Selasa, 29 Agustus 2017

Singgah di Kebun Vertikultura Milik Pak Eddy di Tubanan Jepara



Indahnya bunga sawi pada lahan vertikultura

Pada rangkaian acara orientasi akselerator kesehatan di DKK Jepara bulan Juli 2017 kemarin, kami (akselerator kesehatan Jepara) sempat diajak mampir ke rumah seorang laki-laki yang biasa disapa dengan panggilan Pak Eddy di Desa Tubanan RT 04 RW 04. Ada yang unik dari rumah Ketua Forum Kesehatan Desa Tubanan ini. Begitu sampai di gang kecil yang akan masuk ke halaman rumah Pak Eddy, kita disambut dengan tanaman-tanaman hijau yang ditanam pada pipa plastik. Ada bayam, kangkung, terong, cabe, dan macam-macam sayuran lainnya.  Ada juga beberapa jenis bunga. Sekitar seratus meter ke depan, woooow….. nuansa maha hijau menghias hampir seluruh  pandangan mata.  Sungguh tepat sekali kami mampir ke sini, setelah hari sebelumnya agak spaneng dengan acara resmi sosialisasi STBM. Apalagi di siang panas, warna hijau serasa sebagai obat penyejuk hati.

Pak Eddy (kaos putih hitam, berkacamata) bersama para akselerator di halaman rumahnya.

    Lelaki bernama lengkap Eddy Widodo itu menyambut dengan senyumnya yang menampakkan rona bahagia. Pak Eddy sepertinya senang sekali kedatangan tamu istimewa (aih… boleh kan skali-skali merasa istimewa). Kami langsung menghambur mendekat pada Pak Eddy. Setelah bersalam-salaman, satu persatu pertanyaan bermunculan dari beberapa akselerator kesehatan. Pak Eddy pun dengan sabar melayani rasa penasaran kami.

Bunga kangkung menyambut kami

Beberapa akselerator ada yang langsung berkeliling menuntaskan rasa kagumnya langsung dengan melihat-lihat ke seluruh lahan Pak Eddy.
“Woow…, woow…!” kata itu berulangkali keluar dari mulut kami.
“Cekrak, cekrek, cekrek!” kamera HP pun tak henti merekam pose selfie kami di tengah lahan menghijau itu. Sayuran sawi memenuhi hamper 80% dari seluruh lahan.

habis panen sawi selfie yuuk



 Yuuk panen sawi....segerrrr

Mentimun jepang yang bisa dipakai untuk obat

 Bentuk lahan yang beda dari biasanya, karena tak hanya menghampar di bagian tanah tetapi berupa paralon-paralon yang menjulang dengan lubang-lubang yang berisi tanaman saw,i sungguh menyenangkan. Iya, itulah yang dinamakan cara bertanam dengan sistem vertikultura (menanam dengan sistem lahan bertingkat. Jadi, kita bisa memanen berkali lipat daripada hanya memanfaatkan lahan bawah saja. Bagaimana tidak? Dalam satu buah paralon yang berdiri vertikal itu, kita bisa menanam bibit sawi lebih banyak. Jika biasanya dalam sejengkal tanah hanya bisa untuk satu biji sawi, maka dengan paralon berlubang-lubang ini, untuk satu jengkal tanah kita bisa menanam sekitar sepuluhan biji. Atau dalam satu paralon bisa disemai benih yang berbeda-beda jenisnya.  Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada gambar yang saya posting di sini.

Vertikultur cabe rawit



vertikultur sawi


Menurut Pak Eddy, “Saya tertarik dengan vertikultura karena bisa untuk efisiensi lahan, karena vertikultura berasal dari kata vertikal yaitu bertingkat. Dan menanamnya pun mudah, tinggal masukkan benih ke lubang paralon.”

Pak Eddy dalam menyuburkan tanaman menggunakan bantuan pupuk yang semuanya organik, termasuk kompos. Ketika ditanyai bagaimana cara membuat kompos, dengan becanda beliau menjawab praktis, “Gampang…bisa dicari di internet.” Wah, jawaban Pak Eddy membuat geli. Bener sih ya…

Siapa bilang bercocok tanam hanya untuk lahan luas? Dan ternyata tak hanya tanaman saja yang bisa dibuat sistem bertingkat. Kolam ikan juga! Ck ck ck…keren abis ya…! Betul betul betul! (Gaya upin-ipin). Di lahan ini, Pak Eddy juga beternak sapi, kambing, bebek, ayam, dan ikan. Hmmm….kurang apa coba? Dan Pak Eddy sudah berulangkali menghasikan rupiah dari hasil penjualan tanaman yang dipanen atau ternaknya. Alhamdulillah…

Kolam ikan bertingkat juga lho...

Wah, istri Pak Eddy, Bu Istiani  pasti juga senang dengan hobi Pak Eddy ini, selain bikin halaman rumah jadi sejuk dan asri, juga menambah penghasilan keluarga.

“Kalau jangka waktu panen ya… tergantung jenis tanamannya, kemaren barusan panen cabe dan ada bakul yang ngambil.” jawab Pak Eddy saat ditanya tentang waktu panen.


kolam untuk menyemai tumbuhan pakan ikan nila

Oke deh Pak Eddy…, pemanfaatan lahan Bapak memang sangat menginspirasi. Kebetulan Desa Tubanan juga dijadikan desa untuk pencanangan kampung KB. Pemanfaatan lahan ini juga termasuk hal yang menjadi nilai plus desa Tubanan sebagai kampong KB. Pak Eddy memang ketua FKD teladan nih…

Pak Eddy memang punya keinginan memberi contoh kepada masyarakat agar bisa memanfaatkan lahan dengan baik. "Apalagi Indonesia negara agraris, sebisa mungkin kalau cabe saja nggak usah beli, apalagi yang tinggal di pedesaan…” kata Pak Edy.


Cabe merah yang cantik di halaman rumah Pak Eddy


Ohya, di sekitar lahan ini juga ada kandang sapi, kambing, bebek, dan ayam. Tapi kok baunya nggak khas seperti tempat ternak lain ya? Biasanya tiap kandang sapi atau kambing menguarkan bau khas yang…. (Hoooeeekk!). Ternyata ada rahasianya…ssst, kita dengerin yukk!
“Ohya, memang ternak saya tidak bau, karena saya kasih bio boost.”
Otomatis kami memasang telinga lebih lebar lagi. “Bio boost?” Sudah pasti kami bertanya-tanya apa itu bio bos.
“waktu ngasih makan, makanannya kita kasih bio boost, ada aturannya sih seberapa ukurannya. Sedikit saja kok. Nha…nanti kotoran ternak yang keluar jadi tidak bau…” jelas Pak Eddy. 
“Ooo…” kata kami hampir bersamaan sambil menggut-manggut.
“Bio boost itu banyak sekali manfaatnya. Untuk ternak senidri, membuat pencernaan lebih sehat, nafsu makan bertambah, dan kotorannya tidak bau. Untuk pertanian, bio boost adalah pupuk organik yang bagus, serta bisa lebih hemat dari pada memakai pupuk kimia. Bisa memperbaiki struktur tanah, bisa juga dimanfaatkan sebagai starter (mikroorganisme) pembuatan kompos. Bahkan untuk mengatasi toilet mampet pun bisa.”
“Ooo…”

Sebagai informasi, bahwa bio boost adalah produk organik yang memiliki manfaat yang beragam. Bisa untuk peternakan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan pengolahan limbah. Kalau mau info lebih lengkap tentang bio boost bisa googling lagi ya. Menarik juga pemanfaatan bio boost untuk pembuatan kompos. Itu tuh… memanfaatkan sampah organik (sampah basah) untuk dijadikan pupuk. Karena so pasti itu bisa menjadi salah satu cara penanggulangan masalah sampah. Tapi fungsi bio boost lainnya juga menarik, bagi kita yang mau beternak dan bertanam, bio boost bisa menjadi referensi yang bisa diandalkan.

Ohya, ini salah satu contoh link yang bisa diklik untuk mengetahui informasi tentang bio boost: lhttps://bioboostsakti.blogspot.co.id/2016/10/aplikasi-bioboost-untuk-peternakan.html

Pak eddy, lelaki berkacamata yang keren ini punya pesan untuk warga Jepara khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, “Sekecil apapun lahan yang kita punya, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin.”

Demikian cerita sekilas tentang pertemuan kami dengan Pak Eddy bersama kebun vertikulturanya. Sangat mengesankan, dan kami pulang selain membawa oleh-oleh sayuran juga membawa pesan di hati masing-masing, bahwa suatu saat pasti mengikuti jejak beliau. Aamiin....



Rumah Pak Eddy yang tertutup taman sayur vertikultura


Selasa, 08 Agustus 2017

Yang Sederhana yang Penuh Kesan... Mbak Ima Fasilitator STBM dari Mojokerto

Mbak Ima berkunjung ke lahan penduduk yang memanfatkan kompos dari sampah organik
Sekilas wanita itu nampak biasa-biasa saja. Terkesan terlalu sederhana malah. Berbaju kerja lengan panjang, celana panjang, wajah berbedak tipis tanpa polesan make up berarti, paling-paling sepoles lipstick tipis, saat berangkat kerja. Rambut ikalnya diikat begitu saja ke belakang, dengan karet gelang. Iya, karet gelang, bukan karet  rambut warna-warni seperti yang dipakai kebanyakan wanita. Orang yang tidak kenal mungkin menganggapnya bukan siapa-siapa. Namun, jika kita telah mengenal sepak terjangnya di dunia kesehatan lingkungan, maka decak kagum mungkin tak akan berhenti keluar dari bibir kita.
sosok sedrhana itu...
Nama wanita kelahiran Mojokerto itu adalah Ima Alfiyatunnisak. Kami biasa memanggilnya “Mbak Ima”. Kepada kami , Mba Ima menyebut dirinya sebagai fasilitator STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Mbak Ima merupakan pekerja independen, bukan PNS. Saat ini Mbak Ima bekerja degan sistem kontrak di Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara di seksi Kesehatan Lingkungan. Pekerjaan di DKK pun berkaitan dengan profesinya sebagai  konsultan STBM, yang membantu tugas DKK dalam melaksanakan pendekatan STBM ke masyarakat Jepara, di mana saat ini yang sedang gigih dikejar adalah mengentaskan desa-desa di Jepara dari kebiasaan BABS (Buang Air Besar sembarangan).
Ngobrol santai tapi serius bareng Mbak Ima di teras musholla

Dengan logat medok khas Jawa Timur, wanita kelahiran 30 Desember 1981 ini bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang pengabdi masyarakat. Mbak Ima yang ternyata seorang alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga  Surabaya lulusan tahun 2005 ini mengawali langkah hidupnya sebagai fasilitator STBM ketika mengikuti pelatihan di Kabupaten Jember pada Program WSLIC pada tahun 2006, dan bekerja di sana sampai tahun 2007. Berawal dari situlah Mbak Ima mulai berpindah-pindah tempat tinggal demi idealisme seorang pengabdi masyarakat.

Setelah itu, Mbak Ima hijrah ke Gresik, menjadi Fasilitator bidang pemberdayaan Program PPIP tahun 2008. Tahun 2009 Mbak Ima pindah lagi ke Kabupaten Lamongan menjadi Fasilitator Kecamatan bidang pemberdayaan program PNPM Mandiri Perdesaan. Selanjutnya tahun 2010 Mbak Ima menjadi Fasilitator yang sama, hanya saja pindah di Kabupaten Jombang.

Tak hanya di pulau Jawa, tapi Mbak Ima juga pernah merasakan perjuangan turun ke  masyarakat Lembatta, NTT. Saat itu Ia sebagai tenaga ahli Kab bid kesh (dmac)program Pamsimas I di pertengahan tahun 2010 – 2011. Mulai tahun 2014, Mbak Ima mulai bekerja di Jepara, sebagai Faskab STBM program Pamsimas.  Dan Desember nanti, Mbak Ima masuk tahun ke dua bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara.

Aih Mbak Imaaa… perjalananmu sebagai seorang pahlawan perubahan masyarakat patut mendapat acungan jempoool. 
Saat mendampingi Petinggi tanda tangan komitmen desa ODF di acara Sosialisasi STBM

Dan ketika ditanya tentang STR sebagai salah satu syarat seseorang untuk diakui sebagai ahli kesehatan, apa jawab Mbak Ima?
 “Saya tidak menjual ijazah saya, yang saya jual ilmu dan pengalaman saya. Saya tidak mengurus STR, karena misi saya adalah bekerja membagi pengalaman. Saya juga tidak ingin menjadi pegawai negeri. Saya hanya ingin mengikuti kata hati. Kalau di situ orang-orang yang bekerja sama masih idealis dan bisa diajak memajukan masyarakat, maka saya betah. Tapi kalau sudah susah untuk idealis dan care…, maka mungkin saya lebih baik mencari tempat lain yang bisa bekerja sama dengan standar saya. Meski digaji besar kalau hati saya tidak nyaman, saya keluar saja, cari yang benar-benar bisa membuat saya mengabdi dengan baik.”

Lalu lanjut Mbak Ima lagi,
“Masalah rezeki itu mengikuti. Ya, seperti kalau pas ada acara kayak ini, dapat kotak makan, snack, itu rezeki yang harus disyukuri.” kata Mbak Ima sambil menunjukkan kotak nasi yang barusan didapat dari acara Sosialisasi STBM di Kecamatan Mayong.”

Tugas utama Mbak Ima saat ini adalah sebagai akselerator kesehatan (fasilitator percepatan program kesehatan masyarakat) di seksi Kesling yang mengawal desa-desa di wilayah Kabupaten Jepara agar bisa menjadi desa ODF. Dan ini bukan pekerjaan mudah. Karena ternyata perilaku BAB sembarangan di berbagai penjuru Jepara masih bisa dikatakan tidak sedikit.

“Seberapa penting sih Mbak, tempat tinggal kita harus ODF?”
Mendengar pertanyaan itu, jawaban Mbak Ima cukup membuat gusar juga.
“Sangat penting, karena menurut sebuah penelitian yang memang belum banyak diketahui orang, bahwa ternyata kasus anak stunting  (terganggunya tumbuh kembang anak karena kurang gizi) itu tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan. Tapi.., ini juga bisa dikarenakan adanya kerusakan dinding usus sehingga makanan yang masuk tidak bisa terserap dengan baik kandungan gizinya, penyerapannya terganggu. Sehingga meski dia mau makan banyak, ya kandungan gizinya tidak masuk ke tubuh, karna hanya nyelonong saja, masuk, trus keluar…, jadi seperti percuma makan banyak. Makanya anak menjadi stunting. Dan… dalam hal ini, ternyata bakteri E Coli bisa menyebabkan kerusakan dinding usus yang seperti itu."
“Ooh… jadi nggak hanya bisa menyebabkan diare, dan penyakit lain-lain itu ya mbak..?”
“Iya…! Itulah hal yang paling membahayakan dari E Coli. Makanya status ODF sangatlah penting…”

Ketika ditanyai apakah pemicuan hanya dilakukan khusus untuk menuju desa ODF saja? Jawaban Mbak Ima, “Ooh… tidak. Pemicuan dilakukan untuk semua pilar STBM, lima-limanya. Dengan pemicuan, masyarakat ditumbuhkan kesadarannya akan arti penting lingkungan yang sehat. STBM bisa untuk BAB sembarangan, untuk CTPS, Penyediaan air minum  yang sehat, pengamanan sampah yang benar, dan pembuangan limbah cair yang aman. Semua bisa pakai cara pemicuan.”
Jawaban Mbak Ima Mbak Ima membuat wartawan (eh… maksudnya saya-red) penasaran. 
“Jadi Mbak, pemicuan itu dulu dari mana ya awalnya kok bisa dijadikan strategi dalam pendekatan STBM?”
“Ooh… itu dulunya dari masyarakat India. Jadi, di India ada suatu daerah bernama Churu, yang merupakan daerah padang pasir. Mereka banyak yang tidak punya jamban, dan BAB di padang pasir. Hal ini bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena kebiasaan. Lalu dicobalah suatu cara percepatan tercapainya peningkatan sanitasi dengan metode CLTS (Community Led Total Sanitation) atau dengan pemicuan itu.”

Untuk diketahui, bahwa di Churu, setelah strategi CLTS tersebut, akses sanitasi meningkat dari 18% di tahun 2006 menjadi 73,5% di tahun 2011. Jika ingin tahu lebih lanjut bagaimana tentang strategi CLTS/pemicuan di Churu, bisa langsung baca di link: .http://stbm-indonesia.org/dkconten.php?id=7908.

“Ooh…jadi gitu ya Mbak Ima… Oke, kalau boleh tahu keinginan Mbak Ima ke depan apa sih, tentang kehidupan Mbak Ima sendiri?”
Dengan yakin Mbak Ima menjawab, “Saya ingin berkeliling Indonesia, bahkan kalau bisa sih ke luar negeri. Belajar sambil mengabdi dan memberdayakan masyarakat untuk menjadi lebih baik.  Tentunya tetap bergerak di ranah STBM karena ilmu saya baru sebatas itu..“
Ceilaa…memang keren Mbak kita satu ini. Sudah keren, rendh hati lagi…

Dan ketika diminta menyampaikan pesannya untuk masyarakat Jepara, ini nih jawaban Mbak Ima…
“Untuk membawa perubahan, hendaknya dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang. Hal itu demi kesehatan dan masa depan generasi penerus kita. Pasti berguna, sekecil apapun langkah kita.” Begitu kata Mbak Ima sebagai penutup wawancara kami.

Bebaskan ekspresimu Mbak Imaaa...!

Terimakasih banyak Mbak Ima, sudah menjadi Kartini kesehatan lingkungan di Jepara. Semoga dengan bantuan Mbak Ima, Jepara berhasil menjadi Kabupaten ODF, atau berprestasi sebagai Kabupaten STBM. Kelak, kemana pun kau melangkah… semoga setiap desah napasmu adalah kebaikan, aamiin…




Selasa, 01 Agustus 2017

Ceritaku Tentang Jepara yang Lebih Sehat (Edisi Kesehatan Lingkungan)




Pernahkan Anda mendengar istilah STBM?. STBM singkatan dari Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Apa maksudnya? STBM adalah sebuah pendekatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat menuju kesadaran dalam menciptakan lingkungan hidup sehat. Tujuan utama dari STBM adalah membentuk masyarakat yang menerapkan hygiene dan sanitasi lingkungan yang sehat dengan kesadaran sendiri, sehingga penularan penyakit-penyakit berbasis lingkungan bisa diminimalisir atau diputuskan mata rantainya. Dengan begitu taraf kesehatan masyarakat semakin meningkat dan kualitas hidup menjadi lebih baik.

sumber: sehatnegeriku.kemkes.go.id

Pendekatan STBM ini diluncurkan melalui Kepmenkes No 852 tahun 2008 tentang Strategi Nasional STBM, dan diperbarui dengan Permenkes No 3 tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Gambaran lebih jelas tentang STBM terlihat dari rincian pilar STBM. Lima pilar inilah yang menjadi fokus pendekatan sebagai hal-hal utama yang diharapkan agar masyarakat melaksanakannya secara total. Adapun lima pilar itu adalah: stop buang air besar sembarangan (Stop BABS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAMMRT), pengelolaan sampah rumah tangga dengan benar, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga yang aman. Lima hal itulah yang selama ini menjadi masalah sanitasi utama di masyarakat. 

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...