bila membaca buku-buku itu. Bukan hanya anak saya (karena anak saya masih satu), tapi juga anak-anak tetangga atau siapapapun yang mau saya pinjami buku-buku itu. Saya masih ingat, buku anak yang membuat saya jatuh hati waktu itu adalah buku cerita bergambar untuk balita dari Dar! Mizan dengan ilustrasi yang dibuat Kang Nonoy. Lucu dan imuuut banget. Sampai-sampai saya punya bayangan ingin membuat buku dengan ilustrasi yang serupa. Begitu juga untuk buku motivasi remaja, saya sampai ada bayangan juga untuk suatu saat menulis buku serupa. Ahaha… saya terlalu muluk ya.

         Dari momen itu, tak langsung kami buka taman bacaan sih. Buku-buku itu saya tabung dulu di lemari, Sambil sesekali kalau anak-anak tetangga bermain di rumah, saya keluarkan buku itu agar mereka mau membacanya, sekaligus merangsang anak saya agar suka membaca. Ohya, saya ingat, waktu itu Najwa yang belum bisa membaca, sampai hafal setiap kalimat yang ada dalam sebuah buku komik anak yang sering saya atau suami bacakan untuknya. Kalu tidak salah ceritanya tentang ulat bulu. Ia dengan pedenya ikut “membaca” dengan suara lantang bersama dengan teman-temannya yang memang sudah pada bisa bisa “membaca”. Ia memang paling kecil dan belum bersekolah, semenara teman-temannya kebanyakan sudah bersekolah.
Tak banyak buku yang saya punya, juga tak begitu banyak pula anak-anak yang saya pinjami buku. Makanya saya belum merasa bahwa saya memiliki taman baca. Tapi saya sudah sangat senang melihat mereka berakrab dengan buku dan membacanya rame-rame. Suara riuh mereka justru mendamaikan hati.
           Waktu berjalan, seiring dengan bertambahnya buku-buku yang kami beli. Suami suka membeli buku-buku tentang agama. Dia juga suka membelikan saya majalah Ummi. Saya yang nota bene ibu rumah tangga di rumah, cukup terhibur dan bertambah wawasan dengan adanya majalah- majalah itu. Saya masih memupuk mimpi suatu saat berani membuka dan menamai taman baca saya.
Dan ketika takdir mengatakan bahwa kami harus pulang kampung….


