Minggu, 04 Juni 2017

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebagai e book. Judulnya “Serpihan Asa”. Sebenarnya novel ini sudah terbit bulan April, tapi aku baru dapat penampakannya bulan Mei, pas di Bulan Ramadhan. Rasanya makin menambah kebahagiaan di bulan puasa, Alhamdulillah....

Novel seperti apakah itu?



sampul novelku


         Novel ini aku tulis karena waktu itu terinspirasi dari kisah seorang gadis yang berprofesi sebagai bidan desa, di Desa Teluk Awur. Aku rasa profesi ini jarang dipakai penulis di Indonesia sebagai profesi tokoh ceritanya. Di saat para penulis marak dengan novel korea ataupun metropolitannya, aku tenggelam dalam penulisan novel yang lebih mengulas kehidupan pedesaan dan kehidupan pinggiran pantai. Kebetulan aku sendiri lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat, jadi lumayan nyambung lah dengan kehidupan bidan yang hari-harinya tak lepas dari urusan partus dan KB. Kupikir back ground profesi tokoh yang unik ini (untuk ukuran novel) akan memunculkan warna tersendiri yang bisa menambah wawasan dan menjadikan kehidupan tokoh tidak biasa-biasa saja.
        Ohya.. mengenai jalan ceritanya, meski terinspirasi dari salah satu kisah penggalan hidup seseorang (nyata), tak seluruh alurnya kubuat sama. Novel tetaplah memerlukan imajinasi dan kreativitas yang akan menjadikan cerita hadir secara utuh dengan tidak meninggalkan pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Jadi, syah-syah saja jika cerita novel ini ternyata tak sama persis dengan apa yang terjadi di dunia nyata yang dialami oleh sang penginspirasi. Karena memang dalam novel ini tak hanya satu tokoh dan kisah yang menginspirasi, ada inspirator tambahan, kisah nyata tambahan, pengalaman pribadi, lalu diolah dan diramu menjadi bentuk cerita yang baru. Ada juga referensi-referensi dari buku dan website kesehatan. Ada pesan tentang cinta di sana, ada pesan tentang moral, kesopanan, serta kritik fenomena sosial yang menurut penulis mestinya ada perubahan dari masyrakat pelaku pola kehidupan tertentu di sana (Teluk Awur).

Mengapa settingnya Teluk Awur?

        Karena Teluk Awur adalah salah obyek wisata di Jepara yang aku pikir layak juga untuk diperkenalkan kepada khalayak. Meski keadaan Teluk awur saat ini lebih baik dibandingkan keadaannya saat aku tulis novel ini. Jadi, misal nanti baca novelku dan menemukan ketidaksamaan di beberapa bagian dengan keadaan sekarang, yo harap maklum yah…, lagian ini fiksi kan? (eits… jurus andalan penulis fiksi). Meski demikian secara umum penulisan setting aku pikir tidak terlalu bertentangan dengan kenyataan saat ini. Lagian penggambaran setting tempatnya memang disesuaikan dengan setting waktu yang kupakai.  Jadi… kupikir itu tak terlalu jadi masalah.  ( Hmm sumpe ini bukan pembelaan diri).
             Lalu…, apalagi sih istimewanya Teluk awur?
Nha… ini. Tentang keindahan pantainya so pasti diceritakan  dalam novel ini. Tapi… ada yang lebih istimewa, meski jika kusebutkan apa istimewanya justru hal itulah yang menurutku harus ada perubahan. Penasaran? Harus lah..hehe. Iya, tentang fenomena sosial yang mash ada di sana, meski mungkin jumlahnya tidak terlalu banyak. Mungkin bagi sebagian besar pelaku, apa yang dijalani tidaklah masalah baginya. Asal mendapatkan imbalan yang setimpal, kehidupan perekonomiannya mapan, sama-sama untungnya, maka dianggap tak ada masalah.  Tapi bagaimana jika yang terjadi adalah… si pelaku menyertakan hati dan perasaannya, lalu merasa hancur saat ia punya harapan lebih  dan kenyataan yang dihadapinya sangat berbeda? Jadi… fenomena apa sih itu? Hmm… cerita nggak ya… Yang pasti salah satu tokoh penting dalam novel ini mengalaminya.
Oke, nanti aku kasih sinopsisnya dikit yo… biar makin penasaran, hehe…


contoh awalan Bab 1


Trus…sasaran pembaca novel ini siapa aja sih? Batas usianya?

         Novel ini termasuk aman, tak ada adegan porno, bisa disantap siapa aja mulai usia remaja (SMA) sampai dewasa. Kalau anak-anak SD dan SMP belum kusarankan. Karena kalau untuk masalah jatuh cinta, patah hati, CLBK, pernikahan, dan kerumitan hidup, kupikir anak usia  SD dan SMP belum memiliki kestabilan emosi untuk menerimanya, meski tak sedikit anak SMP yang udah pacaran saat ini (Gludakk! Prihatin deh).

Bosen ya baca ocehanku?

        Ohya sebelum aku kasih sinopsisnya, aku mau kasih tahu kalau buku ini terbit secara e book oleh penerbit BIP, lini Bhuana Sastra. Ceritanya, waktu itu aku kirim naskah ke BIP atas saran seorang teman. Aku nurut aja karena BIP termasuk penerbit besar. Nha… beberapa bulan kemudia aku dapat e mail, bahwa mereka menerima naskahku, tapi sementara diterbitkan e booknya dulu dan dijual lewat SCOOP, pasar e book di dunia internet. Meski awalnya agak berat, karena yang kubayangkan novel ini hadir dalam bentuk buku cetak yang bisa dipegang, dipeluk, dibuat bantal  ups!, akhirnya aku putuskan untuk terima tawarn itu. Why not? Bukankah jaman sudah canggih gini, kenapa tidak kita jadi bagian dari kecanggihan itu? Sambil tetap berdoa bahwa pengalaman baru di bidang penerbitan e book ini hasilnya tidak mengecewakan. Kalau ditanya apakah masih ada keinginan untuk menghadirkan buku ini dalam bentuk cetak? Asli bin yakin, aku jawab “ada”.  Jadi, kucoba pengalaman baru ini sambil berdoa semoga kelak buku ini tetap bisa hadir dalam bentuk cetak.

Sinopsis novel:

           Naila tak mengerti dengan jalan ceritanya bersama Dimas. Di saat ia yakin bahwa Dimas adalah sosok yang tepat untuk mendampinginya dalam merancang dan menyongsong masa depan, tiba-tiba Ibunya memberikan keputusan sepihak. Ibu membatalkan rencana pernikahan mereka tanpa penjelasan masuk akal, sebagaimana dulu ia dipaksa menolak Bimo. Padahal Dimas telah banyak masuk dalam kehidupannya dan banyak membantunya sebagai bidan, bahkan Dimas telah menghitbahnya, tinggal menunggu hari yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.

            Dimas tak yakin harus memilih siapa, Naila ataukah teman masa kecilnya, Wulandari. Di satu sisi ia begitu memuja dan bahagia menemukan Naila, namun sisi lain hatinya ingin melindungi Wulandari. Wulandari, sahabat masa kecil yang pernah membuatnya patah hati karena lebih memilih menikah dengan Alex, bule yang akan mendirikan usaha mebel di Jepara. Karena alasan ekonomi, saat itu Wulandari memilih meninggalkan Dimas. Wulandari mengalami depresi karena Alex akan mendepaknya. Apalagi janin di rahimnya gugur akibat syok. Hanya Dimas yang bisa menghibur dan membuatnya tenang. 

             Bimo tak menyangka jika ia akan bertemu kembali dengan Naila, yang kini menetap di Teluk Awur sebagai bidan desa. Tapi ia tak ingin berharap banyak, karena ia tahu Naila telah memiliki tambatan hati di sana. Tapi apa pun yang menjadi takdir Naila, ia berjanji akan tetap menjadi teman yang baik bagi Naila.

Bagaimana saya harus mengakhiri kisah mereka?
 
           Hidup adalah teka-teki, maka jawaban dari teka-teka ini ada dalam novel “Serpihan Asa” karya Ella Sofa. Caranya? Buka link ini: https://www.getscoop.com/books/serpihan-asa
Dan dengan harga diskon novel mengharu biru ini siap dilahap, tentunya harus login dulu ya....

Selamat menikmati….








Reaksi:

4 komentar:

  1. Penasaran... Dimas sapa siapa ya akhirnya...? ☺

    BalasHapus
  2. mbk Ella, Keren mbk novel-novel mbak, apa sih rahasia menulis novel mbk? soalnya novel ku nggak kelar-kelar. sulit banget membuat halaman lebih lebar.

    Salam kenal dari Bengkulu mbk.
    Blog mbk sudah saya Follow, ditunggu Follbacknya ya mbk. Heee

    BalasHapus
    Balasan
    1. rahasianya...apa ya? berdoa mungkin...hehe. mmg butuh wkt lama buatku agar jadi novel utuh, soalnya byk berubah ubah alurnya, cari yang pas.
      btw..mksih ya mbak mira. oke...aku kan folbek...

      Hapus