           Saya galau. Saya yang mulai nyaman tinggal di Sidoarjo serta memiliki berbagai mimpi di sana, seolah harus merombak lagi mimpi-mimpi itu, dan tertatih menata kembali kehidupan baru di Jepara. Meski di sisi lain bahagia, menjadi dekat kembali dengan orang tua dan sanak family. Terus terang, saya gamang. Di saat saya mulai dengan aktivitas menulis (di mana dulu seolah hanya khayalan), memiliki teman-teman yang juga menulis di Sidoarjo, tiba-tiba saya harus meninggalkan “dunia mimpi” itu. Juga meninggalkan tetangga-tetangga yang seolah sudah seperti saudara bagi saya.
Saya patah hati…
         Sambil menata hati saya setelah pindahan ke Jepara, saya menata kembali barang-barang bawaan saya (termasuk buku-buku) di rumah kontrakan. Ternyata buku-buku saya lumayan banyak. Kami harus membeli lagi rak atau lemari khusus untuk buku-buku itu. Ini akibat pidahan yang mengharuskan saya meninggalkan beberapa perabot rumah di tempat yang lama. Pada saat itulah, terpikir oleh saya untuk membuka taman bacaan untuk masyarakat. Tapi saya masih ragu…
          Kebetulan, saya punya seorang kenalan seorang penulis dan penyair, Asyari Muhammad.  Ia juga tinggal di Jepara, bahkan satu desa dengan desa kelahiran saya, Margoyoso. Tuhan seperti sudah mengatur semuanya. Dialah penulis pertama di Jepara yang saya harapkan bisa mengikusertakan saya dalam even-even kepenulisan atau seni di Jepara.  Iya, saya merasa harus ada sesuatu yang istimewa  di sini agar saya bisa tetap “hidup”. Asyari Muhammad ini selain penulis puisi yang produktif, juga mengelola taman baca di Margoyoso. Bahkan taman bacanya istimewa, berada di halaman luar berupa gazebo yang beratapkan rumbia serta berlantaikan bambu. Setelah sempat berkunjung ke taman bacanya, saya mantap untuk membuka taman baca.
        Anak-anak begitu antusias dengan buku-buku dan majalah yang ada di taman baca.  Bahagianya saya, meski lumayan kerepotan juga saat mereka datang berbondong-bondong, apalagi waktu saya habis melahirkan Tapi saya merasa lebih berarti dengan adanya taman baca “Pelangi Cita”. Saya merasa mendapatkan bantuan nafas. Sebagaimana saya merasa bahagia ketika sempat diajak membacakan puisi di beberapa even oleh penyair Asyari Muhammad. Aih… kenapa saya merasa mewek gini, terharu. Sebagian dari mimpi saya terwujud di Jepara, sedikit demi sedikit saya mulai memupuk cinta saya lagi kepada tanah kelahiran saya.
         Sekarang ini, sudah sekitar lima tahunan Taman Baca Pelangi Cita berdiri, meski sampai sekarang belum saya daftarkan ke notaris untuk mendapatkan ijin resmi. Saya sedang berencana mengembangkan kegiatan taman baca agar tidak jenuh dan mandeg. Sebenarnya taman baca kami masih sering dikunjungi anak-anak, tapi saya ingin sesuatu yang lain. Kalau memang buku-buku kami bisa dibaca anak-anak lain selain mereka yang berdekatan dengan tempat tinggal saya, why not gitu loh?  Caranya? Ada deh pokoknya…
            Beberapa hari ini saya sedang galau tentang sesuatu yang sedikit banyak akan membuat pola perubahan pada kehidupan kami. Tapi, saya berusaha lurus, melakukan yang ingin saya lakukan, tanpa mengganggu orang lain, dan sesungguhnya saya juga tidak ingin diganggu. Dan buku-buku serta rak yang ternyata debunya sudah tebal serta dihiasi oleh sarang laba-laba itu seolah memberi harapan lagi pada saya. Bahwa saya bisa mendapatkan bantuan nafas lagi oleh taman baca itu.
            Mengapa tidak? Saya pun mulai membongkar, membersihkan, dan merapikan kembali tatanan buku-buku dan raknya. Saya berpikir menambah koleksi buku anak dan remaja, serta ingin melaunchingnya. Apa??? Iya, setelah bertahun-tahun berjalan, taman baca ini belum pernah melakukan launching. Saya masih meraba-raba bentuk launching seperti apa yang akan saya lakukan. Sebenarnya saya cukup ada sih sejumlah nama kenalan seniman, yang bisa saya mintain tolong untuk mengisi acara launching. Hanya saya masih ragu, mau nggak ya mereka? Seperti halnya saya yang pernah mengisi baca puisi di sebuah  launching taman baca di daerah Bandengan. Atau... mungkin ada lomba-lomba untuk anak-anak.
             Ah… saya punya banyak harapan pada taman baca ini. Sebenarnya, tembakan utama saya justru remaja. Namun untuk saat ini yang lebih sering datang adalah anak-anak. Tak apa, justru habit membaca memang paling baik dimulai saat masih anak-anak. Harapan saya, kelak mereka akan tetap memiliki kesukaan membaca setelah remaja hingga dewasa kelak.
          Ke depan, saya ingin membuat semacam klub kreatif, seperti yang pernah ada di Margoyoso yang digawangi oleh Kak Masudi Dec., yaitu sanggar kreatif. Ahaha… meski sepertinya ribet, tapi ini harus berjalan. Saya ingin punya grup teater, grup musik, atau grup menulis, yang diawali dari hobi membaca. Itu mah mimpi saya yang sudah lamaaa banget. Kapan ya kesampaian? Biasanya apa yang saya simpan dalam batin bisa terwujud, entah Allah memberikanya kapan. Maka saya yakin, pasti suatu saat itu pun akan terwujud. Saya percaya teori mestakung…
              Oke… sampai di sini dulu saja curhat saya tentang taman baca. Ada cinta di sini, ada harapan dan penyambung nafas bagi saya. Memang belum banyak yang saya lakukan di antara mimpi saya tak sedikit. Pelan tapi pasti, atau ini…"yang penting saya menikmat"i. Iya, bisa jadi saya tak pernah mewujudkan seabrek mimpi tentang taman baca ini, tapi sekali lagi…. yang penting saya menikmati dan masih ada anak-anak yang memanfaatkan taman baca ini. Maka saya akan terus merasa hidup…..
Alhamdulillah….






Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar